Girls kembali hadir. Kini, hampir setiap generasi milenial di seluruh dunia pasti sudah mendengar kabar bahwa drama HBO garapan Lena Dunham yang mendefinisikan sebuah era tersebut akan kembali lewat serial lanjutan terbatas sebanyak lima episode. Kisahnya akan berlanjut 10 tahun setelah episode terakhir ditayangkan pada 2017.
BACA JUGA: Kita Resmi Akan Mendapatkan Reboot 13 Going on 30
Sejak HBO mengumumkan kabar reboot ini melalui Instagram, saya menerima begitu banyak pesan hingga rasanya hampir seperti baru saja mengumumkan pertunangan secara terbuka. Tentu saja, saya antusias. Girls adalah serial pertama yang pernah saya tonton yang menyindir realitas kehidupan milenial yang penuh kepura-puraan dan kecanggungan, sekaligus menggambarkan kehidupan seksual kami yang kikuk, canggung, dan aneh. Namun, di tengah antusiasme para penggemar yang terlihat jelas, terselip pula kekhawatiran, bahkan di antara pengagum Dunham yang paling setia. Seperti yang diungkapkan seorang teman secara singkat, “Aku sangat antusias, tetapi semoga dia tidak merusak serial ini.”
Saat ini, reboot, sekuel, prekuel, pembuatan ulang, dan kebangkitan serial lama mendominasi lanskap hiburan. Banyak yang menyebut penonton mengalami “kelelahan reboot”, tetapi melihat reaksi terhadap Girls 2.0, saya merasa istilah yang lebih tepat adalah trauma akibat reboot. Setelah begitu banyak serial dan film lama dihidupkan kembali dengan hasil yang jauh dari harapan, muncul semacam PTSD kultural yang terpicu setiap kali kabar seperti ini datang. Tak heran jika kebangkitan Girls terasa begitu menentukan.
Reboot mengandung sebuah kontradiksi yang menarik. Meski penonton kini cenderung waspada terhadapnya, proyek semacam ini tetap memiliki prestise tersendiri. Di tengah banjir konten dari berbagai platform, reboot seolah menjadi stempel resmi bahwa sebuah film atau serial telah diakui sebagai karya ikonik. Kebangkitan kembali sebuah judul populer pun menjadi simbol status kultural tertinggi.
Ada banyak reboot, prekuel, dan sekuel yang hasilnya biasa-biasa saja, mulai dari Elle, prekuel Legally Blonde di Amazon Prime, hingga The Rings of Power yang menelan biaya luar biasa besar. Belum lagi upaya Disney memenuhi galaksi dengan sebanyak mungkin film dan spin-off Star Wars. Sejumlah reboot juga melunakkan sisi tajam karya aslinya. Gossip Girl dan Mean Girls sama-sama kembali dalam versi yang lebih ramah dan tidak terlalu menggigit, tetapi sebagian daya tariknya ikut menghilang. Lalu, ada satu waralaba yang mungkin paling memicu kecemasan, khususnya bagi penggemar Girls: Sex and the City.
And Just Like That…, serial reboot garapan Michael Patrick King yang dirilis pada 2021, barangkali menjadi contoh paling nyata tentang apa yang perlu diwaspadai. Sulit menemukan penggemar Sex and the City yang berpendapat bahwa serial tersebut tidak mencoreng warisan kisah aslinya. Serial ini membawa penonton kembali ke dunia Carrie Bradshaw, tokoh utama yang gemar mengenakan sepatu Manolo, kini memasuki usia 50-an. Ada banyak masalah dalam And Just Like That…, termasuk Che Diaz. Namun, persoalan utamanya adalah kesan bahwa serial ini lebih sibuk meminta maaf atas kekurangan waralaba sebelumnya, terutama minimnya keberagaman dan kepekaan sosial, daripada menyampaikan kisah yang jujur.
Karakter seperti Miranda Hobbes, yang dahulu dikenal tak gentar menyuarakan pendapat, kini justru tampak takut menghadapi penonton. Seolah-olah ia dibekukan secara kriogenik selama dua dekade, lalu tiba-tiba dicairkan di dunia “woke 1.0” yang dipenuhi kata ganti personal dan siniar. And Just Like That… kehilangan banyak sinisme tajam yang membuat serial aslinya begitu menarik. Hasilnya bahkan terasa merendahkan perempuan berusia 50-an sekaligus menjadikan karakter-karakter baru sebagai representasi yang dangkal dan sekadar memenuhi tuntutan keberagaman.
