Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Film Terbaik untuk Ditonton pada Penerbangan Berikutnya

Pilihan tontonan yang akan membuat waktu di ketinggian 30.000 kaki terasa berlalu lebih cepat.

Film Terbaik untuk Ditonton pada Penerbangan Berikutnya
Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Ada film, dan ada pula film yang memang paling tepat ditonton di dalam pesawat. Film kategori ini seolah memiliki genrenya sendiri: menghibur, begitu buruk hingga justru terasa menyenangkan, atau begitu memikat hingga membuat turbulensi nyaris terlupakan. Dengan layar hiburan yang kini tersedia di hampir setiap kursi, menonton film saat penerbangan terasa seperti sebuah keharusan. Meski maskapai biasanya telah menghadirkan pilihan film yang dikurasi, mulai dari rilisan terbaru hingga klasik yang menenangkan, kami selalu kembali pada judul-judul yang sama. Komedi romantis, film laga penuh aksi, hingga Snakes on a Plane, semuanya layak menjadi favorit sepanjang masa. Baik memilih film yang berlatar dunia penerbangan seperti Flight dan Air Force One, maupun kisah tentang perjalanan ke tempat baru seperti Lost in Translation, deretan film berikut dijamin membuat waktu di udara terasa lebih singkat.

BACA JUGA: 10 Serial Misteri & Thriller Konspirasi Terbaik untuk Ditonton

Simak pilihan favorit Harper’s Bazaar berikut ini.

Air Force One (1997)

Harrison Ford sebagai Presiden Amerika Serikat? Dalam Air Force One garapan Wolfgang Petersen, aktor tersebut mewujudkannya. Film ini mengikuti perjalanan Presiden James Marshall (Harrison Ford) yang pulang dari Moskow bersama keluarganya menggunakan Air Force One. Namun, setelah pesawat lepas landas, mereka menyadari sekelompok radikal Rusia diam-diam telah menyusup dan mengambil alih pesawat.

Alih-alih melarikan diri melalui pintu darurat, Presiden Marshall memilih tetap bertahan demi melindungi keluarganya. Sebagaimana film thriller patriotik khas Hollywood, ia bukan hanya seorang presiden, tetapi juga veteran Perang Vietnam yang mampu melumpuhkan para pembajak satu per satu dalam tontonan beranggaran besar ini. Menontonnya saat berada di dalam pesawat mungkin akan membuat Anda sesekali menoleh ke sekitar, tetapi film ini dijamin menghadirkan ketegangan yang membuat penerbangan panjang terasa jauh lebih seru. Meski efek CGI khas era 1990-an mulai terasa usang, akting Harrison Ford dan Gary Oldman tetap menjadikannya tontonan yang layak dinikmati.

Crash (1996)

Film thriller erotis tentang kecelakaan mobil berkecepatan tinggi mungkin terdengar sebagai pilihan yang bertolak belakang dengan tontonan ideal selama penerbangan. Namun, Crash menawarkan sudut pandang yang berbeda.

Film karya David Cronenberg yang diadaptasi dari novel J. G. Ballard ini merupakan eksplorasi psikologis tentang sejauh mana manusia bersedia melangkah demi benar-benar merasakan sesuatu. Setelah selamat dari kecelakaan mobil yang nyaris merenggut nyawanya, seorang produser film terlibat dengan sekelompok orang yang memiliki fetisisme terhadap kecelakaan kendaraan dan menjadikannya sebagai pemicu hasrat mereka.

Meski bukan pilihan terbaik bagi mereka yang memiliki ketakutan terhadap kecelakaan, ritme cerita yang cepat serta alur yang intens membuat film ini cocok menemani perjalanan panjang. Tentu saja, film ini juga menghadirkan adegan telanjang yang cukup eksplisit dan mungkin justru menambah rasa cemas selama penerbangan. Mungkin, film ini lebih aman ditonton melalui layar ponsel pribadi.

Porco Rosso (1994)

Film-film Studio Ghibli selalu menjadi pilihan yang menenangkan. Meski studio ini kerap menghadirkan kisah yang berlatar langit, mulai dari Howl’s Moving Castle hingga Kiki’s Delivery Service, Porco Rosso menjadi salah satu pilihan terbaik untuk ditonton saat berada di dalam pesawat.

Film ini mengikuti kisah seorang mantan pilot Italia pada Perang Dunia I yang kehilangan rekan-rekannya dalam peperangan dan dikutuk hidup sebagai seekor babi bernama Porco Rosso, disuarakan oleh Michael Keaton. Ia kemudian menjadi pemburu hadiah yang kembali mengudara sambil melawan bangkitnya fasisme.

