Bagaimana Pergeseran Perilaku Belanja Fashion Anda Selama Pandemi Covid-19? Simak Surveinya!

Lewat jajak pandapat yang dilakukan lewat Instagram Story akun @bazaarindonesia, berikut adalah laporan lengkap evaluasi perilaku belanja Anda selama satu setengah tahun terakhir.

(Nicoline Patricia Malina NPM Photography for Harper's Bazaar Indonesia)


Tak dapat ditepis, hadirnya pandemi Covid-19 dalam kehidupan umat manusia telah membawa segudang banyak perubahan. Mulai dari transformasi yang drastis hingga yang mungkin tak disadari. Namun dari sekian banyak kebiasaan yang tiba-tiba harus mengalami perubahan akibat keadaan sulit yang dialami oleh banyak orang di seluruh dunia ini, dapat dikatakan salah satu aktivitas yang dapat mengundang kenikmatan diri, yaitu berbelanja juga turut terkena imbas nyata.

Bagaimana tidak, jika kita kilas balik mengenang kehidupan pra-covid, rasanya sangat mudah untuk keluar masuk deretan toko dan membeli berbagai koleksi terbaru. Namun semenjak virus tak kasat ini merebak, kemudian belum lagi berbagai pusat perbelanjaan terpaksa harus menutup pintunya akhirnya berujung memunculkan keterbatasan akses bagi para pelanggan untuk mencoba dan melakukan kontak langsung dengan calon barang yang ingin dibeli.

Baca juga: 6 Tren Fashion Fall/Winter 2021 Pilihan Editor Bazaar untuk Anda Coba

Kemampuan berimajinasi para pelanggan dalam mengkhayalkan barang yang ingin dibeli dalam benak masing-masing. Kemudian ditambah dengan kemahiran para penjual memvisualisasikan barang jualannya semenarik dan senyata mungkin dengan wujud aslinya memainkan peranan penting dalam memastikan kebersambungan para brand agar tetap eksis selama masa sukar ini.

Hal ini kemudian turut diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh McKinsey seperti yang dikutip dari situs statista.com, lewat survei perilaku konsumen yang dilakukan sejak pandemi virus corona di Indonesia pada tahun 2020, terdapat 56% responden yang disurvei menyatakan bahwa mereka telah mencoba metode belanja digital baru yang di antaranya seperti lewat website maupun, pick-up dan ataua aplikasi delivery.

Untuk mengetahui pembahasan ini lebih lanjut, terutama perubahan perilaku belanja apa yang Anda rasakan selama masa dinamis ini, Bazaar pun melakukan jajak pandapat lewat akun media sosial Harper’s Bazaar Indonesia (@bazaarindonesia). Mari simak hasil temuan yang telah kami rangkum di bawah ini:

Bagaimana perubahan perilaku belanja akibat dari pandemi Covid-19?

Membahas mengenai adakah perilaku belanja, 74% dari responden mengaku bahwa perilaku belanja mereka mengalami perubahan yang cukup signifikan sebagai akibat dari pandemi yang sedang berlangsung selama kurang lebih satu setengah tahun, dengan 26% responden lainnya merasa tidak ada perubahan yang berarti dalam perilaku berbelanja mereka.

Menilik lebih dalam pada golongan responden yang setuju jika dalam kehidupan berbelanja mereka terdapat perubahan. Beberapa orang pun mengutarakan perubahan apa saja yang mereka rasakan mulai dari sudah tak memburu diskon, hanya membeli barang-barang yang dibutuhkan saja, hingga mengurangi intensitas aktvitias berbelanja mereka.

Walaupun terlihat adanya penurunan minat responden terhadap aktivitas belanja, namun di lain sisi masih terdapat pula kelompok lain yang merasa antusias dengan aktivitas berbelanja. Bukti yang diutarakan seperti mereka jadi berkali-kali lipat lebih “doyan” berbelanja, sampai lebih rela untuk belanja branded stuffs walaupun jarang dipakai untuk pergi.

"Ada sebagian kelompok orang yang mengaku mengurangi intensitas berbelanja, namun ada pula yang menuturkan bahwa mereka menjadi berkali-kali lipat lebih ‘doyan’ berbelanja akibat dari pandemi yang sedang berlangsung."

Penuturan dari salah satu responden ini pun bukanlah tanpa dasar, dalam salah satu pertanyaan yang dilempar oleh Bazaar di jajak pandapat, kami sempat meminta para responden untuk memilih termasuk ke dalam golongan manakah mereka? Kelompok orang yang menjadi lebih bijak dalam mengeluarkan uang untuk berbelanja selama pandemi, atau melakukan "revenge shopping" untuk menebus masa tak bisa berbelanja akibat pandemi.

