Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

10 Film Nicholas Saputra yang Wajib Masuk Daftar Tontonan Anda

Tidak hanya menikmati penampilan Nicholas, tetapi juga menyelami kisah di dalamnya.

10 Film Nicholas Saputra yang Wajib Masuk Daftar Tontonan Anda

Pada awal tahun 2002, kisah sepasang siswa sekolah menengah atas bernama Cinta dan Rangga dalam film produksi Miles Production, Ada Apa Dengan Cinta? yang berhasil meraih sukses di industri perfilman Tanah Air. Sosok Nicholas Saputra, pemeran Rangga, seorang laki-laki pendiam yang berhasil membuat, tidak hanya Cinta tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia, jatuh cinta kepadanya.

Sejak film pertamanya mendulang sukses, aktor keturunan Jerman dan Indonesia ini terus mengepakkan sayapnya di industri yang membesarkan namanya. Dengan proses syuting yang tengah ia lakukan untuk film terbaru garapan Mira Lesmana dan Riri Riza berjudul Paranoia, mari menilik lebih dalam tentang film-film yang pernah diperankan Nicholas dan mungkin dapat menjadi salah satu film yang wajib Anda saksikan.

1. Biola Tak Berdawai (2003)



Film arahan sutradara Sekar Ayu Asmara mengisahkan Renjani – diperankan oleh Ria Irawan – seorang mantan penari balet yang menjadi korban pemerkosaan dan kemudian mengandung anak dari pemerkosa tersebut. Setelah dipaksa untuk menggugurkan kandungannya, Renjani memulai kehidupan baru di Yogyakarta dengan membuka rumah asuh bagi anak-anak disabilitas bernama Ibu Sejati. Film ini merupakan film kedua yang melibatkan Nicholas Saputra melalui perannya sebagai Bhisma, seorang pemain biola yang jatuh cinta kepada Renjani dan dekat dengan anak asuh Renjani, Dewa. Biola Tak Berdawai ini merupakan sebuah sonata ciptaan Bhisam untuk Dewa. Film yang berlatar Kota Yogyakarta ini, menurut Sekar, menyampaikan pesan pengorbanan seseorang atas nama cinta. Biola Tak Berdawai sendiri merupakan sebuah metafora yang menggambarkan anak-anak disabilitas, simbol bagi jiwa-jiwa yang belum pernah merasakan kasih sayang dan hati-hati yang terluka. Film ini dirilis di seluruh bioskop pada 4 April 2003 dan menganugerahi Sekar Ayu dalam Cairo International Film Festival dengan kategori sutradara terbaik.

2. Janji Joni (2005)


Cerita Joni (Nicholas Saputra), seorang pengantar rol film yang selalu tepat waktu dalam mengirimkan rol film ke setiap bioskop. Namun, pertemuannya dengan seorang perempuan bernama Angelique, yang tidak memberitahukan namanya kepada Joni, menjadi petualangan tersendiri bagi Joni dalam pengantaran rol filmnya kali ini. Mulai dari membantu persalinan istri seorang sopir taksi hingga harus berlari menjauhi massa yang mengira ia adalah seorang pencuri, berbagai tantangan harus dilalui Joni untuk mengantarkan rol film tepat waktu karena ketika rol film tersebut sampai tepat waktu, ia akan mendapatkan kesempatan untuk mengenal perempuan tersebut. Film komedi romantis arahan sutradara Joko Anwar berhasil menganugerahi Nicholas Saputra dengan Piala MTV Indonesia Movie Awards 2005 untuk kategori Aktor Terbaik serta nominasi Piala Citra untuk kategori Aktor Pemeran Utama Terbaik pada tahun yang sama.

3. Gie (2005)


Catatan aktivisme Indonesia pada era Presiden Soekarno tidak lepas dari sosok Soe Hok Gie, seorang aktivis dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang menentang kediktatoran dari pemimpin pertama Indonesia. Film yang terinspirasi dari diari milik sang aktivis, Catatan Seorang Demonstran, memilih Nicholas Saputra untuk memerankan sosok Gie dalam film berdurasi 147 menit tersebut. Mendalami kehidupan Soe Hok Gie yang menghabiskan masa remajanya di bahwa kekuasaan Soekarno, yang digambarkan penuh konflik antara militer dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Nicholas berhasil memerankan sosok Gie, dalam ketenangannya mampu memberikan kritik tajam dan berani menyuarakan pendapatnya terkait kesenjangan sosial, penyalahgunaan kekuasaan, serta korupsi, dalam berbagai kelompok diskusi, organisasi kemahasiswaan, bahkan menulis kritik di media. Melalui aktingnya, Nicholas berhasil meraih Piala Citra tahun 2005 dengan kategori Aktor Pemeran Utama Terbaik.