Terlepas dari wujud barunya, cinta masa kecilnya, Gina, tetap mencintainya dan menjadi pengingat akan sisi kemanusiaannya. Sebagai film perang yang dipenuhi adegan aksi, Porco Rosso menghadirkan kisah tentang kehidupan yang begitu lekat dengan dunia penerbangan.

Snakes on a Plane (2006)

I have had it with these motherfuckin’ snakes on this motherfuckin’ plane.” Kalimat ikonis yang diucapkan Samuel L. Jackson dalam Snakes on a Plane sudah cukup menggambarkan seperti apa film ini. Jika kutipan tersebut belum berhasil menarik perhatian Anda, kemungkinan besar film ini memang bukan untuk Anda.

Samuel L. Jackson bahkan memilih membintangi film laga yang penuh nuansa satir ini hanya karena judulnya. Kisahnya mengikuti seorang saksi pembunuhan mafia yang harus terbang dari Hawaii menuju Los Angeles untuk memberikan kesaksian di pengadilan. Seorang agen FBI yang diperankan Samuel L. Jackson bertugas memastikan ia tiba dengan selamat.

Masalah muncul ketika puluhan ular berbisa yang disembunyikan di dalam peti mulai berkeliaran di seluruh kabin pesawat. Samuel harus menghadapi kekacauan tersebut sambil menyelamatkan para penumpang yang terdiri atas musisi, selebritas Hollywood, hingga wisatawan. Entah film ini bisa disebut bagus atau tidak, tetapi absurditasnya justru menjadi alasan utama mengapa Snakes on a Plane begitu menghibur.

Anora (2024)

Jangan menonton film ini di dalam pesawat. Atau mungkin justru sebaliknya? Keputusan sepenuhnya ada di tangan Anda.

Sebagian orang mungkin menganggap Anora bukan pilihan yang tepat karena memuat adegan eksplisit serta tema yang cukup dewasa. Film pemenang Academy Awards ini mengisahkan Anora, diperankan Mikey Madison, seorang penari erotis yang terseret dalam pernikahan kilat dengan salah satu kliennya, seorang oligarki Rusia, yang membawanya berlibur ke Las Vegas.

Sebagai versi modern kisah Cinderella yang jauh dari pakem, Anora seketika meninggalkan kehidupannya di Brooklyn hingga keluarga sang suami mengetahui hubungan mereka. Pergulatan antara keinginan untuk menikmati salah satu film terbaik beberapa tahun terakhir dengan etika menonton di dalam kabin memang cukup rumit. Namun, faktanya, Anora telah tersedia dalam katalog hiburan berbagai maskapai penerbangan. Itu saja yang perlu Anda ketahui.

Casablanca (1942)

Perjalanan panjang selalu menjadi alasan yang tepat untuk akhirnya menonton film klasik yang selama ini tertunda. Casablanca merupakan kisah romansa slow-burn yang memikat dengan latar kota Casablanca pada masa Perang Dunia II.

Saat Maroko berada di bawah pemerintahan Vichy dan pengaruh Nazi, Rick, yang diperankan Humphrey Bogart, mengelola sebuah klub malam mewah yang ramai dikunjungi berbagai kalangan. Ia hidup dalam pengasingan, jauh dari Amerika Serikat, hingga mantan kekasihnya, Ilsa (Ingrid Bergman), tiba di kota tersebut bersama sang suami, seorang pemimpin kelompok perlawanan Ceko. Mereka mencari surat jalan agar dapat melarikan diri dari kejaran Nazi melalui penerbangan menuju Lisbon sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Amerika Serikat.

Di tengah upaya mengelabui para perwira Nazi, Ilsa dan suaminya menyerahkan nasib mereka kepada Rick. Pada dasarnya, sebagian besar cerita film ini berpusat pada usaha mereka untuk mengejar satu penerbangan yang dapat membawa kebebasan. Ketika Rick menyadari bahwa Ilsa masih mencintainya, ia sempat mempertimbangkan untuk melarikan diri bersama perempuan itu. Namun, ia memahami bahwa Ilsa memiliki peran penting dalam perjuangan melawan Nazi dan memilih merelakan kepergiannya. Menggabungkan kisah pengorbanan di masa perang, dialog yang ikonis, dan romansa yang mendalam, film peraih tiga Academy Awards ini terus dikenang sebagai salah satu karya terbaik sepanjang masa.

