Selama ini, pembicaraan soal kesuburan sering dianggap sebagai urusan perempuan. Sementara itu, laki-laki justru dibesarkan dengan keyakinan yang lebih sederhana: bahwa kesuburan adalah sesuatu yang stabil dan selalu ada. Seolah tubuh mereka tidak perlu dipertanyakan. Cara pandang ini sudah begitu lama ada, sampai jarang sekali dipertanyakan. Tubuh laki-laki sering dikaitkan dengan performa dan kepastian, sementara kerentanan biologis dianggap tidak maskulin, bahkan tidak relevan.
BACA JUGA: Ketika Kesepian Hadir di Tengah Keramaian
Namun, seiring waktu, pandangan ini mulai berubah. Di tengah gaya hidup yang semakin intens dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan, percakapan tentang kesuburan ikut bergeser. Pasangan kini tidak hanya bertanya, “When should we try?”, tetapi juga, “Can he swim?”
Melihat hal ini, Harper’s Bazaar Indonesia mencoba membahas lebih dalam bagaimana norma gender di Indonesia memengaruhi pengalaman infertilitas pria, termasuk peran maskulinitas toksik di dalamnya. Pembahasan ini juga dilengkapi dengan perspektif dari Psikolog Luh Ayu Candra Utami, M.Psi.
Data dari Stephen W. et al. menunjukkan bahwa sekitar 20 persen kasus infertilitas sepenuhnya berasal dari faktor pria, sementara 30 hingga 40 persen lainnya melibatkan kedua pihak. Artinya, hampir setengah kasus infertilitas berkaitan langsung dengan tubuh laki-laki.
Meski begitu, infertilitas masih sering dipandang sebagai bentuk “ketidakmampuan” yang bertentangan dengan standar maskulinitas. Hal ini terasa kuat, terutama dalam budaya Indonesia yang masih menempatkan memiliki anak sebagai bagian penting dalam pernikahan.
Menurut Luh Ayu Candra Utami, M.Psi., kondisi ini bisa terasa sangat berat bagi pria, terutama bagi mereka yang cenderung menutup diri atau menghindari konflik. Proses menerima diagnosis menjadi lebih sulit, dan harga diri sering kali dikaitkan dengan kemampuan biologis. Dari situ, tekanan psikologis mulai muncul—mulai dari menyalahkan diri sendiri, kecemasan, hingga depresi.
Pada titik ini, pengalaman infertilitas menjadi sangat personal. Maskulinitas tidak lagi soal citra atau performa, tetapi berubah menjadi angka—jumlah sperma, motilitas, dan morfologi. Kepercayaan diri yang sebelumnya berbasis perasaan, kini bergeser menjadi data.
Masalahnya bukan karena infertilitas itu jarang terjadi, tetapi karena laki-laki tidak terbiasa berdamai dengan tubuh yang tidak selalu sesuai harapan. Budaya selama ini membentuk anggapan bahwa seksualitas pria selalu kuat dan stabil. Ketika anggapan ini runtuh yang muncul bukan hanya kecemasan medis, tetapi juga tekanan emosional yang sering dipendam tanpa ruang untuk dibicarakan.
Norma maskulinitas juga membuat pria cenderung menahan diri dan menghindari pembicaraan soal emosi. Menurut Luh Ayu, hal ini merupakan persoalan yang sudah lama terbentuk dalam sistem budaya patriarki.
Dalam buku The Will to Change, Bell Hooks juga menyoroti bahwa emosi sering dianggap sebagai hal yang sulit dijangkau oleh laki-laki. Sistem ini membuat pria tidak terbiasa membicarakan perasaan dan cenderung menjauh dari diskusi tentang kesulitan karena takut dianggap lemah.
Akibatnya, mengekspresikan emosi terasa tidak nyaman. Laki-laki lebih diarahkan untuk fokus pada solusi, bukan pada proses memahami perasaan.
