Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Mengapa Filosofi Baru Botox Adalah Dengan Melatih Wajah, Justru Bukan Dengan Membekukannya

Dokter estetika kini semakin berfokus pada “restorasi anatomi”, bukan sekadar mengurangi kerutan. Begini penerapannya.

Mengapa Filosofi Baru Botox Adalah Dengan Melatih Wajah, Justru Bukan Dengan Membekukannya
Foto: COURTESY OF BAZAAR UK

Kita mungkin hidup di era ketika pembicaraan mengenai prosedur kosmetik semakin terbuka, dengan para selebritas yang secara terang-terangan memuji dokter bedah yang melakukan facelift mereka dan para influencer yang mendokumentasikan prosedur secara daring. Namun, keterbukaan dan sikap bijaksana tetap berjalan beriringan dalam budaya estetika. Dalam hal injeksi untuk merelaksasikan kerutan, banyak dari kita dengan senang hati mengakui bahwa kita pernah melakukannya, selama hasilnya tampak tidak terlihat. “Itulah kata yang sekarang sering saya dengar,” ujar dokter kulit kosmetik dr. Sam Bunting mengenai wajah yang terus berubah di Harley Street. “Fokusnya adalah mempertahankan kondisi wajah pada waktu yang tepat sehingga pendekatan yang sangat minimalis dapat diterapkan.”

BACA JUGA: Ini Pro & Kontra Jika Anda ingin Menyuntikkan Botoks ke Area Rahang

Sentimen tersebut semakin sering Bazaar dengar dari para dokter yang menangani segmen pasar kelas atas. Penggunaan neuromodulator seperti Botox, kini menjadi sangat strategis. Bukan hanya untuk menghaluskan garis-garis yang terlihat saat wajah diam, tetapi juga untuk meningkatkan ekspresi wajah, bukan menghilangkannya. “Ketika saya mulai berpraktik, pelatihan kami adalah memberikan dosis yang sangat tinggi dan terstandarisasi sehingga menghasilkan gerakan yang relatif sedikit,” ujar dokter estetika dr. David Jack. Seiring waktu, filosofinya yang berlandaskan gelar di bidang anatomi serta studi bedah plastik, bergeser menuju “restorasi anatomi”, bukan pengurangan kerutan. “Ekspresi merupakan bagian fundamental dari cara kita mengenali satu sama lain dan saya rasa pasien semakin memahami bahwa wajah yang secara teknis sangat halus tetap dapat terlihat lebih tua, lelah, atau tidak seperti dirinya sendiri.” Sebagai seseorang yang belum pernah menjalani Botox, selalu takut dengan tampilan wajah yang membeku, serta menentang penyeragaman kecantikan melalui berbagai tweakment, pendekatan ini menarik perhatian.

Foto: COURTESY OF BAZAAR UK

Meski begitu, Bazaar merasakan ironi ketika kita tiba-tiba membayar untuk mempertahankan kerutan secara strategis. “Saya selalu melakukan hal tersebut pada pasien saya yang tampil di layar,” ungkap dr. Sam, “dengan tujuan mengurangi kekuatan gerakan tersebut agar wajah tetap bergerak secara alami, bukan menghilangkannya.” Menurutnya, hal ini juga merupakan strategi jangka panjang: dengan cara tersebut, “garis-garis tersebut jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menjadi semakin dalam.” Bagi dr. Sam, menghilangkan “kesan negatif atau gangguan yang berlebihan” pada wajah selalu menjadi tujuan penggunaan Botox, yang pada akhirnya memungkinkan fitur wajah dan kulit pasien menjadi pusat perhatian.

“Dokter melatih wajah dengan memodifikasi gerakannya, menguranginya di satu bagian dan mempertahankannya di bagian lain.”

