Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Penyebab Jerawatan di Hidung: Atasi Berdasarkan Jenisnya

Selain tidak nyaman, jerawatan di hidung sangat mengganggu penampilan. Atasi segera dengan cara yang tepat!

Penyebab Jerawatan di Hidung: Atasi Berdasarkan Jenisnya
Courtesy of Elina Fairytale, pexels

Jerawat di hidung merupakan salah satu masalah kulit yang sering dialami oleh remaja maupun orang dewasa. Area hidung termasuk dalam T-zone, yaitu bagian wajah yang memiliki produksi minyak (sebum) lebih tinggi dibandingkan area lainnya. Produksi minyak berlebih, penumpukan sel kulit mati, dan bakteri dapat mengakibatkan pori-pori tersumbat dan menjadi penyebab jerawatan di hidung.

Meski terlihat kecil, jerawat di hidung sering kali terasa lebih nyeri dibandingkan jerawat di area wajah lainnya. Hal ini disebabkan kulit hidung memiliki banyak kelenjar minyak dan ujung saraf. Selain itu, kebiasaan menyentuh atau memencet jerawat di hidung juga dapat memperparah peradangan, meningkatkan risiko infeksi, bahkan meninggalkan bekas.

Menurut pedoman terbaru dari American Academy of Dermatology (AAD), penanganan jerawat sebaiknya disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya. Terapi yang tepat tidak hanya membantu menghilangkan jerawat, tetapi juga mencegah munculnya bekas luka dan kekambuhan.

Penyebab Jerawat di Hidung yang Sering Terjadi dan Cara Mengatasinya

Courtesy of Freepik

Tidak hanya rasanya sakit dan membuat tidak nyaman, jerawat di hidung juga sangat mengganggu kepercayaan diri. Namun, Anda bisa jauh-jauh dari problem jerawat jika tahu penyebab dan cara mengatasinya. Jerawat di hidung dapat dipicu oleh kombinasi faktor internal maupun eksternal.

1. Produksi Minyak (Sebum) Berlebih

Hidung memiliki konsentrasi kelenjar sebasea yang tinggi. Ketika produksi minyak meningkat, pori-pori menjadi lebih mudah tersumbat oleh sel kulit mati sehingga terbentuk komedo yang kemudian berkembang menjadi jerawat.

Cara mengatasinya:

  • Gunakan pembersih wajah yang lembut dua kali sehari
  • Pilih produk produk perawatan kulit wajah berlabel non-comedogenic
  • Gunakan produk dengan kandungan salicylic acid atau retinoid sesuai kebutuhan.

2. Penumpukan Bakteri

Bakteri Cutibacterium acnes berkembang di dalam pori-pori yang tersumbat. Kehadiran bakteri ini memicu reaksi peradangan sehingga muncul papul, pustul, maupun jerawat yang lebih besar.

Cara mengatasinya:

  • Gunakan benzoyl peroxide yang membantu mengurangi jumlah bakteri penyebab jerawat
  • Hindari memencet jerawat karena dapat memperburuk infeksi.

3. Perubahan Hormon

Fluktuasi hormon saat pubertas, menstruasi, kehamilan, maupun stres meningkatkan produksi minyak sehingga jerawat lebih mudah muncul, terutama di area T-zone.

Cara mengatasinya:

  • Kelola stres dengan tidur cukup, hidrasi yang cukup, dan rutin berolahraga
  • Bila jerawat bersifat hormonal dan berulang, konsultasikan dengan dokter kulit untuk mendapatkan terapi yang sesuai.

4. Kebiasaan Menyentuh Wajah

Tangan membawa minyak, debu, dan bakteri yang dapat berpindah ke permukaan kulit ketika sering menyentuh hidung.

Cara mengatasinya:

  • Hindari menyentuh wajah tanpa mencuci tangan
  • Bersihkan layar ponsel dan benda yang sering menyentuh wajah
  • Pastikan bantal tidur juga dalam kondisi yang bersih.

5. Penggunaan kosmetik yang menyumbat pori

Produk riasan wajah atau tabir surya yang terlalu berat dapat mempercepat penyumbatan pori bila tidak dibersihkan dengan benar.

Cara mengatasinya:

  • Lakukan double cleansing setelah memakai makeup
  • Pilih produk kosmetik yang non-comedogenic.

Komedo, Papul, Pustul, dan Kista: Siapa Saja Mereka?

Courtesy of Freepik

Setiap jenis jerawat memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga penanganannya pun tidak sama. Berikut ini beberapa jenis jerawat, ciri-ciri, dan cara mengatasinya:

Komedo

Komedo adalah jenis jerawat noninflamasi yang terjadi ketika pori-pori kulit tersumbat oleh campuran minyak alami (sebum), sel kulit mati, dan terkadang bakteri. Berbeda dengan jerawat yang meradang, komedo umumnya tidak menyebabkan kemerahan, bengkak, atau nyeri.

