Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Terapi Cahaya Hijau Adalah Terapi Cahaya Merah Versi Terbaru yang Mulai Diminati

Para ahli mengungkap berbagai manfaat dari perawatan kulit dan terapi kesehatan yang masih sering diremehkan ini.

Terapi Cahaya Hijau Adalah Terapi Cahaya Merah Versi Terbaru yang Mulai Diminati
Foto: Courtesy BAZAAR US

Terapi cahaya merah kini ada di mana-mana, dan bukan tanpa alasan. Cahaya ini dianggap sebagai standar emas untuk berbagai perangkat perawatan kulit dan kebugaran karena mampu membantu menenangkan peradangan, merangsang pertumbuhan rambut, serta meningkatkan produksi kolagen seiring waktu. Anda mungkin sudah memiliki masker, panel, atau bahkan blanket terapi cahaya merah atau setidaknya mengenal seseorang yang memilikinya. Namun, ada pilihan lain dalam spektrum warna yang belum banyak dibicarakan dan bisa jadi justru menjadi elemen yang kurang dari rutinitas Anda: terapi cahaya hijau.

BACA JUGA: 
Mengenal Polyglutamic Acid yang Jadi Bahan Hidrasi Andalan dalam Skincare

“Jika terapi cahaya merah identik dengan stimulasi kolagen dan efek anti-aging, terapi cahaya hijau mulai menarik perhatian karena potensinya dalam membantu mengatur produksi pigmen berlebih dan meningkatkan kejernihan kulit secara keseluruhan,” ujar dermatolog Shereen Teymour kepada Bazaar. Selain manfaatnya untuk kulit, sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa terapi cahaya hijau dapat berperan penting dalam mendukung kesehatan dan kesejahteraan secara menyeluruh.

Terapi cahaya hijau lebih mudah dimasukkan ke dalam rutinitas harian daripada yang Anda bayangkan bahkan kemungkinan besar masker LED favorit Anda sudah dilengkapi fitur ini. Berikut penjelasan para ahli mengenai terapi yang masih underrated ini, manfaatnya, dan alasan mengapa terapi cahaya hijau layak mendapat tempat dalam rutinitas wellness sehari-hari Anda.

Apa Itu Terapi Cahaya Hijau?

Anggap terapi cahaya hijau sebagai pasangan yang menenangkan dan menyeimbangkan dari kemampuan regeneratif terapi cahaya merah. “Terapi cahaya hijau merupakan bentuk LED photobiomodulation yang menggunakan cahaya tampak dalam spektrum hijau, umumnya berada pada panjang gelombang 520 hingga 560 nanometer, dengan sebagian besar perangkat beroperasi di kisaran 525 hingga 540 nanometer,” jelas Shereen Teymour. Sama seperti terapi LED lainnya, metode ini bekerja dengan mengantarkan energi cahaya ke kulit tanpa menimbulkan panas berlebih atau kerusakan jaringan. Terapi cahaya hijau membantu meningkatkan kejernihan kulit secara keseluruhan dengan menargetkan hiperpigmentasi, bintik penuaan, rosacea, kemerahan, warna kulit yang tidak merata, hingga pembuluh kapiler yang tampak di permukaan kulit.

“Pada tingkat seluler, cahaya hijau mendukung fungsi mitokondria, yang pada dasarnya memberikan dorongan energi bagi sel untuk mempercepat perbaikan jaringan sekaligus mengurangi peradangan,” tambah Tara Adashev, advanced practice registered nurse di Neinstein Plastic Surgery. Manfaat terapi cahaya hijau juga tidak terbatas pada kulit. Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan bagi penderita migrain, fibromyalgia, dan nyeri kronis secara umum. “Cahaya hijau juga memiliki dampak yang lebih lembut terhadap melatonin dibandingkan cahaya biru. Jika digunakan dengan tepat, terapi ini dapat membantu mengatur siklus tidur dan bangun sehingga mendukung kualitas istirahat yang lebih optimal,” ujarnya.

Apa Saja Manfaat Terapi Cahaya Hijau?

