Desa Potato Head, kawasan kreatif dan kuliner ikonik di Pantai Petitenget, Bali kembali mencuri perhatian industri kuliner lewat kembalinya restoran pionir sustainable dining, Ijen dalam format beachfront kitchen yang lebih megah. Sembilan tahun sejak pertama kali membuka pintunya di 2017, Ijen kembali hadir membawa filosofi ocean-to-table dan teknik open-flame cooking yang menyatu langsung dengan garis pantai.
Di bawah komando Head Chef Albert Susanto, Ijen menyajikan hasil tangkapan harian dari nelayan tradisional lokal yang dimasak dengan intervensi minimal, dipadukan bersama hasil bumi organik dari kebun Potato Head. Deretan menu unggulannya mencakup fish rillettes, shaker prawns, hingga gurita panggang berpadu dengan saus romesco. Pengalaman bersantap ini kian sempurna lewat kurasi wine list berbasis dua elemen utama, yakni Salt dan Fire.
BACA JUGA: Potato Head Membawa Tenun Ikat Bali ke Market Jepang
"Bagi saya, semuanya selalu dimulai dari sourcing. Jika ikan sudah ditangani dengan baik, ditangkap dengan tali pancing, dihormati, diistirahatkan dengan benar, maka tugas kami di dapur sebenarnya hanya satu: jangan mengganggu. Api, garam, keasaman... semua itu adalah alat untuk menghormati bahan, bukan menyamarkannya. Memasak sedekat ini dengan laut mempertajam cara pandang tersebut. Menu ini bergerak mengikuti hasil tangkapan, mengikuti musim, mengikuti apa yang dibawa nelayan kami pagi itu. Itu yang membuat kami tetap jujur, dan membuat makanan ini tetap hidup." ungkap Chef Albert Susanto.
Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan Ijen secara nyata melalui sistem pemilahan limbah lima jalur, pengolahan cangkang kerang menjadi pupuk, hingga inovasi menu ikonik Fish Bone Noodle. Langkah ini memperkokoh posisi Desa Potato Head sebagai tolok ukur global dalam regenerative hospitality yang sukses menekan limbah TPA hingga tersisa 0,5 pesen pada 2025 dan menargetkan 75 pesen produk organik pada akhir 2026.
Director of Food & Beverage Potato Head, Oliver Truesdale Jutras turut menegaskan bahwa prioritas utama Ijen tetap berakar pada kualitas rasa yang luar biasa. "Ijen selalu memiliki fondasi yang kuat... Memindahkannya ke tepi pantai membuat ceritanya semakin jelas. Anda menyantap ikan sambil memandang laut tempat ikan itu berasal... Keberlanjutan itu penting, tapi rasa selalu menjadi prioritas utama. Selalu." ungkapnya.
Dengan perpindahannya ke tepi pantai, Ijen memperkuat identitasnya sebagai restoran yang dibentuk oleh lingkungannya, terbuka terhadap unsur-unsur alam, dipandu oleh hasil tangkapan harian, dan berkomitmen pada keramahan sirkular di setiap tahapnya. Ijen di Desa Potato Head sudah siap menyambut kembali para pencinta kuliner sejak 1 April 2026.
BACA JUGA:
Tamba by Junsei Padukan Tea Room & Vinyl Listening Bar Pertama di Bali
Oaken Lab Membuka Gerai Baru di Ubud dan Memperkenalkan The Oaken Stillroom
(Penulis: Graceilla Alexandra; Edited by JM; Foto: Courtesy of Ijen)