Komedo paling sering muncul di area wajah yang memiliki banyak kelenjar minyak, seperti hidung, dahi, dan dagu (T-zone). Karena hidung menghasilkan lebih banyak sebum dibandingkan area wajah lainnya, komedo sering kali terbentuk di bagian ini.

Menurut AAD, komedo merupakan bentuk awal jerawat (acne vulgaris). Jika pori yang tersumbat mengalami peradangan akibat pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes, komedo dapat berkembang menjadi papul atau pustul.

Penanganan komedo sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kulit. Berikut ini beberapa cara yang direkomendasikan oleh ahli dermatologi:

1. Bersihkan wajah dua kali sehari menggunakan facial wash yang sesuai dengan jenis kulit. Hindari mencuci wajah terlalu sering, karena justru dapat memicu produksi minyak berlebih.

2. Gunakan produk perawatan yang mengandung salicylic acid (BHA) karena efektif untuk mengatasi komedo.

3. Lakukan eksfoliasi untuk membantu mengangkat sel kulit mati yang menyumbat pori. Namun, lakukan hanya 1-2 kali seminggu menggunakan eksfoliator kimia (AHA/BHA) sesuai toleransi kulit. Hindari scrub yang terlalu kasar, karena dapat mengiritasi kulit.

4. Hindari memencet komedo sendiri, karena dapat memperparah iritasi dan memicu infeksi. Jika komedo sangat banyak, sebaiknya lakukan ekstraksi komedo oleh dokter kulit atau terapis yang terlatih.

Papul

Papul adalah jenis jerawat yang mengalami peradangan, ditandai dengan benjolan kecil berwarna merah atau kemerahan yang terasa padat saat disentuh. Berbeda dengan pustul, papul tidak memiliki ujung putih atau berisi nanah.

Papul terbentuk ketika pori-pori yang tersumbat oleh minyak (sebum), sel kulit mati, dan bakteri mengalami peradangan. Dinding pori kemudian pecah, sehingga isi pori menyebar ke jaringan kulit di sekitarnya dan memicu respons sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, muncul benjolan merah yang terkadang terasa nyeri atau sensitif saat disentuh.

Menurut AAD, papul termasuk dalam kategori jerawat inflamasi dan memerlukan penanganan yang berbeda dari komedo karena sudah melibatkan proses peradangan.

Karena papul merupakan jerawat yang meradang, penanganannya berfokus pada mengurangi peradangan sekaligus mencegah terbentuknya sumbatan baru. Benzoyl peroxide merupakan salah satu bahan yang paling sering direkomendasikan untuk mengatasi papul karena dapat:

  • Mengurangi jumlah bakteri Cutibacterium acnes
  • Membantu mengurangi peradangan
  • Mencegah terbentuknya jerawat baru.

Untuk mengatasinya, cuci wajah dua kali sehari menggunakan pembersih yang lembut. Hindari menggosok kulit terlalu keras karena dapat memperparah peradangan. Selain itu, gunakan pelembap yang ringan dan tidak menyumbat pori guna menjaga skin barrier tetap sehat.

Pustul

Pustul adalah jenis jerawat yang mengalami peradangan dan berisi nanah, ditandai dengan benjolan berwarna merah yang memiliki ujung putih atau kekuningan. Nanah tersebut merupakan campuran sel darah putih, bakteri, minyak (sebum), dan sel kulit mati yang terkumpul sebagai respons tubuh terhadap infeksi dan peradangan.

Pustul sering muncul setelah papul mengalami peradangan yang lebih berat. Ketika pori-pori yang tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati terinfeksi oleh bakteri Cutibacterium acnes, sistem kekebalan tubuh mengirimkan sel darah putih ke area tersebut untuk melawan bakteri. Proses inilah yang membentuk nanah di dalam jerawat.

Mengompres area pustul dengan kain bersih yang dibasahi air hangat selama sekitar 5-10 menit dapat membantu mengurangi rasa nyeri dan mempercepat proses penyembuhan. Pastikan kain yang digunakan bersih untuk mengurangi risiko infeksi tambahan. 

Benzoyl peroxide merupakan salah satu bahan aktif yang paling direkomendasikan untuk pustul karena mampu:

  • Membunuh bakteri Cutibacterium acnes
  • Mengurangi peradangan
  • Membantu membuka pori-pori yang tersumbat.

