Saat sedang melakukan doom scrolling di TikTok sebelum tidur beberapa malam lalu, Bazaar menemukan sebuah video yang memperlihatkan seorang perempuan menuangkan garam laut, jenis garam yang mungkin juga tersedia di dapur Anda, ke atas sebuah loyang. Setelah itu, ia berdiri tanpa alas kaki di atasnya selama sekitar 10 menit. Dari sekian banyak tren wellness yang pernah saya temui di media sosial, yang satu ini mungkin menjadi salah satu yang paling tidak terduga.
Dalam video tersebut, ia mengeklaim bahwa metode “berdiri di atas garam” dapat membantu mengeksfoliasi telapak kaki, mengurangi peradangan, sekaligus mengalihkan sistem saraf ke mode "rest and digest". Untuk mendukung klaimnya, ia memperlihatkan data kualitas tidur dari Oura Ring yang menunjukkan bahwa durasi deep sleep-nya meningkat hingga 10 persen pada malam ketika ia menerapkan ritual tersebut. Bagi pengguna sleep tracker, angka itu tentu bukan peningkatan yang mudah dicapai.
Yang membuat Bazaar semakin penasaran bukan hanya videonya, tetapi juga banyaknya komentar yang mengaku merasakan manfaat serupa dari salt stomping. Kami termasuk orang yang bersedia mencoba hampir semua tren wellness yang menjanjikan tidur lebih nyenyak dan tingkat stres yang lebih rendah, mulai dari mengonsumsi teh penenang hingga pillow spray. Namun berdiri di atas garam? Bazaar merasa perlu mencari tahu apakah metode ini benar-benar seajaib yang diklaim TikTok sebelum ikut mencobanya.
“Salt stomping berarti berdiri tanpa alas kaki di atas garam epsom bertekstur kasar selama sekitar 10 menit pada malam hari, biasanya sambil melakukan rutinitas skincare,” jelas Doreen Zarfati, psikiater yang berbasis di New York sekaligus Chief Medical Officer di Fountain. “Sebagai seorang dokter, reaksi pertama saya adalah garam itu sendiri tidak bekerja seperti yang dibayangkan banyak orang. Namun, bukan berarti ritual ini tidak memberikan manfaat."
Selama ini, garam celtic dikenal mampu membantu menjaga hidrasi tubuh, sementara berendam menggunakan garam epsom sering dikaitkan dengan pemulihan otot. Garam sendiri merupakan mineral penting yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi dasar, terutama dalam menjaga keseimbangan cairan. Beberapa jenis garam, seperti himalayan pink salt dan garam epsom, juga mengandung magnesium yang sering dikaitkan dengan kualitas tidur dan pemulihan otot.
Meski demikian, mengonsumsi garam dan berdiri di atasnya tentu memberikan efek yang sangat berbeda. “Belum ada data yang menunjukkan bahwa berdiri di atas kristal garam dapat mengubah kadar serotonin atau kortisol. Tidak ada pula bukti bahwa magnesium dapat diserap melalui telapak kaki hingga mampu mengatur ulang sistem saraf,” ujar Dooren. Menurutnya, manfaat yang dirasakan lebih berkaitan dengan ritual grounding dibandingkan kandungan garam itu sendiri.
“Ritual ini memberi Anda waktu untuk berhenti sejenak, berdiri tanpa alas kaki, dan menjauh dari ponsel sebelum tidur. Rutinitas yang dilakukan secara konsisten memberi sinyal kepada otak bahwa tubuh sudah aman untuk beralih dari mode stres menuju mode istirahat. Jika berdiri di atas garam membuat seseorang benar-benar melambat selama 10 menit, saya tidak akan mempermasalahkan hasilnya.”
Dokter penyakit dalam sekaligus pakar longevity, Amanda Kahn juga memiliki pandangan serupa. Menurut Amanda, kontak antara telapak kaki dan garam tidak mungkin dapat memberikan dampak signifikan terhadap peradangan, sirkulasi darah, maupun fungsi sistem saraf. Namun, ia tetap merekomendasikan mandi menggunakan garam epsom karena mengandung magnesium sulfat yang memang memiliki bukti ilmiah terkait penyerapan melalui kulit saat digunakan untuk berendam.
Meski begitu, para ahli sepakat bahwa salah satu manfaat terbesar dari salt stomping justru berasal dari pengalaman sensorik yang dihadirkannya. Tidak heran jika perawatan kaki di spa yang menggunakan butiran garam kasar sering kali terasa jauh lebih menenangkan dibandingkan pedikur biasa.
“Berdiri tanpa alas kaki di atas permukaan bertekstur memberikan rangsangan sensorik secara terus-menerus. Sensasi ini membantu seseorang merasa lebih grounded dan mengalihkan perhatian dari pikiran yang terus berputar,” jelas Doreen. “Secara mental, orang memang bisa merasa lebih tenang dan tidur lebih nyenyak, tetapi penyebabnya adalah momen hening, rutinitas, dan fokus terhadap sensasi tubuh, bukan karena kandungan mineralnya. Jika berdiri di atas garam membuat seseorang meluangkan waktu untuk berhenti selama 10 menit, saya tentu tidak akan mempermasalahkannya."
Apabila ingin mencoba salt stomping sebagai bagian dari rutinitas malam, bukan berarti Anda harus meninggalkan kebiasaan relaksasi lain yang telah terbukti manfaatnya. “Dari perspektif longevity, saya lebih menganjurkan cara-cara yang didukung bukti ilmiah untuk membantu mengatur sistem saraf, seperti meditasi, latihan pernapasan, olahraga teratur, tidur yang cukup, menghabiskan waktu di alam terbuka, serta membangun hubungan sosial yang bermakna,” ujar Amanda.
Meski demikian, meluangkan waktu 10 menit tanpa melihat layar ponsel sebelum tidur, baik sambil berdiri di atas garam maupun tidak, tetap menjadi kebiasaan sederhana yang dapat membantu tubuh lebih rileks dan mempersiapkan kualitas tidur yang lebih baik.
“Setiap ritual yang mendorong mindfulness dan relaksasi pada dasarnya dapat membantu mengurangi stres serta meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan. Jadi, saya melihat manfaat salt stomping lebih berasal dari perubahan perilaku dibandingkan efek fisiologis garam itu sendiri,” tutup Amanda. “Selama ritual tersebut membantu seseorang benar-benar berhenti sejenak dan mengurangi stres, saya tentu mendukungnya.”
Dari kiri: HigherDOSE Serotonin Soak; Osea Gigartina Therapy Bath Soak with Lavender; Dr Teal's Pure Epsom Salt,Restorative Minerals with Magnesium; alo Mindful Magnesium Bath Soak
BACA JUGA:
Apa Saja Manfaat Air Garam Himalaya untuk Kecantikan?
Apakah Air dengan Taburan Garam Laut Benar-benar Memberi Manfaat Kesehatan?
(Penulis: Katie Intner: Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
