Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Narasi Mode & Sinema: Fashion yang Kini Bergerak Seperti Film

Fashion tak lagi berhenti di satu gambar. Kini, ia hadir sebagai cerita, dengan emosi, durasi, dan pengalaman yang terasa seperti sinema.

Narasi Mode & Sinema: Fashion yang Kini Bergerak Seperti Film
Layout by Adzkia Asakiinah

Belakangan ini saya semakin menyadari bahwa fashion tidak lagi puas hanya hadir sebagai gambar. Fashion kini terasa ingin bergerak, memiliki durasi, dan dikenang seperti sebuah adegan dalam film. Perubahannya terlihat jelas dari cara brand bercerita. Kampanye koleksi tidak lagi berhenti pada satu visual iklan, tetapi berkembang menjadi film pendek, bahkan rangkaian cerita yang berlanjut dari musim ke musim. Film yang dirilis brand bukan lagi sekadar gimmick peluncuran, melainkan menjadi medium utama untuk membangun suasana. Busana tidak langsung ditonjolkan, tetapi diperkenalkan secara perlahan melalui emosi dan karakter.

BACA JUGA: Arti Simbol Kuda dan Estetika Equestrian dalam Dunia Mode

Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Pendekatan yang terinspirasi dari sinema ini memberi ruang baru bagi fashion. Ada awal yang jelas, cerita yang berkembang, serta jeda yang memberi waktu untuk merasakan. Penonton tidak dipaksa untuk langsung memahami, tetapi diajak masuk ke dalam cerita. Dalam format seperti ini, koleksi tidak terasa seperti “jualan”, melainkan terasa lebih hidup.

Di saat yang sama, film juga semakin menyadari betapa kuatnya peran fashion. Pakaian tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi ikut membentuk karakter. Salah satu contoh paling jelas adalah The Devil Wears Prada, yang hingga kini masih menjadi rujukan dalam melihat hubungan antara busana, kekuasaan, dan identitas. Di balik visual dunia fashion New York, ada sentuhan stylist Patricia Field yang sebelumnya juga membentuk gaya karakter di Sex and the City. Film ini menunjukkan bahwa satu trench coat yang tepat, dipadukan dengan kacamata hitam yang tegas, sudah cukup untuk membangun sosok sekuat Miranda Priestly.

Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Menariknya, ketika sekuel film ini diumumkan dan dijadwalkan rilis pada 2026, perhatian terhadap film pertamanya kembali meningkat. Bahkan sebelum film barunya tayang, busana yang dikenakan selama proses syuting sudah ramai dibicarakan dan dianalisis. Para pemain terlihat menghadiri pergelaran Dolce & Gabbana Spring/Summer 2026, memicu berbagai spekulasi tentang arah gaya yang akan ditampilkan. Sejak saat itu, setiap outfit yang tertangkap kamera di lokasi syuting menjadi bahan pengamatan detail. Kreasi dari Jacquemus dan Valentino mulai teridentifikasi. Siluet yang masih berada di ranah fiksi ini bahkan sudah beredar sebagai referensi gaya, hampir siap dikenakan jauh sebelum filmnya rilis.

Di titik ini terlihat jelas bagaimana film dan fashion saling menguatkan. Film memberi ruang emosional yang lebih dalam bagi fashion, sementara fashion memberi identitas visual yang kuat bagi film. Penonton tidak hanya mengingat dialog atau alur cerita, tetapi juga potongan mantel, pilihan sepatu, atau siluet yang muncul dalam adegan penting.

Hubungan ini kemudian melampaui layar. Apa yang dikenakan karakter tidak lagi berhenti sebagai kostum, tetapi berubah menjadi referensi gaya di kehidupan nyata. Detail yang awalnya hanya untuk membangun karakter perlahan menjadi inspirasi berpakaian. Gaya dari cerita fiksi pun menyatu dengan keseharian. Di sinilah sinerginya terasa nyata. Film membentuk imajinasi, dan fashion menerjemahkannya menjadi sesuatu yang bisa dikenakan. Ketika itu terjadi, cerita tidak lagi sekadar ditonton, tetapi ikut hidup dalam cara kita berpakaian.

Fenomena ini tentu tidak muncul begitu saja. Banyak brand kini secara sadar membangun kampanye dengan pendekatan sinematik sebagai bagian dari peluncuran koleksi. Film pendek, seri visual, hingga narasi yang berlanjut dari musim ke musim menjadi cara untuk memperpanjang perhatian, bukan sekadar mencuri momen sesaat. Fashion tidak lagi hanya mengejar viralitas, tetapi mulai membangun hubungan yang lebih dekat dengan audiens. Di tengah arus informasi yang cepat, cerita yang memiliki ruang dan durasi justru terasa lebih bermakna.

Namun bagi saya, yang paling menarik bukan hanya kolaborasi antara rumah mode dan industri film. Yang benar-benar berubah adalah cara kita, sebagai penonton sekaligus pemakai, berelasi dengan fashion. Kita tidak lagi hanya mencari tren, tetapi juga suasana. Kita menyebut gaya seperti menyebut genre. Dramatis, minimalis, nostalgik, optimistis. Busana menjadi pintu masuk ke sebuah dunia, bukan sekadar pilihan tampilan untuk satu kesempatan.

FILM membentuk IMAJINASI, fashion MENERJEMAHKANNYA menjadi SESUATU yang bisa DIKENAKAN.

Tentu tidak semua pendekatan ini berhasil. Ada kampanye yang berhenti pada estetika, terlihat indah tetapi tidak membekas. Ada juga film yang terlalu menonjolkan busana hingga ceritanya kehilangan makna. Namun arah pergeserannya terasa jelas. Cara fashion berkomunikasi memang sedang berubah. Runway tetap penting, foto tetap relevan, tetapi cerita kini berjalan lebih panjang dari satu momen. Fashion tidak lagi ingin berhenti pada satu frame. Ia ingin diingat seperti adegan yang terus terlintas, bahkan setelah lampu padam.

Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Dan mungkin di situlah pergeseran terpentingnya. Ketika fashion mulai berpikir seperti film, dan film semakin sadar akan peran fashion di dalamnya, yang berubah bukan hanya bentuk kolaborasi, tetapi juga cara kita merasakannya. Kita tidak lagi sekadar melihat, tetapi ikut masuk dan perlahan menjadi bagian dari cerita itu sendiri.

BACA JUGA:

The New Uniform: Cerminan Gaya Hidup Modern Masa Kini

Prediksi Fashion dari Bazaar untuk Tahun 2026

Baca artikel Bazaar yang berjudul "Narasi Mode & Sinema" yang terbit di edisi cetak Harper's Bazaar Indonesia - Maret 2026; Penulis: Yudith Kindangen; Disadur oleh: Kaylifa Kezia Annazha.