Di tengah kemeriahan pekan haute couture di Paris, ajang yang kerap disebut sebagai "Piala Dunia"-nya industri mode. Presentasi Dior menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Peragaan busana yang digelar sore itu menghadirkan atmosfer bak dokumenter alam karya David Attenborough: siluet yang menyerupai burung-burung eksotis, lanskap tropis yang rimbun, udara musim panas yang menyengat, hingga deretan tamu eksklusif yang merupakan para kolektor haute couture dari berbagai penjuru dunia.
Setelah merancang gaun pernikahan couture Taylor Swift, Jonathan Anderson kembali menampilkan visi kreatifnya dalam koleksi couture kedua untuk Dior. Kali ini, ia mengambil inspirasi dari hubungan kreatifnya dengan pematung asal Amerika Serikat berusia 84 tahun, Lydia Benglis, sosok yang sebelumnya juga pernah menjadi kolaboratornya saat memimpin Loewe. Pada musim sebelumnya, Jonathan menjelaskan bahwa ia memandang atelier couture Dior sebagai laboratorium kreatif untuk mewujudkan gagasan-gagasan yang nyaris mustahil direalisasikan. Ide-ide yang kemudian dapat memengaruhi koleksi ready-to-wear sekaligus mengubah cara orang memandang busana. Untuk koleksi terbarunya, ia mengadaptasi bentuk-bentuk pahatan Lydia yang dinamis, serta teknik simpul, lipit, dan pembentukan material yang menjadi ciri khas sang seniman. Inspirasi tersebut juga diperkaya oleh hubungan Lydia dengan Ahmedabad, kota di negara bagian Gujarat, India, yang telah ia kunjungi dan jadikan tempat berkarya selama lebih dari tiga dekade.
Menjelang peragaan, Jonathan Anderson mengungkapkan bahwa salah satu inspirasi terbesar koleksi ini berasal dari keahlian para perajin India yang menurutnya belum mendapat apresiasi yang layak dalam dunia mode. "Sebagian dari teknik bordir paling penting di dunia dikerjakan di India, tetapi kita belum cukup membicarakannya. Kita baru benar-benar memahami makna warna ketika berada di sana. Keahlian yang mereka miliki telah diwariskan selama ratusan tahun, dan dunia mode tidak akan ada tanpa keterampilan tersebut—sesuatu yang bahkan tidak kami miliki," ujarnya.
Pandangan tersebut kemudian diwujudkan dalam koleksi yang banyak mengandalkan keterampilan para pengrajin India. Jonathan mengangkat sejarah chintz, kain katun tenun halus dari India pada abad ke-18 yang dikenal dengan motif botani yang dilukis atau dicetak menggunakan teknik block printing. Koleksi ini juga diperkaya dengan perhiasan dari batu oniks dan kristal yang dibuat secara handcrafted oleh para perajin di Jaipur, semakin mempertegas penghormatannya terhadap warisan kriya India.
Kekuatan Jonathan Anderson terletak pada kemampuannya menemukan sosok-sosok seniman yang kurang dikenal luas dan membawanya ke dalam percakapan utama dunia mode. Sepanjang kariernya, karya-karyanya juga kerap mencapai puncaknya ketika mengeksplorasi pendekatan yang bersifat skulptural. Hal itu pula yang terlihat dalam interpretasinya terhadap karya Lydia Benglis.
Pada awal kariernya, Lydia nyaris tidak mendapatkan ruang pamer bagi karya-karyanya. Demi menarik perhatian dunia seni terhadap praktik artistiknya yang radikal, ia pernah memasang iklan satu halaman penuh di majalah Artforum pada 1964. Dalam foto tersebut, Lydia tampil tanpa busana, mengenakan kacamata hitam putih, sambil memegang sebuah objek seni provokatif, sebagai bentuk pernyataan artistik sekaligus kritik terhadap dunia seni yang didominasi laki-laki.
Kini, bahasa visual Lydia diterjemahkan Jonathan ke dalam koleksi couture Dior melalui gaun plissé yang elegan, sifon berhias manik-manik berkilau, hingga lipit metalik berwarna perunggu yang tampak mengembang dramatis mengikuti lekuk tubuh. Kipas-kipas berbentuk burung merak yang menjadi salah satu karya ikonis Lydia, terbuat dari benda-benda yang ia kumpulkan selama berkarya di India juga hadir sebagai detail pada gaun sutra panjang bersiluet mengalir. Beberapa tahun lalu, interpretasi semacam ini mungkin terasa seperti sekadar atraksi di atas runway. Namun, melihat deretan klien haute couture yang hadir sore itu, tampak jelas bahwa tidak sedikit di antara mereka yang akan mengenakan rancangan-rancangan berani tersebut dengan penuh percaya diri.
Koleksi ini dipenuhi begitu banyak gagasan kreatif sehingga mampu memikat perhatian bahkan penonton yang paling mudah kehilangan fokus.
Koleksi ini dipenuhi beragam eksplorasi desain yang mampu mempertahankan perhatian penonton dari awal hingga akhir peragaan. Yang semakin terlihat jelas adalah bagaimana Jonathan Anderson, melalui ranah haute couture, mulai merangkul sisi feminin yang lekat dengan warisan Dior. Hal itu tercermin lewat setelan bertabur detail kelopak bunga, pita trompe l'oeil yang menciptakan ilusi optik, hingga lapisan sifon sutra berlapis bak mille-feuille yang menghadirkan kesan ringan sekaligus romantis.
Di saat yang sama, koleksi ini juga menawarkan sesuatu bagi mereka yang menyukai pendekatan busana yang lebih tegas dan modern. Mulai dari jaket Bar berkerah selendang dengan siluet yang ramping, kemeja sutra beraksen simpul yang minimalis, hingga mantel bergaya jubah yang dirancang dari potongan-potongan merino shearling. Pada beberapa tampilan, Jonathan bahkan melangkah ke wilayah yang lebih konseptual melalui rok patchwork menyerupai kawat ayam, ujung busana yang sengaja dibiarkan berjumbai, serta tekstur kain yang kusut dan berkerut. Seluruh elemen tersebut menghadirkan pendekatan baru yang terasa cukup radikal dibandingkan era Dior sebelumnya.
Melihat deretan klien haute couture yang hadir, banyak di antaranya telah mengadopsi bahasa desain Jonathan melalui jaket Bar beraksen simpul, gaun bersiluet draped, hingga topi-topi skulptural. Terlihat jelas bahwa mereka memandang busana sebagai bentuk ekspresi artistik. Gagasan perempuan sebagai karya seni memang bukan hal baru, terutama dalam tradisi seni pertunjukan feminis era 1970-an. Namun, melalui interpretasinya di Dior, Jonathan menghadirkannya kembali dalam cara yang terasa halus sekaligus subtil.
Bagi mereka yang tidak hidup di dunia haute couture, koleksi ini tetap menawarkan pelajaran gaya yang relevan. Jonathan menunjukkan bahwa sepasang celana dengan potongan yang sempurna dapat tampil sama elegannya dengan gaun pesta. Sementara itu, sepatu-sepatu berkarakter, dihiasi bulu, payet, hingga detail floral yang dramatis kembali menegaskan posisinya sebagai aksesori utama yang layak menjadi pusat perhatian musim ini.
Christian Dior Haute Couture Fall/Winter 2026
BACA JUGA:
Di Paris, Barisan Depan Peragaan Chanel Haute Couture di Penuhi Deretan Selebritas Ternama
Membedah Koleksi Cruise Pertama Jonathan Anderson untuk Dior
(Penulis: Osman Ahmed; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