4. 3 Hari untuk Selamanya (2007)

Kembali terlibat dalam film garapan Riri Riza setelah sukses memerankan tokoh Gie, Nicholas dipercaya untuk memerankan tokoh Yusuf, seorang laki-laki yang menempuh perjalanan darat dari Jakarta ke Yogyakarta bersama dengan saudara sepupunya, Ambar dalam film 3 Hari untuk Selamanya. Perjalanan yang ditempuh tiga hari ini harus dilakukan untuk menghadiri pernikahan Kakak Ambar di Yogyakarta. Tanpa disangka dalam perjalanan, Yusuf dan Ambar membicarakan dan menemukan berbagai hal tentang diri sendiri, persahabatan, harapan, cinta, dan takdir. Riri Riza memilih film bertemakan perjalanan untuk menggambarkan kehidupan orang dewasa muda yang kerap gelisah ketika memikirkan masa depan, keterasingnya yang dihadapi dalam lingkungan keluarga, serta kebebasan semu di negeri ini. Film yang rilis pada 2007 silam ini berhasil ditayangkan di malam perdana Hong Kong International Film Festival dan Singapore International Film Festival serta menuai respon positif dari para penonton dan pemerhati film internasional.

5. Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (2013)

Kisah Fitri (Ayushita), seorang perempuan yang mengalami kebutaan sejak lahir, jatuh cinta kepada Edo (diperankan Nicholas Saputra) seorang pemuda tuli yang menyamar sebagai seorang dokter dan berkomunikasi dengan membalas surat yang dituliskan Fitri kepada sosok yang ia kenal sebagai ‘dokter hantu’. Selain Fitri, film ini juga mengisahkan dua perempuan lain, yaitu Diana dan Maya, dengan keterbatasan fisik masing-masing menjalani kehidupan dan termasuk dengan kehidupan cinta yang penuh kemungkinan. Sebelum film ini dirilis di Indonesia pada 2 Mei 2013, penikmat dan pemerhati film internasional lebih dulu menikmati ini ketika diputar di berbagai film festival seperti Sundance Film Festival, International Film Festival Rotterdam, dan Hong Kong International Film. Film garapan sutradara, Mouly Surya ini berhasil mendapatkan nominasi sebagai Film Terbaik dalam Piala Maya 2013 dan nominasi Film Terfavorit pada Indonesian Movie Awards 2014.

6. Pendekar Tongkat Emas (2014)

Dalam film arahan sutradara, Ifa Isfansyah, Nicholas Saputra berlaga dengan aktor-aktor kondang Tanah Air seperti Reza Rahadian, Christine Hakim, Tara Basro, dan Slamet Rahardjo. Film ini menekankan nilai kesetiaan dan ambisi yang mengisahkan Cempaka (Christine Hakim) seorang pendekar tongkat emas ternama dalam dunia persilatan dengan empat muridnya bernama Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro), Dara (Eva Celia), dan Angin (Aria Kusumah).  Dengan Biru dan Gerhana yang menyebarkan fitnah bahwa Dara dan Angin berkhianat, kedua murid tersebut kemudian berusaha bersembunyi dari perburuan Cempaka. Sosok Elang (Nicholas Saputra) menjadi penolong Dara dan Angin yang kemudian terus membantu kedua murid tersebut untuk mencari Pendekar Naga Putih. Film ini menjadi salah satu film Indonesia saat ini yang menghadirkan kembali unsur laga ke dalam industri. Selain talenta-talenta hebat yang terlibat, Pendekar Tongkat Emas menghadirkan keindahan pemandangan alam Sumba Timur.

