Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Cara Mengetahui Apakah Anda Sudah Siap Melakukan Facelift

Usia hanyalah sebuah angka. Para ahli bedah plastik membagikan panduan tepat untuk mengetahui kapan waktu yang pas untuk mengambil tindakan operasi.

Cara Mengetahui Apakah Anda Sudah Siap Melakukan Facelift
FOTO: COURTESY OF BAZAAR US

Sebuah hal yang sangat positif ketika masyarakat luas, termasuk keluarga Kardashian-Jenner kini semakin terbuka dan jujur mengenai prosedur bedah plastik. Namun, ketika suatu tren kecantikan mendominasi algoritma media sosial, beberapa detail penting kerap terabaikan. Perbincangan hangat saat ini tentu saja berfokus pada facelift, dengan semakin banyaknya wanita yang membagikan pengalaman, dana persiapan facelift, hingga keinginan mereka untuk menjalani prosedur tersebut.

Tidak ada orang yang benar-benar "membutuhkan" facelift, tetapi prosedur ini menjadi standar tertinggi dalam bedah estetika wajah yang hadir bukan tanpa alasan. Jika Anda adalah salah satu orang yang mulai mempertimbangkan tindakan ini sejak melihat foto before-and-after selebriti, Anda mungkin bertanya-tanya: Apakah ini saatnya? Bagaimana mengetahui jika usia Anda sudah tepat? Haruskah Anda melakukan facelift? Akankah Anda benar-benar merasa siap?

BACA JUGA: Ya, Anda Bisa Mengatasi Penuaan pada Leher Anda

Faktor Usia dan Kondisi Anatomi Wajah

Mari kita mulai dari faktor usia. Apakah ada angka ajaib yang menentukan kapan seseorang harus mempertimbangkan facelift? "Ini sebenarnya merupakan kombinasi antara anatomi tubuh dan apa yang mengganggu pasien, bukan soal usia tertentu," ujar dr. Leslie Kim, seorang otolaringologis dan ahli bedah plastik wajah bersertifikasi ganda di Ohio. "Banyak pasien mengatakan mereka mulai menyadari wajahnya tampak lelah meskipun kondisi tubuh sedang sangat prima atau sosok yang mereka lihat di foto tidak lagi sesuai dengan apa yang mereka rasakan di dalam diri."

Para ahli bedah plastik kini mendapati makin banyak pasien yang datang bertualang untuk konsultasi di usia yang lebih muda. Namun, hal ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh media sosial. "Dengan meningkatnya penggunaan obat-obatan seperti GLP-1 dan penurunan berat badan secara signifikan yang diakibatkannya, beberapa pasien mencari prosedur facelift di usia yang lebih muda karena mereka telah mengalami penurunan volume wajah dan kulit kendur lebih cepat," kata dr. Lyle Leipziger, kepala bedah plastik di North Shore University Hospital dan LIJ Medical Center. "Dalam beberapa kasus, pasien bahkan bisa menjadi kandidat untuk pengangkatan di area wajah dan leher lebih awal dari yang diperkirakan."

Manfaat lain dari melakukan facelift lebih awal adalah kualitas kulit (kolagen dan elastin) yang cenderung masih baik, sehingga proses penyembuhan menjadi lebih cepat dengan hasil yang lebih optimal. "Prosedur facelift memberikan hasil terbaik ketika kualitas jaringan wajah berada pada kondisi puncak untuk setiap individu," tutur dr. Sherrell Jerone Aston, ahli bedah plastik bersertifikasi ganda di New York City. "Ingatlah bahwa kualitas kulit tidak akan membaik seiring berjalannya waktu."

