Selama lima hari di Pantai Pengembak, Bali, JIA Curated 2026 mempertemukan desain, craft, arsitektur, material, dan budaya dalam sebuah pengalaman yang berangkat dari alam. Mengusung tema Nature Weave, edisi tahun ini mencatat lebih dari 18.000 pengunjung dan menghadirkan lebih dari 250 brand serta desainer dari Indonesia dan berbagai negara.
BACA JUGA: Merancang Hunian yang Bersahabat dengan Bumi
Untuk pertama kalinya berlangsung di area beachfront seluas 15.000 meter persegi, JIA Curated menjadikan lanskap Pantai Pengembak sebagai bagian dari pameran. Pepohonan, mangrove, garis pantai, dan ruang terbuka tidak sekadar menjadi latar, tetapi turut membentuk cara setiap instalasi hadir dan berinteraksi dengan lingkungan.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah Main Main karya Blancostudio, Kalpa Taru Bali, dan Bali Landscape Company, yang meraih penghargaan Best Pavilion of JIA Curated 2026. Menghadirkan meja komunal dan permainan buatan tangan di bawah kanopi dari potongan kayu, pavilion ini menerjemahkan Nature Weave melalui gagasan sederhana tentang bermain, berkumpul, dan berbagi.
Eksplorasi material juga terlihat pada Tiltroom dari Spatial Sonata, Tuscany Stone Boutique, dan Oaken Lab, yang menggunakan batu bata garam Himalaya untuk menciptakan ruang yang seolah muncul dari lanskap pantai. Sementara Second Growth dari Kaltimber dan Alexis Dornier mengeksplorasi kayu reclaimed melalui struktur anyaman yang menciptakan hubungan antara arsitektur dan alam.
Di sisi lain, Tapak Tumbuh: A Landscape in Transformation oleh Moire Rugs dan Eugenio Hendro menghadirkan lanskap eksperimental yang mempertemukan tanah, vegetasi, material alami, dan intervensi manusia. Studio Aliri melalui Suar Lookout Tower bahkan membangun struktur vertikal di antara pepohonan yang telah ada, membiarkan tangga dan platform-nya mengikuti kontur kanopi.
Kehadiran budaya Bali diterjemahkan secara kontemporer melalui Janur, koleksi outdoor lighting pertama Ong Cen Kuang (OCK), yang mengambil siluet penjor sebagai inspirasi. Sementara itu, Bika Living menghadirkan Living in Dialogue, mempertemukan furnitur edisi terbatas karya GondoJules dengan kurasi objek dari berbagai desainer, budaya, dan periode.
Percakapan mengenai arsitektur berlanjut lewat Architecture in Scale, kurasi Charmaine Chan, yang menampilkan model karya sejumlah studio seperti Kengo Kuma and Associates, Studio Andra Matin, Beau Architects, dan Ibuku. Program 360° Design Dialogues yang dikurasi Design Anthology turut mempertemukan desainer, arsitek, maker, dan creative thinkers untuk membahas material, craft, sustainability, hingga masa depan industri kreatif.
Lebih dari sekadar pameran, JIA Curated 2026 juga membawa gagasan tentang keberlanjutan hingga setelah acara selesai. Dengan demikian, Nature Weave tidak berhenti sebagai tema, tetapi menjadi cara untuk melihat kembali hubungan antara manusia, material, ruang, dan lingkungan. Setelah mencatat lebih dari 18.000 pengunjung pada 2026, JIA Curated akan kembali ke Pantai Pengembak pada 12–16 Agustus 2027 dengan tema Emotion in Motion.
Created by Harper's Bazaar Indonesia for JIA Curated
BACA JUGA:
10 Rumah Seniman Paling Indah untuk Dikunjungi
Deretan Arsitektur Rumah Modern yang Dapat Dijadikan Inspirasi
(Foto: Courtesy of JIA Curated 2026)
