Golden Goose resmi membuka gerai pertamanya di Indonesia lewat Fioreria Golden yang berlokasi di Plaza Senayan, Jakarta. Kehadiran ruang retail ini menjadi langkah baru Golden Goose dalam memperluas eksistensinya di kawasan Asia Pacific, sekaligus membawa pendekatan luxury yang lebih personal dan ekspresif kepada konsumen Indonesia. Mengusung konsep yang terinspirasi dari toko bunga khas Italia, Fioreria Golden memadukan sentuhan vintage, craftsmanship artisanal, dan pengalaman retail yang immersive dalam satu ruang yang terasa hangat sekaligus kontemporer.
Interior toko dirancang menyerupai gerai Italia klasik dengan detail bunga berwarna-warni, furnitur kayu antik, hingga meja besar yang terinspirasi dari meja kerja florist tradisional. Perpaduan elemen industrial seperti permukaan super mirror dan dinding bertekstur unfinished turut memberikan nuansa modern yang kontras namun tetap harmonis. Tidak hanya menghadirkan koleksi ready-to-wear, sneakers, dan aksesori terbaru, Fioreria Golden juga menempatkan konsep co-creation sebagai inti pengalaman berbelanja.
Dalam kesempatan ini, Harper’s Bazaar Indonesia berkesempatan untuk wawancara dengan Giorgio Van Den Borre selaku Golden Goose APAC General Manager mengenai filosofi brand, pandangannya terhadap pasar Indonesia, hingga visi Golden Goose di Asia Pacific.
Menurut Giorgio, hal yang membuat Golden Goose berbeda dari luxury brand lain adalah pendekatannya yang tidak konvensional. Berdiri sejak tahun 2000, Golden Goose hadir dengan interpretasi kemewahan yang lebih dekat dengan ekspresi personal dibanding kesempurnaan tradisional. “We are an unconventional luxury brand,” ujarnya.
Filosofi “perfectly imperfect” yang menjadi identitas brand juga berakar dari gagasan untuk memberikan kehidupan kedua pada sesuatu. Giorgio menjelaskan bahwa ide tersebut lahir dari latar belakang para pendiri Golden Goose yang dekat dengan dunia desain dan arsitektur, di mana karakter dan jejak waktu justru dianggap memiliki nilai tersendiri. Pendekatan itu kemudian diterjemahkan ke dalam fashion melalui tampilan lived-in dan distressed yang kini menjadi ciri khas Golden Goose, tanpa menghilangkan kualitas craftsmanship yang detail dan premium. Ia juga menegaskan bahwa Golden Goose tidak sekadar ingin menjual produk, tetapi menciptakan hubungan yang lebih personal dengan pelanggan. Melalui konsep co-creation, pelanggan dapat bekerja sama dengan Dream Makers untuk mempersonalisasi sneakers, tas, maupun apparel menggunakan berbagai ornamen seperti kristal, renda, ilustrasi tulisan tangan, hingga detail handmade lainnya. “Luxury for us is self-expression,” ujarnya. Bagi Giorgio, pengalaman satu-satu inilah yang menjadi definisi luxury modern bagi Golden Goose.
Giorgio turut memberikan pandangannya mengenai Indonesia sebagai salah satu market yang paling dinamis di Asia. Ia melihat Jakarta sebagai kota yang mempertemukan beragam budaya, gaya hidup, dan karakter dalam satu tempat. Menurutnya, keberagaman tersebut menciptakan ruang bagi orang-orang untuk lebih bebas mengekspresikan diri, sesuatu yang terasa sangat selaras dengan nilai yang diusung Golden Goose. “Jakarta gives space for every personality,” ungkapnya saat membahas bagaimana kota ini menawarkan perpaduan antara tradisi, kreativitas, dan energi modern.
Lebih dari sekadar toko, Fioreria Golden juga dirancang sebagai community space yang hidup. Kehadiran Con Amore Cart dengan kopi, bunga segar, hingga gifting experience menjadi bagian dari pendekatan brand dalam menciptakan interaksi yang lebih intimate dengan pelanggan. Ke depannya, Golden Goose juga berencana menghadirkan berbagai workshop, event, dan aktivasi komunitas secara rutin di dalam toko. Lewat pembukaan Fioreria Golden di Jakarta, Golden Goose tidak hanya membawa pengalaman retail baru ke Indonesia, tetapi juga menghadirkan ruang yang merayakan craftsmanship, kreativitas, dan ekspresi diri dalam pendekatan mewah yang terasa lebih personal dan autentik.
(Foto: Courtesy of Golden Goose, Wawancara: Geofanny Tambunan, Teks: Alleia Anata)
