Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

15 Film Horor Feminis yang Layak Ditonton Saat Halloween Ini

Dari film cult classic era milenial seperti Jennifer's Body dan Ginger Snaps hingga thriller hitam putih seperti A Girl Walks Home Alone at Night dan Cat People.

15 Film Horor Feminis yang Layak Ditonton Saat Halloween Ini
Courtesy of Bazaar US

Dahulu, di tengah masa kejayaan Hollywood ala Stanley Kubrick dan William Friedkin, horor adalah "klub laki-laki". Genre ini mulai menemukan pijakannya setelah era film bisu, lalu berkembang dari klasik monster (Dracula dan Frankenstein pada 1931) menjadi film slasher populer pada 1970-an, dan membentuk prinsip-prinsip tertentu horor seperti yang kita kenal sekarang. Dari The Texas Chain Saw Massacre (1974) sampai Halloween (1978), dekade 1970-an ditandai alur cerita membuntuti lalu membunuh, kekerasan seksual yang diperlakukan sebagai hal biasa,dan secara umum tipe karakter perempuan yang klise, seperti final girl, yang nyaris tak menyisakan ruang bagi kisah perempuan.

BACA JUGA: 40 Film Horor Terseksi untuk Meramaikan Pesta Halloween Anda

Namun pada dekade-dekade berikutnya, semakin banyak film yang membalikkan naskah tradisional itu, menggarap genre ini dengan perspektif perempuan untuk menjelajahi tema otonomi tubuh, amarah, dan kebebasan seksual. Entah sebagai parodi untuk menyoroti absurditas konsep-konsep seksis klasik (The Slumber Party Massacre tahun 1982, Jennifer's Body tahun 2009), atau memanfaatkan perangkat supernatural genre ini untuk mengangkat pengalaman nyata dan mentah sebagai perempuan (A Girl Walks Home Alone at Night tahun 2014, Revenge tahun 2017), film horor feminis punya satu kesamaan utama yaitu, karakter perempuan tiga dimensi yang punya cerita, emosi, dan motif sendiri di luar male gaze.

Berikut 15 film horor feminis favorit Bazaar untuk ditonton menjelang Halloween:

1. Jennifer's Body (2009)

Peran ikonik Megan Fox sebagai siswi SMA yang kerasukan iblis dan hidup dengan memangsa daging laki-laki ini bermain-main dengan struktur slasher klasik dan gagasan pengorbanan perawan, tetapi mengambil alih kendali cerita untuk menghadirkan sudut pandang feminis atas genre ini. Meski awalnya dipasarkan dengan buruk dan menuai ulasan rendah, film ini kini punya penggemar beratnya sendiri, dan bahkan bisa jadi akan punya sekuel.

2. Revenge (2017)

Meski subgenre rape-revenge selalu memecah pendapat penonton, film debut Coralie Fargeat menawarkan perspektif segar yang berpusat pada perempuan dan membuatnya menonjol dibanding film-film sejenis. Yang paling menonjol, sang sutradara memilih untuk tidak menampilkan kekerasannya secara langsung, melainkan berfokus pada alur balas dendam yang terjadi sesudahnya. Karena itu, film ini dipuji karena membatasi adegan-adegan yang berpotensi memicu trauma.

3. The Mark of Lilith (1986)

Pernah terpikir siapa yang menciptakan istilah "male gaze"? Istilah itu berasal dari teoretikus dan pembuat film asal Inggris, Laura Mulvey. Pada 1986, sekelompok mahasiswanya bahkan memproduksi film pendek horor feminis queer kulit hitam berdurasi setengah jam yang memuat gagasan-gagasannya. Film ini mengikuti hubungan antara Zena, akademisi lesbian kulit hitam yang meneliti horor, dan Lillia, vampir biseksual kulit putih. Disutradarai Bruna Fionda, Polly Gladwin, dan Zach Mack-Nataf sebagai film kelulusan mereka dari London College of Printing, film ini dibuat bersama para pembuat film, seniman, dan aktivis lokal di Brixton, London.

4. The First Omen (2024)

Dibintangi Nell Tiger Free, The First Omen merupakan prekuel dari The Omen (1976). Film ini mengikuti seorang biarawati Amerika di Roma yang menemukan perannya dalam konspirasi untuk melahirkan Antikristus. Sebagai komentar atas otonomi tubuh dan agama, film yang disutradarai Arkasha Stevenson ini menghadirkan lensa segar yang berfokus pada perempuan ke dalam waralaba supernatural tersebut.

