Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Apa Itu "Film Hari Ayah"?

Panduan Bazaar tentang para ayah yang sedih, ayah yang bermasalah, ayah yang penuh kasih serta ayah sambung yang tampil sebagai pahlawan dalam dunia sinema.

Apa Itu
COURTESY OF BAZAAR US

Sebenarnya, apa itu film Hari Ayah?

Natal, Halloween, dan bahkan Hari Ibu masing-masing memiliki daftar film wajib tonton yang cukup jelas. Namun "film Hari Ayah" bisa berarti banyak hal. Bisa berupa film thriller kriminal seperti Heat, komedi seperti Talladega Nights: The Ballad of Ricky Bobby, atau bahkan film acak yang kebetulan kamu tonton di tengah-tengah saat menyalakan televisi. Menjelang hari spesial ini, kami merangkum berbagai film yang menampilkan sosok ayah dalam segala bentuknya, mulai dari ayah yang penuh kasih, ayah yang menyedihkan, hingga ayah yang bermasalah. Daripada sekadar membuat daftar film untuk ditonton bersama ayahmu, kami ingin lebih fokus pada makna sesungguhnya dari peran seorang ayah, serta bagaimana orang-orang menjalani atau menghadapi hubungan dengan ayah mereka baik suka maupun duka, bahkan yang buruk sekalipun (yang juga bisa jadi rekomendasi film bagus jika daftar ini belum cukup). Inilah panduan Bazaar untuk merayakan Hari Ayah lewat dunia sinema.

 Aftersun (2022)

Sophie Paterson (Frankie Corio) yang berusia sebelas tahun bepergian untuk menemui sang ayah, Calum (Paul Mescal) yang berusia 30 tahun dan punya sifat bebas tanpa aturan, yang telah memesan liburan ke Turki. Dari sini, kita bisa merasakan bahwa meski Sophie mengagumi ayahnya, ia sebenarnya tidak begitu mengenalnya. Aftersun, debut penyutradaraan penuh kelembutan dari Charlotte Wells, mengikuti duo ayah-anak ini saat mereka menikmati (atau mencoba menikmati) kemewahan liburan seperti menyelam, berendam lumpur, hingga karaoke. Di setiap kesempatan, sisi tegar Calum mulai retak, memperlihatkan gejolak emosi yang ia simpan di dalam dirinya. Sebagai gambaran sosok ayah yang baik namun bermasalah, Aftersun menawarkan salah satu momen paling menghancurkan tentang bagaimana kita berdamai dengan pemahaman yang tersembunyi mengenai orang tua kita. Film ini berakhir dengan pukulan emosional yang hanya bisa dibandingkan dengan Beau Travail (1999) karya Claire Denis.

BACA JUGA: Panduan Film Musim Panas 2026 versi Bazaar

 Big Daddy (1999)

Big Daddy adalah satu dari sedikit film awal Adam Sandler yang masih kita sukai untuk ditonton ulang. Sandler memerankan Sonny Koufax, seorang pria asal New York berusia 32 tahun yang menolak bersikap sesuai usianya (sayangnya, ini bukan kasus langka). Hidupnya berantakan ketika sang kekasih, Vanessa (Kristy Swanson), memutuskan hubungan mereka karena sikapnya yang pemalas. Ide cemerlangnya untuk mengadopsi Julian (Dylan/Cole Sprouse) yang berusia lima tahun untuk membuktikan kedewasaannya. Apa yang mungkin diperkirakan banyak orang sebagai tontonan konyol khas Sandler ternyata diangkat dengan nuansa kelembutan yang mengalir sepanjang film, sebuah kisah tentang peran ayah yang tak terduga dan proses bertumbuh dewasa, dengan ayah dan anak bergandengan tangan menjalaninya.

