Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Urutan Penampilan Terbaik Anne Hathaway

Dari menjelajah luar angkasa dan menguras air mata penonton, hingga menduduki takhta dan kembali berhadapan dengan Miranda Priestly—bahkan dua kali—Anne Hathaway telah membuktikan kemampuannya dalam berbagai peran ikonis.

Urutan Penampilan Terbaik Anne Hathaway
Foto: Courtesy BAZAAR US

Anne Hathaway selalu berhasil menepis dugaan, tanpa pernah membiarkan dirinya terjebak dalam satu tipe karakter atau genre tertentu. Sebagai salah satu aktris paling produktif di Hollywood, ia telah membuat penonton terus menantikan peran-peran berikutnya sejak usia 18 tahun, ketika ia memulai debut sebagai Mia Thermopolis, remaja kikuk yang tiba-tiba menjadi seorang putri dalam The Princess Diaries. Sulit dipercaya bahwa peran tersebut merupakan debutnya, tetapi karakter yang penuh pesona itu segera mengantarkannya menuju popularitas lewat film-film seperti Brokeback Mountain (2005), The Devil Wears Prada (2006), dan Rachel Getting Married (2008), yang memberinya nominasi Oscar pertamanya. Selama 25 tahun berkarier di Hollywood, Anne nyaris tak pernah memperlambat langkah, menghadirkan deretan peran yang luar biasa sekaligus selalu menarik untuk disaksikan.

BACA JUGA: Apakah Anne Hathaway Sedang Menuju EGOT?

Tahun ini saja, Anne membintangi tak kurang dari lima film, berpindah dari satu tur promosi ke tur berikutnya—dan jangan lupakan, semua itu ia jalani saat tengah hamil. Ia membuka tahun lewat Mother Mary, drama intim bersama Michaela Coel, dengan memerankan seorang bintang pop yang berusaha kembali ke panggung setelah mengalami sebuah tragedi. Tak lama kemudian, ia kembali sebagai Andy Sachs, penulis muda yang bekerja di bawah tekanan Miranda Priestly, dalam The Devil Wears Prada 2. Ia juga tampil dalam salah satu blockbuster terbesar tahun ini sejauh ini, The Odyssey, sebagai Penelope, sosok yang menjadi alasan Odysseus begitu ingin kembali ke rumah. Seolah belum cukup, Anne dan Ewan McGregor juga beradu akting dalam The End of Oak Street, film yang—berdasarkan catatan kami—mengisahkan sebuah keluarga suburban yang tiba-tiba kembali ke zaman dinosaurus. Menutup tahunnya, Anne akan tampil dalam Verity, film thriller erotis bersama Dakota Johnson dan Josh Hartnett yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Colleen Hoover.

Tak diragukan lagi, 2026 adalah tahunnya Anne Hathaway. Untuk merayakannya, kami menelusuri filmografi sang aktris yang begitu luas dan merangkum 10 penampilan terbaik sepanjang kariernya.

10. Dark Waters (2019)


Anne bersinar ketika diberi ruang yang terbatas. Dalam film Dark Waters (2019) garapan Todd Haynes, ia memerankan Sarah Barlage Bilott, seorang ibu rumah tangga yang juga merupakan pengacara, meski sudah tidak lagi berpraktik, sekaligus istri dari Rob Bilott (Mark Ruffalo). Todd sebenarnya bisa saja menjadikan Anne sekadar sosok istri yang mendukung suaminya dalam diam ketika Rob berusaha menghadapi DuPont dalam pertarungan hukum bak David melawan Goliath. Namun, sang sutradara justru memberinya ruang untuk menunjukkan kekuatannya, bahkan melalui satu momen ketika Sarah dengan tegas berkata, “Tolong jangan bicara kepada saya seolah-olah saya ini hanya seorang istri.”