5. Alien (1979)

Sebagai salah satu contoh awal horor feminis, Alien pada masanya dianggap berhasil menumbangkan trope 'final girl'. Film ini dibintangi Sigourney Weaver sebagai Ellen Ripley, karakter yang awalnya ditulis sebagai laki-laki, dan menggambarkannya sebagai sosok yang cerdas dan kuat. Ini berlawanan dengan trope horor lazimnya, ketika perempuan yang masih hidup di akhir film bisa selamat hanya karena keberuntungan atau berkat keperawanannya.

6. A Girl Walks Home Alone at Night (2014)

Disutradarai Ana Lily Amirpour, A Girl Walks Home Alone at Night dipromosikan sebagai "Western vampir Iran pertama" dan menawarkan gagasan segar atas sejumlah trope horor sekaligus topik-topik kontemporer. Mengikuti seorang vampir pemangsa manusia di kota hantu yang kumuh bernama Bad City, film ini memakai motif supernatural untuk membahas isu nyata soal keselamatan perempuan di kota-kota yang dipenuhi kejahatan.

7. Talk to Me (2022)

Film lain yang terinspirasi kisah-kisah kehidupan nyata, Talk to Me dari A24 mengikuti seorang perempuan yang berduka dan, setelah ibunya meninggal, menemukan bahwa ia bisa memanggil arwah lewat tangan yang diawetkan. Meski bernuansa supernatural, gagasannya tentang hubungan antarmanusia dan duka tetap membumi sepanjang film, dengan tema keibuan dan persahabatan perempuan yang menembus penceritaan horornya.

8. The Slumber Party Massacre (1982)

Kalau yang dicari adalah film slasher yang ditulis dan disutradarai sepenuhnya oleh perempuan, The Slumber Party Massacre jawabannya. Awalnya ditulis oleh penulis feminis Rita Mae Brown sebagai parodi subgenre tersebut, film ini mengambil pendekatan gelap dan jenaka terhadap slasher, mengolok-olok trope misoginisnya. Dari sisi cerita, kisah klasik pesta menginap yang berujung petaka ini berpusat pada para siswi tingkat akhir SMA yang terpaksa berhadapan dengan pembunuh berantai.

9. Beetlejuice Beetlejuice (2024)

Daftar film horor kontemporer tidak akan lengkap tanpa karya Jenna Ortega, yang dalam beberapa tahun terakhir menghidupkan kembali semangat genre ini. Secara umum, penampilannya sebagai perempuan eksentrik yang kuat selalu melawan trope, dan di sekuel garapan Tim Burton ini, ia berkesempatan beradu akting dengan dua bakat besar lainnya, Winona Ryder dan Catherine O'Hara. Pada intinya, film seram namun jenaka ini berfokus pada kisah keluarga matriarkal, dengan dinamika ibu dan anak yang rumit dan terasa segar bagi genre ini.

10. MaXXXine (2024)

Berlatar pertengahan 1980-an tetapi dibuat 40 tahun kemudian, MaXXXine dari A24 bermain dengan era keemasan film slasher dan membalik alur ceritanya, menjelajahi gagasan tentang amarah perempuan di industri yang didominasi laki-laki serta kekuatan seksual. Mengikuti karakter yang diperankan Mia Goth, seorang aktris film porno yang berusaha menembus Hollywood arus utama, film ini menjadi bab terakhir trilogi X. Secara keseluruhan, waralabanya terasa seperti penghormatan bagi para pendahulunya sembari mendorong subgenre ini ke wilayah baru.

11. Obsession (2026)

Film debut sensasional Curry Barker, Obsession, mengupas kecemasan generasi Z soal kencan awal tahun ini. Ceritanya berpusat pada pemuda canggung bernama Bear (Michael Johnson) yang berharap sahabatnya, Nikki (Inde Navarette), jatuh cinta padanya, tetapi ia takut mengajaknya kencan karena khawatir terjebak di friend zone. Alih-alih menghormati jarak itu, ia menunjukkan sifat aslinya ketika mengucapkan permohonan yang membuat Nikki terobsesi padanya, hingga ke tingkat yang mengerikan dan penuh kekerasan. Film berdurasi 100 menit garapan Barker yang tajam ini adalah komentar feminis atas cowok "lembut" yang menutupi misoginisnya dengan perhatian palsu, padahal sebenarnya mereka tidak meluangkan waktu untuk mendengarkan perempuan di sekitar mereka.