Pedoman klinis yang dipublikasikan dalam Journal of the American Academy of Dermatology menyatakan bahwa keberhasilan pengobatan pustul bergantung pada penanganan berbagai faktor penyebab jerawat secara bersamaan, seperti produksi sebum berlebih, penyumbatan folikel, pertumbuhan bakteri, dan proses inflamasi.

Jerawat Kista

Jerawat kista (cystic acne) adalah jenis jerawat inflamasi yang paling berat, ditandai dengan benjolan besar, keras atau lunak, terasa nyeri, dan terbentuk jauh di bawah permukaan kulit. Berbeda dengan pustul yang memiliki ujung putih berisi nanah, jerawat kista biasanya tidak memiliki "mata" jerawat yang terlihat, sehingga sulit dipecahkan.

Jerawat kista terjadi ketika pori-pori tersumbat oleh minyak (sebum), sel kulit mati, dan bakteri Cutibacterium acnes. Sumbatan tersebut kemudian pecah jauh di dalam kulit, memicu respons peradangan yang kuat. Akibatnya, terbentuk kantong berisi cairan, nanah, dan jaringan yang meradang di lapisan kulit yang lebih dalam.

Menurut AAD, jerawat kista merupakan bentuk jerawat yang memiliki risiko paling tinggi menyebabkan bekas luka permanen (acne scars) jika tidak ditangani dengan tepat.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah tidak memencet jerawat kista. Memencet jerawat kista dapat menyebabkan peradangan semakin parah, infeksi lebih luas, kulit pecah di bagian dalam, dan terbentuknya bekas luka permanen

Segera konsultasikan dengan dokter kulit jika:

  • Benjolan berukuran besar dan terasa sangat nyeri
  • Jerawat sering muncul kembali di lokasi yang sama
  • Meninggalkan bekas luka atau bopeng
  • Tidak membaik setelah 6-8 minggu menggunakan obat jerawat yang dijual bebas
  • Jumlah jerawat semakin banyak atau menyebar.

Penanganan dini dapat membantu mengurangi risiko terbentuknya jaringan parut permanen. Jerawat kista sebaiknya tidak diobati sendiri karena sering memerlukan terapi dokter, seperti obat oral atau tindakan medis. Menurut AAD, kasus jerawat berat dapat memerlukan isotretinoin atau terapi lain berdasarkan evaluasi dokter kulit.

Rekomendasi Perawatan untuk Jerawat di Hidung Berdasarkan Penyebabnya

Jika Disebabkan oleh Pori Tersumbat

Gunakan produk yang mengandung:

  • Salicylic acid
  • Adapalene
  • Retinoid.

Kandungan tersebut membantu mempercepat pergantian sel kulit, sehingga pori tidak mudah tersumbat.

Jika Disebabkan oleh Bakteri

Pilih produk yang mengandung:

  • Benzoyl peroxide
  • Kombinasi benzoyl peroxide dengan retinoid.

AAD menekankan bahwa antibiotik topikal maupun oral sebaiknya tidak digunakan sendiri tanpa dikombinasikan dengan benzoyl peroxide untuk membantu mengurangi risiko resistensi antibiotik.

Jika Dipicu oleh Hormon

Dokter dapat mempertimbangkan terapi hormonal pada pasien, terutama jika jerawat muncul secara berulang dan berkaitan dengan siklus hormonal.

Jika Disebabkan oleh Produk Perawatan Wajah

Lakukan evaluasi terhadap produk yang digunakan. Pilih produk dengan label:

  • Oil-free
  • Non-comedogenic
  • Non-acnegenic.

Jika Jerawat Berupa Kista

Segera konsultasikan dengan dokter kulit jika:

  • Jerawat sangat nyeri
  • Ukurannya besar
  • Muncul berulang di lokasi yang sama
  • Menimbulkan bekas luka.

Tips Mencegah Jerawat di Hidung Muncul Kembali

Courtesy of Freepik

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut ini beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan:

  • Cuci wajah dua kali sehari menggunakan pembersih yang lembut
  • Hindari menggosok wajah terlalu keras
  • Jangan memencet jerawat
  • Lakukan double cleansing untuk membersihkan sisa riasan wajah
  • Gunakan pelembap dan tabir surya yang non-comedogenic
  • Ganti sarung bantal secara rutin
  • Kurangi kebiasaan menyentuh wajah
  • Kelola stres dengan olahraga dan tidur yang cukup
  • Konsumsi makanan bergizi seimbang serta cukup minum air putih.

Rutinitas perawatan kulit yang konsisten lebih efektif dibandingkan penggunaan banyak produk sekaligus. Hasil pengobatan jerawat umumnya baru terlihat setelah 6–12 minggu, sehingga diperlukan kesabaran serta penggunaan produk secara rutin dan teratur.

(Edited by SW)