Moonlight (2016)

Moonlight menghadirkan kisah yang terbagi dalam tiga babak kehidupan Chiron, seorang laki-laki yang terus bergulat dengan identitas dan maskulinitasnya sejak kecil hingga dewasa.

Dikucilkan di sekolah dan tumbuh tanpa perhatian di rumah, Chiron kecil menemukan sosok pelindung dalam diri seorang pengedar narkoba. Saat beranjak remaja, ia mulai menyadari perasaannya kepada sahabatnya, Kevin, tetapi memilih memendamnya. Memasuki babak terakhir, Chiron justru mengikuti jejak yang sama sebagai pengedar narkoba setelah kehilangan banyak orang terdekat akibat dunia tersebut. Ia membangun citra tangguh untuk menyembunyikan identitas seksualnya sekaligus menghadapi kenyataan bahwa hidupnya tidak berjalan seperti yang pernah ia bayangkan.

Karakter Chiron diperankan oleh tiga aktor berbeda, yaitu Alex R. Hibbert sebagai Little, Ashton Sanders sebagai Chiron remaja, dan Trevante Rhodes sebagai Black. Ketiganya menghadirkan penampilan yang sama kuatnya. Setiap keputusan penyutradaraan Barry Jenkins terasa begitu terukur, mulai dari dialog yang puitis hingga permainan pencahayaan yang lembut sekaligus tajam sesuai kebutuhan emosinya.

Flight (2012)

Dalam Flight, Denzel Washington memerankan Whip, seorang pilot maskapai yang berhasil mendaratkan pesawat dalam kondisi darurat dan menyelamatkan hampir seluruh penumpangnya.

Meski premisnya terdengar seperti kisah kepahlawanan ala Sully, cerita berkembang ke arah yang jauh lebih kompleks ketika penyelidikan mengungkap riwayat penyalahgunaan alkohol dan narkoba yang dilakukan Whip. Ketidakmampuannya mempertahankan hidup yang bersih mulai memengaruhi hubungan pribadi hingga proses hukum yang harus ia hadapi.

Dengan adegan kecelakaan yang mengingatkan pada tragedi Alaska Airlines Penerbangan 261, film ini mungkin terasa terlalu menegangkan bagi sebagian penonton, terlebih jika ditonton saat penerbangan berguncang. Namun, pada akhirnya, Flight lebih banyak berbicara mengenai kecanduan, rasa bersalah, dan pencarian penebusan daripada sekadar bencana penerbangan.

Past Lives (2023)

Past Lives adalah kisah tentang hubungan yang terlewatkan dan kesempatan kedua.

Dua puluh tahun setelah berpisah, Nora (Greta Lee) dan Hae Sung (Teo Yoo), dua sahabat masa kecil asal Korea Selatan, kembali dipertemukan. Pertemuan itu membangkitkan kembali perasaan lama yang mulai mengusik kehidupan mereka saat ini. Meski Nora telah menikah dan menetap di New York, keduanya tak bisa mengabaikan ikatan emosional yang masih tersisa.

Sambil menerima kenyataan bahwa waktu mereka untuk bersama mungkin telah berlalu, Nora dan Hae Sung merenungkan siapa mereka di kehidupan sebelumnya, dan siapa mereka bagi satu sama lain di kehidupan berikutnya. Melankolis sekaligus penuh harapan, Past Lives menangkap perasaan bahwa segala kemungkinan selalu dapat terjadi, sebuah emosi yang tidak jauh berbeda dengan sensasi memulai sebuah perjalanan.

Lost in Translation (2003)

Dalam film karya Sofia Coppola yang nyaris menjadi komedi romantis ini, Bob (Bill Murray) melakukan perjalanan ke Tokyo untuk membintangi sebuah iklan wiski. Di tengah karier aktingnya yang mulai meredup, ia merasa kehilangan arah dan menganggap dirinya telah menjual idealismenya.

Di sana, ia bertemu Charlotte (Scarlett Johansson), seorang perempuan muda yang baru lulus kuliah dan tengah menjalani hubungan yang tidak membahagiakan. Setelah beberapa kali bertemu di hotel tempat mereka menginap, keduanya menjalin persahabatan yang perlahan membantu mereka menghadapi rasa kesepian masing-masing.