The Godfather (1972)

Mungkin inilah film tentang keayahan yang paling utama, The Godfather hanya berbicara tentang satu hal yaitu keluarga. Vito Corleone (Marlon Brando) menjadi ayah bagi empat anak, Sonny yang penuh emosi (James Caan), Michael yang penuh kalkulasi hingga menakutkan (Al Pacino), Connie yang tangguh (Talia Shire), serta bagaimana cara menyampaikannya dengan halus, Fredo yang kurang tajam pemikirannya (John Cazale) dan satu anak angkat, yaitu consigliere-nya, Tom Hagen (Robert Duvall). Trilogi Godfather karya Francis Ford Coppola menyelidiki nilai-nilai keluarga serta sisi korup dari apa yang disebut sebagai American dream, semuanya dibungkus dalam mitos abadi yang mengelilingi dunia mafia Italia-Amerika. Film ini bukan hanya sekadar film tentang keayahan, tetapi juga film yang dicintai oleh para ayah.

Father of the Bride (1991)

Apa yang terjadi ketika ayah dari sang pengantin justru yang merasa gemetar di altar pernikahan? Father of the Bride versi reboot dari film aslinya tahun 1950 menceritakan kisah seorang ayah yang terlalu protektif bernama George (Steve Martin), yang tidak sanggup membiarkan putrinya, Annie (Kimberly Williams) melepaskan diri darinya. Ini adalah salah satu film paling lucu dalam daftar ini, dan Martin berakting habis-habisan untuk menghidupkan sosok ayah yang absurd karena terlalu protektif ini. Ia ditemani Diane Keaton yang memerankan istri George, Nina, serta Martin Short sebagai koordinator pernikahan. Perlu dicatat juga bahwa Father of the Bride Part II, yang mengisahkan perjuangan George menghadapi perannya sebagai kakek, menjadi contoh langka sekuel film yang sukses.

Moonlight (2016)

  
Salah satu film terbaik di era 2000-an, Moonlight karya Barry Jenkins, mengisahkan kehidupan Chiron (diperankan oleh Alex Hibbert, Ashton Sanders, dan Trevante Rhodes secara berurutan sesuai usia) saat ia menghadapi pergumulan dengan seksualitas dan identitas dirinya. Sewaktu kecil, ia tinggal sendirian bersama ibunya, Paula, di sebuah lingkungan keras di Miami. Namun di sana, ia justru bertemu dengan seorang pengedar narkoba bernama Juan, yang diperankan dengan luar biasa oleh Mahershala Ali. Sosok Juan bukan bermaksud bergurau, justru menjadi ayah yang benar-benar tampil sebagai pahlawan, memberikan Chiron contoh maskulinitas yang sehat (yang menerima seksualitas Chiron) serta kasih sayang seorang ayah yang tanpa syarat.

 Mamma Mia (2008)

Satu-satunya hal yang lebih baik daripada satu ayah adalah … tiga ayah sekaligus. Mamma Mia memperkenalkan kita pada Sophie (Amanda Seyfried) yang akan segera menikah dengan cinta sejatinya. Ia tinggal sendirian di sebuah pulau bersama ibunya, Donna (diperankan Meryl Streep dalam salah satu perannya yang paling memukau) namun misteri tentang siapa ayahnya terus membayangi hidupnya. Sebuah solusi pun muncul di benaknya, dengan mengundang tiga pria yang pernah bersama ibunya sekitar waktu ia dikandung, untuk mencoba mencari tahu siapa yang sebenarnya ayahnya mulai dari sang arsitek Sam (Pierce Brosnan), pria berjiwa bebas Bill (Stellan Skarsgård), hingga bankir yang teliti, Harry Bright (Colin Firth) dan lihat saja, tiga calon ayah untuk dipilih! Musikal yang diiringi lagu-lagu Abba ini menjadi salah satu kisah tentang sosok ayah yang paling khas, sebuah cerita epik yang menegaskan betapa kecilnya arti bukti biologis ketika cinta dan kepedulian yang tulus benar-benar hadir.

