Céline Dion tak membutuhkan banyak hal untuk menjadikan sebuah video musik ikonis. Penyanyi asal Kanada ini memiliki jangkauan vokal lima oktaf yang memungkinkannya beralih seketika dari lantunan balada penuh emosi ke bisikan melodius yang lembut. Di situlah letak daya tariknya. Namun, lebih dari sekadar kemampuan vokal, Céline juga dikenal dengan ekspresivitasnya yang luar biasa, mampu menyampaikan emosi begitu kuat hingga memukau penonton tanpa harus menari melintasi panggung. Suara, sorotan kamera dari jarak dekat, dan sesekali hembusan angin yang menerbangkan rambutnya dengan dramatis sudah cukup untuk memikat para penggemarnya.
BACA JUGA: Rekomendasi Tontonan Setelah Anda Selesai Menonton House of the Dragon
Namun, Céline memberikan lebih dari sekadar penampilan emosional dalam bingkai intim melalui video musiknya. Dengan lebih dari 60 video dalam videografinya, karya-karyanya merentang dari narasi teatrikal bernuansa Victoria hingga rekaman lo-fi yang penuh energi dan terkadang terasa campy, menampilkan sang penyanyi menari dengan lepas. Menontonnya satu per satu seolah menjadi perjalanan tersendiri, menghadirkan momen yang mampu menguras air mata sekaligus mengundang tawa. Bahkan, 10 video yang sepenuhnya berbeda pun dapat dipilih, masing-masing dengan pesonanya sendiri.
Pada akhirnya, video musik Céline yang paling berkesan adalah ketika vokalnya yang penuh tenaga berpadu dengan produksi sinematik yang mampu menerjemahkan seluruh kekuatan artistiknya. Untuk merayakan perilisan edisi September Icons dengan Céline sebagai bintang sampul, kami menelusuri kembali karya-karyanya dan memilih 10 video musik favorit kami.
10. “Je danse dans ma tête” (1992)
Menjadi salah satu video musik Céline Dion dari era ’90-an yang relatif luput dari perhatian, “Je danse dans ma tête” menampilkan sang penyanyi sebagai seniman yang tengah berjuang menemukan ruangnya di tengah hiruk-pikuk kota. Video ini dipenuhi rangkaian adegan yang tak kalah eksentrik: Céline tampil dalam denim overalls dan kemeja hijau longgar, berganti antara berdiri di jalanan kota dan berguling di lantai sebuah artist’s loft. Di sisi lain, seorang penari berambut putih dengan gerakan penuh tenaga turut menghidupkan lagu, sementara seorang pria yang duduk sendirian dikelilingi kembang api, air, dan bola-bola karet yang seolah menyembur dari kepalanya.
Berbeda dari sejumlah balada emosional Céline, lagu yang ceria dan enerjik ini diterjemahkan melalui visual yang sama ekspresifnya. Hasilnya adalah sebuah video yang menangkap kekacauan sekaligus kepuasan dalam proses menciptakan sesuatu yang eksperimental.
9. “If You Asked Me To” (1992)
Dalam “If You Asked Me To”, satu hal yang pasti: Céline Dion berganti busana hingga enam kali saat menyusuri sebuah rumah megah dalam video musik arahan Dominic Orlando. Dikemas secara sinematik dan penuh kemewahan, video ini menjadi panggung bagi ekspresivitas Céline, terutama kemampuannya menyampaikan rasa patah hati hanya melalui tatapan mata yang penuh kerinduan.
Video dibuka dengan tempo yang tenang, mengikuti nuansa lagunya. Céline terlihat menggenggam mantel cokelat di luar rumah, kemudian menatap jauh dalam balutan gaun kuning yang mengalir. Tatapan sendu tersebut perlahan mengantarkan video menuju bagian chorus yang megah, ketika mata Céline yang sarat emosi mengarah tepat ke kamera. Nuansa melodramatis pun dipertahankan sepanjang video, termasuk dalam sejumlah adegan indah saat Céline seolah berdansa dengan dirinya sendiri di tengah ruangan penuh cermin.
8. “Je sais pas” (1995)
Greg Masuak menyutradarai dua versi video musik untuk “Je sais pas”. Versi pertama hadir dengan alur naratif, menampilkan Céline Dion memasuki sebuah rumah bergaya Gotik dan seketika terhanyut dalam kenangan tentang kekasihnya yang telah tiada, sembari menonton rekaman masa lalu dengan mata berkaca-kaca. Namun, versi keduanya justru terasa jauh lebih kuat dalam kesederhanaannya.
