Bagi para pencinta skincare, masker LED telah menjadi salah satu perangkat kecantikan yang paling diminati dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi ini diklaim dapat membantu mengatasi jerawat dan peradangan, meningkatkan produksi kolagen, serta menyamarkan noda hitam dan garis halus pada wajah. Dengan hanya mengenakan masker bercahaya selama sekitar 10 menit beberapa kali dalam seminggu, ini dapat mempercepat proses untuk mendapatkan kulit yang lebih cerah dan tampak bersih.
BACA JUGA: Begini Cara Mengatasi Skin Barrier Rusak
Namun di balik popularitasnya, muncul kekhawatiran baru. Sejumlah perempuan mengaku bahwa masker terapi cahaya merah, biru, dan inframerah yang selama ini dipuji karena kemampuannya mengatasi noda hitam justru dapat memperburuk kondisi kulit mereka. Mereka mengeklaim bahwa penggunaan masker LED memicu munculnya melasma, kondisi yang terjadi akibat produksi melanin berlebih pada kulit dan dapat menyebabkan bercak hiperpigmentasi yang cukup signifikan.
“Terapi cahaya merah 100 persen menyebabkan melasma,” tulis seorang pengguna Reddit yang frustrasi. “Saya tidak pernah mengalami kondisi ini sebelumnya, tetapi setelah beberapa sesi penggunaan, muncul bercak gelap di wajah yang sangat sulit dihilangkan.” Keluhan serupa juga banyak ditemukan di Reddit. Seorang pengguna lain menulis bahwa ia tidak pernah memiliki masalah melasma hingga mulai menggunakan masker LED. Kini, ia justru mencari cara untuk mengatasinya setelah merasa kondisi kulit wajahnya menjadi semakin buruk.
Menurut para dermatolog, kekhawatiran tersebut bukan sekadar mitos. “Saya telah melihat beberapa kasus di mana masker LED untuk penggunaan di rumah memperburuk melasma dan panas kemungkinan menjadi penyebab utamanya,” ujar Dendy Engelman, seorang dokter kulit di New York City. “Melasma sangat sensitif terhadap pemicu berupa sinar UV maupun panas. Beberapa perangkat LED, terutama yang menggunakan cahaya inframerah dapat menghasilkan panas yang cukup signifikan untuk mengaktifkan sel-sel pigmen. Bukan panjang gelombang cahayanya yang menjadi masalah, melainkan akumulasi paparan panas dan penggunaan berlebihan yang dapat meningkatkan risikonya,” jelasnya.
Pendapat serupa disampaikan oleh Morayo Adisa, dokter kulit yang berbasis di Chicago. Ia menjelaskan bahwa masker LED dapat memicu munculnya melasma pada orang yang memiliki kecenderungan terhadap kondisi tersebut. “Siapa pun, terutama perempuan yang memiliki riwayat pribadi atau keluarga dengan melasma, hiperpigmentasi akibat paparan sinar matahari atau panas, serta tipe kulit medium hingga gelap berisiko mengalami melasma akibat penggunaan masker LED,” jelasnya.
@drcharlesmd1 Update: LED masks. Be careful with melasma…. Narla, Shanthi, et al. "Visible light in photodermatology." Photochemical & Photobiological Sciences 19 (2020): 99-104. Alcantara, Giovana Piteri, et al. "Evaluation of ex vivo melanogenic response to UVB, UVA, and visible light in facial melasma and unaffected adjacent skin." Anais brasileiros de dermatologia 95 (2020): 684-690. Sarkar, Rashmi, et al. "Clinical and epidemiologic features of melasma: a multicentric cross‐sectional study from India." International Journal of Dermatology 58.11 (2019): 1305-1310. Del Rosso, James, et al. "Tretinoin photostability: comparison of micronized tretinoin gel 0.05% and tretinoin gel 0.025% following exposure to fluorescent and solar light." The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology 6.2 (2013): 25.