Kendati demikian, mayoritas pasien facelift berada di usia 40-an atau 50-an. Hal ini disampaikan oleh dr. Luis Macias, ahli bedah plastik bersertifikasi ganda di Los Angeles. "Pada usia ini, anatomi wajah mulai berubah ke tahap di mana perawatan nonbedah tidak lagi dapat mengoreksinya," tambahnya. "Anda mulai melihat pipi yang kendur, terbentuknya jowl, garis rahang yang kabur, atau kekenduran pada leher yang membuat Anda mulai menarik kulit wajah ke atas dan ke belakang di depan cermin."

"Dengan meningkatnya penggunaan obat-obatan GLP-1 dan penurunan berat badan secara signifikan yang diakibatkannya, beberapa pasien mencari prosedur facelift di usia yang lebih muda karena mereka mengalami penurunan volume wajah dan kulit kendur lebih cepat," ujar dr. Lyle Leipziger.

Kesehatan Fisik dan Kesiapan Mental

Terlepas dari apakah Anda berusia 35 atau 85 tahun, faktor kesehatan adalah hal penting berikutnya yang harus dipertimbangkan. Apakah Anda cukup sehat secara fisik dan mental untuk menjalani operasi serta masa pemulihan? Meskipun diabetes yang tidak terkontrol, gangguan pembekuan darah, dan tekanan darah tinggi merupakan kontraindikasi untuk operasi elektif, sebagian besar faktor penolak pasien bersifat sementara.

"Kandungan nikotin adalah penghambat utama. Nikotin membatasi aliran darah ke jaringan yang sedang menyembuh dan meningkatkan risiko masalah pada lapisan kulit. Oleh karena itu, saya mewajibkan pasien untuk berhenti merokok setidaknya empat minggu atau lebih sebelum operasi," tegas dr. Krishna Vyas, ahli bedah plastik di Blechman Plastic Surgery, New York City.

dr. Krishna juga meminta pasien untuk menghentikan suplemen bebas dan obat-obatan yang mengencerkan darah seperti minyak ikan, vitamin E, dan ibuprofen sebelum operasi. "Kondisi autoimun dan kulit tertentu seperti lupus, subtipe Ehlers-Danlos, dan rosacea aktif, memerlukan kewaspadaan ekstra terkait penyembuhan dan pembentukan bekas luka," tambahnya. "Ekspektasi yang tidak realistis atau kecemasan atas citra tubuh juga menjadi alasan untuk menunda prosedur, terlepas dari kesehatan fisik seseorang."

Kesiapan psikologis dan ekspektasi yang bijak sama pentingnya dengan tanda-tanda fisik. "Idealnya, seseorang mempertimbangkan facelift karena mereka ingin penampilan luar merasa lebih selaras dengan cara mereka memandang diri sendiri, bukan karena berharap operasi dapat mengubah siapa diri mereka atau menyelesaikan masalah di luar penampilan," jelas dr. Leslie. "Facelift dapat merestrukturisasi posisi jaringan yang menua serta memperindah garis rahang dan leher secara menawan, namun tidak dapat menghentikan penuaan, menciptakan kesempurnaan, atau serta-merta membuat seseorang terlihat 20 tahun lebih muda. Saya juga memperhatikan motivasi pasien. Jika seseorang menjalani operasi terutama karena tekanan dari pasangan, krisis kehidupan, atau keyakinan bahwa mengubah penampilan akan membereskan masalah lain, mungkin ini bukan saat yang tepat."

Pentingnya Sesi Konsultasi

Jika Anda penasaran dengan facelift, langkah terbaik yang dapat Anda lakukan adalah melakukan janji konsultasi dengan ahli bedah plastik bersertifikasi yang Anda percaya. "Anda tidak harus langsung memutuskan untuk menjalani operasi," kata dr. Luis. 

"Konsultasi yang baik harus memberi tahu Anda apa yang sebenarnya berubah secara anatomi, apa yang dapat diperbaiki, apa yang tidak dapat diubah, dan apakah operasi merupakan jawaban yang tepat." Ujar ahli bedah plastik dr. Luis Macias.