Anne berhasil membuat sosok Sarah mencuri perhatian, menghadirkan kecerdasan dan ketenangan yang tak kalah—bahkan mungkin lebih kuat—dari karakter suaminya. Meski sebagian besar film berfokus pada gejolak emosional dan mental yang dialami Rob, Anne memastikan penonton memahami bahwa dampak dari pertarungan tersebut jauh melampaui ruang sidang.

9. Interstellar (2014)


Christopher Nolan kerap mendapat kritik karena karakter-karakter perempuan dalam filmnya yang dianggap kurang mendapat ruang—termasuk dua karakter yang diperankan Anne, Catwoman dalam The Dark Knight Rises dan Penelope dalam The Odyssey. Dalam banyak hal, Amelia Brand yang diperankan Anne mengalami nasib serupa. Dalam Interstellar (2014), ia seolah ditempatkan di pinggir cerita ketika menjelajah ruang dan waktu bersama Matthew McConaughey yang berperan sebagai petani jagung sekaligus space cowboy. Film ini sempat dikritik karena terlalu menonjolkan gagasan tentang kekuatan cinta yang melampaui galaksi. Namun kini, ketika kita kembali menyambut era yang lebih menghargai sentimentalitas, Interstellar justru terasa sebagai film Christopher Nolan yang paling piawai mengolah emosi.

Saat ditonton kembali, Anne layak mendapat pujian yang sama besarnya dengan Matthew. Ia menghadirkan sosok Amelia dengan pancaran emosi yang kuat, bahkan ketika karakternya harus berhadapan dengan kehilangan. Yang semakin mengukuhkan peran ini sebagai salah satu penampilan terbaiknya adalah monolog Amelia tentang cinta dan semesta—sebuah adegan yang merangkum inti emosional film Nolan tanpa membuatnya terasa berlebihan atau jatuh menjadi sentimentalitas yang klise.

8. Armageddon Time (2022)

Dalam Armageddon Time, sutradara James Gray menjadikan Esther yang diperankan Anne sebagai representasi dari ibunya sendiri—seorang ibu Yahudi kelas pekerja di Queens pada era 1980-an yang mendedikasikan hidupnya untuk membimbing sang putra melewati dunia yang penuh gejolak. Dalam film ini, sang putra adalah Paul (Banks Repeta), seorang siswa sekolah menengah Yahudi yang berteman dengan Johnny (Jaylin Webb), teman sekelasnya yang berkulit hitam. Film tersebut mengeksplorasi diskriminasi di Amerika pada era 1980-an, khususnya melalui sistem sekolah negeri.

Yang membuat film ini begitu menyentuh adalah bagaimana James menggambarkan keluarganya yang semi-autobiografis dengan begitu jujur, menempatkan Anne sebagai pusat emosional cerita—dengan dukungan luar biasa dari Jeremy Strong dan Anthony Hopkins. Sekali lagi, Anne menghindari melodrama dan justru menghadirkan potret seorang perempuan yang kompleks, berada di bawah tekanan besar, sekaligus memiliki kekurangan dan turut menjadi bagian dari lingkungan yang sarat prasangka.

7. Colossal (2016)

Banyak orang—bahkan penggemar Anne sekalipun—melewatkan Colossal (2016) garapan Nacho Vigalondo, sebuah film monster yang absurd tentang seorang perempuan depresi dan pecandu alkohol yang entah bagaimana terhubung dengan kaiju raksasa yang meneror Seoul. Wajar jika premisnya membuat sebagian orang enggan menontonnya. Perempuan tersebut adalah Gloria, seorang penulis yang sedang mengalami masa sulit dan kembali ke kampung halamannya setelah putus cinta. Di sana, ia kembali bertemu dengan teman masa kecilnya, Oscar (Jason Sudeikis). Keduanya kemudian menyadari bahwa gerakan Gloria ternyata berkaitan dengan pergerakan monster raksasa tersebut—dan situasinya berkembang semakin absurd.