Manfaat terapi cahaya hijau tidak hanya terbatas pada permukaan kulit. Jika digunakan secara konsisten, terapi ini berpotensi memberikan berbagai manfaat untuk tubuh secara keseluruhan.


Kesehatan Kulit

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa terapi cahaya hijau dapat membantu mengurangi tampilan hiperpigmentasi, kemerahan yang menyebar, serta warna kulit yang tidak merata. Terapi ini bekerja dengan menargetkan melanosit, sel yang bertanggung jawab memproduksi melanin untuk membantu memudarkan noda gelap. Selain itu, terapi cahaya hijau juga dapat membantu menurunkan kadar sitokin yang berperan dalam proses peradangan, sehingga berpotensi menenangkan kondisi seperti eksim, rosacea, dan pembuluh kapiler yang tampak di permukaan kulit.

Para dermatolog umumnya memandang terapi cahaya hijau sebagai pelengkap perawatan lain yang berfungsi mendukung kualitas dan kilau kulit secara keseluruhan, bukan sebagai solusi korektif tunggal dengan hasil yang dramatis. “Pasien yang menggunakan terapi cahaya hijau sering melaporkan bahwa kulit mereka tampak lebih cerah, tenang, dan merata seiring waktu. Namun, penting untuk dipahami bahwa bukti ilmiahnya belum sekuat terapi cahaya merah, dan hasilnya dapat berbeda pada setiap individu,” ujar Shereen.

Foto: Courtesy BAZAAR US


Foto: Courtesy BAZAAR US
dari Kiri ke Kanan: CurrentBody Skin LED Multi Light Therapy Mask, Skin Gym Revilit LED Light Wand

Meredakan Sakit Kepala dan Migrain

Penelitian menunjukkan bahwa terapi cahaya hijau juga berpotensi membantu mengurangi frekuensi migrain dan sakit kepala kronis. Para peneliti di University of Arizona menemukan bahwa paparan terapi cahaya hijau secara konsisten “dapat secara signifikan mengurangi frekuensi dan intensitas sakit kepala, dengan banyak pasien kronis mengalami penurunan jumlah hari sakit kepala hingga 50 persen atau lebih,” jelas dokter Sherly Soleiman.

Yang tak kalah penting, menurut Soleiman, para peserta dalam penelitian tersebut juga mampu mengurangi penggunaan obat-obatan mereka. Meski demikian, hasilnya tidak muncul secara instan. Berdasarkan studi tersebut, manfaat terapi cahaya hijau mulai terlihat setelah sekitar 10 minggu penggunaan setiap hari.

Walaupun temuan ini menjanjikan, hasilnya masih didasarkan pada studi berskala kecil. Soleiman menegaskan bahwa terapi cahaya hijau sebaiknya tidak dianggap sebagai pengobatan utama, melainkan pelengkap dari rencana perawatan migrain yang sudah ada. Ia juga menyarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli saraf sebelum memulai terapi cahaya hijau.

Mengelola Nyeri Kronis

Penggunaan terapi cahaya hijau untuk membantu mengelola nyeri kronis, termasuk fibromyalgia dan nyeri neuropatik, menunjukkan hasil yang menjanjikan, meski masih diperlukan uji klinis berskala lebih besar untuk memperkuat temuan tersebut. Terapi ini diyakini dapat membantu meredakan nyeri dengan meningkatkan produksi zat pereda nyeri alami dalam tubuh sekaligus mengurangi kecemasan yang sering menyertai kondisi nyeri kronis.

Kualitas Tidur


Sejumlah studi akademis juga menunjukkan bahwa cahaya hijau dapat memengaruhi produksi melatonin, hormon yang berperan dalam mengatur siklus tidur. “Yang diketahui sejauh ini adalah paparan cahaya hijau pada siang hari berpotensi mendukung regulasi ritme sirkadian yang sehat. Namun, karena panjang gelombang cahaya hijau dapat menekan produksi melatonin, penggunaannya pada malam hari justru bisa menjadi kontraproduktif. Karena itu, waktu penggunaan menjadi faktor yang sangat penting,” jelas Soleiman.

