Iris van Herpen tanpa diragukan lagi adalah salah satu couturier paling revolusioner di dunia—desainer pertama yang menampilkan dress hasil 3D printing di runway, sekaligus pencipta dress yang dapat melepaskan gelembung melalui microprocessor tersembunyi—namun ia tidak selalu akrab dengan teknologi. “Saya sebenarnya tumbuh tanpa televisi di rumah. Saya mendapatkan ponsel pertama saat berusia sekitar 19 tahun dan laptop pertama saat berusia 22 tahun,” ujar desainer asal Belanda tersebut kepada Harper's Bazaar, sambil menyadari ironi dari hal itu. Saat mempelajari fashion design di ArtEZ Institute of the Arts di Arnhem, Belanda, ia justru lebih tertarik mendalami teknik haute couture historis. “Saya ingat pernah mendapat pelajaran Illustrator dan Photoshop lalu berdebat dengan guru saya karena merasa saya sama sekali tidak akan membutuhkan program-program itu.”
BACA JUGA:
Anne Hathaway Memadukan Seni dan Sains Lewat Gaun Iris van Herpen yang Memukau
Kini, 19 tahun setelah Iris mendirikan perusahaan atas namanya sendiri, perpaduan khas antara craftsmanship couture tradisional dan inovasi teknologi tinggi telah memberinya berbagai penghargaan serta sebuah retrospective berskala internasional. Pada 2023, Iris van Herpen: Sculpting the Senses dibuka di Musée des Arts Décoratifs, mengajak pengunjung menyelami proses kreatif dan beragam inspirasi Iris. “Bagi saya, fashion sangat terhubung dengan seni, arsitektur, sains, bahkan tari. Saya tidak melihat adanya batas di antara disiplin-disiplin tersebut,” ujar sang couturier. “Rasanya sangat penting untuk mewujudkan visi itu sekaligus semangat kolaboratif yang ada dalam karya saya.”
Sejak itu, Sculpting the Senses telah berkeliling ke Australia, Singapura, dan Belanda. Pada Mei ini, pameran tersebut melakukan debutnya di Amerika Utara di Brooklyn Museum, dan akan berlangsung hingga 6 Desember 2026. Dikurasi oleh Matthew Yokobosky, senior curator of Fashion and Material Culture, bersama Imani Williford, curatorial assistant untuk Photography, Fashion, and Material Culture, versi New York dari Sculpting the Senses menjadi yang terbesar sejauh ini, menghadirkan lebih dari 140 tampilan haute couture bersama karya seni rupa dan seni dekoratif, serta spesimen sejarah alam.
Tampilan instalasi Iris van Herpen: Sculpting the Senses, Brooklyn Museum, 2026. (Foto: On White Wall)
Meski bagian-bagian tematik dalam pameran ini—mulai dari Sensory Sea Life, yang berfokus pada makhluk bawah laut, hingga Forces Behind the Forms, yang mengeksplorasi struktur alami seperti sarang burung dan sarang lebah—tetap sama, urutannya telah diubah untuk edisi Brooklyn Museum. Beberapa garment juga dipamerkan untuk pertama kalinya, termasuk tampilan “Living Algae,” yang dibuat bersama biodesigner Chris Bellamy untuk koleksi Sympoiesis 2025 milik Iris van Herpen. Dihuni oleh 125 juta alga bioluminesen, tampilan tersebut memancarkan cahaya sebagai respons terhadap gerakan pemakainya. Kreasi sartorial baru lainnya termasuk gaun bernuansa api yang dirancang Iris untuk Anne Hathaway dalam film Mother Mary. Di dalam film, karakter yang diperankan Michaela Coel membuat tampilan tersebut hanya dalam satu malam, namun pada kenyataannya pengerjaannya memakan waktu tiga bulan dan melibatkan banyak orang.
Iris juga memilih sejumlah karya dari koleksi Brooklyn Museum yang melengkapi praktik kreatifnya, termasuk eksperimennya terhadap persepsi dan cahaya. Karya-karya tersebut mencakup kursi kayu bergaya Gothic Revival abad ke-19 yang dipasangkan dengan dress “Cathedral” karya Iris dari tahun 2012, hingga patung biomorfik berbahan Mylar dan hot glue karya Tara Donovan yang dipamerkan berdampingan dengan dress “Aeriform” tahun 2017 miliknya, terbuat dari stainless steel hasil laser-cut dan tulle.