Sentimental Value (2025)

Sentimental Value adalah sebuah film tentang sebuah rumah. Film keenam karya Joachim Trier ini menyelidiki beban psikologis yang dibawa oleh sebuah tempat dalam hidup dan kenangan kita, sekaligus menelusuri bagaimana orang-orang meski terpisah oleh konflik dan jarak tetap bisa merasa terikat oleh sebuah rumah. Kisah ini mengikuti keluarga Borg tak lama setelah sang ibu, sosok matriark keluarga, meninggal dunia. Hal ini mendorong sang ayah yang telah lama renggang, Gustav—seorang sutradara film yang diperankan oleh Stellan Skarsgård untuk kembali ke rumah tersebut. Pertemuan kembali dengan kedua putrinya, Nora (Renate Reinsve) dan Agnes (Inga Ibsdotter Lilleaas), bisa dikatakan dengan halus … cukup menyiksa secara emosional. Trier mengeksplorasi bagaimana seseorang bergumul dengan kesalahan-kesalahan orang tuanya, terutama seorang ayah yang secara emosional terasa jauh, dan pada akhirnya menceritakan kisah tentang proses berdamai serta penyembuhan dalam sebuah keluarga, di tengah segala kekacauan dan kehilangan yang dialami.

Life Aquatic With Steve Zissou (2004)

Ahli kelautan eksentrik, Steve Zissou (Bill Murray), bersama kru anehnya yang serba mengenakan topi merah cerah dan setelan biru laut, menyambut anggota baru saat mereka mencari hiu jaguar sepanjang 10 meter yang telah membunuh sahabat terbaik Zissou. Anggota baru tersebut adalah Ned (Owen Wilson) asal Kentucky, yang percaya bahwa dirinya adalah anak haram Zissou. Film Wes Anderson lainnya yang mengangkat tema gejolak keayahan, Life Aquatic With Steve Zissou menyelami lebih dalam apa makna sesungguhnya dari memikul tanggung jawab baik terhadap orang lain maupun atas tindakan diri sendiri. Ini terjadi sebelum Anderson benar-benar terjun penuh ke dalam estetika khasnya, dengan menghadirkan kisah yang nyata, kerap menyentuh (meski tetap konyol), tentang keluarga baik yang dipilih maupun yang sudah ada sejak lahir.

He Got Game (1998)

Kecintaan Spike Lee terhadap basket diabadikan dalam He Got Game. Film ini berkisah tentang seorang gubernur yang begitu ingin merekrut seorang pemain hingga ia mengizinkan seorang pria keluar dari penjara demi membujuk putranya untuk bergabung dengan tim almamaternya. Pria tersebut adalah Jake Shuttlesworth (Denzel Washington), yang saat itu sedang menjalani masa hukuman atas pembunuhan tak berencana setelah membunuh istrinya dalam sebuah pertengkaran yang memanas. Sang gubernur memilihnya karena putranya, Jesus (diperankan pemain NBA sungguhan, Ray Allen), adalah seorang pemain basket berbakat luar biasa. Selain menampilkan kecintaan Lee terhadap olahraga ini, film ini juga menjadi renungan yang menyentuh tentang keayahan dan pengampunan, menyelami salah satu hubungan ayah-anak paling rumit yang pernah ditampilkan di layar.

It’s a Wonderful Life (1946)

George Bailey (James Stewart) hampir mendekati kesempurnaan, tapi—ya, ampun tidak ada yang benar-benar sempurna. It's a Wonderful Life, film klasik Natal favorit keluarga Amerika, mengikuti perjalanan Bailey saat ia berusaha menolong orang-orang di sekitarnya: menyelamatkan adiknya yang hampir tenggelam di bawah es, menjaga bisnis keluarganya, melawan kalangan elite yang kejam demi masyarakat kecil di Bedford Falls, hingga "menjerat bulan" untuk diberikan kepada istrinya, Mary, seolah miliknya sendiri. Ia mencintai keempat anaknya dan Mary lebih dari apa pun, namun masalah finansial hampir membawanya ke titik terendah (secara harfiah). Film paling menghangatkan hati dalam daftar ini menampilkan sosok ayah agung dalam dunia sinema bahkan ketika ia berada di ambang batas.

