Ini Ciri-Ciri Bipolar Kambuh yang Harus Disadari & Waspadai

Dengan mengenali ciri-ciri bipolar kambuh, Anda mungkin dapat menolong keluarga atau orang terdekat yang mengalaminya.

Courtesy of cottonbro studio, pexels


Perbincangan tentang gangguan kesehatan mental kian marak dan semakin memberikan kesadaran banyak orang untuk memberikan perhatian lebih terhadap kondisi kesehatan mentalnya. Kini, banyak orang sudah tidak lagi ragu untuk mencari bantuan profesional seperti ke psikolog atau konselor untuk melakukan konseling agar dapat meregulasi emosinya dengan lebih sehat demi hidup yang lebih bahagia.

Salah satu gangguan kesehatan mental yang ditemukan adalah gangguan bipolar yang merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang ditandai oleh perubahan suasana hati yang ekstrem, mulai dari fase sangat gembira (mania atau hipomania) hingga fase sangat sedih dan putus asa (depresi). Kondisi ini bersifat jangka panjang dan dapat kambuh sewaktu-waktu, meskipun penderitanya sudah menjalani pengobatan. Oleh karena itu, memahami ciri-ciri bipolar kambuh sangat penting agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin dan risiko dampak negatif dapat diminimalkan.

Apa Itu Bipolar?

Gangguan bipolar adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh perubahan suasana hati yang ekstrem. Seseorang dapat mengalami suasana hati yang sangat meningkat, penuh energi, dan impulsif, juga mengalami suasana hati yang sangat menurun, bahkan hingga kehilangan harapan. “Perubahan ini bukan sekadar naik-turun emosi biasa, tetapi terjadi cukup intens hingga memengaruhi fungsi hidup sehari-hari, hubungan sosial, pekerjaan, dan cara berpikir seseorang,” papar Agestiya Maharani, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Perubahan ini bisa berlangsung selama beberapa hari, minggu, bahkan bulan.

Secara umum, gangguan bipolar terbagi menjadi beberapa jenis, seperti Bipolar Tipe I, Bipolar Tipe II, dan siklotimia. Pada Bipolar Tipe I, penderita mengalami episode mania yang cukup berat dan dapat disertai depresi. Sementara pada Bipolar Tipe II, penderita mengalami hipomania (mania yang lebih ringan) dan depresi berat. Sedangkan siklotimia ditandai dengan naik-turun suasana hati yang lebih ringan namun berlangsung lama.

Gangguan bipolar bukanlah kelemahan karakter atau kurangnya iman, melainkan kondisi medis yang berkaitan dengan fungsi otak dan keseimbangan zat kimia di dalamnya.

Penyebab Bipolar Kambuh

Bipolar dapat kambuh meskipun seseorang merasa sudah stabil. Kekambuhan ini biasanya dipicu oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitar. Beberapa penyebab bipolar kambuh antara lain:

  • Ketidakpatuhan minum obat

Menghentikan obat secara tiba-tiba, mengurangi dosis tanpa pengawasan dokter, atau lupa minum obat dapat meningkatkan risiko kambuh.

  • Stres berlebihan

Stres psikologis dengan intensitas tinggi yang dapat bersumber dari tekanan pekerjaan, masalah keluarga, konflik hubungan, atau peristiwa traumatis dapat memicu episode bipolar.

  • Gangguan pola tidur

Tidur yang terganggu merupakan salah satu pemicu utama kambuhnya bipolar, terutama pada episode mania. Menjaga pola tidur sering diabaikan banyak orang padahal sangat berpengaruh pada kondisi mental seseorang.

  • Penggunaan alkohol dan narkoba

Zat-zat ini dapat mengganggu kerja obat dan memperburuk ketidakstabilan suasana hati.

  • Perubahan hormonal dan kelelahan fisik

Misalnya pada masa kehamilan, pasca melahirkan, atau saat mengalami penyakit tertentu.

  • Kurangnya dukungan sosial dan emosional

Merasa sendirian, tidak dipahami, atau dikucilkan dapat memperparah kondisi mental penderita bipolar.

Ciri-ciri Bipolar Kambuh

Ciri-ciri bipolar kambuh dapat berbeda pada setiap orang, tergantung pada jenis episode yang dialami. Secara umum, kekambuhan dapat muncul dalam bentuk episode mania, depresi, atau campuran keduanya.