Film ini membiarkan penonton larut dalam ketidaknyamanan para karakternya, sekaligus menunjukkan bagaimana hubungan yang lahir dari rasa kesepian bersama justru dapat menjadi yang paling indah. Sebagai satu-satunya film Sofia Coppola yang berlatar di Asia, Lost in Translation juga menawarkan cara pandang sang sutradara terhadap Tokyo yang jauh dari estetika glamor dan nostalgia yang selama ini menjadi ciri khas karya-karyanya.

Crazy Rich Asians (2018)

Saat berada di dalam pesawat, sesekali memanjakan diri memang terasa menyenangkan, entah dengan memesan makanan dari menu kabin atau membeli bantal leher yang lebih nyaman. Menonton Crazy Rich Asians menghadirkan sensasi yang sama: terasa begitu memuaskan.

Diadaptasi dari novel karya Kevin Kwan, film ini mengikuti Rachel (Constance Wu) yang terbang ke Singapura untuk bertemu keluarga kekasihnya, Nick (Henry Golding). Ketika langsung mendapatkan peningkatan kelas ke kabin utama, Rachel mulai menyadari bahwa Nick bukan sekadar kaya, melainkan berasal dari keluarga miliarder yang sangat berpengaruh.

Layaknya kisah Jane Austen versi modern, Rachel segera dicap sebagai perempuan yang mengejar harta oleh keluarga Nick. Ia pun harus menghadapi berbagai prasangka kelas sosial serta berbagai upaya yang dilakukan untuk menggagalkan hubungan mereka. Kemewahan yang ditampilkan sepanjang film menciptakan dunia yang begitu berlebihan sekaligus memikat, menjadikannya tontonan yang sempurna untuk membuka awal liburan atau menjadi pelarian terakhir sebelum kembali ke rutinitas sehari-hari.

Interstellar (2014)

Belum lengkap rasanya sebuah penerbangan tanpa menonton film karya Christopher Nolan. Kalaupun akhirnya Anda hanya sempat menyaksikan 15 menit Inception atau The Dark Knight sebelum tertidur, film-film Nolan selalu mampu membawa penonton tenggelam dalam dunia yang ia bangun. Interstellar memiliki tempat yang berbeda di antara karya-karyanya. Film ini dapat dikatakan sebagai versi Christopher atas 2001: A Space Odyssey.

Ketika Bumi menghadapi ancaman kepunahan akibat kondisi lingkungan yang terus memburuk, NASA merekrut mantan pilot Cooper (Matthew McConaughey) untuk memimpin misi menembus wormhole demi mencari planet baru yang layak dihuni. Terjebak dalam berbagai anomali ruang dan waktu, Cooper harus berjuang menyelesaikan misinya sekaligus menemukan jalan pulang.

Durasi film yang panjang justru menjadi kelebihannya saat ditonton di pesawat. Sebelum Anda menyadarinya, waktu penerbangan akan terasa berlalu begitu saja, layaknya melewati wormhole ala Christopher Nolan.

Sleepless in Seattle (1993)

Hampir semua kisah cinta terbaik yang berlatar New York tampaknya selalu melibatkan Empire State Building, mulai dari An Affair to Remember hingga kisah nyata pasangan yang bertunangan di puncak gedung ikonis tersebut. Dalam tradisi yang sama, Sleepless in Seattle, terlepas dari judulnya, juga merupakan salah satu romansa klasik New York dari era 1990-an.

Ketika putra seorang arsitek duda bernama Sam (Tom Hanks) menelepon sebuah acara radio, ia mengatakan bahwa dirinya sedang mencari istri baru untuk sang ayah. Setelah Sam berbicara di udara, surat dari para perempuan mulai berdatangan. Salah satunya berasal dari Annie Reed (Meg Ryan), seorang jurnalis asal Baltimore yang telah bertunangan namun tidak bahagia. Annie mengajak Sam bertemu di puncak Empire State Building, dan sang putra pun membujuk ayahnya untuk datang.

Film ini adalah impian setiap pencinta kisah romantis, sebuah cerita yang menunjukkan bagaimana satu penerbangan lintas negara mampu mengubah hidup seseorang selamanya.

Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004)

Eternal Sunshine of the Spotless Mind menghadirkan sebuah pertanyaan sederhana namun menggugah: bagaimana jika Anda dapat menghapus seseorang dari ingatan secara sengaja?