Boyz n the Hood (1991)

Furious Styles (Laurence Fishburne) adalah salah satu sosok ayah paling ikonik (dan terbaik) di era '90-an. Dalam Boyz n the Hood karya John Singleton, Tre Styles (Desi Arnez Hines II/Cuba Gooding Jr.) dikirim untuk tinggal bersama ayahnya setelah terlibat masalah di sekolah. Gaya pengasuhan Furious terasa tegas namun penuh kepedulian secara bersamaan, ketegasannya muncul dari harapannya agar Tre dapat menghindari jeratan kehidupan kriminal yang mengelilingi lingkungan rumah mereka di Los Angeles Selatan. Furious dan Tre menjalin hubungan yang saling percaya, meski sesekali diwarnai ketegangan, yang paling terlihat lewat interaksi penuh canda antara Gooding dan Fishburne sepanjang film. (Scene potong rambut adalah favoritku secara pribadi.) Furious, berbanding terbalik dengan namanya, justru menjadi penuntun moral yang tenang bagi Tre, yang secara konsisten mengarahkannya keluar dari masalah (bahkan ketika sang anak hampir terjerumus terlalu dalam).

There Will Be Blood (2007)

"Aku telah meninggalkan anakku!" Jika kita membuat daftar ayah paling buruk dalam jajaran ini, Daniel Plainview yang diperankan Daniel Day-Lewis dalam There Will Be Blood pasti akan menduduki posisi puncak. Epik perminyakan Amerika karya Paul Thomas Anderson ini terinspirasi dari novel Oil! milik Upton Sinclair membawa kita ke tengah hiruk-pikuk yang dipicu oleh penemuan "emas hitam" di wilayah barat Amerika Serikat. Plainview adalah salah satu pengusaha tamak dan keras kepala yang nekat mengadu nasib ke barat, mengadopsi seorang anak, H.W., setelah ayah kandungnya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Langkah ini sebenarnya hanya strategi untuk menarik simpati para investor, agar ia tampak sebagai sosok keluarga yang baik. Namun setelah sebuah kecelakaan membuat H.W. tuli, Plainview justru meninggalkannya, sebuah keputusan yang akan terus menghantuinya sepanjang hidup.

To Kill a Mockingbird (1962)

Sebuah drama hukum hanya akan semenarik karakter-karakter di dalamnya. Memang benar, dilema moral yang diangkat dalam To Kill a Mockingbird diadaptasi dari novel karya Harper Lee dengan judul yang sama berhasil memancing rasa penasaran, namun kisah ini tetap menjadi karya klasik abadi berkat hubungan ayah-anak antara Atticus Finch (Gregory Peck) dan Scout (Mary Badham). Finch menggambarkan sosok penuntun moral yang tegas, seorang figur ayah yang menyentuh hati dengan kebaikan tulus. Yang berhasil ditawarkan To Kill a Mockingbird adalah gambaran tentang sosok ayah yang baik, tanpa terasa terlalu sederhana atau hampa secara emosional. Yang paling utama, ia memperlakukan anak-anaknya layaknya manusia seutuhnya, sering berbicara kepada mereka selayaknya teman sebaya, seolah mereka mampu berpikir untuk diri mereka sendiri.

The Birdcage (1996)

Sekitar 30 tahun lalu, Mike Nichols menghadirkan salah satu hubungan paling memorable dalam sejarah perfilman lewat The Birdcage: Robin Williams dan Nathan Lane, yang masing-masing memerankan Armand Goldman dan Albert. Keluarga pasangan ini dilengkapi oleh Val (Dan Futterman) yang berusia 20 tahun, yang dibesarkan di klub drag Miami Beach bernama Birdcage. Kita bertemu mereka saat Val bersiap menikahi Barbara (Calista Flockhart), yang kedua orang tuanya (diperankan oleh Gene Hackman dan Dianne Wiest) adalah politisi konservatif. Komedi yang menjadi tonggak penting ini, salah satu film pertama yang menampilkan pasangan gay penuh kasih ke ranah mainstream tetap menjadi kisah klasik tentang keayahan.