Dalam arti tertentu, sejumlah dokter memang melatih wajah dengan memodifikasi gerakannya, menguranginya di satu bagian dan mempertahankannya di bagian lain. Toksin tersebut tidak secara permanen mengajarkan otot untuk berperilaku berbeda, catat dr. David. Tanpanya, aktivitas neuromuskular pada akhirnya akan kembali. Namun, melalui perawatan yang dilakukan berulang kali, praktisi dapat “menginterupsi pola penggunaan otot yang berlebihan dan mengubah keseimbangan relatif antara otot-otot yang berlawanan”. Hasilnya? Pasien menjadi tidak terlalu cenderung melakukan gerakan tertentu secara berlebihan karena mereka telah menghabiskan waktu yang cukup lama tanpa mengandalkan gerakan tersebut. Melalui neuroplastisitas, seperti yang dijelaskan dr. Sam, gerakan wajah tertentu dapat menjadi kebiasaan, dan Botox membantu kita melepaskan kebiasaan tersebut. Jika boleh dikatakan demikian, Botox menciptakan memori otot yang baru. “Saya memberi tahu pasien bahwa meskipun mereka berhenti menggunakan Botox, ada kemungkinan besar mereka akan lebih jarang mengerutkan dahi di kemudian hari.”

Tentu saja, neuromodulator tidak selalu digunakan secara terpisah ketika mengembalikan vitalitas pada wajah. Dalam melakukan penilaian untuk penggunaan toksin, dr. David melihat arah perubahan dinamis yang berkaitan dengan gravitasi, bagian wajah yang kehilangan volume di lapisan yang lebih dalam, serta otot mana yang kemudian menjadi dominan atau bekerja sebagai kompensasi. “Semua faktor tersebut secara keseluruhan menghasilkan rencana perawatan yang sama sekali berbeda dibandingkan sekadar mencari garis kerutan,” ujarnya. Terkadang, mengembalikan penyangga di lapisan yang lebih dalam terlebih dahulu dengan dermal filler, dapat mengubah posisi jaringan di atasnya dan kemudian menentukan apa yang dapat dilakukan dengan Botox. Bagi sebagian orang, mengembalikan volume menjadi kunci, sementara bagi yang lain, meningkatkan kualitas kulit merupakan prioritas. Bagi dr. Sam, hal tersebut kemungkinan berarti mengombinasikan Botox dengan microneedling di klinik dan retinoid yang digunakan di rumah, untuk “memaksimalkan kolagen” dan mendorong kulit menjadi lebih tebal.

Foto: COURTESY OF BAZAAR UK

Di luar perawatan tambahan tersebut, strategi yang sangat spesifik dalam menentukan penempatan Botox ini tidak selalu berarti biaya yang lebih tinggi akibat bertambahnya jumlah kunjungan. Bahkan, pendekatan minimalis dapat dikatakan justru lebih hemat. dr. Ash Soni, dokter bedah plastik sekaligus praktisi injeksi estetika yang sejak awal konsisten mendorong penggunaan Botox secara natural, mengatakan bahwa tujuannya adalah agar pasien datang sesedikit mungkin. “Baik Anda menggunakan lebih sedikit maupun lebih banyak, kebutuhan perawatannya tetap sama jika Anda menginginkan hasil yang konsisten,” ujarnya. Yang akan membutuhkan biaya lebih besar adalah mengunjungi dokter medis, yang kemungkinan merupakan satu-satunya cara untuk mencapai “restorasi anatomi”. Sebagian besar praktisi injeksi dapat memberikan baby Botox dengan dosis ringan atau melakukan mikrodosis menggunakan pola tradisional. Namun, penilaian anatomi dinamis hanya benar-benar dapat dilakukan dengan pengetahuan mendalam yang diperoleh melalui pendidikan kedokteran.

Seperti yang dikatakan dr. David, hasil yang paling sempurna tidak selalu melibatkan penggunaan toksin dalam jumlah lebih banyak atau menghilangkan lebih banyak gerakan. “Hasil tersebut berasal dari pemahaman anatomi yang cukup baik untuk mengetahui gerakan mana yang perlu dikurangi atau dipertahankan, dan kerutan mana yang sebaiknya dibiarkan apa adanya.” Jenis pengendalian diri seperti inilah yang membuat saya mempertimbangkan untuk memulai Botox dengan pendekatan yang sangat strategis.

BACA JUGA:

Apakah Para Wanita sudah Mulai Meninggalkan Botoks & Filler? Simak Faktanya

Khloe Kardashian Secara Terbuka Cerita Soal Prosedur Estetika yang Pernah Ia Lakukan Pada Wajahnya

(Penulis: Bridget March; Artikel ini disadur dari: BAZAAR UK; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR UK)