♬ Closer (Instrumental) - Saweetie
Masalahnya terletak pada dua hal. Pertama, masker LED menghasilkan panas pada kulit yang merupakan salah satu pemicu melasma yang paling umum. Menurut Nava Greenfield dari Schweiger Dermatology Group di New York City, melasma memiliki penyebab yang beragam dan paparan panas dapat memperburuk kondisi tersebut dengan merangsang melanosit, yakni sel penghasil pigmen untuk memproduksi lebih banyak melanin. Selain itu, jika masker LED digunakan untuk mengatasi jerawat, ada faktor lain yang perlu diperhatikan. Greenfield menjelaskan bahwa cahaya biru (blue light) pada perangkat LED juga dapat memicu produksi melanin. Dengan kata lain, terapi cahaya biru yang umumnya digunakan untuk membantu mengatasi jerawat dengan menargetkan bakteri P. acnes berpotensi merangsang pembentukan pigmen pada kulit yang pada akhirnya dapat memperburuk melasma.
Memahami riwayat kulit Anda menjadi langkah pertama untuk menentukan apakah terapi cahaya LED cocok digunakan. “Jika Anda pernah mengalami melasma, terutama saat hamil, menggunakan kontrasepsi hormonal atau setelah terpapar sinar matahari, risiko Anda lebih tinggi. Begitu pula jika kulit Anda mudah bereaksi terhadap panas atau bercak gelap sering muncul setelah hot yoga, sauna, maupun terapi uap,” ujar Dendy Engelman. Ia menambahkan, pemilik warna kulit medium hingga gelap juga cenderung lebih rentan terhadap masalah pigmentasi. Karena itu, penggunaan perangkat LED yang menghasilkan panas perlu dilakukan dengan hati-hati.
@drchizikeji Are LED masks stilk worth the hype? YES #doctor #redlighttherapy #skincare #skincareroutine ♬ original sound - Dr. Chisom Ikeji, MD
Jika Anda melihat hiperpigmentasi atau perubahan warna kulit yang semakin memburuk saat menggunakan masker LED, ketiga dermatolog yang diwawancarai menyarankan untuk segera menghentikan penggunaannya dan berkonsultasi dengan dokter mengenai pilihan perawatan serta rutinitas skincare yang lebih sesuai. Menurut Dendy Engelman, bahan aktif seperti tranexamic acid, niacinamide, azelaic acid, dan cysteamine dapat membantu memudarkan noda gelap secara lebih lembut. “Tabir surya mineral sebaiknya digunakan setiap hari, sementara antioksidan seperti vitamin C dapat membantu mencegah pembentukan pigmen lebih lanjut. Untuk penderita melasma, saya juga menyarankan penggunaan tinted SPF. Kandungan iron oxide di dalamnya membantu melindungi kulit dari hiperpigmentasi yang dipicu oleh panas, cahaya biru (blue light), dan paparan inframerah, bukan hanya sinar UV,” ujar Dendy Engelman.
Kiri ke kanan: BeautyStat Universal C Skin Refiner, Bloomeffects Royal Tulip Vitamin C Facial Oil, The Inkey List 15% Vitamin C + EGF Serum.
Kiri ke kanan: Shiseido Ultimate Sun Protector Lotion Mineral SPF 60+, Dune The Mineral Melt SPF 30, Vacation Mineral Lotion SPF 30.
Kiri ke kanan: Merit Beauty The Uniform Tinted Mineral Sunscreen SPF 45, EltaMD Daily SPF 40 Tinted Face Sunscreen, Live Tinted Hueguard Tinted Sunscreen SPF 50.
Melasma memang bukan kondisi yang mudah diatasi. Jika hiperpigmentasi masih bertahan meski penggunaan masker LED telah dihentikan, Dendy Engelman menyarankan untuk menemui dokter kulit. “Pilihan perawatannya dapat berupa krim racikan khusus atau tindakan di klinik seperti chemical peel dan laser bersuhu rendah yang diformulasikan untuk kulit yang rentan terhadap pigmentasi,” jelasnya.
Para Ahli:
- Dendy Engelman adalah dokter spesialis kulit bersertifikasi (board-certified dermatologist) dan ahli bedah Mohs di Shafer Clinic, New York City.
- Morayo Adisa adalah dokter spesialis kulit bersertifikasi yang berbasis di Chicago.
- Nava Greenfield adalah dokter spesialis kulit bersertifikasi di Schweiger Dermatology Group, New York City.
BACA JUGA:
10 Contoh Skin Barrier Rusak yang Wajib Anda Sadari
Panduan Memilih Sunscreen untuk Kulit Berminyak
(Penulis: Jenna Rosenstein; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Elaine Mary; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