Dan hasilnya? 69% dari Anda menjawab bahwa akibat dari pandemi ini, Anda menjadi lebih bijak dalam hal menghamburkan uang, dengan 31% sisanya memilih untuk terlena dalam euforia menghabiskan uang terutama setelah terjebak berbulan-bulan di rumah akibat PSBB dan PPKM.

Online atau Offline?

Dengan diberlakukannya berbagai kebijakan pembatasan sosial yang dikeluarkan oleh pemerintah seperti PSBB dan PPKM Darurat dalam rangka menekan angka kasus positif Covid-19, hal ini tentu telah membawa dampak besar bagi kelangsungan berbagai sektor usaha yang ada, terutama yang berlokasi di pusat perbelanjaan. Dengan ditutupnya berbagai pintu usaha, hal ini telah memaksa para pelaku bisnis mencari alternatif lain agar tetap dapat melayani pelanggannya. Yang salah satunya adalah dengan beralih mengadopsi layanan berbasis online.

Dari survei yang dilakukan, ketika ditanya mengenai apakah para responden telah menerapkan gaya berbelanja secara online bahkan sebelum pandemi merebak, 6 dari 10 orang mengaku bahwa masa pra-covid, mereka memang telah gemar dan mengadopsi gaya berbelanja secara daring, dengan sisanya yaitu 4 dari 10 orang mengaku belum familier dengan teknik berbelanja digital ini.

"Akibat dari pandemi ini, jika harus memilih, terdapat 28,30% responden mengaku masih lebih betah berbelanja secara offline, dengan 25,47% kelompok responden lainnya sudah merasa menemukan kenyamanan dengan metode online, dan 46,26% sisanya tetap ingin mempertahankan kedua metode."

Seperti dua sisi koin, topik perilaku berbelanja ini tentu juga memiliki dua hal yang bertolak belakang satu sama lain yaitu sisi positif dan negatif. Begitu pula dengan pilihan berbelanja antara yang dilakukan secara online dan offline. Walaupun keduanya sama-sama menawarkan keunggulan yang mungkin tidak dimiliki lawannya, namun ada pula kekurangan yang tak dapat diabaikan.

"Keuntungan berbelanja online adalah tidak perlu susah payah membawa barang belanjaan, tapi kekuarangannya adalah harus membayar ongkos kirim yang mungkin biayanya lebih mahal ketimbang membeli langsung."

Baca juga: Inilah Daftar Butik yang Kini Bisa Dibeli Melalui Online

Untuk itu, masuk ke respons yang diberikan oleh para responden di jajak pendapat, berikut adalah beberapa reaksi yang diutarakan seperti :

  • “Jika berbelanja offline, kelebihannya dapat menyentuh barangnya secara langsung, sedangkan kalau secara online, hanya dapat diimajinasikan wujud barangnya.”
  • “Jika online terasa tidak mendapatkan ‘vibes-nya’, karena jika beli baju berarti kita tak dapat mencobanya di fitting room terlebih dahulu.”
  • “Lebih kepada experience-nya, kalau secara online, tidak bisa dicoba secara langsung, dan saya juga sangat merindukan sentuhan fisik dengan produk yang ingin dibeli.”
  • “Keuntungan berbelanja online adalah tidak perlu susah payah membawa barang belanjaan, tapi kekurangannya adalah harus membayar ongkos kirim yang mungkin biayanya lebih mahal ketimbang membeli langsung.”
  • “I feel more satisfied when I buy something offline.”

Hal ini turut diperkuat dengan temuan yang dipublikasikan oleh Google yang bekerjasama dengan Reprise, sebuah agensi pemasaran kinerja global IPG Mediabrands yang mempelajari lebih lanjut tentang preferensi belanja online orang-orang di seluruh kawasan Asia Pasifik.

Dalam penelitiannya, Google dan Reprise menemukan 76% responden memilih penghematan waktu dan 65% harga terbaik sebagai dua keuntungan terbesar dari belanja online. Sebaliknya, ada sebanyak 55% responden memilih waktu pengiriman yang lama dan 57% untuk biaya pengiriman sebagai dua kelemahan dari berbelanja online.

Lalu, faktor apa yang memengaruhi Anda ketika membeli barang secara online?