Di sisi lain, kurangnya edukasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi—yang juga dipengaruhi budaya patriarki—membuat isu kesuburan sering dibebankan pada perempuan. Karena perempuan mengandung dan melahirkan, fertilitas dianggap sebagai tanggung jawab mereka. Padahal, seharusnya ini adalah tanggung jawab bersama dalam hubungan.
Dampaknya, penanganan medis dan dukungan emosional lebih sering difokuskan pada perempuan. Sementara itu, laki-laki cenderung menarik diri, menyalahkan pasangan, atau menghindari bantuan yang sebenarnya juga mereka butuhkan. Pada akhirnya, infertilitas tidak bisa dilihat hanya sebagai masalah medis. Isu ini juga berkaitan dengan cara kita memahami tubuh, lingkungan, dan peran gender.
Ketika dikaitkan dengan maskulinitas toksik, kompleksitasnya menjadi semakin besar. Pria didorong untuk menjauh dari pertanyaan tentang tubuh mereka sendiri. Padahal, infertilitas adalah isu kesehatan manusia. Ketika terus dibatasi oleh perspektif gender, ruang empati menjadi sempit dan percakapan yang seharusnya terbuka menjadi terhambat.
Hal ini juga berdampak pada hubungan. Norma gender tradisional masih menempatkan laki-laki sebagai pihak dominan. Ketika hal ini dianggap wajar, laki-laki cenderung kurang memahami kebutuhan dan perspektif pasangan.
Di sisi lain, perempuan sering berada dalam posisi yang harus menyesuaikan diri, hingga kebutuhan mereka sendiri terabaikan. Kurangnya komunikasi yang setara akhirnya memengaruhi keintiman dan kepuasan dalam hubungan.
Kabar baiknya, perubahan mulai terlihat. Meski belum banyak, semakin banyak pria yang mulai terlibat dalam percakapan tentang kesuburan. Mereka datang ke dokter bersama pasangan, bertanya tanpa defensif, dan mengakui bahwa proses ini juga berat secara emosional.
Di tengah budaya yang masih kuat dengan standar maskulinitas, langkah seperti ini menjadi penting. Untuk mendorong perubahan, maskulinitas perlu dipahami ulang dengan cara yang lebih sehat. Luh Ayu merujuk pada pemikiran Carl Jung bahwa setiap manusia memiliki sisi maskulin dan feminin.
Artinya, menjadi pria tidak harus selalu identik dengan kekuatan atau agresivitas, tetapi juga memberi ruang bagi emosi dan ekspresi diri. Hal ini tidak mengurangi nilai seorang pria, justru memperkuatnya.
Perubahan ini membutuhkan dukungan bersama, terutama dalam menciptakan ruang aman bagi pria untuk memahami diri dan mengekspresikan perasaannya. “Sistem patriarki membentuk pria untuk tidak memprioritaskan pembahasan emosi dan menjauh dari diskusi tentang kesulitan karena takut dicap rapuh.”
Mungkin pertanyaannya bukan lagi apakah “can he swim?”, tetapi apakah ia bersedia untuk masuk lebih dalam—memahami dirinya secara emosional, relasional, dan jujur. Karena pada akhirnya, pembicaraan tentang infertilitas bukan soal mencari siapa yang salah, tetapi tentang kesiapan untuk hadir sepenuhnya dalam realitas tubuh dan hubungan.
Maskulinitas hari ini pun tidak lagi diukur dari kesan selalu kuat atau dari kesuburan semata, tetapi dari kemampuan untuk hadir, mendengarkan, dan mengakui keterbatasan.
Di ruang percakapan yang lebih jujur, keintiman yang lebih dewasa dan pemahaman maskulinitas yang lebih manusiawi mulai terbentuk.
BACA JUGA:
Narasi Mode & Sinema: Fashion yang Kini Bergerak Seperti Film
Membedah Bagaimana Perubahan Makna Sensualitas di Generasi Ini
