Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Film-Film Sepak Bola Terbaik untuk Ditonton Saat Demam Piala Dunia Melanda

The Beautiful Game tak hanya melahirkan pertandingan yang memikat, tetapi juga deretan film yang tak kalah menghibur.

Film-Film Sepak Bola Terbaik untuk Ditonton Saat Demam Piala Dunia Melanda
Courtesy of Bazaar US

Sepak bola, fútbol, calcio, atau “The Beautiful Game” seperti yang pernah dipopulerkan legenda Brasil, Pelé, apa pun sebutannya, olahraga ini selalu berhasil menyita perhatian dunia setiap empat tahun sekali lewat Piala Dunia FIFA. Antusiasme yang menyelimuti turnamen ini tentu sulit ditandingi, tetapi apa yang bisa ditonton di sela-sela pertandingan atau setelah turnamen berakhir? Untungnya, sepak bola tidak hanya melahirkan kompetisi empat tahunan atau liga-liga besar dunia, tetapi juga deretan film yang tak lekang oleh waktu, mulai dari drama independen yang intens hingga komedi romantis yang menghibur. Berikut pilihan film sepak bola terbaik versi Bazaar yang layak masuk daftar tontonan Anda.

BACA JUGA: Panduan Film Musim Panas 2026 versi Bazaar

Bend It Like Beckham (2002)

Jesminder “Jess” Bhamra (Parminder Nagra) sangat mencintai sepak bola, meski hal itu membuat kedua orang tuanya yang merupakan penganut Sikh konservatif merasa tidak senang, walau penolakan tersebut sama sekali tidak menghentikannya. Jules, yang diperankan Keira Knightley, melihat bakat alami Jess dan membujuknya untuk bergabung dengan tim lokal Hounslow Harriers di bawah arahan pelatih Joe, karakter yang diperankan Jonathan Rhys Meyers. Jess pun berpura-pura menjalani pekerjaan musim panas sambil menyembunyikan bakatnya dari kedua orang tuanya yang sangat mengontrol. Film klasik yang kerap menjadi pilihan saat sleepover ini bukan sekadar rom-com yang seru, tetapi juga mengangkat ketegangan lintas budaya serta percakapan tentang gender dan seksualitas. Bend It Like Beckham merupakan kisah coming-of-age yang hangat, optimistis, dan tak lekang oleh waktu tentang bertahan pada passion Anda serta berani mengejar mimpi.

Onda Nova (1983)

Selama 40 tahun, kediktatoran militer di Brasil melarang perempuan bermain sepak bola dan baru kembali mengizinkan pembentukan liga resmi perempuan pada 1983. José Antonio Garcia dan Ícaro Martins menyutradarai Onda Nova di tengah perubahan politik dan sosial negara tersebut sebagai bagian dari “Desire Trilogy” karya mereka. Sempat dilarang sebelum dirilis, film ini kerap dikaitkan dengan fenomena pornochanchada yang mendominasi Brasil pada 1970-an, sebuah subgenre komedi seks yang eksentrik. Lewat film ini, kedua sutradara mengikuti kisah klub sepak bola fiktif Gayvotas Football Club yang seluruh anggotanya perempuan saat mereka menghadapi persaingan sengit dan penolakan dari kalangan konservatif, sambil kerap tampil dalam kostum-kostum mencolok. Restorasi 4K yang dilakukan baru-baru ini pun turut menghidupkan kembali warisan film olahraga queer yang nyaris terlupakan ini.

Offside (2006)

Sutradara asal Iran, Jafar Panahi, memutuskan untuk membuat Offside setelah putrinya menentang hukum di Iran yang melarang perempuan menghadiri pertandingan sepak bola pria. Panahi, yang dikenal lewat film-film bernuansa politik seperti This Is Not a Film (2011) dan It Was Just an Accident (2025), mengikuti sekelompok gadis tanpa nama yang berusaha melakukan hal serupa seperti putrinya. Mereka menghadapi berbagai hambatan yang menjengkelkan saat mencoba masuk ke pertandingan babak kualifikasi Piala Dunia 2006 antara Iran dan Bahrain. Panahi memastikan seluruh aturan absurd dan kebiasaan eksklusif tersebut mendapat sorotan tajam, lalu merangkumnya menjadi salah satu filmnya yang paling optimistis sejauh ini, meski tetap sarat urgensi politik. Di sepanjang film, para gadis itu terlihat mendukung Iran dengan semangat patriotik, meski hidup mereka berada di bawah kendali pemerintahan yang diktator.

