Kita hidup di era ketika terlihat "baik-baik saja" seolah menjadi standar baru. Kita belajar menyembunyikan kelelahan, tekanan, dan beban mental di balik senyum, rutinitas, serta penampilan yang tetap terjaga. Namun, selalu ada jejak yang sulit disembunyikan. Bukan dari ekspresi wajah, melainkan dari kondisi kulit.
Skin breakout saat stres bukan sekadar sugesti.
Jerawat, kulit kusam, sensitivitas, hingga penuaan dini sering kali bukan sekadar persoalan rangkaian skincare atau penggunaan produk tertentu. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh kualitas tidur, tingkat stres, dan kesejahteraan mental. Di sisi lain, masalah kulit juga dapat meningkatkan beban psikologis sehingga menciptakan siklus yang saling memengaruhi: stres memperburuk kondisi kulit, sementara skin breakout semakin meningkatkan stres. Karena itu, penting untuk melihat kesehatan kulit dan kesejahteraan mental sebagai satu kesatuan yang saling memengaruhi. Pendekatan holistik ini bukan hanya membantu memperbaiki kondisi kulit, tetapi juga mendukung kualitas hidup secara keseluruhan.
Fakta inilah yang mendorong banyak ahli mulai menyoroti hubungan erat antara kesejahteraan mental dengan kondisi kulit. “Skin breakout saat stres bukan sekadar sugesti. Peningkatan hormon stres dan respons inflamasi dapat memengaruhi produksi minyak, melemahkan skin barrier, serta memicu peradangan sehingga jerawat lebih mudah muncul dan lebih sulit mereda,” ujar dr. Hafiza Fathan, Sp.DVE, FINSDV, seorang dokter Spesialis Kulit dan Kelamin serta Founder dari Dermis Skin & Slimming Center sekaligus pendiri ONELIFE+ Integrated Health Center.
Mengenal Skin-Mind Connection
Kulit sering kali menjadi cerminan pertama dari kondisi tubuh kita. Meski terlihat hanya sebagai lapisan terluar, kulit sebenarnya merupakan organ terbesar yang memiliki hubungan erat dengan berbagai sistem di dalam tubuh. Itulah mengapa kesehatan kulit tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh kondisi internal tubuh, termasuk pikiran.
Menurut dr. Hafiza Fathan, kulit bukanlah organ yang bekerja secara terpisah. "Kulit itu bukan organ yang berdiri sendiri. Skin, body, and brain are constantly communicating," jelasnya.
Ia juga mengatakan bahwa kulit terus berkomunikasi dengan otak, sistem saraf, dan hormon melalui mekanisme yang dikenal sebagai skin-brain axis. Hubungan inilah yang menjelaskan mengapa kondisi mental dapat memengaruhi cara kulit bereaksi, beradaptasi, hingga menjalankan proses pemulihannya.
Apa yang Terjadi pada Kulit saat Stres?
Saat seseorang mengalami stres, tubuh akan melepaskan hormon kortisol sebagai respons alami. Menurut dr. Hafiza Fathan, jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, peningkatan hormon kortisol dapat memicu peradangan, meningkatkan produksi minyak (sebum), serta melemahkan fungsi skin barrier. Akibatnya, kulit menjadi lebih mudah breakout, lebih sensitif, tampak kusam, kemerahan, hingga terlihat lebih lelah.
Skin, body, and brain are constantly communicating.
Di sisi lain, stres juga dapat mengganggu kualitas tidur. Padahal, saat tidur tubuh menjalankan proses rest, recovery, dan regenerasi, termasuk memperbaiki kondisi kulit. Ketika proses ini tidak berlangsung optimal, kemampuan kulit untuk memulihkan diri ikut menurun sehingga berbagai masalah kulit lebih mudah muncul.
Inilah mengapa menjaga kesejahteraan mental menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kulit. Ketika pikiran lebih tenang dan tubuh tidak terus-menerus berada dalam kondisi stres, proses pemulihan alami dapat berlangsung lebih optimal. Hasilnya tidak hanya dirasakan dari dalam, tetapi juga tercermin melalui kulit yang tampak lebih sehat, segar, dan bercahaya.
"Pada akhirnya, tujuan utamanya adalah tampil sehat, merasa lebih seimbang, dan menjalani hidup dengan lebih baik. Karena itu, kesehatan mental kini menjadi bagian penting dari perjalanan estetika dan perawatan diri," tutup dr. Hafiza Fathan.