 Mrs. Doubtfire (1993)

Daniel Hillard (Robin Williams) sangat mencintai anak-anaknya, tapi pengisi suara ini justru sering bersikap lebih seperti anak kecil ketimbang seorang ayah yang sebenarnya. Atau setidaknya begitulah pendapat istrinya, Miranda (Sally Field). (Sebagian besar pendapatnya memang benar, tapi demi kepentingan cerita, mari kita kesampingkan logika sejenak.) Miranda akhirnya menggugat cerai Daniel dengan alasan kekurangdewasaannya, membuatnya kehilangan tempat tinggal serta hak kunjungan yang sangat terbatas. Lalu, apa yang bisa dilakukan seorang ayah tanpa pekerjaan untuk tetap bisa bertemu anak-anaknya? Tentu saja! Menyamar sebagai pengasuh dan membesarkan mereka secara diam-diam sebagai sosok pengganti. Latihan akting inilah yang melahirkan Mrs. Doubtfire, salah satu penampilan drag paling ikonik dalam sejarah film.

The Pursuit of Happyness (2006)

Sebuah evaluasi tajam terhadap American dream, The Pursuit of Happyness dibintangi Will Smith bersama putranya di kehidupan nyata, Jaden. (Ada lapisan makna tersendiri di sini!) Smith memerankan Chris Gardner, seorang salesman asal Amerika yang harus menghadapi kondisi tunawisma bersama putranya selama satu tahun penuh. Film ini menceritakan perjuangan Gardner untuk bangkit dari titik terbawah, semua demi melindungi putranya dan pada akhirnya membangun kehidupan yang lebih baik untuk masa depannya. Sering dipandang sebagai kisah penuh kemenangan (meski, jangan khawatir, tetap dipenuhi momen yang mengundang air mata), The Pursuit of Happyness, jika ditelaah ulang, justru terasa seperti titik balik bagi American dream itu sendiri, di mana sistem yang ada tampak dirancang untuk menyulitkan orang-orang biasa, dengan hanya sedikit yang berhasil menerobosnya seperti Gardner.

Interstellar (2014)

Christopher Nolan menegaskan bahwa cinta menghubungkan segala sesuatu di alam semesta. Dan setelah menonton Interstellar satu kali saja, kamu mungkin akan mulai percaya bahwa hal itu benar. Ikatan cinta paling utama dalam film ini terjalin antara Cooper (Matthew McConaughey), mantan pilot yang kini menjadi petani jagung, dan putrinya yang jenius, Murph (diperankan Mackenzie Foy saat berusia 10 tahun; Jessica Chastain saat dewasa). (Maaf untuk putranya, yang diperankan Timothée Chalamet dan Casey Affleck.) Bumi berada di ambang bencana lingkungan ketika NASA yang baru dihidupkan kembali menugaskan Cooper untuk terbang ke luar angkasa demi mencari dunia baru bagi kelangsungan hidup manusia. Sebagai sosok space cowboy sejati, Cooper terpaksa meninggalkan anak-anaknya, namun ia tak pernah melepaskan perannya sebagai ayah yang penuh cinta, bahkan ketika mereka terpisah jarak bertahun-tahun cahaya. Inilah yang memastikan denyut jantung dari opera luar angkasa ini tetap berdetak kuat.

