Untuk koleksi spring 2027 Chanel, Matthieu Blazy mengambil inspirasi dari gagasan awal Gabrielle Chanel tentang busana yang membebaskan perempuan yang mengenakannya. Namun, ia juga merujuk pada warisan Karl Lagerfeld, penerus Chanel, untuk menghadirkan peragaan yang mengangkat koleksi tersebut ke tingkat spektakuler. Matthieu menggunakan burung sebagai simbol kebebasan. Sebanyak 95 burung camar putih berukuran raksasa digantung di langit-langit Grand Palais, seolah membeku di tengah kepakan sayap. Bulan yang menjadi bagian dari diorama tersebut memberikan kesan cahaya malam yang menerangi burung-burung itu. Pertunjukan diiringi pilihan musik, termasuk “The Swan” karya Camille Saint-Saëns dan “Arrival of the Birds” dari The Cinematic Orchestra.
BACA JUGA: Reinvensi Modern Matthieu Blazy di Chanel
Gabrielle Chanel di nomor 31, Rue Cambon
Couture Musim Semi 1984
Sejak ditunjuk tiga musim lalu, Matthieu telah menghadirkan peragaan Chanel dengan sentuhan dramatis yang identik dengan rumah mode Prancis tersebut pada era Lagerfeld dan berlanjut selama masa kepemimpinan Virginie Viard. Chanel terus meningkatkan kemegahan produksi peragaan busananya hingga menetapkan standar baru bagi industri mode. Namun, tradisi ini tidak bermula dari pertunjukan berskala besar. Ketika Gabrielle Chanel aktif berkarya seabad lalu, ia lebih menyukai presentasi sederhana dalam format salon, sebagaimana lazimnya peragaan adibusana pada masa itu.
Buku terbaru berjudul Chanel Shows Fashion Mise-en-Scène mendokumentasikan evolusi peragaan busana Chanel selama lebih dari satu abad, sekaligus merekam perubahan besar dalam dunia mode dan budaya. Buku berformat coffee table ini menyajikan retrospektif visual atas kemegahan panggung Chanel, serta menelusuri benang merah antara presentasi adibusana pertama rumah mode tersebut dan pertunjukan berskala besar yang digelar saat ini.
Chanel mendirikan label dengan namanya sendiri di Paris pada 1909. Pada periode yang sama, konsep peragaan busana modern dengan model berjalan di atas landasan mulai terbentuk. Pada 1918, Gabrielle pindah ke nomor 31, Rue Cambon, yang kemudian menjadi kantor pusat sekaligus lokasi peragaan busana rumah mode tersebut. Atelier miliknya mencerminkan gaya personal yang memadukan kesederhanaan dengan kemewahan. Ia menggabungkan elemen dari berbagai periode sejarah, mulai dari furnitur kayu bercat, panel berlapis lak dari abad ke-19, hingga keramik Timur yang ditempatkan di sekitar tangga bercermin. Rangkaian visual dalam buku ini memperlihatkan bagaimana latar peragaan tetap konsisten meski koleksinya terus berkembang.
Chanel Musim Semi 2025
Chanel Musim Semi 2026
Buku ini terbagi menjadi tujuh tema yang terinspirasi oleh prinsip-prinsip Gabrielle Chanel, termasuk “masa depan berpihak pada mereka yang berani” dan “inspirasi adalah kekuatan alam”. Karl Lagerfeld, yang mengambil alih rumah mode tersebut sekitar satu dekade setelah Chanel meninggal pada 1971, awalnya mempertahankan format peragaan yang intim. Namun, gagasan-gagasannya yang semakin megah segera melampaui kapasitas ruang yang tersedia. Memasuki era 1990-an, citra merek mulai memiliki bobot yang setara, bahkan terkadang lebih besar, daripada koleksi itu sendiri. Dengan enam peragaan setiap tahun, yang terdiri atas dua koleksi ready-to-wear, dua koleksi adibusana, cruise, dan Métiers d’art, serta audiens global, unsur teatrikal dalam pertunjukan Chanel semakin berkembang.
Ketika Grand Palais di Paris kembali dibuka pada 2005, Karl menjadikannya panggung utama baru bagi Chanel. Sejumlah peragaan ready-to-wear dan adibusana kemudian digelar di sana, sementara koleksi Cruise dan Métiers d’art kerap dipresentasikan di lokasi-lokasi lain di berbagai belahan dunia.
