Haute couture bisa menjadi pembuat atau penghancur bagi para desainer. Tidak semua orang mampu memenuhi tuntutan ketat dalam menciptakan koleksi yang sepenuhnya dibuat dengan tangan, di mana kesempurnaan diukur hingga milimeter dan satu busana saja dapat memakan ribuan jam pengerjaan. Namun Pierpaolo Piccioli adalah desainer yang justru hidup dan berkembang di ladang Elysian haute couture. Ia bukan orang asing bagi atelier yang penuh ketelitian atau tuntutan klien paling berselera tinggi dalam dunia fashion, maupun permintaan para stylist A-list yang paling banyak diminati di dunia. Dalam peran sebelumnya di Valentino, ia menampilkan pertunjukan yang bahkan membuat para veteran fashion paling bersikap dingin sekalipun meneteskan air mata. Di sinilah ia berkembang, dalam menciptakan busana satu-satunya yang berani mengabaikan segala batasan dan membuat para wanita dewasa terpesona.
Untuk pertunjukan couture Balenciaga pertamanya, Pierpaolo mengingatkan dunia tentang apa yang paling ia kuasai: siluet operatik, penggunaan warna yang inventif, dan kemewahan memukau yang membuat busana ready-to-wear biasa terasa tak ada artinya. Menariknya, bahkan di Valentino, karya Cristóbal Balenciaga selalu menjadi North Star bagi Pierpaolo, sering terlihat di mood board-nya, kini, semua gaun berbentuk kepompong dan punggung Watteau tersebut seolah sedang pulang ke rumahnya. Koleksinya mempertemukan arsipnya sendiri dengan arsip couturier ternama yang pernah digambarkan oleh Christian Dior sebagai "master kita semua."
BACA JUGA: Pierpaolo Piccioli Memasuki Era Baru di Balenciaga
Cristóbal Balenciaga menutup rumah mode-nya pada tahun 1968, dengan pernyataan terkenal bahwa "tidak ada lagi orang yang perlu didandani." Hampir 60 tahun kemudian, Pierpaolo tampaknya sedang mengamati bagaimana orang-orang berpakaian saat ini, setidaknya dalam kehidupan nyata dan mengangkatnya ke lapisan tertinggi dalam dunia pembuatan busana. Anok Yai membuka pertunjukan yang digelar di halaman abad ke-18, La Cour d'Honneur de la Cité Internationale Universitaire de Paris, dalam apa yang bisa dianggap sebagai versi couture-grade dari celana panjang, kaus putih, dan jaket bomber. Bedanya, celana tersebut terbuat dari sutra beige yang membusung, kaus putih dari satin menggelembung, dan jaket bomber yang membungkus tubuh bak sebuah patung yang dipompa, seluruhnya ditutupi bulu berwarna jingga.
Pertunjukan ini tidak kekurangan tampilan yang memukau. Bagaimana mungkin? Ini Balenciaga! Namun bukan hanya tentang "gaun indah, gaun memesona," seperti kata Aretha Franklin (meskipun ada banyak sekali gaun semacam itu dalam bulu, payet watercolor, renda, dan satin). Beberapa tampilan yang paling menonjol justru tentang perpaduan high-low: tank top couture putih yang dipadukan dengan celana hitam, atau kemeja putih membusung yang dimasukkan ke dalam rok berbulu violet, blazer hitam yang dipotong sempurna dikenakan di atas blus putih selantai dan celana yang berkibar dari pinggang hingga ujung kaki dalam bulu berlapis gliserin. Sesekali, trench oversized dikenakan terkancing rapi dan diikat di pinggang, sebagai pengingat bahwa pakaian sehari-hari pun bisa terasa seperti couture. Jika kamu tidak mampu membeli pakaian paling mahal di dunia, kamu bisa meminjam cara memakainya, sarung tangan opera dengan tank top misalnya, atau blazer di atas gaun ball gown untuk malam hari.
Perhatikan dengan seksama dan kamu akan menyadari adanya pengulangan siluet. Sementara Pierpaolo dikenal dengan palet warna yang menggugah selera, Cristóbal dikenal dengan kecintaannya pada warna hitam, sehingga hadir "bayangan" hitam total dari berbagai tampilan dalam koleksi ini, sesuatu untuk semua orang. Yang terpenting, ini seolah menegaskan bahwa Pierpaolo sedang menemukan sinerginya dengan sejarah gemilang rumah couture paling legendaris dalam dunia fashion. Ia tidak bersembunyi di balik warisannya, melainkan mengambil alihnya dengan berani. Menjelang September, akan sangat menarik untuk melihat bagaimana beberapa ide ini diterjemahkan menjadi sesuatu untuk lemari pakaian kita semua.
Dengan busana seperti ini, tidak diperlukan penjelasan apa pun. Salah satu faktor penentu estetika Pierpaolo, terutama dalam hal couture, adalah kemewahannya yang tanpa kompromi.
BACA JUGA: 10 Creative Director Ini Menandai Kembalinya Era Keemasan Fashion di Panggung Luxury Dunia
Meghan Markle Kenakan Cape saat Berada di Paris Fashion Week
(Penulis: Osman Ahmed; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Graceilla Alexandra; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
