Banyak hal telah berubah sejak terakhir kali New York Knicks melaju ke Final NBA. Pada musim 1999, tim yang diperkuat oleh Patrick Ewing, Allan Houston, dan Latrell Sprewell berhasil menjuarai final Eastern Conference. Saat itu, deretan selebriti yang memenuhi bangku penonton turut menjadi sorotan, termasuk John F. Kennedy Jr., hanya sebulan sebelum kecelakaan pesawat yang merenggut nyawanya.
Tahun tersebut juga diwarnai berbagai kemajuan teknologi dan kepanikan global menjelang Y2K. Dunia menyaksikan peluncuran ponsel pertama dari BlackBerry, persidangan pemakzulan Bill Clinton, serta perilisan film-film yang kemudian menjadi karya klasik ikonis seperti 10 Things I Hate About You dan The Matrix.
BACA JUGA: Tak Ada yang Mengoleksi Couture Seperti Azzedine Alaïa
Dari sisi fashion, tampilan di atas runway, tentu saja, terlihat sangat berbeda. Seorang desainer muda yang dikenal berani dan kontroversial, Lee Alexander McQueen, saat itu menjabat sebagai direktur kreatif Givenchy, sementara John Galliano baru memasuki tahun ketiganya memimpin Dior. Media fashion kala itu banyak menyoroti jajaran direktur kreatif dan model yang mendominasi industri. Namun di luar halaman majalah-majalah glossy, akses terhadap informasi maupun dokumentasi koleksi musiman masih sangat terbatas. (Dunia harus menunggu satu tahun lagi sebelum Style.com mulai membagikan foto-foto peragaan busana dari New York, London, Milan, dan Paris secara daring, serta beberapa tahun berikutnya sebelum media sosial memungkinkan live stream berlangsung secara instan.)
Sebagai tahun terakhir sebelum citra koleksi fashion dapat diakses secara daring dan membuka dunia couture serta ready-to-wear kepada audiens yang lebih luas, peragaan busana tahun 1999 masih menyimpan pesona eksklusif yang hanya dipahami oleh segelintir orang. Aura tersebut berpadu dengan antisipasi akan perubahan besar yang segera datang. Di bawah ini, simak 10 koleksi yang mendefinisikan era tersebut, mulai dari karya Tom Ford untuk Gucci hingga rancangan Stella McCartney untuk Chloé.
Alexander McQueen Musim Semi 1999
Dipresentasikan di hadapan teman, pembeli, dan pers, tanpa selebriti, karena kabarnya ia menolak kehadiran Victoria Beckham karena peragaan No. 13 berfokus sepenuhnya pada karya seni itu sendiri. Menggabungkan pengaruh gerakan Arts and Crafts dengan perkembangan teknologi prostetik pasca World War I, koleksi ini menampilkan perpaduan warna-warna netral, material alami, dan siluet menyerupai zirah. Kini, peragaan tersebut paling dikenang melalui penutupnya yang ikonis, ketika Shalom Harlow berputar di atas platform bergerak di antara dua robot yang kemudian menyemprotkan cat hitam dan kuning ke gaunnya. Setelah dilepaskan oleh kedua robot tersebut, Harlow berjalan ke depan audiens dan menampilkan gestur menyerah. McQueen sendiri pernah mengatakan bahwa ini adalah satu-satunya koleksi yang membuatnya menangis.
John Galliano Musim Semi 1999
Untuk musim Semi 1999, model-model John Galliano didorong untuk menari, berakting, dan mengekspresikan emosi mereka di atas runway. Melangkah di antara model pria yang berbaring hanya mengenakan sehelai kain, mereka tampil dalam balutan tekstil mewah dan gaun sutra bias-cut yang terinspirasi dari Romawi Kuno serta lukisan karya Lawrence Alma-Tadema. Palet warna yang kaya berpadu dengan material tipis dan ringan, sementara riasan bernuansa dramatis serta kaki tanpa alas menyempurnakan keseluruhan koleksi.
Dengan semangat grunge, sentuhan vintage, serta perspektif yang muda dan feminin, Anna Sui menjadi salah satu sosok yang mendefinisikan era 1990-an. Begitu besarnya pengaruh tersebut, hingga 25 tahun setelah dekade itu berakhir, terbit buku berjudul The Nineties × Anna Sui yang didedikasikan untuk warisannya. Untuk koleksi Musim Semi 1999, model-model seperti Naomi Campbell, Karen Elson, dan Maggie Rizer tampil di runway membawa tas berbentuk keranjang piknik, mengenakan celana pendek dan rok patchwork, denim bersulam, serta kaus grafis.
Jean Paul Gaultier Musim Semi 1999
Koleksi Musim Semi 1999 dari Jean Paul Gaultier meminjam estetika dari berbagai budaya, dengan inspirasi yang berasal dari tailoring Jepang dan patung-patung Yunani-Romawi. Mulai dari gaun sheath sutra hitam-putih bermotif trompe l'oeil berbentuk patung hingga interpretasi kimono yang kini dapat dipandang sebagai apropriasi budaya, koleksi ini menghadirkan pendekatan yang teatrikal dan berani. Tak heran, 27 tahun kemudian, koleksi tersebut masih terus menjadi perbincangan.