Sorotan lain bagi Iris—yang menganggap CERN di Swiss, tempat berkumpulnya 10.000 ilmuwan, sebagai salah satu lokasi favoritnya—adalah keberhasilannya meminjam spesimen karang dan paleontologi dari American Museum of Natural History, kupu-kupu dan kumbang metalik dari Yale Peabody Museum, serta kumbang moncong dan tonggeret dari Staten Island Museum. Objek-objek menakjubkan dari AMNH, institusi ikonik New York tersebut, mencakup fosil ikan pari berusia 50 juta tahun, dinosaurus herbivora berusia 80 juta tahun, serta reptil laut berusia 180 juta tahun dengan panjang lebih dari 11 kaki dan berat mencapai 1.089 pon.
Evolusi paling signifikan dari Sculpting the Senses adalah perluasan Alchemical Atelier milik Iris, yang mengubah galeri Rotunda setinggi 72 kaki di Brooklyn Museum menjadi studio Amsterdam miliknya. Dikelilingi display sampel kain dan model, terdapat instalasi video baru yang menampilkan rekaman berdurasi berjam-jam tentang tiga teknik handcrafted dari atelier Iris, diproyeksikan ke hamparan kain setinggi 25 kaki yang disampirkan pada manekin. Untuk pertama kalinya, dipamerkan pula salah satu aerial sculpture Iris dari tahun 2024 berjudul Weightlessness of the Unknown, sebuah karya kain berlukis yang dibayangkan sang desainer sebagai “self-portrait dari dunia batinnya.”
Tampilan instalasi Iris van Herpen: Sculpting the Senses, Brooklyn Museum, 2026. (Foto: On White Wall)
Karya ini juga berfungsi sebagai latar memukau untuk pengalaman participatory-performance baru yang ditawarkan Iris van Herpen selama pameran berlangsung. Pada hari-hari tertentu, pengunjung pameran akan diundang mengikuti sesi personal selama 20 menit bersama Iris untuk melipat kain berbahan dasar metal yang ia kembangkan secara khusus. (Teknik plissé telah menjadi signature house dari labelnya.)
“Saya ingin para pengunjung merasakan langsung handwork couture yang sesungguhnya dan kondisi meditatif yang menyertainya. Bagi banyak orang, proses itu terasa misterius sekaligus magis,” ujar Iris. “Orang-orang sering mengatakan kepada saya bahwa mereka sangat terinspirasi oleh karya saya, tetapi mereka merasa dirinya tidak kreatif. Saya percaya kreativitas itu ada dalam diri kita semua, dan semuanya dimulai dari tangan kita. Sebagai seorang seniman, saya tidak pernah memulai dengan ide besar. Semuanya dimulai dari tangan saya, dan handwork itu sendiri yang mengajarkan saya ke mana harus melangkah.” Karena teknik pleating tersebut didasarkan pada lebar jari setiap orang, tiap kreasi yang dihasilkan akan unik, “seperti tulisan tangan,” kata sang couturier.
Meski kesempatan untuk menghabiskan begitu banyak waktu bersama salah satu desainer paling visioner masa kini terasa belum pernah terjadi sebelumnya, Iris justru menganggap pengalaman ini sebagai sebuah “hadiah” untuk dirinya sendiri. “Handwork jelas merupakan titik awal saya, tetapi sekarang sering kali saya tidak punya cukup waktu untuk melakukannya sendiri,” ujarnya, merujuk pada para asisten studio yang membantu mengerjakan garment rancangannya. “Bagi saya, momen-momen ini sangat berharga, dan mencerminkan semangat kolaboratif dari atelier kami di Amsterdam.”
Iris juga sangat menghargai percakapan intim yang kerap muncul selama proses handwork berlangsung; karena itu, setiap diskusinya dengan para pengunjung akan direkam. Setelah pameran berakhir, Iris akan mendraperi kain-kain pleated tersebut menjadi sebuah dress, dengan lapisan bagian dalam yang akan dibordir menggunakan potongan-potongan inspiratif dari berbagai percakapan tadi. Sebagian merupakan “time capsule” material, sebagian lagi sebuah "gesamtkunstwerk", garment ini nantinya akan ditampilkan dalam iterasi berikutnya dari Sculpting the Senses.
Sama seperti kemampuannya menciptakan couture yang tampak menentang gravitasi dan tak tertandingi, kemurahan hati Iris pun seolah tidak memiliki batas.
BACA JUGA:
Simak Percakapan Eksklusif Bazaar Bersama Iris van Herpen Seputar Aspirasinya
Gaun Iris van Herpen yang Dipakai Rossa Saat Konser Dibuat Selama 400 Jam
(Penulis: Stephani Sporn; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Alleia Anata; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
