Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Louis Vuitton Merayakan Tujuh Tahun Artycapucines di Art Basel Paris 2026

Menghadirkan 14 seniman, retrospektif ini menampilkan tujuh tahun perjalanan artistik tas Capucines, termasuk koleksi terbaru Keith Haring.

Louis Vuitton Merayakan Tujuh Tahun Artycapucines di Art Basel Paris 2026
Foto: Courtesy of Louis Vuitton

Sejak pertama kali diperkenalkan pada 2019, Artycapucines telah menjadi ruang bagi para seniman untuk menafsirkan kembali tas Capucines melalui bahasa artistik mereka masing-masing. Tujuh tahun kemudian, Louis Vuitton merangkum perjalanan tersebut dalam sebuah retrospektif di Balcon d’Honneur, Grand Palais, sebagai bagian dari Art Basel Paris 2026. Sebanyak 14 seniman dipertemukan dalam satu presentasi yang memperlihatkan bagaimana sebuah desain tas dapat berkembang menjadi medium ekspresi kreatif.

Foto: Courtesy of Louis Vuitton

Retrospektif ini mempertemukan rangkaian tas tersebut dengan karya seni yang melandasi proses penciptaannya. Lukisan, instalasi, hingga eksperimen dengan material menjadi bagian dari dialog antara gagasan para seniman dan keahlian para artisan Louis Vuitton. Struktur khas Capucines pun berfungsi sebagai titik awal bagi beragam interpretasi, tanpa membatasi karakter artistik masing-masing kolaborator.

Foto: Courtesy of Louis Vuitton

Pendekatan tersebut terlihat melalui karya Alex Israel, yang menerjemahkan ketertarikannya pada bentuk dan warna ke dalam tas dengan elemen menyerupai sirip. Tas Artycapucines rancangannya dari 2023 ditampilkan bersama Cut-Out-Fin (Golden Hour) (2019), karya akrilik yang memadukan teknik potong laser dan kolase. Sementara itu, Urs Fischer menghadirkan elemen pisang yang menggantung pada tas rancangannya, yang ditampilkan berdampingan dengan karyanya Fruits (2026).

Foto: Courtesy of Louis Vuitton

Referensi dari alam mengambil bentuk berbeda dalam interpretasi Sam Falls. Karya Western Wind (2025), dengan impresi botanisnya, menggemakan motif dedaunan pada tas rancangannya. Di sisi lain, Tschabalala Self membawa pendekatan figuratif dan tekstil ke dalam proyek ini. Karya Kitten (2026), yang memadukan elemen lukisan dan tekstil, memperlihatkan pendekatan berlapis yang juga menjadi karakter tas ciptaannya.

Foto: Courtesy of Louis Vuitton

Bagi sejumlah seniman, permukaan tas menjadi ruang untuk meneruskan eksperimen yang telah mereka kembangkan dalam praktik seni masing-masing. Josh Smith, misalnya, membawa permainan tipografi dan warna jenuh dari lukisan-lukisan yang menggunakan namanya ke dalam interpretasi Capucines. Henry Taylor memilih pendekatan berbeda dengan menerjemahkan gaya potret khasnya ke medium barang kulit. Keduanya merupakan bagian dari Artycapucines edisi 2020, memperlihatkan bagaimana proyek ini telah berkembang melalui beragam perspektif sejak tahun-tahun awalnya.

Foto: Courtesy of Louis Vuitton

Eksplorasi material juga menjadi benang merah dalam karya Kennedy Yanko dan Liza Lou. Kennedy dikenal melalui pendekatan skulpturalnya, yang terlihat pada Because of its blues (2025), sebuah karya yang menggabungkan logam dan lapisan cat. Eksperimen terhadap bentuk dan tekstur tersebut memiliki keterkaitan dengan tas rancangannya pada 2022. Sementara itu, Liza memanfaatkan manik-manik kaca berwarna dalam Lost Blue (2022), membangun permukaan melalui repetisi dan pengerjaan tangan. Teknik yang membutuhkan ketelitian tersebut turut diterapkan pada tas Artycapucines ciptaannya dari 2023.

Foto: Courtesy of Louis Vuitton

Di antara berbagai interpretasi tersebut, koleksi yang didedikasikan untuk Keith Haring menjadi salah satu sorotan retrospektif. Figur-figur kecil, penari, motif hati yang berlari, serta rangkaian simbol dekoratif khas sang seniman diterjemahkan ke permukaan tas Capucines. Koleksi ini juga ditampilkan bersama sebuah koper Louis Vuitton dari era 1930-an yang ditandatangani Keith pada 1980-an, mempertemukan bahasa visual sang seniman dengan sejarah rumah mode tersebut.

Foto: Courtesy of Louis Vuitton

Kehadiran sejumlah kolaborator lama turut memperluas cakupan retrospektif. Tas Capucines XXL Camo karya Takashi Murakami dari Artycapucines 2025, yang terinspirasi dari karyanya TIME (2009), ditampilkan bersama Monogramouflage Skull (Black) (2008). Dua karya Yayoi Kusama, Great Gigantic Pumpkin (2023) dan Every Day I Pray for Love (2023), juga menjadi bagian dari presentasi. Sementara itu, lampu berbentuk ikan karya Frank Gehry, Untitled (Paris II) (2012), menghadirkan kaitan antara bentuk-bentuk dinamis dalam karya sang arsitek dan desain barang kulit yang pernah ia ciptakan untuk Louis Vuitton.

Keseluruhan presentasi turut diperkuat oleh tata ruang yang mengambil inspirasi dari penyimpanan arsip dan pengangkutan karya seni. Peti terbuka, alas pajang, serta struktur menyerupai koper dari aluminium dan kanvas katun membingkai setiap karya, dengan permadani berwarna pucat yang berpadu dengan rangka baja hijau khas Grand Palais. Pilihan ini bukan sekadar pendekatan visual, tetapi juga merujuk pada akar Louis Vuitton sebagai pembuat koper dan spesialis pengemasan, ketika perlindungan serta mobilitas benda berharga menjadi bagian penting dari identitasnya.

Foto: Courtesy of Louis Vuitton

Hubungan Louis Vuitton dengan dunia seni sendiri telah terjalin jauh sebelum Artycapucines lahir. Salah satu kolaborasi awalnya berlangsung bersama Pierre Legrain pada 1920, diikuti oleh berbagai komisi kreatif yang digagas Gaston-Louis Vuitton untuk iklan, katalog produk, dan objek yang berkaitan dengan kecantikan serta perjalanan. Melalui Artycapucines, tradisi tersebut berlanjut dalam bentuk kolaborasi yang mempertemukan pendekatan artistik kontemporer dengan keahlian kriya rumah mode.

Retrospektif Artycapucines akan dibuka untuk publik di Grand Palais pada 23 hingga 25 Oktober 2026, sebagai bagian dari Art Basel Paris. Pada kesempatan yang sama, pilihan buku dari Louis Vuitton Editions juga akan tersedia untuk pertama kalinya di Art Basel Store, memperluas kehadiran rumah mode tersebut dalam perayaan seni dan budaya tahun ini.