Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Bagaimana Arsip dalam Dunia Mode Menjadi Fondasi dari Koleksi Baru

Ketika masa lalu menjadi bahasa paling relevan dalam fashion masa kini.

Bagaimana Arsip dalam Dunia Mode Menjadi Fondasi dari Koleksi Baru
Layout by Mohammad Somad

Dalam dunia fashion kontemporer, ada satu benang merah yang terus muncul dari musim ke musim: nostalgia. Rumah-rumah mode terkemuka kini tidak hanya menatap ke depan, mereka menggali ke belakang, menelusuri arsip, mengkurasi sejarah, dan mentransformasikannya menjadi sesuatu yang segar namun tetap berakar.

BACA JUGA:  Berkenalan dengan Direktur Kreatif Dries van Noten yang Baru

Arsip bukan lagi sekadar tumpukan dokumen berdebu di sudut gudang. Ia telah menjelma menjadi rujukan hidup dan menjadi sebuah jembatan yang mempertemukan apa yang ditinggalkan sejarah dengan apa yang ditawarkan masa kini, lalu meramunya menjadi sesuatu yang benar-benar baru.

Foto: Courtesy of Dok. Bazaar

Ambil contoh Givenchy di tangan Sarah Burton. Ia menginterpretasikan ulang siluet-siluet klasik dengan teknik tailoring yang presisi dan keanggunan aristokratis, namun memberinya napas baru yang lebih emosional dan manusiawi. Di Dries Van Noten, Julian Klausner mengolah nostalgia dengan cara yang jauh lebih puitis. Melalui eksplorasi tekstil klasik, motif historis, dan layering yang kompleks, ia menciptakan narasi visual yang terasa timeless dan melampaui batas waktu tanpa kehilangan konteksnya.

Foto: Courtesy of Dok. Bazaar

Hal serupa dilakukan Dario Vitale untuk Versace, yang menyelami kembali arsip rumah fashion itu dan mengakarkan diri pada budaya Italia yang kental, namun dengan sentuhan yang lebih modern dan segar. Jonathan Anderson untuk Dior menginterpretasikan ulang "New Look" Christian Dior dengan struktur feminin yang lebih inklusif dan fleksibel, disesuaikan dengan ritme kehidupan masa kini. Sementara Matthieu Blazy untuk Chanel memilih untuk setia pada ciri khas dan visi Coco Chanel dengan tweed, camellia, dan rantai emas, tanpa kehilangan relevansinya di era ini.

Foto: Courtesy of Dok. Bazaar

 Namun apakah akar sejarah bisa diterjemahkan menjadi visi dan estetika baru yang utuh, atau justru akan kehilangan konteksnya di tengah jalan?

Jawabannya mungkin ada pada bagaimana kita memandang arsip itu sendiri. Industri fashion bergerak begitu cepat hingga para desainer hampir tidak bisa mengimbanginya. Di sinilah arsip dan sejarah memainkan peran yang sangat relevan. Menggunakan arsip bukan berarti stagnan, namun justru sebaliknya, ini adalah pendekatan yang berkelanjutan secara konseptual. Alih-alih memulai segalanya dari nol setiap musim, para desainer dapat menginterpretasikan dan menerjemahkan arsip lama menjadi sesuatu yang baru dan kontekstual.

Fashion bukan hanya soal inovasi. Kadang, justru dengan menoleh ke belakang kita bisa melangkah lebih jauh ke depan. Sejarah sendiri pun tidak pernah benar-benar usang, karena ia selalu bisa memperbarui dirinya sendiri, terlahir kembali dalam wujud yang baru. Inilah yang kita sebut palimpsest—sebuah permukaan di mana jejak-jejak lama tidak pernah sepenuhnya terhapus.

BACA JUGA: 

Visi Modern Matthieu Blazy untuk Warisan Gabrielle Chanel di Koleksi Chanel Cruise 2026/2027

Menjelajahi Koleksi Spring/Summer 2026 Givenchy Bersama BAZties

Baca artikel Talking Points Bazaar yang berjudul "Back to the Future" yang terbit di edisi cetak Harper's Bazaar Indonesia - Mei 2026; Penulis: Geofanny Tambunan; Alih Bahasa: Elaine Mary; Foto: Courtesy of Dok. Bazaar