Hampir sepanjang durasi 4 menit 32 detik, kamera hanya berfokus pada wajah Céline dalam balutan visual hitam-putih. Memang, pendekatan ini terasa lebih lambat dan jauh dari kemegahan visual yang kerap mewarnai videografi sang penyanyi. Namun, justru kesederhanaan tersebut memberikan ruang bagi ekspresi Céline untuk berbicara sepenuhnya. Sulit untuk tidak ikut terbawa emosi saat menatap sorot matanya yang bercahaya, seolah tengah menyaksikan Ingrid Bergman dalam sebuah film klasik Hollywood.
7. “That’s the Way It Is” (1999)
“That’s the Way It Is” menempatkan Céline Dion dalam jajaran pop era Y2K bersama nama-nama seperti Backstreet Boys dan Britney Spears—tak mengherankan, mengingat lagu ini juga ditulis oleh sejumlah penulis lagu asal Swedia yang sama. Setiap detik dalam lagu dan videonya terasa begitu lekat dengan estetika pergantian milenium: sebuah apartemen bergaya minimalis namun penuh karakter, intro dengan seruan “Yeah” ala NSYNC, hingga gambaran tentang bagaimana televisi dan budaya pop perlahan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian.
Pada awal video, sosok Céline muncul secara samar melalui layar televisi yang tersebar di latar. Namun, bagian akhirnya menghadirkan kejutan ala The Truman Show. Céline membalikkan kamera ke arah penonton, seolah memperlihatkan sekaligus mempertanyakan obsesi tanpa batas kita terhadap para idola dan daya pikat selebritas. Sebuah adegan yang, di era ketika kehidupan nyaris selalu terekam melalui layar ponsel, terasa semakin relevan untuk direnungkan kembali.
6. “Incognito” (1987)
“Incognito” adalah perwujudan sempurna dari keseruan khas era ’80-an. Disutradarai Jacques Payette, kolaborator yang cukup sering bekerja bersama Céline Dion kala itu, video ini dibuka dengan wajah Céline yang dibingkai kacamata neon biru. Memang, jika dibandingkan dengan karya-karyanya yang lebih spektakuler, video ini bukan yang paling mewah, bahkan mungkin bukan yang paling rapi secara visual. Bagi sebagian orang, tampilannya bisa saja terasa nyaris berlebihan.
Namun, justru di situlah pesonanya. Para penggemar Céline akan menemukan kenikmatan tersendiri dalam absurditas yang begitu campy—sebagian besar diisi dengan aksi Céline menari, mengenakan rok berwarna perak mengilap, atau menatap lurus ke kamera di balik kacamata hitam berukuran besar. Jika melihat Céline tampil seperti ini tidak terasa menyenangkan, mungkin sudah waktunya mempertanyakan kembali definisi fun Anda.
5. “Have You Ever Been in Love” (2003)
Dalam “Have You Ever Been in Love”, sejumlah pasangan berjalan tanpa tujuan di tengah gurun tandus yang dikelilingi pegunungan, di bawah teriknya matahari. Sebagian mencari perlindungan di dalam perahu, sementara yang lain berpelukan di atas truk yang telah lama ditinggalkan. Di kejauhan, mereka menemukan pemandangan yang tak kalah sureal: Céline Dion berdiri di atas dermaga kayu yang seolah tak berujung, membentang di tengah lanskap tandus, sambil melantunkan kekuatan cinta yang begitu dalam.
Video ini dibangun melalui produksi yang penuh konsep dan terasa ganjil, tetapi daya tarik terbesarnya justru terletak pada penampilan Céline yang nyaris tanpa gerakan. Ia berdiri seorang diri di tengah gurun, menyanyikan balada cinta sementara air perlahan memenuhi lanskap di sekelilingnya—mungkin seperti air mata bahagia dari para pasangan yang mendengarkan lantunannya. Video kemudian ditutup dengan Céline yang tersenyum, tetap menyanyikan lagunya di bawah cahaya matahari terbenam yang elegan.
4. “Immortality” (1998)
Dalam “Immortality”, Céline Dion berjalan muram menyusuri pemakaman sembari terhanyut dalam kisah cinta bergaya Victoria yang melampaui ruang dan waktu. Video musik bernuansa gotik ini kemudian beralih ke visual penuh warna, ketika Céline menjelajahi sebuah istana bergaya Victoria dalam balutan gaun hitam—hingga, secara tak terduga, Bee Gees muncul di tengah aula untuk bernyanyi bersamanya.
