Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Mengenal Badan Perfilman Indonesia yang Kini Menuju Cannes untuk Pertama Kalinya

Di balik layar industri film nasional, BPI hadir sebagai penghubung yang menggerakkan percakapan dari dalam negeri menuju panggung global.

Mengenal Badan Perfilman Indonesia yang Kini Menuju Cannes untuk Pertama Kalinya
Foto: Courtesy of Badan Perfilman Indonesia

Di tengah pergerakan industri film Indonesia yang terus berkembang, Badan Perfilman Indonesia (BPI) kembali hadir dengan struktur kepengurusan baru untuk periode 2026 hingga 2030. Momentum ini tidak datang sebagai sesuatu yang tiba-tiba, melainkan sebagai bagian dari proses yang telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA: Perjalanan 24 Jam Bazaar di Cannes Film Festival Bersama L'Oréal Paris

Melalui pembaruan ini, BPI menempatkan dirinya sebagai ruang yang tidak hanya mengakomodasi berbagai elemen perfilman, tetapi juga merangkainya dalam satu ekosistem yang lebih terhubung.

Apa itu Badan Perfilman Indonesia (BPI)?

Badan Perfilman Indonesia (BPI) adalah lembaga swasta mandiri yang dibentuk sebagai ruang bersama bagi seluruh elemen perfilman Indonesia. Di dalamnya, berbagai peran bertemu, dari kreator hingga pemangku kebijakan, dalam satu struktur yang saling berkaitan.

Didirikan pada 17 Januari 2014 berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, BPI dikukuhkan oleh Presiden dan difasilitasi oleh pemerintah. 

Dalam posisinya, BPI berada di antara industri dan negara, menjalankan fungsi yang tidak hanya administratif, tetapi juga strategis dalam membangun arah perfilman nasional.

Apa Peran BPI dalam Lanskap Perfilman Indonesia?

Peran BPI tidak selalu hadir dalam bentuk yang terlihat langsung. Ia bekerja melalui berbagai lapisan yang secara perlahan membentuk fondasi industri.

Beberapa fungsi yang dijalankan BPI antara lain:

  • Memberikan masukan dan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah
  • Mendorong percepatan regulasi perfilman nasional
  • Menyelenggarakan dan berpartisipasi dalam festival film
  • Mempromosikan Indonesia sebagai lokasi produksi film
  • Melakukan penelitian dan pengembangan perfilman
  • Memberikan penghargaan kepada insan perfilman
  • Memfasilitasi pendanaan untuk produksi film bermutu tinggi 

Melalui fungsi-fungsi ini, BPI berperan dalam membangun struktur yang memungkinkan industri bergerak secara lebih terarah.

Siapa yang Berada di Balik BPI Saat Ini?

Untuk periode 2026 hingga 2030, BPI dipimpin oleh Fauzan Zidni sebagai Ketua Umum, didampingi oleh Nazira C. Noer sebagai Sekretaris Jenderal dan Sindy Dewiana sebagai Bendahara Umum. 

Struktur organisasi BPI juga diisi oleh berbagai nama yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan perfilman Indonesia, mulai dari aktor, sutradara, hingga produser.

Beberapa di antaranya adalah:

  • Reza Rahadian
  • Christine Hakim
  • Joko Anwar 

Kepengurusan ini berjalan dalam siklus empat tahunan, menciptakan ruang bagi regenerasi sekaligus kesinambungan arah industri.

Mengapa Cannes Menjadi Langkah Berikutnya bagi BPI?

Festival Film Cannes bukan sekadar festival. Ia adalah titik temu di mana ide, investasi, dan distribusi bertemu dalam satu percakapan global.

Kehadiran BPI di Cannes membuka berbagai kemungkinan:

  • Menemukan distributor untuk film Indonesia
  • Membangun kerja sama produksi lintas negara
  • Menghubungkan sineas lokal dengan investor global
  • Memperkenalkan Indonesia sebagai lokasi produksi

Dalam konteks ini, Cannes menjadi ruang untuk memperluas jaringan sekaligus menggeser posisi Indonesia dari sekadar partisipan menjadi mitra.

Bagaimana Cara BPI Bekerja di Balik Layar?

Alih-alih bergerak dalam satu lini, BPI bekerja melalui berbagai lapisan yang menghubungkan aspek kreatif, industri, hingga kebijakan.

Pengembangan Talenta

BPI mendorong peningkatan kualitas sineas melalui program magang, penyelarasan kurikulum, hingga pengiriman talenta ke sekolah dan laboratorium film internasional. 

Fasilitasi Industri

Di sisi lain, BPI menjadi penghubung antara kreator dan sumber daya, baik dalam bentuk pendanaan, regulasi, maupun akses pasar.

Kolaborasi Global

Melalui kehadiran di festival internasional, BPI membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, mulai dari distribusi hingga kerja sama produksi.

Penguatan Ekosistem

Termasuk di dalamnya upaya yang lebih struktural seperti gerakan anti-pembajakan, penyelenggaraan Festival Film Indonesia, serta riset dan pengembangan industri. 

Ke mana Arah BPI dan Perfilman Indonesia Selanjutnya?

Sejak berdiri pada tahun 2014, BPI telah bergerak dalam ritme yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi perlahan membentuk lanskap yang lebih terhubung.

Kini, dengan langkah menuju Cannes, arah tersebut terasa semakin jelas bahwa perfilman Indonesia tidak lagi hanya berbicara ke dalam, tetapi mulai menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas.

Di antara semua itu, BPI hadir sebagai penghubung yang memastikan setiap potensi tidak hanya berkembang, tetapi juga menemukan jalannya.

BACA JUGA:

20 Gaun Terbaik Sepanjang Masa di Cannes, Menurut Editor Bazaar

Kolaborasi Bizaroid dan Pierre Richard yang Tayang di Cannes 2025

(Penulis: Devon Satrio)