Ada perubahan besar di dunia mode saat ini. Musim ini, ritme mode tampaknya telah menemukan nadanya kembali setelah sekian lama tertahan. Dunia mode yang sempat sunyi kini kembali membuka ruang untuk ekspresi yang lebih berani dan lebih terlihat.
Glamorama kembali hadir, tetapi bukan sebagai pengulangan. Kali ini, glamorama hadir dalam bentuk yang lebih reflektif, lebih dekat dengan tubuh, dan lebih selaras dengan gaya hidup hari ini. Koleksi runway Spring/Summer 2026 menunjukkan perubahan ini tanpa perlu banyak penegasan. Valentino mengeksplorasi dengan cara yang emosional dan teatrikal. Desainnya menggunakan embellishment, transparansi, dan warna yang ringan namun tetap intens. Sementara itu, Carolina Herrera menghadirkan pendekatan yang lebih elegan dengan siluet yang mengalir dan volume yang terukur, menampilkan feminitas yang klasik namun tetap relevan.
Chanel menambahkan sentuhan yang lebih halus dengan menggunakan materi silk dan tweed yang dilembutkan. Hasilnya adalah kilau yang tidak berisik namun konsisten. Giorgio Armani menunjukkan bagaimana perpaduan konsep tailoring dan material ringan dapat menghadirkan kesan yang nyaris tanpa usaha, namun tetap berkarakter. Saint Laurent memiliki arah yang lebih tajam dan percaya diri dengan siluet memanjang dan draperi yang presisi.
BACA JUGA: Seperti Inilah Tampilan Runway Saat Knicks Terakhir Kali Melaju ke Final NBA
Gucci menghadirkan kilau yang lebih eksplisit dan sensual dengan sequins dan tekstur berkilau yang terasa berani namun tetap terkendali. Sensualitas yang lebih struktural terlihat pada Mugler, sementara pendekatan yang lebih dramatis dan emosional dibawa oleh McQueen lewat konstruksi dan tekstur yang kuat.
Stella McCartney menghadirkan glamor yang terasa effortless dengan pendekatan yang lebih ringan dan conscious. Tom Ford dan Christian Siriano kembali merayakan sequins, satin, dan evening wear dengan kepercayaan diri yang tegas. Sekarang, keglamoran tidak lagi sekadar tampilan, tetapi pengalaman yang dibangun perlahan melalui material. Sequins menjadi salah satu material yang paling populer. Kini, kilau yang dulu eksklusif untuk malam hari mulai muncul di siang hari, berinteraksi langsung dengan cahaya alami dan menciptakan kesan yang lebih spontan.
Ada perubahan cara pandang yang jelas bahwa kemewahan tidak lagi menunggu momen, tetapi bisa hadir kapan saja bahkan dalam konteks yang paling sederhana. Satin juga memiliki pendekatan yang lebih tenang. Permukaannya yang halus mengikuti tubuh dengan gerakan yang nyaris cair, memantulkan cahaya tanpa terasa agresif. Yang membuat musim ini berbeda bukan hanya kilau, melainkan bagaimana busana bergerak. Banyak koleksi dirancang bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk “hidup” saat dikenakan. Desain dengan draperi yang fluid, potongan asimetris, hingga dress yang diolah untuk menciptakan efek dramatis ketika tubuh mulai bergerak. Busana tidak lagi diam, seperti rancangan Ferragamo yang mengeksplorasi layering dengan siluet yang mengikuti ritme tubuh.
Kemudian, desainer seperti Saint Laurent dan Giorgio Armani menghadirkan satin dengan sentuhan yang lembut dan personal. Satin ini terasa sangat dekat dengan tubuh, seperti menjadi bagian dari tubuh itu sendiri. Siluetnya lebih lentur dan memberi ruang bagi tubuh untuk menjadi pusat perhatian. Aksen draperi menciptakan ilusi gerakan yang terus mengalir. Ini memberikan keseimbangan antara kontrol dan kebebasan. Tekstur satin juga memperkaya keseluruhan tampilan busana. Desainer seperti Valentino dan Chanel menghadirkan detail yang bukan hanya sekedar dekorasi, tapi seperti bagian dari dimensi busana itu sendiri.
Dari TEKSTUR hingga RIASAN, GLAMORAMA menemukan WUJUD barunya yang lebih MENYATU.
Saat ini, runway tidak lagi memisahkan busana dan riasan. Keduanya hadir dalam satu kesatuan yang saling melengkapi. Tren kulit luminous menjadi refleksi dari satin yang halus. Highlight juga menangkap cahaya seperti perpanjangan dari sequins. Tata rias wajah kini lebih beragam, dari yang nyaris tak terlihat hingga yang penuh pernyataan. Kulit sehat dengan kesan “no makeup” berdampingan dengan lipstik bold dan riasan mata yang lebih dramatis. Ini menghadirkan evening beauty look yang lebih fleksibel. Smokey eyes, shimmer, dan kilau pada wajah kini tidak lagi terasa berlebihan. Justru, semuanya menyatu dengan keseluruhan tampilan. Kali ini, yang terasa berbeda bukan hanya tampilannya, tapi juga cara glamor itu hadir. Glamor tidak lagi muncul sebagai sesuatu yang berlebihan atau hanya milik momen tertentu. Kini, glamor menjadi bagian dari ritme keseharian. Ada pergeseran dari sekadar “ingin terlihat” menjadi keinginan untuk “benar-benar hadir". Glamorama menjadi lebih personal dan tidak lagi seragam. Setiap individu dapat memaknai glamor dengan caranya sendiri.
BACA JUGA:
Cosplay Sudah Ketinggalan Zaman, Perkenalkan Moss-play
10 Desainer yang Menempatkan Tubuh sebagai Pusat Karyanya