7. Nic & Mar (2015)

Meski ini bukan sebuah film layar lebar yang biasa dihiasi wajah sang aktor, bukan berarti Anda melewatkan kisah satu ini. Serial drama mobile yang dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Mariana Renata hadir dalam tujuh episode dengan masing-masing berdurasi lima hingga tujuh menit, mengisahkan kisah sepasang mantan kekasih yang kembali berjumpa di Paris, Prancis, dan kembali menikmati waktu bersama. Sekilas terlihat seperti kisah pertemuan mantan kekasih yang diwarnai dengan nostalgia dan kecanggungan, tetapi terasa sangat nyata karena kedua aktor tersebut (melalui film Janji Joni) sempat menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Kisah Nic & Mar (diambil dari nama asli kedua aktor) akan membawa Anda ke dalam perjalanan yang penuh nostalgia dan kehangatan ditemani keindahan pemandangan Kota Cinta, Paris. Meski serial ini dirilis lima tahun lalu, Anda tetap dapat menikmati kisah Nicholas dan Mariana melalui kanal YouTube Line Indonesia.

8. Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016)

Empat belas tahun berjalan, para penggemar film Ada Apa Dengan Cinta? akan kembali melihat kelanjutan kisah Rangga dan Cinta dalam fase hidup yang berbeda. Tentunya, film garapan Miles Production ini kembali menghadirkan Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo dalam kisah cinta remaja ikonis pada awal 2000an. Setelah sukses hadir dalam bentuk film pendek yang juga disutradarai Riri Riza, para penggemar meminta kisah Cinta dan Rangga kembali dibawa ke layar lebar sehingga pada 2016, sekuel Ada Apa Dengan Cinta? yang menjadi jawaban dari seluruh rasa penasaran para penikmat film AADC.

9. Aruna dan Lidahnya (2018)

Memang Nicholas kembali beradu akting dengan Dian Sastrowardoyo, tetapi kali ini dengan nuansa berbeda dan dapat dipastikan Anda akan merasa lapar setelah menyaksikannya. Sosok Bono adalah tokoh yang diperankan oleh aktor keturunan Jerman dan Indonesia tersebut, sahabat dari Aruna (Dian Sastrowardoyo). Keduanya adalah sepasang sahabat yang menghabiskan waktu bersama, ditambah Bono adalah seorang koki, kebersamaan mereka akan selalu dilengkapi dengan berbagai kuliner yang dihidangkan. Kisah Aruna, seorang ahli wabah yang ditugaskan meneliti kasus flu burung di beberapa kota di Indonesia dan pada saat yang bersamaan, ia bersama dengan Bono turut menikmati kuliner di setiap kota yang mereka kunjungi. Dinamika dua aktor tersebut dan makanan khas Nusantara yang ditangkap dengan begitu detail menghadirkan keunikan tersendiri dalam sebuah film drama, serta sudah pasti Anda tidak akan berhenti merasa penasaran dengan rasa dari setiap hidangan yang mereka santap sepanjang film tersebut diputar.

10. Semesta (2020)

Nicholas tidak hanya dikenal melalui talentanya dalam dunia seni peran, tetapi juga seorang aktivis lingkungan hidup setelah bergabung dengan sebuah organisasi non pemerintah menjadi relawan membantu korban tsunami Aceh pada 2005. Kecintaannya pada lingkungan alam (terlebih dia memiliki hobi traveling) dan industri film mendorongnya membuat sebuah rumah produksi film bernama Tanakhir Films bersama jurnalis, Amanda Marahimin pada 2013. Pada awal 2020, tepatnya di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Netflix mengeluarkan film berjudul Semesta garapan Chairun Nissa, sebuah film dokumenter yang menekankan pentingnya merawat Indonesia dengan keberagaman yang dimiliki bangsa ini. Nicholas, kali ini, duduk di bangku produser dan menjadi sosok di balik layar film ini. Sebelum ditayangkan di Netflix, film ini telah diputar Suncine Film Festival di Barcelona, Spanyol pada 2019 silam. Film yang berdurasi 90 menit tersebut menunjukkan tujuh tokoh protagonist dari daerah-daerah di Indonesia, meliputi Yogyakarta, Jakarta, Bali, Kalimantan, Flores, dan Papua beserta keindahan alam Tanah Air.

Selagi menantikan film terbaru Nicholas Saputra yang tengah dalam proses produksi, kira-kira film apa yang masuk ke dalam daftar tontonan Anda?

(Penulis: Vanessa Masli; Artistik: Tevia Putri)