Setelah mengetahui apa saja kelebihan serta kelemahan dari berbelanja secara online dan offline, pertanyaan dalam jajak pandapat yang dilakukan oleh Bazaar pun masuk ke topik mengenai faktor apa saja yang memengaruhi Anda sebagai konsumen dalam membeli sebuah barang secara online, dan dari hasil temuan, mayoritas dari Anda merasa karena sekadar membutuhkan produk yang ingin dibeli saja. Buktinya 48,58% dari Anda memilih opsi ini. Yang kemudian baru disusul dengan sebanyak 31,86% yang mempertimbangkannya berdasarkan visual yang terlihat senyata mungkin dengan barang asli yang ingin dibeli, 17,70% lewat presentasi yang menarik, dan sisanya 1,76% menjawab lain-lain.

E-commerce, chat & buy, hingga home shopping, yang mana pilihan unggulan Anda?

Ketika berbicara mengenai medium yang dapat memfasilitasi para penjual untuk mempromosikan barang dagangannya kepada para pembeli, tersedia beberapa metode yang cukup populer di kalangan konsumen pasar Indonesia.

Dan mayoritas dari Anda memilih e-commerce dengan perolehan angka mencapai 68,50% sebagai yang paling banyak dan sering Anda gunakan ketika berbelanja. Dengan layanan chat & buy menyusul di posisi kedua tepatnya dengan raupan angka 12,60%, kemudian situs website sebanyak 11,02%, dan baru yang terakhir layanan home shopping di angka 7,87%.

(Foto: Courtesy of Chanel Beauty)

Hasil temuan ini pun selaras dengan apa yang dijumpai di lapangan, dalam satu tahun terakhir ini tepatnya semenjak pandemi merebak, tak sedikit brand-brand fashion serta kecantikan yang dulunya terkenal enggan merambah ke dunia digital sekarang mau tak mau sekarang harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang tampaknya tak akan dengan mudah menghilang begitu saja. Beberapa brand fashion dan beauty yang telah memperkenalkan layanan website maupun chat & buy seperti Kate Spade, Massimo Dutti, hingga Chanel Beauty.

Baca juga: Kate Spade Meluncurkan Situs E-Commerce Khusus untuk Pelanggan Indonesia

Perubahan minat beli Anda sepanjang satu tahun ini...

Di tahun 2020, Bazaar sebetulnya sudah pernah menggelar jajak pandapat ini, yang hasil lengkapnya dapat Anda lihat di majalah Harper’s Bazaar Indonesia edisi September 2020.

Dan tepat satu tahun kemudian, Bazaar kembali ingin mengetahui sekaligus mengevaluasi kembali minat barang seperti apa yang masih menjadi favorit Anda. Apakah ada perubahan atau justru masih tetap sama dengan satu tahun yang lalu.

Hasil yang berhasil dirangkum oleh Bazaar akan dua pertanyaan ini adalah:

(Berikut hasil perbandingan antara busana yang paling sering dibeli antara tahun 2020 dengan tahun 2021.)

Terlihat adanya perubahan minat pembelian untuk kategori busana yang paling sering Anda beli dalam rentang waktu September 2020 hingga September 2021. Walaupun busana rumah masih menjadi primadona dan menduduki posisi teratas dengan angka 61,16% (di tahun 2020) dan 56,60% di tahun 2021, namun terdapat pergeseran posisi untuk kategori busana olahraga yang berhasil naik ke posisi kedua dengan raupan angka 28,30% di tahun 2021 mengalahkan busana kantor dengan hanya memperoleh suara sebesar 15,10%.

(Perihal fashion item yang paling sering dibeli selama satu tahun terakhir, terlihat tak ada perubahan yang berarti.)

Sedangkan untuk pertanyaan mengenai fashion item yang paling sering dibeli di masa pandemi, terlihat tak ada pergerakan yang berarti antar empat produk yang terdiri dari baju yang masih menjadi kampiun, tas, sepatu, dan perhiasan.

Jadi, apakah Anda juga termasuk dalam golongan yang juga turut mengalami perubahan dalam hal perilaku berbelanja?

Baca juga: Simak Perkembangan Tren Pakaian Pria Bernuansa Feminin

Baca juga: Mengenal Generasi Z: Mereka Si Generasi Segala Sarana Jenis Komunikasi

Portofolio ini:
Fotografer: Nicoline Patricia Malina- NPM Photography
Fashion Editor: Michael Pondaag
Model: Wynn Models
Busana: Lanivatti
Make up: Rommy Andreas
Hair: Arnold Dominggus,Eva Pical, Ivan Doel
Retoucher: Karina Takajo
Special thanks to: Alia Husin, Rama Dicandra

(Layout: Tevia Andriani; Foto & Sumber: Chanel Beauty, Instagram @bazaarindonesia, Statista, ThinkWithGoogle)