Meski demikian, dr. Hafiza Fathan mengingatkan bahwa tidak semua skin breakout disebabkan oleh stres. Secara dermatologis, kondisi kulit dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti perubahan hormon, penggunaan skincare yang kurang tepat, pola makan, kualitas tidur, obat-obatan tertentu, hingga proses penuaan. Namun, ketika berbagai faktor tersebut disertai stres berkepanjangan atau kelelahan mental, kondisi kulit dapat menjadi lebih rentan mengalami peradangan dan breakout.
Mental Wellness Treatment sebagai Solusi
Seiring berkembangnya dunia estetika, perawatan kulit kini tidak lagi hanya berfokus pada tampilan luar, tetapi juga pada faktor internal yang memengaruhi kesehatan kulit. Berangkat dari pemahaman tersebut, dr. Hafiza Fathan menghadirkan EXOMIND dari BTL Aesthetics sebagai bagian dari pendekatan mental wellness treatment.
EXOMIND merupakan teknologi non-invasif yang bekerja sebagai "brain workout", membantu menstimulasi area otak yang berperan dalam regulasi emosi, pengelolaan stres, serta fungsi kognitif. Pendekatan ini bukan untuk menggantikan skincare maupun perawatan dermatologi, melainkan menjadi pelengkap yang mendukung kesehatan dari dalam sehingga pasien dapat merasa lebih tenang, memiliki fokus yang lebih baik, dan mencapai keseimbangan antara tubuh dan pikiran.
Pada akhirnya, tujuan utamanya adalah tampil sehat, merasa lebih seimbang, dan menjalani hidup dengan lebih baik.
"Karena itu, kami tidak lagi hanya bertanya, 'Apa yang terjadi pada kulit Anda?' tetapi juga, 'Apa yang sedang terjadi di dalam tubuh dan kehidupan Anda?' Pendekatan inilah yang membantu kami melihat pasien secara lebih menyeluruh," ujar dr. Hafiza Fathan.
Melalui pendekatan yang lebih holistik, kesehatan kulit tidak hanya dipandang sebagai hasil dari perawatan topikal, tetapi juga sebagai refleksi dari keseimbangan antara pikiran, tubuh, dan gaya hidup. Ketika tubuh dan pikiran berada dalam kondisi yang lebih tenang, proses pemulihan alami dapat berlangsung lebih optimal dan hal tersebut turut tercermin melalui kulit yang tampak lebih sehat, segar, dan bercahaya.
Transformasi Nyata Pasien
dr. Hafiza Fathan membagikan salah satu pengalaman pasien yang paling berkesan. Seorang perempuan berusia awal 40-an datang dengan keinginan sederhana, yaitu membuat wajahnya tampak lebih segar. Namun, setelah dilakukan konsultasi lebih mendalam, ternyata keluhan utamanya bukan hanya soal kulit. Ia mengaku sering merasa mentally drained, sulit mendapatkan tidur yang berkualitas, mudah merasa overwhelmed, dan energinya tidak lagi seperti dulu.
Perjalanan wellness dengan EXOMIND tidak hanya tentang penampilan, tetapi juga membantu seseorang merasa lebih baik, berfungsi optimal, dan meningkatkan kualitas hidup.
Sebagai bagian dari holistic wellness journey, pasien tersebut menjalani beberapa sesi EXOMIND treatment. Menariknya, perubahan pertama yang ia rasakan bukanlah pada kulit, melainkan pada kondisi dirinya. Tidurnya menjadi lebih berkualitas, pikirannya terasa lebih fokus, dan aktivitas sehari-hari terasa lebih ringan dijalani.
"Ketika kondisi internalnya mulai membaik, wajahnya juga ikut berubah. Ia terlihat lebih fresh, lebih rileks, dan ketegangan di wajahnya berkurang. Ini menjadi pengingat bahwa apa yang terjadi di dalam tubuh sering kali ikut tercermin pada penampilan luar," ujar dr. Hafiza Fathan.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat bahwa kesehatan kulit merupakan bagian dari perawatan diri yang lebih menyeluruh. Seiring dunia estetika bergerak menuju pendekatan holistik, keseimbangan mental menjadi aspek penting yang tidak dapat diabaikan. Mental wellness treatment melalui EXOMIND hadir sebagai inovasi untuk mendukung kondisi mental yang lebih tenang dan seimbang.
Melalui pendekatan terintegrasi di ONELIFE+ Integrated Health Center, perjalanan wellness dengan EXOMIND tidak hanya tentang penampilan, tetapi juga membantu seseorang merasa lebih baik, berfungsi optimal, dan meningkatkan kualitas hidup.
Created by Harper's Bazaar Indonesia for BTL Aesthetic
BACA JUGA:
Apakah Masker LED Bisa Memperburuk Melasma? Ini Kata Dokter Kulit
12 Langkah untuk Tampil Natural dengan No Makeup Makeup Look
(Penulis Kirana Anindya)
