Road trip! Dua kata yang sudah cukup untuk memantik semangat petualangan. Dalam banyak film besar, perjalanan dengan mobil selalu menjadi katalis untuk sesuatu yang lebih besar, dan meski terdengar seperti formula yang sudah membosankan, para sutradara dari Wong Kar-wai hingga John Singleton berhasil membubuhkan sesuatu yang segar dan unik ke dalam genre ini. Ada cult classic seperti Thelma & Louise, kisah yang lahir dari Twitter (Zola), dan film yang merekam semangat sebuah generasi seperti Bonnie and Clyde.
BACA JUGA: 10 Film Horor Netflix Terbaru yang Wajib Ditonton
Saat mobil melaju ke kejauhan dengan pemandangan yang berubah secepat alur ceritanya, bahkan film road trip yang paling kontroversial pun menghadirkan satu hal yang universal: rasa kebebasan. Seperti kata John Steinbeck, "Bukan orang yang melakukan perjalanan, tapi perjalanan yang membawa orang." Berikut film-film yang membuktikan ia benar.
Happy Together (1997)
Judulnya menipu. Dalam film Wong Kar-wai ini, dua pria gay bepergian ke Argentina dan berakhir mengembara tanpa tujuan, terpisah satu sama lain dan dirundung rindu. Hubungan mereka berputar dalam siklus putus dan rujuk yang perlahan berubah beracun, tapi chemistry mereka di layar menjelaskan mengapa tak satu pun bisa benar-benar pergi. Dengan warna yang memukau dan sinematografi yang menghipnotis, ketiadaan plot yang jelas justru tidak terasa. Film ini dianggap sebagai salah satu film LGBTQ terbaik sepanjang masa.
It Happened One Night (1934)
Dalam salah satu adegan hitchhiking paling ikonik di layar, Ellie (Claudette Colbert) menarik roknya ke atas di pinggir jalan untuk menghentikan kendaraan yang lewat. Adegan ini seharusnya dilakukan pemeran pengganti, tapi Claudette Colbert tidak puas dengan siapapun dan akhirnya melakukannya sendiri. Dalam perjalanan menuju sang suami, Ellie justru jatuh hati pada Peter (Clark Gable), reporter berantakan yang ikut serta demi berita. Komedi manis ini termasuk dalam segelintir film yang berhasil menyapu "Big Five" di Academy Awards sekaligus.
The Adventures of Priscilla, Queen of the Desert (1994)
Priscilla bukan seorang manusia, melainkan sebuah bus tur berwarna lavender. Dalam perjalanan lintas Australia ini, dua drag queen dan seorang perempuan transgender melintasi pedalaman sambil bertukar one-liner dan mengenakan kostum yang tidak masuk akal, termasuk gaun dari flip-flop dan leotard berbunga kuning lemon. Di balik keceriaan itu ada kisah tentang permusuhan, penerimaan, dan menemukan keluarga yang dipilih sendiri. Kostumnya saja sudah jadi alasan yang cukup untuk menontonnya.
Zola (2021)
Tidak ada yang meminta kisah road trip dari Detroit ke Florida. Zola (Taylour Paige) jelas tidak. Ketika pelanggan tempat ia bekerja mengajaknya menari di klub-klub Florida, ia tanpa sadar terseret ke dalam jaringan perdagangan seks. Diadaptasi dari thread Twitter nyata sebanyak 148 tweet, inti cerita ini diklaim benar-benar terjadi sehingga menjadikannya tidak nyaman sekaligus mengejutkan. Semuanya berlangsung dalam 48 jam.
Fear and Loathing in Las Vegas (1998)
Satu koper penuh barang terlarang, satu konvertibel merah, dan dua orang yang memutuskan untuk fly sepanjang jalan menuju Vegas. Diadaptasi dari novel menggila Hunter S. Thompson, ini adalah perjalanan psikedelik yang sulit sepenuhnya dipahami tapi juga sulit dilupakan. Rolling Stone menyebutnya "perjalanan buas menuju jantung impian Amerika." Rasanya memang begitu.
Thelma & Louise (1991)
Setiap pasangan sahabat bisa menemukan diri mereka di sini. Louise (Susan Sarandon) meyakinkan Thelma (Geena Davis) untuk meninggalkan suaminya yang kasar, dan keduanya berakhir melesat dalam konvertibel menuju kebebasan. Lalu sebuah insiden di bar mengubah segalanya dan membuat mereka jadi buronan. Film tentang transformasi, persahabatan, dan kebebasan yang datang terlambat , dengan adegan penutup yang tidak mudah dilupakan.
The Hitcher (1986)
Jim (C. Thomas Howell) mengambil penumpang hitchhiker di pinggir jalan. Penumpang itu ternyata seorang pembunuh. Thriller era 1980-an yang sempurna tentang betapa salahnya satu keputusan bisa berujung sangat jauh. Tontonan yang tepat bagi siapapun yang tidak berencana road trip dalam waktu dekat.