Ia menambahkan bahwa literatur ilmiah umumnya merekomendasikan sesi penggunaan harian selama satu hingga dua jam. Cahaya sebaiknya dilihat secara tidak langsung di ruangan yang redup, bukan ditatap secara langsung. Hasilnya umumnya mulai terlihat setelah sekitar delapan hingga sepuluh minggu penggunaan rutin setiap hari.

Perbedaan Terapi Cahaya Hijau dan Terapi Cahaya Merah

Menurut para ahli, perbedaan utama antara terapi cahaya merah dan terapi cahaya hijau terletak pada panjang gelombangnya. “Terapi cahaya merah memiliki dukungan bukti ilmiah yang jauh lebih kuat untuk stimulasi kolagen, penyembuhan luka, pengurangan peradangan, serta peremajaan kulit secara keseluruhan. Selain itu, cahaya merah juga mampu menembus lapisan kulit yang lebih dalam,” jelas Shereen.

Sebaliknya, cahaya hijau bekerja lebih superfisial dan sebagian besar diteliti untuk mengatasi masalah kulit di permukaan, seperti pigmentasi serta warna kulit yang tidak merata. “Jika cahaya merah paling identik dengan manfaat anti-aging, maka cahaya hijau lebih erat kaitannya dengan perbaikan tampilan kulit dan peningkatan kejernihan complexion,” ujarnya.

Tara menambahkan bahwa ketika digunakan bersamaan, kedua terapi ini dapat saling melengkapi dengan sangat baik dan memberikan hasil yang lebih komprehensif dibandingkan jika digunakan secara terpisah, terutama karena masalah kulit jarang terjadi secara tunggal. Terapi cahaya hijau juga cenderung lebih lembut, sehingga lebih fleksibel dan mudah ditoleransi oleh pemilik kulit sensitif.

Terapi cahaya hijau cukup mudah diakses karena banyak perangkat LED terbaik saat ini telah menggabungkan beberapa panjang gelombang cahaya dalam satu alat.

@ianmcrumm Curious about #greenlighttherapy? Here is a quick breakdown of the benefits. Tune in to BeautyCurious Podcast for the full skincare course with Dr. Ellen Marmur available wherever you get your podcasts. #redlighttherapy #bluelighttherapy #estheticianlife ♬ original sound - Ian Michael Crumm

Seberapa Sering Terapi Cahaya Hijau Sebaiknya Digunakan?

Sebagian besar perangkat terapi di rumah merekomendasikan penggunaan terapi cahaya hijau sebanyak tiga hingga lima kali per minggu, dengan durasi sekitar 10 hingga 20 menit per sesi, tergantung pada perangkat yang digunakan. Umumnya, hasil terbaik mulai terlihat setelah empat hingga enam minggu penggunaan yang konsisten.

“Seperti kebanyakan protokol wellness, terapi cahaya hijau memberikan hasil optimal melalui komitmen yang rutin, bukan penggunaan yang sesekali,” ujar Tara.

Apakah Terapi Cahaya Hijau Memiliki Efek Samping?

Secara umum, terapi cahaya hijau dianggap aman dan dapat ditoleransi dengan baik oleh sebagian besar orang. Efek sampingnya relatif jarang terjadi, namun jika muncul, menurut Shereen, biasanya hanya berupa kemerahan atau iritasi ringan yang bersifat sementara.

Ia juga mengingatkan bahwa terapi cahaya hijau tidak disarankan bagi individu yang memiliki gangguan fotosensitivitas atau sedang mengonsumsi obat-obatan yang meningkatkan sensitivitas terhadap cahaya. “Mereka yang memiliki riwayat migrain yang dipicu oleh paparan cahaya juga sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum memulai terapi, mengingat respons terhadap cahaya dapat berbeda pada setiap individu,” tambahnya.

Foto: Courtesy BAZAAR US

dari Kiri ke Kanan:  Foreo FAQ 202, Hooga Green Light Therapy Bulb, Mirabella Phototherapy 7-Color LED Facial Mask

BACA JUGA:
Apakah Masker LED Bisa Memperburuk Melasma? Ini Kata Dokter Kulit
Benarkah Makan Ikan Sardine Bisa Membuat Kulit Lebih Sehat?

(Penulis: Taryn Brooke; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR US)