Belakangan, ada kecenderungan yang menarik di industri mode Indonesia, semakin banyak desainer kembali mengangkat wastra, batik, songket, hingga berbagai teknik kriya sebagai fondasi koleksi mereka. Seolah industri sedang memasuki fase baru, sebuah upaya mendefinisikan ulang apa arti "fashion Indonesia" lewat bahasa budayanya sendiri. Fenomena ini tentu menggembirakan. Namun di balik optimisme itu, ada satu pertanyaan yang justru terasa semakin mengganggu.
Beberapa waktu lalu, saat menyaksikan peragaan Wilsen Willim yang mengolah wastra menjadi sesuatu yang modern dan jauh dari kesan folklor, lebih dari sekadar koleksi pakaian, saya melihat usaha yang berkali-kali dilakukan desainer Indonesia untuk membuktikan bahwa tradisi bisa hidup sebagai bagian dari kehidupan kontemporer, bukan berhenti sebagai artefak. Usaha itu patut diapresiasi, tapi mengapa pembuktian ini seolah tak pernah selesai? Narasi yang sama terus diulang bertahun-tahun: Indonesia memiliki salah satu warisan tekstil terkaya di dunia, perajin dengan keterampilan lintas generasi, dan kekayaan budaya sebagai modal terbesar identitas mode nasional. Semua benar, tapi karena terlalu sering diucapkan, saya mulai bertanya, jika warisan budaya memang keunggulan kompetitif yang sebesar itu, mengapa ia lebih sering hadir sebagai potensi ketimbang kenyataan?
BACA JUGA: Bagaimana Arsip dalam Dunia Mode Menjadi Fondasi dari Koleksi Baru
Paradoks ini semakin terasa saat melihat sejumlah label Indonesia yang justru berhasil membangun reputasi internasional tanpa menjadikan budaya sebagai titik berangkat utama. Peggy Hartanto dikenal lewat siluet presisi, minimal, dan modern. Isa Boulder membangun identitas lewat eksplorasi bentuk, material, dan bahasa sportswear kontemporer. Keduanya tetap dipahami sebagai desainer Indonesia, meski karyanya tak secara eksplisit meminjam simbol budaya Nusantara menjadi bukti bahwa identitas nasional ternyata tak selalu bergantung pada motif batik, tenun, atau ornamen tradisional.
Di sisi lain, begitu seorang desainer memilih bekerja dengan wastra atau kriya lokal, ekspektasi yang menyertainya langsung berlipat ganda. Koleksinya tak cukup hanya jadi pakaian yang baik namun juga diharapkan menjaga tradisi, memberdayakan perajin, melestarikan teknik, mengangkat filosofi budaya, sekaligus merepresentasikan Indonesia di panggung dunia. Daftar tanggung jawab yang begitu panjang, hingga kadang melampaui fungsi dasar sebuah karya mode—beban yang hampir tak pernah ditemui rumah mode di Paris, Milan, atau Tokyo, di mana identitas hadir sebagai bahasa, bukan deklarasi. Gaun Prancis tak dituntut menjelaskan sejarah couture, desainer Jepang tak harus terus membuktikan karyanya merepresentasikan budaya Jepang. Mereka tentu memiliki akar budaya yang kuat, tetapi akar itu bekerja secara subtil, membentuk cara berpikir, proporsi, konstruksi, hingga pendekatan terhadap pakaian.
Ketika saya bertanya kepada Wilsen Willim mengapa budaya Indonesia masih sulit menembus pasar global, ia menjawab, "Storytelling! Maka dari itu saya selalu berupaya untuk menceritakan apa dan bagaimana koleksi saya terbentuk agar ceritanya bisa sampai ke pasar yang saya tuju." Dunia memang lebih mudah terhubung dengan cerita ketimbang sekadar produk. Tapi apakah storytelling telah berubah menjadi jawaban yang terlalu nyaman? Setiap kali muncul pertanyaan mengapa fashion Indonesia belum memperoleh posisi lebih kuat secara global, jawabannya hampir selalu sama: kita belum pandai bercerita. Padahal Indonesia mungkin mungkin salah satu negara dengan cerita budaya paling melimpah. Ironisnya, kita tampak terlalu sibuk menjelaskan. Hampir tiap koleksi berbasis wastra disertai uraian panjang soal asal-usul kain, teknik, hingga filosofinya. Pertanyaannya, mengapa pakaian dari Indonesia harus selalu membuktikan diri lewat narasi, sementara karya dari negara lain cukup dinilai dari kualitas desainnya?
Seolah INDUSTRI sedang memasuki FASE BARU, sebuah upaya untuk mendefinisikan ulang apa arti “FASHION INDONESIA” melalui BAHASA budayanya sendiri.
Di titik tertentu, budaya perlahan berubah fungsi dari sumber inspirasi menjadi semacam kewajiban. Semakin banyak simbol budaya ditampilkan, semakin tinggi pula karya itu dianggap autentik. Padahal identitas tak selalu bekerja secara visual, ia bisa hadir dalam proporsi, cara mengolah volume, pilihan material, bahkan cara desainer memahami hubungan pakaian dengan pemakainya.
Biyan mungkin menjadi salah satu contoh paling menarik. Selama puluhan tahun ia membangun semesta estetikanya sendiri tanpa merasa perlu membuktikan keindonesiaannya tiap musim. "Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Bagi saya, tantangannya bukan hanya bagaimana membawanya ke luar negeri, tetapi bagaimana memahami nilai dan esensinya, kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa desain yang relevan," ujar Biyan. "Untuk dapat diterima di pasar internasional, sebuah karya perlu memiliki strong identity yang juga didukung kualitas, konsistensi, craftsmanship, serta pemahaman terhadap kebutuhan pasar yang dituju. Keberhasilan bukan hanya soal dapat hadir di pasar internasional, tetapi bagaimana sebuah karya dapat membangun percakapan, diterima, dan tetap memiliki identitas yang dapat dikenali," lanjutnya.
Mungkin karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi apakah budaya adalah keunggulan atau kendala bagi fashion Indonesia, melainkan mengapa kita masih terus memosisikannya sebagai pilihan yang harus diambil?, seolah seorang desainer Indonesia harus memilih antara menjadi global atau menjadi Indonesia, seakan keduanya tak mungkin hadir dalam satu bahasa desain yang sama.
BUDAYA tentu dapat menjadi SUMBER yang sangat KAYA, tetapi nilainya tidak terletak pada seberapa sering ia DIPERLIHATKAN.
Barangkali batas terbesar itu tak pernah benar-benar datang dari pasar internasional, melainkan lahir dari cara kita sendiri membayangkan seperti apa seharusnya fashion Indonesia. Pada akhirnya, daya saing sebuah karya tak ditentukan oleh banyaknya simbol budaya yang ditampilkan, melainkan oleh kemampuan desainer membangun bahasa desain yang orisinal, relevan, dan berkarakter kuat. Mungkin di titik itulah fashion Indonesia tidak lagi sibuk membuktikan siapa dirinya, melainkan cukup hadir sebagai dirinya sendiri.
BACA JUGA: Ketika Mode Melebur dengan Dunia Kuliner
Julianto for Iwan Tirta Private Collection: Tafsir Baru atas Warisan Batik