Gucci Musim Semi 1999 oleh Tom Ford
Mengusung semangat Summer of Love, koleksi Musim Semi 1999 karya Tom Ford untuk Gucci menghadirkan interpretasi mewah dari gaya hippie. Koleksi ini tampil cerah, berani, eklektik, dan penuh semangat, dengan deretan motif floral yang vibrant, jaket kulit, denim berhiaskan detail dekoratif, hingga bikini berpotongan minim.
Prada Musim Semi 1999
Mengambil berbagai klise dari tren hippie yang saat itu tengah populer lalu membalikkannya secara tak terduga, Miuccia Prada menghadirkan koleksi Musim Semi 1999 yang bermain dengan ironi dan dekonstruksi. Aplikasi cermin pecah, tas pinggang, serta nuansa sporty yang kuat menjadi elemen yang mendominasi runway. “Pada saat itu terjadi kebangkitan gaya hippie, sehingga seluruh koleksi ini merupakan komentar ironis terhadap tren tersebut,” ujarnya beberapa tahun kemudian saat membahas koleksi tersebut dalam pameran Schiaparelli and Prada: Impossible Conversations. “Koleksi saya memuat seluruh klise gaya hippie seperti cermin dan bunga, tetapi pada saat yang sama juga menghancurkannya. Pada kenyataannya, ini adalah koleksi yang paling tidak hippie yang bisa dibayangkan.”
Chloé Musim Semi 1999 dan Musim Gugur 1999 oleh Stella McCartney
Koleksi Stella McCartney untuk Chloé pada 1999 memadukan elemen desain high dan low fashion. Untuk musim semi, sang direktur kreatif mengubah motif-motif playful dan kaus wisata bergambar hasil airbrush menjadi statement pieces mewah yang dipadukan dengan sutra, korset, dan renda. Pada musim berikutnya, ia menghadirkan interpretasi yang lebih musim dingin melalui material beludru, rajut, dan wol. Jubah serta topi bernuansa retro berpadu kontras dengan payet berkilau, atasan transparan, dan motif harimau berhias kristal.
Calvin Klein Musim Semi 1999 dan Musim Gugur 1999
Koleksi Calvin Klein tahun 1999 menghadirkan estetika yang modern, sensual, dan sophisticated. Untuk musim semi, tampilannya mencakup gaun jersey, setelan bernuansa sporty, tank top transparan, dan sentuhan warna-warna cerah. Sementara untuk musim gugur, palet netral, material kulit, dan tailoring yang presisi menjadi fokus utama. Meski sudah tidak bekerja di label tersebut selama tiga tahun, Carolyn Bessette-Kennedy masih identik dengan Calvin Klein, dan tidak sulit untuk memahami alasannya.
Comme des Garçons Musim Gugur 1999
Model-model dalam koleksi Musim Gugur 1999 karya Rei Kawakubo untuk Comme des Garçons melangkah di runway dalam keheningan, membiarkan busana menjadi pusat perhatian. Dan busana-busana tersebut memiliki banyak hal untuk disampaikan. Lapisan tartan yang melingkari bahu, pita berukuran besar yang menghiasi gaun, serta motif geometris yang kontras dengan tailoring abu-abu yang sederhana menghadirkan interpretasi baru atas kode-kode feminitas tradisional dengan energi punk yang kuat.
Chanel Haute Couture Musim Gugur 1999
Dalam koleksi Haute Couture Musim Gugur 1999 untuk Chanel, yang berada di pertengahan masa kepemimpinan kreatifnya selama 36 tahun, Karl Lagerfeld menghadirkan interpretasi baru atas kode-kode khas rumah mode tersebut, terutama setelan berpotongan rileks dan little black dress. Karen Elson tampil mengenakan gaun quilted merah bervolume, Naomi Campbell berjalan dalam set rajut crochet, sementara Devon Aoki menutup peragaan dengan jubah putih berpenutup kepala.
Louis Vuitton Musim Gugur 1999 oleh Marc Jacobs
Koleksi pertama Marc Jacobs untuk Louis Vuitton debut pada musim Gugur 1998. Setahun kemudian, ia mempersembahkan koleksi musim gugur yang berfokus pada tas berukuran besar. Menghadirkan deretan supermodel di runway, Jacobs mendandani nama-nama seperti Naomi Campbell, Karen Elson, Gisele Bündchen, dan Stella Tennant dengan rajutan klasik dan aksesori berwarna cerah berukuran besar.
Dior Haute Couture Musim Gugur 1999 oleh John Galliano
Koleksi Haute Couture Musim Gugur 1999 karya John Galliano untuk Dior terinspirasi oleh The Matrix, romantisisme, dan gagasan tentang "kejahatan". Model-model melangkah di runway Versailles mengenakan tampilan bak pejuang, aksesori berbentuk kepala hewan, serta untaian mutiara yang mewah. Sebagian historis dan sebagian futuristis, koleksi ini terasa ganjil, fantasi, dan dramatis. Semua elemen yang diharapkan dari sebuah koleksi couture. Tak kalah menarik, koleksi Haute Couture Musim Semi 1999 Galliano untuk Dior juga mencuri perhatian berkat sentuhan surealisme yang mewah dan detail kostum yang playful.
BACA JUGA:
Semua Penampilan Selebriti dari Paris Couture Fashion Week 2026
Di Paris, Barisan Depan Peragaan Chanel Haute Couture di Penuhi Deretan Selebritas Ternama
(Penulis: Sophie Wang; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
- Tag:
- Haute Couture
- Fashion
- Runway
- NBA
- Knicks