Wanda (1970)
Satu-satunya film panjang Barbara Loden ini berlatar di tambang batu bara Pennsylvania yang jauh dari glamor. Wanda (Barbara Loden) adalah seorang ibu yang kehilangan hak asuh anaknya, mengembara tanpa tujuan hingga terseret dalam rencana perampokan. Difilmkan dengan gaya dokumenter, warna-warnanya terasa sekaligus redup dan memukau. Pengingat bahwa banyak road trip yang tidak membutuhkan destinasi yang jelas.
Paris, Texas (1984)
Film Wim Wenders ini bergerak dalam isyarat: adegan melalui kaca depan mobil, setengah wajah di kaca spion. Seorang pria misterius perlahan memulihkan ingatannya dan menyadari bahwa ia pernah bahagia mencintai seorang wanita bernama Jane. Ia pun memulai perjalanan ke barat daya Amerika untuk menemukannya. Ditulis Sam Shepard, disutradarai Wenders, hasilnya adalah mimpi hidup tentang Americana yang sulit dilupakan.
Wild at Heart (1990)
Laura Dern dalam gaun merah muda terang. Nicolas Cage dalam jaket kulit ular. Keduanya melarikan diri dari ibu Lula yang mengekang sambil terus menghadapi masalah baru di sepanjang jalan. David Lynch dalam mode yang lebih playful dari biasanya, satiris, seru, dan penuh gaya.
True Romance (1993)
Ditulis Tarantino, disutradarai Tony Scott. Alabama (Patricia Arquette) dan Clarence (Christian Slater) secara tidak sengaja mencuri narkoba dari seorang pimp dan harus segera lari ke Los Angeles. Di tengah kekacauan pengejaran, keduanya justru semakin dekat. Film ini lebih emosional dari yang Anda duga dari sebuah film Tarantino.
Poetic Justice (1993)
Janet Jackson dan Tupac Shakur dalam truk surat menuju Oakland. Justice (Jackson), seorang penyair yang kehilangan kekasihnya akibat kekerasan bersenjata, menemukan pemulihan dalam perjalanan bersama orang asing. Puisi-puisi yang ia baca dalam film ini ditulis oleh Maya Angelou. Film ini lebih dari sekadar cerita road trip.
Sorcerer (1977)
William Friedkin mengumpulkan empat orang dengan masa lalu kelam, mulai dari gangster, teroris, hitman, hingga bankir penipu. Empat orang ini berada dalam sebuah misi berbahaya di hutan Amerika Selatan. Film ini hampir tenggelam saat dirilis karena harus bersaing dengan Star Wars, tapi kini akhirnya mendapat pengakuan yang layak. William Friedkin sendiri menyebutnya film terbaiknya.
Drive My Car (2021)
Yūsuke, seorang sutradara yang berduka atas kematian istrinya, setiap hari diantar oleh Misaki, seorang sopir yang misterius. Dalam perjalanan harian yang berulang itu, keduanya perlahan berdamai dengan masa lalu masing-masing. Diadaptasi dari novel Haruki Murakami, hampir tiga jam, dan setiap menitnya terasa seperti bernapas. Film ini mengajukan pertanyaan yang dalam: mungkinkah kita benar-benar menemukan kenyamanan pada orang lain?
Wild Strawberries (1957)
Seorang profesor tua yang egois melakukan perjalanan untuk menerima penghargaan dari almamaternya, ditemani menantu perempuannya yang sedang hamil. Di sepanjang jalan, lamunan dan kenangan lama memaksanya melihat kembali hidupnya dengan jujur. Ingmar Bergman pada kondisi terbaiknya: sederhana di permukaan, sangat dalam di dalamnya.
Leningrad Cowboys Go America (1989)
Potongan rambut sepanjang kaki. Kacamata hitam bulat. Sepatu runcing yang terlalu panjang. Sebuah band Finlandia mencari ketenaran di Amerika dengan mencoba peruntungan di dunia rock, dari New York hingga pernikahan di Meksiko. Semuanya berjalan salah dengan cara yang paling menghibur. Cult comedy yang tidak akan mudah dilupakan, dengan cameo Jim Jarmusch sebagai penjual mobil.
Bonnie and Clyde (1967)
"Ini Nona Bonnie Parker. Saya Clyde Barrow. Kami merampok bank."
Seorang pelayan dan mantan narapidana menjadi pahlawan rakyat era Depresi Besar. Gaya yang menghipnotis, aksi kejahatan yang glamor, dan kekerasan di layar yang saat itu belum pernah ada sebelumnya. Akhirnya mengejutkan dan tak terlupakan. Bonnie dan Clyde adalah martir budaya pop Amerika yang tidak lekang oleh waktu.
BACA JUGA:
Daftar Film Keluarga Super Irit yang Sederhana & Menghibur
(Penulis: Julia Silverberg; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Elaine Mary; Foto: Courtesy of Bazaar US)
