Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Ketika Mode Melebur dengan Dunia Kuliner

Saat rumah mode melampaui batas busana dan memasuki kuliner, estetika tidak lagi berhenti pada visual, melainkan berubah menjadi pengalaman yang menghidupkan identitas brand dalam ruang, rasa, dan suasana.

Ketika Mode Melebur dengan Dunia Kuliner
Courtesy of BAZAAR INDONESIA

Dalam satu dekade terakhir, lanskap industri mode global mengalami perubahan signifikan. Rumah mode tak lagi hanya memproduksi busana, tas, atau aksesori, tetapi juga membangun semesta gaya hidup yang lebih luas. Salah satu wujud nyatanya adalah ekspansi ke dunia kuliner melalui pembukaan café dan restoran, langkah yang terlihat pada berbagai maison besar, dari Louis Vuitton hingga Ralph Lauren.

BACA JUGA: Debut BAZAAR Café di Indonesia Gandeng 7.AM Bakers & SAPTO DJOJOKARTIKO

Ekspansi ini bukan keputusan spontan, melainkan strategi yang matang, baik secara konseptual maupun ekonomis. Secara ideologis, café dan restoran berfungsi sebagai perpanjangan narasi brand. Mode selalu berkaitan dengan identitas dan imaji, dan melalui ruang kuliner yang dikurasi secara estetis, brand menciptakan pengalaman multisensoris yang melampaui aspek visual. Aroma kopi, plating makanan, pencahayaan, hingga detail furnitur menjadi bagian dari bahasa desain yang selaras dengan koleksi mereka.

Courtesy of BAZAAR INDONESIA

Kolaborasi dengan chef ternama menjadi kunci dalam menjaga kredibilitas. Gucci, misalnya, mengembangkan Gucci Osteria bersama Massimo Bottura, sosok penting dalam gastronomi kontemporer dengan tiga bintang Michelin. Dior juga menggandeng nama-nama besar seperti Mauro Colagreco, Dominique Crenn, dan Yannick Alléno untuk proyek restoran di berbagai kota. Kehadiran para chef ini memperkuat posisi luxury sekaligus memperluas jangkauan brand ke ranah budaya kuliner global.

Apakah FENOMENA ini hanya MARKETING gimmick SEMATA?

Ralph Cafe
Courtesy of BAZAAR INDONESIA

Namun, tidak semua pendekatan berorientasi fine dining. Ralph Lauren menghadirkan Ralph’s Coffee dengan konsep yang lebih kasual, tetapi tetap kental dengan identitas Americana. Maison Kitsuné melalui Café Kitsuné menciptakan ruang komunitas yang memadukan kopi specialty, musik, serta estetika Paris dan Tokyo. Pendekatan ini menunjukkan bahwa hubungan antara fashion dan makanan juga bisa dibangun lewat pengalaman sehari-hari yang hangat, tanpa kehilangan kesan premium.

Prada Cafe
Courtesy of BAZAAR INDONESIA

Prada mengambil jalur yang lebih subtil dan refined melalui Mi Shang Prada Rong Zhai dan Prada Caffè. Identitas visualnya diterjemahkan dalam palet pastel, detail porselen, serta kurasi pastry dari Marchesi 1824 yang berada dalam grupnya. Hal ini mencerminkan kesinambungan antara warisan Italia dan sentuhan modern. Sementara itu, Louis Vuitton mengadopsi strategi yang lebih dinamis, baik melalui restoran permanen maupun pop-up di berbagai kota. Contohnya Le Café di New York dan Le Café V di Osaka yang menghadirkan pengalaman kuliner eksklusif lewat kolaborasi dengan chef lokal. Di kota lain, konsep pop-up sering hadir sebagai bagian dari pembukaan flagship atau pameran khusus. Pendekatan ini memungkinkan brand menyesuaikan pengalaman dengan konteks budaya setempat, menjadikan restoran sebagai medium kreatif yang fleksibel.

Courtesy of BAZAAR INDONESIA

Dari sisi bisnis, langkah ini merupakan bentuk diversifikasi yang logis. Industri mode sangat dipengaruhi tren dan kondisi ekonomi global. Dengan menghadirkan café atau restoran di dalam atau dekat flagship store, brand dapat memperpanjang durasi kunjungan pelanggan sekaligus menciptakan interaksi yang lebih dalam.

Courtesy of BAZAAR INDONESIA

Jacquemus, misalnya, menghadirkan Café Citron sebagai pop-up bernuansa Mediterania yang merefleksikan identitas brand. Loewe juga mengeksplorasi hubungan antara craft, seni, dan panca indra, termasuk melalui pendekatan yang bersinggungan dengan budaya makanan.

Dior Cafe
Courtesy of BAZAAR INDONESIA

Pada akhirnya, relasi antara fashion dan kuliner bukan sekadar tren sesaat. Ini adalah strategi kultural yang menegaskan bahwa kemewahan modern bersifat holistik, tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan dan dialami. Meski kerap dianggap sebagai gimmick, pendekatan ini menunjukkan kedalaman strategi jangka panjang: mulai dari kolaborasi berkualitas, integrasi dengan flagship store, hingga kemampuan beradaptasi dengan konteks lokal. Café dan restoran pun menjadi lebih dari sekadar alat branding. Mereka adalah medium untuk membangun loyalitas, memperluas narasi, dan menghadirkan pengalaman multisensoris yang selaras dengan identitas brand. Dalam konteks ini, ekspansi ke dunia kuliner dapat dipahami sebagai evolusi strategis dalam mendefinisikan kemewahan masa kini.

BACA JUGA:

The Coach Restaurant Kini Hadir di Jewel Changi Singapura

Membedah Cita Rasa yang Menyatukan Indonesia

Baca artikel Bazaar yang berjudul "From Boots to Bon Appétit" yang terbit di edisi cetak Harper's Bazaar Indonesia - April 2026; Penulis: Geofanny Tambunan; Disadur oleh: Alleia Anata; Foto: Courtesy of Dok. Bazaar