Kramer vs. Kramer (1979)

Kramer vs. Kramer membawa era perceraian ke ranah yang belum pernah terlihat sebelumnya di Amerika Serikat. Drama sensasional ini, yang sering dijuluki sebagai drama hukum, dibintangi Dustin Hoffman sebagai Ted Kramer, seorang workaholic yang terkejut ketika mengetahui istrinya, Joanna (Meryl Streep), berencana meninggalkannya. Joanna juga meninggalkan putra mereka yang berusia tujuh tahun, Billy (Justin Henry), bersama Ted. Ted pun bertindak gugup layaknya ayah-ayah era 1970-an pada umumnya, tapi akhirnya berhasil menemukan caranya sendiri untuk membesarkan putranya hingga Joanna kembali dan menuntut hak asuh. Apa yang terjadi setelahnya adalah pertarungan hukum penuh kepahitan antara Kramer dan Kramer, yang untuk pertama kalinya mengangkat ke layar sisi getir dari sebuah perceraian serta bagaimana dampaknya menjalar kepada seorang anak kecil. Sutradara Robert Benton mengarahkan film ini sedemikian rupa hingga penonton ikut mendukung Ted, yang akhirnya menemukan sisi keayahannya yang penuh kepedulian, namun penting juga untuk bertanya: apa sebenarnya yang mendorong Joanna sampai ke titik tersebut? Selamat Hari Ayah!

The Iron Claw (2023)

The Iron Claw lebih condong mengangkat tema persaudaraan ketimbang keayahan, namun kisah nyata tentang keluarga pegulat profesional ini berfokus pada bagaimana maskulinitas dibentuk, dipertahankan, dan diwariskan ke generasi berikutnya. Sutradara Sean Durkin menggambarkan kisah tragis dari saudara-saudara Von Erich diperankan oleh Zac Efron, Jeremy Allen White, Harris Dickinson, dan Stanley Simons yang menanjak menjadi bintang gulat internasional di bawah bimbingan sang ayah, Fritz (Holt McCallany). Namun, status selebritas mereka runtuh secara dramatis ketika serangkaian tragedi merenggut nyawa mereka satu per satu, termasuk Kevin (Efron). (Film ini bahkan tidak menyertakan satu saudara lainnya, karena para produser khawatir penonton tidak akan mempercayai kisah aslinya.) Namun, scene terakhir, ketika Kevin (Efron) berkata kepada putra-putranya bahwa ia "dulu pernah punya saudara," mampu memancing air mata yang sepadan dengan kisah seorang ayah yang menyedihkan.

Indiana Jones and the Last Crusade (1989)

Sebuah film ketiga memang perlu mengambil langkah berani, bahkan jika kamu adalah Steven Spielberg yang menyutradarai Harrison Ford dalam film Indiana Jones lainnya. Langkah beraninya: memperkenalkan sosok ayah Indiana Jones dan memilih Sean Connery untuk peran tersebut. Dan itu berhasil. Indiana Jones and the Last Crusade mengikuti sang tokoh utama saat mencari Holy Grail, sekali lagi berusaha menjaga cawan suci tersebut agar tidak jatuh ke tangan yang salah—dalam hal ini, Nazi. Seorang arkeolog lain sebelumnya juga pernah mencari cawan tersebut, hingga akhirnya menghilang. Sosok itu, tentu saja, adalah ayahnya sendiri, Dr. Henry Jones Sr. Dinamika ayah-anak antara Indy dan Henry paling tepat digambarkan sebagai penuh ketegangan, bahkan cenderung kaku, namun tetap lebih ringan dibandingkan film sebelumnya (Temple of Doom yang mampu memicu mimpi buruk). Film ini bersuka ria dalam inti petualangan sang protagonis serta absurditas yang bombastis, dengan diselingi interaksi humor kering dari dua aktor terbaik yang pernah memerankan peran semacam ini.

BACA JUGA: Daftar Film Keluarga Super Irit yang Sederhana & Menghibur

Menatap Makna Waktu dan Perjalanan Lewat Film Pendek Terbaru Rimowa

(Penulis: Maxwell Rabb; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Graceilla Alexandra; Foto: Courtesy of BAZAAR US)