Dari sana, dokter dapat mengevaluasi tujuan Anda. Jika kehilangan volume wajah adalah masalah utama, maka filler adalah solusinya. Jika masalahnya ada pada tekstur, noda hitam, atau kerutan halus, itu adalah tugas untuk perawatan laser. Para ahli bedah kerap mengombinasikan prosedur, seperti facelift dengan CO2 resurfacing untuk mengatasi beberapa masalah sekaligus.

"Setelah evaluasi, pasien yang merupakan kandidat facelift juga dapat memperoleh manfaat dari blepharoplasty atas dan/atau bawah, brow lift, laser perioral atau dermabrasi, pengencangan otot leher, dan fat grafting pada area yang kehilangan volume," jelas dr. Lyle. "Pada pasien yang bukan kandidat facelift, beberapa prosedur tambahan ini mungkin tetap bermanfaat jika dilakukan secara mandiri."

Memahami Prosedur Pemulihan

Hal terakhir yang tak kalah penting adalah proses pemulihan. "Banyak orang meremehkan masa pemulihan," tutur dr. Luis. Ini bukan hanya tentang tindakan operasi itu sendiri atau hasil akhirnya tetapi rasa sakit, perban, dan perawatan luka yang sangat krusial pada hari, minggu, hingga bulan-bulan setelah facelift. "Siap untuk facelift berarti siap untuk pemulihannya, bukan hanya hasil akhirnya. Pasien membutuhkan waktu, dukungan, dan ketahanan emosional yang cukup untuk pulih tanpa merasa tertekan untuk langsung terlihat 'normal'," tambah dr. Leslie. "Bengkak, memar, rasa kencang, mati rasa, dan asimetri sementara adalah hal yang lumrah selama pemulihan. Wajah bisa terlihat asing sebelum akhirnya membaik. Sebagian besar pasien siap tampil di publik dalam waktu tiga hingga empat minggu, tetapi proses penyembuhan internal terus berlanjut selama berbulan-bulan."

"Siap untuk facelift berarti siap untuk pemulihannya, bukan hanya hasil akhirnya," ujar ahli bedah dr. Leslie Kim.

Facelift adalah operasi besar, dan bukan hal aneh jika pasien merasakan penyesalan sesaat setelah prosedur dilakukan. "Pasien yang pada akhirnya menyukai hasil operasi mereka pun bisa melalui periode sementara di mana mereka mempertanyakan keputusan mereka saat pembengkakan berada di puncaknya dan wajah belum terlihat seperti diri mereka sendiri," ungkap dr. Leslie. "Dalam sebuah studi yang memantau pasien facelift selama enam bulan, sekitar 30 persen mengalami gejala depresi pada periode awal pascaoperasi yang biasanya berlangsung dua hingga tiga minggu." Hal ini patut menjadi pertimbangan jika Anda memiliki kecenderungan kecemasan atau depresi.

Facelift adalah prosedur dan investasi besar, dengan kisaran harga mulai dari $20.000 hingga $300.000 (sekitar 300 juta hingga 4,8 miliar rupiah), tergantung pada keahlian dokter bedah. Seperti halnya implan payudara, Anda kemungkinan juga membutuhkan lebih dari satu kali facelift seumur hidup. "Prosedur penarikan wajah yang dilakukan dengan baik umumnya bertahan sekitar satu dekade, dan pemantauan jangka panjang menunjukkan sebagian besar pasien tetap merasa puas dengan keputusan mereka bertahun-tahun kemudian," tutup dr. Krishna. "Prosedur ini memang tidak menghentikan waktu, tetapi berhasil memutar balik jarum jamnya." 

BACA JUGA: 

Apakah Prosedur Estetika telah Menjadi Standar Baru dalam Mengukur Status Sosial?

Mengapa Facelift Kembali Populer?

(Penulis: Jenna Rosenstein; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Graceilla Alexandra; Foto: Courtesy of BAZAAR US)