Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Menelusuri Warisan Kamasan The Noble Tradition of Balinese Painting di Saka Museum

Sorotan baru bagi interpretasi budaya Kamasan dari masa ke masa.

Menelusuri Warisan Kamasan The Noble Tradition of Balinese Painting di Saka Museum
Foto: Courtesy of Saka Museum

Bali menjadi salah satu wilayah di Indonesia dengan kekayaan budaya yang seolah tak pernah habis mencuri perhatian. Salah satunya adalah Kamasan, yang tidak hanya merujuk pada gaya lukisan klasik Bali, tetapi juga nama sebuah desa di Kabupaten Klungkung, Bali bagian timur. Tradisi ini berkembang di lingkungan Kerajaan Gelgel pada abad ke-16 dan terus disempurnakan di lingkungan istana Klungkung.

BACA JUGA: 7 Museum di Indonesia yang Wajib Dikunjungi untuk Liburan Seru dan Estetik

Foto: Courtesy of Saka Museum


Pada 2015, Kamasan ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda. Melalui Kamasan: The Noble Tradition of Balinese Painting, Saka Museum di Ayana Bali kemudian mengangkat tema budaya ini dan menghadirkan lebih dari 30 karya dari akhir abad ke-19 hingga masa kini. Sebagai pameran temporer pertama museum, pameran ini menelusuri perkembangan Kamasan melalui ritual, pengetahuan yang diwariskan lintas generasi, peran perempuan, hingga praktik seni kontemporer.

Berakar erat pada Hindu Bali, Kamasan mengangkat kisah Ramayana dan Mahabharata, serta folklor, mitologi, dan kosmologi Bali dan Jawa. Figur manusia, hewan, dan dewa hadir melalui garis, gestur, serta warna yang khas, dengan bentuk tubuh memanjang dan mata menyerupai badam yang terinspirasi dari visual wayang kulit.

Foto: Courtesy of Saka Museum

Karya-karya ini dikurasi oleh Farah Wardani dan Made Chandra, selain itu keseluruhan pameran juga memperlihatkan dan menilik bagaimana generasi baru seniman memaknai kembali pakem Kamasan melalui isu identitas, ekologi, teknologi, dan ingatan akan masa pandemi.

Foto: Courtesy of Saka Museum

Bagian yang mencuri perhatian berada pada penghujung pameran yang didedikasikan kepada Mangku Muriati, perempuan pertama dari generasinya yang menjalankan dua peran sebagai pemangku sekaligus seniman Kamasan. Sebagai salah satu pelukis Kamasan terkemuka yang masih aktif berkarya, karyanya telah dipamerkan dalam Sharjah Biennial 2025 dan menjadi bagian dari koleksi Australian Museum di Sydney serta Ibsen Museum di Oslo, hal ini secara tak langsung menegaskan keberlanjutan tradisi hingga kini.

Berbeda dari pameran-pameran Kamasan yang ada sebelumnya, Saka Museum menempatkan mahakarya klasik dan karya kontemporer dalam kedudukan setara. Perjalanan Kamasan, dari akar ritual hingga penafsiran baru, disajikan sebagai satu kisah berkesinambungan. Pameran ini dibuka sejak 28 Agustus 2026 dan berlangsung hingga 30 Mei 2027.

BACA JUGA: 
Galeri Indonesia Kaya Hadirkan Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa
Indonesia Sukses Gelar Kongres ke-29 Federation of Asian Master Tailors di Bali

(Penulis: Kirana Anindya, Edited by JM )