Kota Tua dan Sunda Kelapa menyimpan kisah yang jauh melampaui perdagangan dan kemegahan Batavia pada masa lampau. Di luar catatan sejarah yang lazimnya dikenang, ada lembaran kisah lain yang bergelora, menggoda, dan terasa begitu mendebarkan, seuntai kisah yang mungkin hanya segelintir orang masih mengingatnya.
BACA JUGA: Tamba by Junsei Padukan Tea Room & Vinyl Listening Bar Pertama di Bali
Lembaran itulah yang dibuka kembali lewat De Tiger, speakeasy bar di House of Tugu Old Town Jakarta yang bertemakan far east. Jika kamar-kamar penginapannya menjaga pesona dan romansa Jakarta lama, De Tiger memperlihatkan wajah lainnya. Kehadirannya menjadi babak baru dalam upaya House of Tugu menuturkan sejarah ibu kota secara lebih luas.
De Tiger tak hanya memutar ulang masa lalu, melainkan menceritakannya kembali dengan berani. Membawa kisah House of Tugu keluar dari kamar tamu, melangkah ke dalam kehidupan malam yang penuh akan warna.
Untuk para ahli penikmat dan penjelajah bar, De Tiger menyajikan sesuatu baru yang menyegarkan dengan racikan mixology bernuansa warisan yang eksotis, dalam suasana yang menggoda dan penuh misteri.
De Tiger sendiri memang lahir di rumah yang mengemban tuju untuk bercerita. Hampir 20 tahun restorasi membentuk House of Tugu Old Town Jakarta menjadi tempat yang dihuni lebih dari seribu barang antik dan artefak langka, sementara 26 kamarnya masing-masing mengangkat satu bab sejarah, dari perdagangan di sepanjang Kali Besar hingga rumah tangga Peranakan di Batavia lama.
Maka kini kelahiran De Tiger, seolah seperti lembaran baru yang dicetak House of Tugu Old Town Jakarta sebagai upaya untuk mengantar ragam warna lain dari kekayaan sejarah Indonesia.
Kenali House of Tugu lebih jauh melalui tuguhotels.com/hotels/jakarta dan pantau kabar terbarunya melalui akun media sosial @detigerjakarta dan @houseoftugujakarta.
BACA JUGA:
Meromantisasi Keindahan Kota Jakarta di 7 Resto & Bar Rooftop yang Pasti Anda Suka
10 Rekomendasi Restoran di Senopati
(Teks: Bunga A Hara; Foto: Courtesy of House of Tugu Old Town Jakarta)