Keempatnya kemudian membawakan salah satu chorus paling megah yang pernah ditulis. Setelahnya, sosok Céline yang transparan dan menyerupai hantu kembali menyusuri lorong-lorong istana, sementara seorang pria tampan bergaya Victoria terlihat berkeliaran di ruang yang sama, seolah tengah meratapi kepergian sang istri—yang tampaknya adalah Céline. Alur waktunya memang terasa sedikit membingungkan, tetapi justru berhasil menyampaikan gagasan utama lagu ini: cinta sejati yang melampaui kematian.
Salah satu adegan terbaik hadir ketika Céline berdiri di atas panggung sebuah klub, sementara Bee Gees menyanyikan bagian mereka dari tengah kerumunan penonton. Sebuah momen yang mempertemukan drama, romansa, dan aura teatrikal dalam satu visual yang tak terlupakan.
3. “The Power of Love” (1993)
Dinding bermotif floral, jendela dengan teralis logam dekoratif, perapian, dan Céline Dion yang melantunkan lagu cinta penuh getir dalam balutan white slip sederhana—tak banyak yang dibutuhkan untuk menciptakan sebuah video musik yang sempurna. Disutradarai seniman asal California, Randee St. Nicholas, “The Power of Love” menempatkan salah satu lagu terbesar Céline dalam latar yang intim dan minimalis: sebuah kamar tidur yang sunyi.
Kesederhanaan visual justru memberi ruang bagi emosi lagu untuk terasa lebih kuat, sebagaimana karakter balada power ballad Céline yang begitu khas. Salah satu momen paling menonjol hadir ketika kamera perlahan mendekat pada tatapan Céline yang langsung mengarah ke lensa. Sorot matanya yang tajam seolah menjadi perpanjangan dari setiap emosi dalam lagu, menghidupkan lirik tentang rasa takut sekaligus keberanian untuk menyerahkan diri pada kekuatan cinta.
2. “My Heart Will Go On” (1997)
Butuh alasan untuk menangis? Lewati Titanic dan langsung menuju sumber emosinya: “My Heart Will Go On”, balada penuh getir Céline Dion yang hampir mustahil didengarkan tanpa menyentuh hati. Dirilis pada 1997 dan disutradarai Billie Woodruff, video musik orisinalnya memadukan potongan adegan romantis Jack dan Rose, yang diperankan Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet, dengan penampilan Céline—sebuah formula yang kemudian menginspirasi lahirnya Titanique.
Céline tampil di atas dek Titanic dengan latar langit senja yang dramatis, termasuk dalam beberapa adegan saat ia berdiri di tempat Jack pernah berseru, “I’m the king of the world.” Namun, dalam versi ini, Céline-lah sang ratu. Momen paling ikonis hadir menjelang akhir lagu, ketika ia melantunkan bagian emosional “You’re here, there’s nothing I fear” dengan kamera yang perlahan mendekat pada wajahnya, sementara rambutnya berkibar diterpa angin. Dramatis, sederhana, dan sepenuhnya Céline Dion.
1. “It’s All Coming Back to Me Now” (1996)
Sulit untuk menyangkal bahwa “It’s All Coming Back to Me Now” merupakan salah satu video musik Céline Dion yang paling ikonis. Disutradarai Nigel Dick, video ini menghadirkan kemewahan sinematik yang terasa intens sejak detik pertama. Alunan piano yang khas membuka adegan ketika seorang pria mengendarai sepeda motor menerobos badai, sebelum akhirnya mengalami kecelakaan hebat setelah menabrak pohon yang tumbang.
Setelah itu, Céline menguasai seluruh adegan. Berbalut jubah putih yang menjuntai, ia berlari menyusuri mansion sembari meratapi kepergian sang kekasih, seolah meneriakkan kesedihannya ke dalam kehampaan. Namun, dramanya tak berhenti di sana. Sosok pria berambut pirang tersebut kemudian muncul secara misterius di dalam cermin, menyentuh Céline sebelum ia kembali berlari melewati lorong yang diterangi cahaya lilin. Di sepanjang perjalanan, fragmen kehidupan mereka bersama hadir seperti potongan kenangan yang menghantuinya.
Dengan produksi yang begitu teatrikal dan sinematik, video ini terasa sepadan dengan karakter lagu Céline yang penuh kerinduan dan romantisme. Sebuah mahakarya melodramatis yang rasanya tak pernah kehilangan daya tarik, bahkan setelah ditonton berulang kali.
BACA JUGA:
Film Terbaik untuk Ditonton pada Penerbangan Berikutnya
Urutan Penampilan Terbaik Anne Hathaway
(Penulis: Maxwell Rabb; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
- Tag:
- Celine Dion
- Music
- Culture
