Sebuah momen penting dalam lanskap seni kontemporer tercatat sekitar tiga bulan lalu, ketika Museum MACAN menjalin kemitraan dengan Max Mara untuk menyelenggarakan Max Mara Art Prize for Women periode 2025–2027. Kini, daftar finalis telah resmi diumumkan.
Memasuki edisi ke-10, ajang ini untuk pertama kalinya hadir di Asia Tenggara dengan Indonesia sebagai tuan rumah, menandai perluasan jangkauan sekaligus membuka ruang dialog baru dalam praktik seni global.
Dewan juri yang terdiri dari Cecilia Alemani, Direktur dan Kurator Utama High Line Art di New York, Luigi Maramotti, selakuk President Max Mara Fashion Group, serta Sara Piccinini, Direktur Collezione Maramotti, menetapkan lima nama dalam daftar pendek tahun ini. Kelima seniman tersebut merepresentasikan spektrum praktik yang luas, dari teknik tradisional hingga pendekatan kontemporer, dengan narasi yang kuat dan personal. Masing-masing menghadirkan pendekatan yang beragam namun saling melengkapi, membentuk lanskap praktik seni yang kaya akan perspektif. Melalui narasi personal sekaligus kolektif, mereka menelusuri isu identitas, memori, hingga relasi antara manusia dan lingkungannya. Eksplorasi medium yang mereka lakukan memperlihatkan bagaimana praktik artistik dapat menjadi ruang refleksi.
Berikut Para Seniman yang Telah Dipilih:
Betty Adii
Betty Adii adalah seniman asal Wamena, Papua, yang kini menetap di Yogyakarta. Praktiknya melintasi berbagai medium, dari gambar dan lukisan hingga instalasi. Karyanya berakar pada pengalaman perempuan, menelusuri narasi tentang perjuangan dan solidaritas. Melalui pendekatan yang intim sekaligus reflektif, ia merajut narasi personal dan kolektif, memadukan referensi budaya tradisional dengan bahasa visual kontemporer untuk menguatkan suara perempuan Papua.
Dzikra Afifah
Dari Bandung, Dzikra Afifah bekerja terutama dengan medium keramik melalui pendekatan subtraktif yang khas. Setelah membentuk massa tanah liat padat, ia secara intuitif mengosongkan bagian dalamnya, menghasilkan bentuk yang terdistorsi dan terus berubah selama proses pembakaran. Karya-karyanya menyoroti relasi antara tubuh, material, dan proses, di mana ketidakpastian serta empati menjadi bagian tak terpisahkan dari penciptaan.
Ipeh Nur
Sementara itu, Ipeh Nur yang berkarya di Yogyakarta merangkai praktik multidisipliner yang mencakup gambar, lukisan, batik, keramik, hingga instalasi dan video. Karyanya berangkat dari ingatan, sejarah, mitologi, serta tradisi lisan. Sejak 2019, ia menelusuri budaya maritim Nusantara, menjadikan material bukan sekadar simbol, melainkan medium yang terhubung langsung dengan tubuh dan pengalaman personalnya.
Mira Rizki
Mira Rizki, yang juga berkarya di Bandung, mengeksplorasi suara dan interaktivitas sebagai medium utama. Melalui komposisi imersif dan soundscapes, ia mengkaji bagaimana konteks, lingkungan, dan memori membentuk pengalaman auditori setiap individu. Praktiknya membuka ruang bagi persepsi yang cair dan subjektif terhadap suara.
Dian Suci
Adapun Dian Suci, yang berbasis di Yogyakarta, menempatkan praktiknya di persimpangan antara narasi domestik dan kekuasaan politik. Berangkat dari pengalaman personal, termasuk sebagai seorang ibu tunggal, ia mengangkat isu domestikasi perempuan, otoritarianisme, patriarki, hingga kapitalisme. Karyanya terwujud dalam berbagai medium, mulai dari instalasi, lukisan, patung, hingga video.
Melalui kelima praktik ini, The Max Mara Art Prize for Women tidak hanya merayakan keberagaman artistik, tetapi juga menegaskan posisi Indonesia dalam percakapan seni kontemporer global yang terus berkembang.