Ketika reboot gagal, penonton bisa merasakan pengkhianatan yang mendalam. Dalam kasus And Just Like That…, serial tersebut berakhir dengan adegan toilet yang secara metaforis tersumbat oleh kotoran. Penutup itu mencerminkan rasa kehilangan yang sungguh-sungguh, membuat para penggemar bertanya, “Mengapa mereka tidak membiarkannya tetap seperti semula?” Karena itulah, ketika rencana reboot Buffy the Vampire Slayer untuk Hulu dibatalkan awal tahun ini, saya melihat kelegaan yang tulus dari sejumlah penggemar di dunia maya. Setidaknya, serial tersebut akan tetap utuh tanpa tersentuh.
Di sisi lain, perjalanan karier Michael Patrick King sendiri membuktikan bahwa reboot yang berhasil dapat mengukuhkan sebuah serial sebagai salah satu karya terbaik sepanjang masa. The Comeback, komedi situasi bergaya mockumentary yang ia tulis dan kembangkan bersama Lisa Kudrow, bintang Friends, dibatalkan setelah satu musim pada 2005. Namun, setelah membangun basis penggemar setia, serial ini kembali pada 2014 dan sekali lagi pada 2026.
Musim ketiga sekaligus musim terakhirnya mengikuti Valerie Cherish, seorang aktris ambisius, penuh rasa tidak aman, dan tanpa sengaja mengundang tawa, yang diperankan Lisa. Kali ini, ia membintangi sebuah komedi situasi yang ditulis oleh kecerdasan buatan. Hasilnya nyaris sempurna.
Demikian pula, The Devil Wears Prada 2 berhasil menghindari kesalahan yang dapat merusak film pendahulunya yang dirilis pada 2006 dan begitu kaya akan dialog ikonik. Dalam sekuel tersebut, Andy Sachs dan Miranda Priestly menghadapi industri media yang sedang mengalami kemerosotan, serta realitas baru ketika segelintir miliarder memiliki pengaruh besar terhadap budaya yang dapat bertahan. Sekuel ini memang terasa canggung di beberapa bagian, tetapi memiliki ketajaman tematis yang lebih kuat. Film tersebut menyoroti kegelisahan satu generasi, ketika milenial seperti Andy masih bergulat dengan pemutusan hubungan kerja, biaya hunian, dan perasaan bahwa kondisi ekonomi menghalangi ambisi mereka.
Sebagai pengamat sekaligus pembela karya-karya Lena, saya optimistis ia akan berhasil menghidupkan kembali Girls. Membuat reboot yang memuaskan memang bukan perkara mudah, terlebih semakin dicintai karakter-karakternya, semakin tinggi pula ekspektasi penonton. Namun, dalam satu dekade sejak episode terakhirnya, kejeniusan Girls dan penciptanya justru semakin terlihat jelas.
Kita juga patut bersimpati kepada Lena dan para penulis lain yang berusaha bertahan di industri hiburan yang semakin menuntut. Selama studio lebih cenderung menyetujui proyek berdasarkan kekayaan intelektual yang sudah ada, para penulis akan terus didorong untuk mengembangkan kisah dengan karakter lama, bukan memperoleh kebebasan untuk menciptakan sesuatu dari awal. Menurut saya, kembalinya keempat pemeran utama perempuan seperti Lena, Allison Williams, Zosia Mamet, dan Jemima Kirke, merupakan pertanda baik. Andrew Rannells juga akan kembali, begitu pula Judd Apatow, produser eksekutif yang membantu mewujudkan serial ini sejak awal.
Saya memilih untuk percaya bahwa Lena tidak akan menghidupkan kembali karakter-karakter tersebut tanpa kisah yang terasa jujur dan relevan dengan zaman. Meski demikian, setelah berkali-kali dikecewakan oleh reboot yang gagal memenuhi harapan, perasaan campur aduk tentu dapat dimengerti. Girls menjadikan Lena suara bagi generasinya, tetapi para penggemarnya kini memilih untuk menanti dengan penuh kewaspadaan.
Kabar kembalinya Girls setelah satu dekade memicu antusiasme sekaligus kekhawatiran di kalangan penggemar. Di tengah maraknya reboot yang gagal memenuhi ekspektasi, Lena menghadapi tantangan untuk menghidupkan kembali serial ikonis tersebut tanpa menghilangkan karakter dan ketajaman cerita yang membuatnya begitu dicintai.
BACA JUGA:
Rekomendasi 20 Film Terbaik untuk Malam Seru Bersama Teman-Teman
Sedang Kehilangan Motivasi dalam Karier? 7 Buku Inspiratif untuk Kembali Mencintai Pekerjaan
(Penulis: Louis Staples; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