Film ini mengikuti Joel (Jim Carrey) setelah mengetahui bahwa mantan kekasihnya, Clementine (Kate Winslet), telah menjalani prosedur untuk menghapus seluruh kenangan tentang dirinya. Terluka oleh kenyataan tersebut, Joel memutuskan melakukan hal yang sama. Namun, selama proses berlangsung, penonton diajak menyusuri kembali setiap lapisan memorinya, menghidupkan ulang perjalanan hubungan mereka dari awal hingga akhir.

Clementine, dengan warna rambutnya yang terus berubah mengikuti alur cerita, perlahan menjadi kenangan yang justru ingin dipertahankan Joel. Dengan penggunaan warna yang khas serta premis yang emosional, film ini mungkin membuat Anda tanpa sadar menitikkan air mata di tengah kabin pesawat. Jika Anda sedang terbang untuk meninggalkan sesuatu yang ingin dilupakan, film ini justru akan mengingatkannya kembali.

One Battle After Another (2025)

Melalui One Battle After Another, Paul Thomas Anderson menghadirkan warna baru dalam filmografinya lewat adaptasi yang terinspirasi dari novel Vineland karya Thomas Pynchon.

Film ini mengikuti Bob (Leonardo DiCaprio), seorang mantan revolusioner yang kini hidup menyendiri bersama putrinya, Willa (Chase Infiniti). Bob digambarkan sebagai sosok paranoid yang gemar mengonsumsi ganja dan masih terjebak dalam masa lalunya sejak ditinggalkan sang istri bertahun-tahun sebelumnya.

Ketika Willa diculik oleh seorang perwira militer korup dan sadis yang diperankan Sean Penn, Bob terpaksa kembali bertarung demi menyelamatkan putrinya. Didukung penampilan memikat Leonardo DiCaprio yang kali ini juga menunjukkan sisi komedinya, serta debut kuat Chase Infiniti, film ini meninggalkan kesan yang membuat penonton ingin segera mengulangnya dari awal.

The Shawshank Redemption (1994)

The Shawshank Redemption adalah film yang meminta kesabaran dari para penontonnya. Jika diputar sejak awal penerbangan, kisahnya akan terus membekas hingga pesawat mendarat.

Andy Dufresne (Tim Robbins) dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah dituduh membunuh istri dan selingkuhannya. Di Penjara Shawshank, ia berusaha mempertahankan harapan sambil menjalin persahabatan dengan Red (Morgan Freeman), seorang narapidana yang dikenal mampu mendapatkan berbagai barang selundupan.

Di tengah berbagai kesulitan yang dihadapinya, Andy mulai membangun kepercayaan, menemukan sekutu, dan perlahan menyusun rencana untuk meraih kebebasan. Diadaptasi dari karya Stephen King, film ini menerima tujuh nominasi Academy Awards tanpa membawa pulang satu pun piala. Meski demikian, pengaruhnya jauh melampaui penghargaan tersebut. Tanpa bergantung pada ledakan ataupun aksi spektakuler, The Shawshank Redemption membangun kekuatannya melalui cerita yang perlahan namun penuh makna tentang harapan, ketabahan, dan daya tahan manusia.

Crazy, Stupid, Love (2011)

Crazy, Stupid, Love adalah salah satu film yang membuat waktu terasa berlalu begitu cepat berkat karakter-karakternya yang menyenangkan serta alur cerita yang penuh kejutan.

Jacob Palmer (Ryan Gosling) secara tak terduga menjadi mentor bagi Cal Weaver (Steve Carell), pria paruh baya yang baru berpisah dari istrinya. Jacob, yang dikenal sebagai pria penuh pesona, mengajari Cal cara kembali percaya diri dan mendekati perempuan. Keduanya berkali-kali menghabiskan waktu di bar yang sama untuk mencari pasangan, hingga tanpa disadari menjalin persahabatan yang erat.

Seiring berjalannya cerita, mereka saling mengubah cara pandang terhadap cinta dan hubungan. Dengan Julianne Moore sebagai istri Cal serta Emma Stone sebagai perempuan yang membuat Jacob jatuh hati, film ini menghadirkan kedalaman emosional yang melampaui komedi romantis pada umumnya. Persahabatan yang menjadi inti cerita membuat Crazy, Stupid, Love terasa hangat, menghibur, sekaligus menyentuh hati.

BACA JUGA:

11 Film Dokumenter Thriller Netflix Paling Menegangkan yang Wajib Ditonton

8 Film Paling Menegangkan dari Awal Sampai Akhir yang Wajib Ditonton

(Penulis: Julia Silverberg; Artikel ini disadur dari BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)