“Secara biologis, bipolar berkaitan dengan ketidakseimbangan neurotransmitter di otak seperti dopamin, serotonin, dan norepinefrin yang berperan dalam mengatur emosi, energi, dan motivasi. Selain itu, sistem pengatur stres sering kali bekerja berlebihan sehingga tubuh menjadi lebih sensitif terhadap tekanan,” jelas Agestiya. Akibatnya, perubahan suasana hati tidak hanya dirasakan secara emosional, tetapi juga secara fisik seperti gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan yang ekstrem, hingga peningkatan atau penurunan aktivitas tubuh secara drastis.

Ciri-ciri bipolar kambuh umumnya ditandai dengan munculnya kembali gejala fase mania/hipomania atau depresi. “Pada fase mania atau hipomania, seseorang cenderung tidur sangat sedikit namun tetap merasa berenergi, berbicara lebih cepat dengan ide yang meloncat-loncat, serta menunjukkan rasa percaya diri yang berlebihan,” Agestiya menjelaskan. Ia juga menjelaskan bahwa perilaku impulsif seperti belanja berlebihan atau mengambil keputusan berisiko atau tanpa pertimbangan matang juga sering muncul, bahkan disertai sikap mudah tersinggung atau marah.

Pada fase depresi, suasana hati menurun secara signifikan dengan perasaan sedih, hampa, atau putus asa yang berkepanjangan. “Seseorang dapat kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya sangat disukai, mengalami kelelahan ekstrem, merasa bersalah dan kesulitan berkonsentrasi, serta dapat disertai perasaan tidak berharga. Di beberapa kasus dapat muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri hingga mengakhiri hidup,” lanjutnya.

Pada beberapa kasus, penderita dapat mengalami gejala mania dan depresi secara bersamaan. Misalnya merasa sangat gelisah dan penuh energi, namun disertai perasaan sedih dan putus asa. Episode campuran ini tergolong berisiko tinggi dan memerlukan perhatian serius.

Cara Mengatasi Bipolar Kambuh

Mengatasi bipolar kambuh membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan konsisten.

Berikut langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi bipolar yang kambuh:

  • Tetap patuh pada pengobatan

Konsisten menjalani pengobatan sesuai anjuran psikiater adalah kunci utama dalam menjaga kestabilan suasana hati. Konsisten menjadi psikoterapi sesuai arahan psikolog seperti terapi kognitif perilaku (CBT) atau terapi interpersonal dapat membantu penderita mengelola emosi dan pola pikir.

  • Kenali tanda awal kekambuhan

Dengan mengenali ciri-ciri awal, penderita dan keluarga dapat segera mengambil tindakan sebelum gejala memburuk.

  • Kelola stres dengan baik

Teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, olahraga ringan, atau menulis jurnal dapat membantu meredakan stres.

  • Jaga pola tidur dan rutinitas harian

Tidur yang cukup dan jadwal yang teratur membantu menjaga kestabilan ritme biologis tubuh.

  • Hindari alkohol dan narkoba

Zat-zat ini dapat memperparah gejala dan meningkatkan risiko kekambuhan.

  • Bangun dukungan sosial

Berbagi cerita dengan keluarga, teman, atau komunitas pendukung dapat membantu penderita merasa lebih dipahami dan tidak sendirian.

Kapan Harus Mencari Pertolongan Profesional?

Pertolongan profesional sangat dianjurkan jika ciri-ciri bipolar kambuh mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, atau pekerjaan. Segera cari bantuan jika:

  1. Gejala berlangsung lebih dari beberapa hari, semakin memburuk, dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari
  2. Suasana hati berubah ekstrem dan sulit dikendalikan
  3. Penderita mulai bertindak impulsif dan berisiko
  4. Obat terasa tidak lagi efektif atau menimbulkan efek samping berat
  5. Mengalami halusinasi atau delusi
  6. Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain
  7. Psikiater, psikolog, dan tenaga kesehatan mental lainnya dapat membantu menyesuaikan pengobatan dan memberikan pendampingan yang tepat.

Ciri-ciri bipolar kambuh dapat dikenali melalui perubahan suasana hati, perilaku, dan pola pikir yang signifikan. Dengan pemahaman yang baik tentang apa itu bipolar, penyebab kekambuhan, serta cara mengatasinya, penderita dan orang terdekat dapat mengambil langkah pencegahan lebih dini. Gangguan bipolar memang tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, namun dengan penanganan yang tepat dan dukungan yang memadai, penderitanya tetap dapat menjalani hidup yang produktif dan bermakna.

(Edited by JM)