12. Cat People (1942)

Cat People (1942) garapan Jacques Tourneur adalah thriller hitam putih perintis yang mengikuti Irene (Simone Simon), yang yakin dirinya berubah menjadi kucing raksasa saat marah atau, ya, saat bergairah. Film ini memberi Irene sensualitas yang kala itu merupakan terobosan, membangun otonomi seksual tokoh utama perempuannya dengan cara yang belum pernah dilihat Hollywood. Dalam beberapa hal, antagonis film ini adalah ekspektasi masyarakat terhadapnya sebagai perempuan, dengan lebih banyak standar yang dibangun untuk menekan hasrat seksualnya.

13. Ginger Snaps (2001)

Dalam Ginger Snaps (2001), sutradara John Fawcett dan penulis skenario Karen Walton mengolah ulang kisah manusia serigala yang lazimnya maskulin menjadi kisah beranjak dewasa dua saudari. Pada malam Ginger (Katharine Isabelle) mendapat menstruasi pertamanya, seekor binatang buas menyerangnya, dan keesokan harinya ia mulai berubah. Saudarinya, Brigette (Emily Perkins), menyadari Ginger menjadi lebih agresif, ditumbuhi rambut dari bekas luka serangan itu, dan yang paling mengejutkan, memiliki ekor. Ketegangan di antara kedua remaja itu meningkat, tetapi Ginger kian menikmati aksi pembunuhannya. Perumpamaan tentang kegelisahan remaja ini layak masuk catatan sejarah horor feminis hanya karena penggambarannya yang langka tentang masa remaja perempuan yang disalurkan lewat cerita rakyat manusia serigala.

14. Carrie (1976)

Sekitar 50 tahun setelah tayang perdana, Carrie karya Brian De Palma masih menjadi film feminis fundamental yang bergulat dengan otonomi tubuh dan amarah perempuan. Ceritanya dimulai dari menstruasi pertama Carrie, yang oleh ibunya dianggap sebagai kutukan berdosa (dan teman-teman sekelasnya di kelas olahraga tak membantu, karena menyisihkan dan mengolok-oloknya dengan melempar tampon ke arahnya). Adegan ini membingkai film sebagai komentar atas otonomi Carrie dan makna ketika kefemininannya dipandang sebagai kutukan. Olok-olok, perundungan, dan kekerasan terang-terangan yang ia alami dari keluarga dan komunitasnya berpuncak pada satu aksi amarah terakhir, yang menanggapi serius kerusakan dan trauma yang dialami Carrie. Pada akhirnya, penonton diarahkan untuk mendukung Carrie saat ia mengamuk melawan dunia kejam di sekitarnya.

15. Black Christmas (1974)

Tidak akan ada final girl tanpa Black Christmas (1974) karya Bob Clark. Beberapa hari menjelang Natal, sorority Pi Kappa Sig menjadi target pembunuh berantai yang menelepon lalu membunuh para gadis satu per satu. Tanpa berlebihan, film ini adalah cetak biru bagi horor selama puluhan tahun, dari Halloween sampai Scream. (Berhenti membaca di sini untuk menghindari spoiler.) Jess, yang diperankan Olivia Hussey, berjuang mati-matian menjadi final girl pertama, pahlawan tanpa ragu yang menghadapi kejahatan dunia secara langsung. Selain itu, film ini juga menyikapi keputusan pribadi Jess untuk menggugurkan kandungan dengan kepekaan yang radikal untuk era 1970-an. Film ini juga menggugat sistem kepolisian, menunjukkan arus bawah misoginis ketika polisi tidak menanggapi serius kekhawatiran para gadis soal pembunuhan massal.

BACA JUGA: 

Wajib Tahu! Ini Film Korea Rating Tertinggi di Tahun 2026

32 Film Cozy Terbaik untuk Tontonan yang Menyenangkan

(Penulis: Sophie Wang dan Maxwell Rabb; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Bunga A Hara; Foto: Courtesy of BAZAAR US)