Saya tidak akan membocorkan berbagai kejutan dalam film ini, karena justru hal tersebut menjadi salah satu alasan Colossal layak ditonton. Namun, alasan paling kuat untuk menyaksikannya adalah penampilan Anne yang begitu berani dan memikat sebagai seorang perempuan yang harus berhadapan dengan konsekuensi dari sifat egoisnya hingga merenggut kehidupan orang-orang yang tak bersalah—baik dalam kehidupan nyata maupun dalam wujud yang lebih monstrus. Terlepas dari premisnya yang absurd dan konsepnya yang tak biasa, Anne berhasil menjaga film ini tetap berpijak pada sisi kemanusiaannya.

6. Brokeback Mountain (2005)

Karakter Lureen yang diperankan Anne, seorang cowgirl kaya asal Texas, memang hanya muncul sesekali dalam kisah cinta dua koboi garapan Ang Lee, Brokeback Mountain (2005). Minimnya porsi layar membuat penampilan Anne kerap luput dari perhatian penonton maupun kritikus yang lebih banyak menyoroti Jake Gyllenhaal, Heath Ledger, dan Michelle Williams. Namun, ketika ditonton kembali, Anne sekali lagi membuktikan dirinya sebagai silent killer, menghadirkan karakter pendukung yang begitu utuh hingga mampu memberikan sentuhan akhir yang semakin kuat bagi keseluruhan film.

Saat itulah terlihat bahwa keputusan Ang Lee untuk membuat Lureen jarang muncul justru mempertegas perselingkuhan yang disembunyikan suaminya, Jack Twist (Gyllenhaal), dengan Ennis (Ledger). Mulai dari aksen Texas, lipstik dan cat kuku merah menyala, hingga wig pirang yang tergerai, setiap detail penampilannya terasa begitu sempurna.

5. Eileen (2023)

Salah satu penampilan Anne yang paling kurang mendapat sorotan hadir lewat perannya sebagai Rebecca Saint John, psikolog berambut pirang yang glamor dalam Eileen (2023), adaptasi film dari novel karya Ottessa Moshfegh dengan judul yang sama. Saat Rebecca pertama kali memasuki sebuah penjara remaja, Eileen (Thomasin McKenzie), sekretaris pemalu di tempat tersebut, langsung terpikat oleh sikap Rebecca yang misterius sekaligus intelektual. Ketertarikan itu perlahan berubah menjadi obsesi yang menelan keduanya, terlebih ketika Rebecca memutuskan untuk mengambil alih keadilan dengan caranya sendiri.

Anne memerankan Rebecca dengan begitu cermat, memperlihatkan sekilas sisi psikologisnya yang bermasalah tanpa menghilangkan daya tariknya yang sulit ditebak. Dalam banyak hal, karakter Rebecca terasa begitu cocok dengan kemampuan Anne: pesona yang seolah tak ada habisnya, diselingi retakan emosional yang begitu menghancurkan.


4. The Princess Diaries (2001)

Hanya sesekali kita menyaksikan debut yang begitu spektakuler seperti The Princess Diaries (2001). Film inilah yang mengantarkan Anne menjadi seorang bintang. Atau lebih tepatnya, sang aktris berhasil menerjemahkan kecerdasan komedi dan keunikan naskahnya untuk membentuk sosok Mia Thermopolis, remaja San Francisco yang hingga kini begitu sulit dilupakan. Mia yang kikuk baru mengetahui garis keturunan kerajaannya di usia 15 tahun, ketika sang nenek yang selama ini terasing darinya datang ke kota dalam kunjungan diplomatik dari Genovia, negara fiktif tempat keluarganya berkuasa.

Dalam film ini, Anne memang belum sepenuhnya menunjukkan kemampuan akting dramatisnya. Namun, ia menghadirkan penampilan yang dipenuhi kepribadian dan pesona, menjadikan Mia sosok yang begitu mudah dicintai dan seketika melekat di hati penonton.


