Dalam salah satu kunjungan rutin membersihkan gigi, Bazaar sempat menyinggung rasa nyeri di rahang, semacam sensasi aneh atau bunyi "klik" yang muncul akibat kebiasaan mengatupkan rahang dan menggeretakkan gigi. "Apakah Anda mau kami suntikkan botoks ke otot masseter Anda?" tanya dokter gigi tersebut. Kami sempat bingung karena pertanyaan semacam ini biasanya Bazaar dengar di klinik dermatologi dan bukan di dokter gigi. Namun ternyata, menyuntikkan neurotoxin ke otot masseter, otot besar di rahang yang terhubung dengan sendi temporomandibular atau TMJ memang menjadi solusi populer di kalangan dokter untuk mengatasi nyeri akibat kebiasaan mengatupkan rahang maupun menggeretakkan gigi. Prosedur ini juga kerap digunakan untuk tujuan estetika karena menyuntikkan otot ini dapat membuat wajah tampak lebih tirus.
BACA JUGA: Apakah Para Wanita sudah Mulai Meninggalkan Botoks & Filler? Simak Faktanya
Meski terdengar seperti solusi instan, Bazaar sendiri tidak buru-buru mengambil kesempatan untuk disuntik di area tersebut, apalagi setelah menyimak berbagai perbincangan yang belakangan ramai di media sosial. Dermatolog asal New York, Shereene Idriss tahun lalu sempat mengunggah video yang memperingatkan bahaya menyuntikkan botoks di area rahang, menekankan bagaimana hal ini bisa memicu munculnya jowls atau kulit kendur di rahang lebih cepat dari yang seharusnya. Ia menyarankan untuk mencoba metode lain terlebih dahulu sebelum memilih suntikan, terutama bagi yang peduli dengan tampilan rahang dan kulit di sekitarnya dalam jangka panjang. Bahkan beberapa pengguna Reddit mengaku wajah mereka mulai terlihat "kendur" beberapa bulan bahkan bertahun-tahun setelah otot masseter mereka disuntik.
"Botox masseter memang bisa menjadi solusi yang mengubah banyak hal bagi sebagian orang, tapi dari sudut pandang estetika, tidak semua orang cocok menjadi kandidatnya," ujar Shereene. "Meski sangat efektif mengatasi masalah seperti kebiasaan mengatupkan rahang, menggeretakkan gigi, hingga membentuk garis rahang yang lebih tegas, penting untuk menyadari bahwa bentuk dan struktur wajah seseorang akan sangat memengaruhi hasil akhirnya."
Otot masseter sendiri merupakan penopang utama rahang, berfungsi untuk mengunyah sekaligus menstabilkan tengkorak yang pada akhirnya turut menentukan kekuatan dan bentuk garis rahang. "Botoks bekerja dengan merelaksasi otot, memblokir reseptor yang memberi sinyal untuk mengencang dan berkontraksi, sehingga melepaskan ketegangan dan rasa nyeri," jelas David Shafer, ahli bedah plastik sekaligus pendiri Shafer Clinic di New York. "Ini membantu mengurangi kebiasaan menggeretakkan gigi di malam hari, sehingga Anda bangun dengan area rahang yang terasa lebih rileks."
Meski banyak dokter sudah terbiasa menyuntikkan botoks di area rahang secara off-label, penggunaan ini sebenarnya belum disetujui oleh FDA yang berarti belum ada protokol suntikan masseter yang benar-benar terstandarisasi, sehingga membuka lebih banyak ruang untuk kesalahan.
"Ini merupakan penggunaan off-label di Amerika Serikat, artinya perawatannya saat ini belum disetujui untuk digunakan di area tersebut," jelas David. "Bagi produsennya, ini berarti mereka tidak diperbolehkan memasarkan dan mempromosikan produk untuk penggunaan tersebut. Namun sebagai dokter berlisensi dan terlatih yang memahami cara kerja obat ini, kami sering kali bisa meresepkan atau menggunakan produk ini untuk kebutuhan lain, seperti mengatasi masalah sendi temporomandibular, kebiasaan menggeretakkan gigi, atau migrain."
Selain fakta bahwa penggunaan botoks di otot masseter belum disetujui FDA (setidaknya untuk saat ini), Shereene dan sejumlah dermatolog lain juga sepakat bahwa botoks masseter bisa berdampak buruk di kemudian hari terhadap estetika wajah, terutama seiring elastisitas kulit yang semakin menurun. "Ketika Anda melemahkan atau mengecilkan otot ini, penopang wajah bagian bawah bisa berkurang, terutama bila Anda sudah memiliki struktur tulang atau otot yang tidak terlalu kuat sejak awal," ujar Shereene. "Seiring waktu, saat kulit kehilangan elastisitas alaminya akibat penuaan, kurangnya penopang otot ini bisa memicu munculnya jowls atau kulit kendur, terutama bagi mereka yang memang sudah rentan mengalaminya."
Anda mungkin sudah terbiasa menggunakan botoks untuk membatasi gerakan wajah yang memicu kerutan dan garis halus, namun dalam kasus otot masseter dan upaya menjaga garis rahang tetap tegas, justru bisa menyebabkan kelebihan kulit. "Bayangkan struktur di bawah kulit Anda seperti meja atau tenda, dan kulit Anda adalah taplak mejanya, jadi bila Anda mengurangi sebagian penopang di bawahnya, akan ada kelebihan material di atasnya," jelas David.
Namun botoks masseter tetap bisa menjadi solusi efektif dan estetis bagi mereka yang memiliki bentuk wajah yang tepat. "Botoks masseter bisa terlihat bagus pada orang dengan garis rahang yang lebih kotak dan lebar, artinya mereka memiliki struktur penopang dan elastisitas yang baik," ujar Catherine Chang, ahli bedah plastik dan rekonstruksi asal Beverly Hills sekaligus pendiri NakedBeautyMD. "Bila dilakukan pada kandidat yang salah, misalnya seseorang dengan garis rahang yang sempit, ini bisa memicu munculnya jowls lebih cepat, sehingga sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter yang memiliki kepekaan estetika yang baik. Semuanya soal menemukan keseimbangan antara estetika dan fungsi."
Bila menyuntik otot masseter tidak cocok dengan bentuk wajah Anda, Catherine mengatakan bahwa dokter profesional bisa menyuntikkan ke otot temporalis sebagai alternatif untuk membantu meredakan ketegangan dan sakit kepala akibat kebiasaan mengatupkan rahang dan menggeretakkan gigi.
Kabar baik bagi mereka yang membutuhkan perawatan ini untuk meredakan nyeri: Botoks masseter kemungkinan akan segera mendapat persetujuan FDA, menurut David. "Proses persetujuan FDA memang memakan waktu dan biaya, tapi sepengetahuan saya, Allergan Aesthetics saat ini sedang mengupayakan persetujuan FDA untuk penggunaan pada masseter di Amerika Serikat," jelasnya, menambahkan bahwa Botoks masseter sudah disetujui di China tahun lalu dan ada harapan besar hal serupa akan segera terjadi di Amerika Serikat.
BACA JUGA:
Ya, Anda Bisa Mengatasi Penuaan pada Leher Anda
Mengapa Facelift Kembali Populer?
(Penulis: Katie Intner; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Elaine Mary; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