Chanel Couture Musim Semi 2025
Chanel Métiers d’Art 2024
Untuk peragaan pertamanya di Grand Palais pada musim semi 2006, Karl menghadirkan replika raksasa iMac terbaru yang saat itu tengah mendominasi pasar teknologi. Inilah awal dari standar baru peragaan Chanel. “Ia memiliki buku luar biasa karya André Granet terbitan 1948, Temporary Installations: Décors éphémères – Paris 1909–1948, yang kemudian diterbitkan ulang dalam bentuk faksimile,” tulis Bruno Pavlovsky, Presiden Fashion Chanel, dalam wawancara di buku tersebut. “Buku itu memuat foto instalasi Granet untuk pameran dan pekan raya berskala besar di Paris, beberapa di antaranya menampilkan lokomotif, bahkan pesawat terbang, di bawah kubah Grand Palais. Semuanya bermula dari buku itu.”
Kisah di balik layar ini mengingatkan bahwa sebuah peragaan yang berlangsung selama 15 menit membutuhkan persiapan sekitar 12 hari dan perencanaan hingga enam bulan. Pertunjukan tersebut membawa para tamu ke dunia fantastis yang mungkin tidak akan mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Peragaan adibusana musim semi 2012, misalnya, mengubah Grand Palais menjadi replika pesawat berukuran penuh. Para tamu duduk di kursi penumpang, tentu saja seluruhnya kelas satu, sementara model berjalan menyusuri lorong tengah sebagai landasan. Pada musim semi 2016, tempat tersebut disulap menjadi terminal bandara lengkap dengan area kedatangan, keberangkatan, konter check-in, dan ban berjalan bagasi.
Pada musim gugur 2014, Chanel menghadirkan supermarket dengan rak-rak berisi produk kebutuhan sehari-hari yang dikemas ulang dalam estetika khas rumah mode tersebut. Salah satu pertunjukan paling terkenal lainnya adalah peragaan musim gugur 2017, ketika sebuah roket raksasa seolah-olah lepas landas berkat efek piroteknik di penghujung acara, diiringi lagu “Rocket Man” dari Elton John.
Menurut buku tersebut, Karl selalu memahami sisi humor di balik kemegahan itu. “Mode tidak bermoral ataupun tidak bermoral, tetapi seharusnya meningkatkan semangat,” demikian ungkapannya. Buku ini juga memuat sesi tanya jawab singkat bersama Michel Gaubert, sosok yang dikenal sebagai pengarah musik untuk berbagai peragaan Chanel.
Chanel Couture Musim Semi 2008
Chanel Musim Gugur 2025
Pembaca dapat menghabiskan berjam-jam menikmati dokumentasi visual dari berbagai produksi tersebut, mulai dari era Karl hingga Viard dan Matthieu. Kini, peragaan dengan konsep megah telah menjadi hal lumrah di industri mode. Untuk koleksi menswear spring 2027 Louis Vuitton, misalnya, rumah mode tersebut membangun instalasi bertingkat menyerupai gelombang pasang yang dilengkapi air sungguhan. Sementara itu, Tom Ford di bawah arahan Haider Ackermann menghadirkan model yang berperan sebagai karakter, berjalan mengitari ruangan sembari melontarkan tatapan menggoda kepada audiens. Meski demikian, peragaan Chanel tetap memiliki daya magis tersendiri, baik saat disaksikan melalui layar laptop maupun secara langsung di bawah atap kaca Grand Palais.
“Peragaan yang sempurna tidak pernah benar-benar ada karena prosesnya bukanlah sesuatu yang pasti. Selalu ada risiko,” tulis Matthieu pada bagian penutup buku tersebut. “Ada banyak hal yang dapat dikendalikan, tetapi ada pula hal-hal yang berada di luar kendali. Itulah yang menjadikan sebuah peragaan sebagai momen yang perlu dialami secara langsung.”
Chanel Shows: Fashion Mise-en-Scène
BACA JUGA:
Pedro Pascal, Chanel Man yang Sempurna
Mantel Kulit Buaya Burgundy dari Koleksi Métiers d’Art Chanel
(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