3. The Devils Wear Prada (2006)


Lima tahun setelah memulai kariernya, Anne beradu akting dengan Meryl Streep sebagai ikon media yang terkenal kejam, Miranda Priestly—dan berhasil mengimbanginya dengan gemilang. Dalam The Devil Wears Prada, ia memerankan Andy, penulis muda penuh semangat yang mendapati dirinya bekerja di dunia penerbitan fashion yang keras, tepatnya di majalah mode fiktif Runway.

Daya tarik utama dari penampilan Anne terletak pada bagaimana ia dengan begitu tajam meladeni setiap dialog bersama Meryl Streep, juga Stanley Tucci sebagai direktur seni yang bijaksana, Nigel, serta Emily, asisten lainnya yang diperankan Emily Blunt—dalam penampilan yang tak kalah kuat dari Anne. Film ini dipenuhi dialog ikonis dan adegan yang hingga kini masih melekat dalam budaya populer. Kami begitu menyukai Andy hingga menyambut The Devil Wears Prada 2 dengan tangan terbuka, meski eksekusinya kali ini terasa, yah, sedikit kurang menggigit.


2. Rachel Getting Married (2008)

Rachel Getting Married menjadi film yang mengukuhkan Anne sebagai salah satu talenta akting generasinya. Karya terakhir Jonathan Demme yang begitu memukau ini bukan hanya memberinya nominasi Oscar pertama, tetapi juga membuktikan keberaniannya dalam mengambil peran yang sarat kompleksitas moral. Anne memerankan Kym dengan kejujuran yang tanpa kompromi, menyelami sisi tergelap karakter tersebut sekaligus menghadirkannya dengan penuh empati.

Film ini mengikuti Kym, mantan model yang bergulat dengan kecanduan narkoba, saat ia mendapat izin sementara untuk meninggalkan rehabilitasi demi menghadiri pernikahan sang kakak, Rachel. Perlahan terungkap bahwa kecanduannya berawal dari sebuah kecelakaan ketika Kym mengemudikan mobil dan menyebabkan kematian adik laki-lakinya. Tragedi tersebut meninggalkan luka yang tak dapat dipulihkan dalam keluarga mereka, dan Rachel Getting Married memperlihatkan bagaimana Kym berusaha menghadapi kembali retakan emosional yang begitu dalam.

Lebih dari sekadar mengantarkannya pada nominasi Oscar, peran ini menegaskan bahwa Anne mampu melampaui citranya sebagai aktris yang hanya dikenal lewat karakter remaja yang jenaka dan ringan.

1. Les Misérables (2012)

Anda jarang menemukan kemenangan Oscar yang terasa sepatut itu seperti kemenangan Anne sebagai Aktris Pendukung Terbaik lewat perannya sebagai Fantine dalam Les Misérables (2012). Fantine, seorang ibu dari kelas pekerja yang bekerja keras demi menghidupi putrinya sebelum akhirnya terpaksa terjun ke prostitusi, meninggal karena tuberkulosis bahkan sebelum film adaptasi novel Victor Hugo garapan Tom Hooper tersebut mencapai pertengahan cerita. Penderitaan Fantine yang diperankan Anne dengan begitu tenang namun membekas menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini—setidaknya menurut penulis.

Penampilannya dalam “I Dreamed a Dream”, yang bermula dari bisikan penuh air mata lalu perlahan berubah menjadi jeritan putus asa, menjadi puncak dari aktingnya yang tak terlupakan. Coba tonton kembali adegan tersebut, lalu katakan bahwa posisi ini tidak layak masuk dalam daftar.

BACA JUGA:
Semua yang Perlu Anda Ketahui Sebelum Menonton The Odyssey 

Anne Hathaway Tampil Memesona dalam Minidress Blumarine yang Memukau untuk Promosi The Odyssey

(Penulis: Maxwell Rabb; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR US)