She’s the Man (2006)

Amanda Bynes membintangi She’s the Man, sebuah interpretasi nyeleneh dari The Twelfth Night karya Shakespeare, sebagai Viola Hastings, remaja pecinta sepak bola yang merupakan pemain andalan tim putri di sekolahnya. Namun, ketika sekolah membubarkan tim tersebut dan pelatih tim putra bahkan menolak memberinya kesempatan untuk mengikuti seleksi, Viola mengambil langkah yang menurutnya paling masuk akal: menyamar sebagai saudara laki-lakinya, Sebastian, lalu menggantikan posisinya di sekolah asrama bergengsi demi bisa bermain di tim putra. Film ini kerap disebut sebagai salah satu film sepak bola terbaik yang pernah dibuat, dengan Amanda dan Channing Tatum, yang memerankan kapten tim, sama-sama menunjukkan kemampuan komedi mereka secara maksimal.

Gregory’s Girl (1981)

Sepak bola menjadi latar dalam kisah coming-of-age asal Inggris yang dicintai banyak orang, Gregory’s Girl. Masalahnya, tim sepak bola tempat Gregory Underwood (John Gordon Sinclair) bermain memang sangat buruk. Ketika pelatih membuka kesempatan bagi pemain baru, ia justru dikejutkan oleh kehadiran Dorothy (Dee Hepburn), pemain sepak bola yang karismatik dan sangat berorientasi pada kemenangan, yang kemudian mengambil posisi Gregory sebagai center forward dan, ya, kebetulan juga seorang perempuan. Sutradara asal Skotlandia, Bill Forsyth, yang dikenal lewat Local Hero (1983) dan Comfort and Joy (1984), mengikuti upaya Gregory yang kikuk dalam mendekati sang penyerang baru dalam kisah romansa yang manis, meski sesekali terasa usang.

When Saturday Comes (1996)

Suatu hari Anda masih minum bir di pub setelah seharian bekerja kasar, lalu keesokan harinya mendadak menjadi bintang di lapangan sepak bola. Itulah yang dialami Jimmy Muir, karakter Sean Bean dalam When Saturday Comes, sebuah alegori Inggris yang muram, ganjil, tetapi pada akhirnya tetap optimistis tentang perjalanan seorang pria kelas pekerja menuju kejayaan, lewat alur penebusan yang cukup lugas. Jimmy bermimpi naik dari liga lokal menuju Sheffield United, tim kampung halamannya, setelah ia menarik perhatian seorang pencari bakat yang diperankan Pete Postlethwaite dan membuat semua mimpinya seolah menjadi nyata. Meski begitu, When Saturday Comes tidak menggambarkan proses tersebut sebagai sesuatu yang mudah. Kita melihat Jimmy berhadapan dengan berbagai sisi gelap dalam dirinya, terutama kebiasaan minum dan perselingkuhan, hingga akhirnya ia mampu bertahan dan menemukan kesempatan untuk meraih keberhasilan.

Shaolin Soccer (2001)

Jika Anda pernah berpikir bahwa para ahli bela diri lincah yang melompat ke sana kemari dalam film seperti Hero atau Crouching Tiger, Hidden Dragon akan menjadi atlet olahraga yang luar biasa, maka Shaolin Soccer adalah film untuk Anda. Komedian Hong Kong Stephen Chow menggunakan hampir semua elemen khas film laga bela diri klasik dalam Shaolin Soccer, mulai dari adegan slow-motion, aksi dengan wire stunt, hingga sosok penjaga gawang yang mungkin menjadi salah satu yang terbaik di layar lebar. “Golden Leg” Fung, mantan pemain sepak bola yang dulu dipuja tetapi kini diremehkan, ingin membalas dendam kepada mantan rekan setimnya, Hung, dan Team Evil. Kesempatan itu datang ketika ia bertemu Sing (yang diperankan Stephen Chow), seorang ahli kung fu yang mempromosikan penerapan seni bela diri dalam kehidupan nyata, dan menawarkan solusi sempurna: membentuk tim pemain sepak bola yang terdiri dari para pendekar Shaolin. Hasilnya benar-benar brilian. Anda tidak akan percaya betapa halusinatif dan konyolnya pertandingan-pertandingan sepak bola dalam film ini sebelum menontonnya sendiri.

The Damned United (2009)

Terkadang, drama sesungguhnya justru terletak pada kekacauan birokrasi di balik layar dunia sepak bola. Hal itu terlihat dalam The Damned United karya Tom Hooper, yang mengadaptasi buku David Peace, sebuah kisah semi-fiktif tentang masa jabatan Brian Clough yang penuh gejolak sebagai manajer Leeds United Football Club. Dalam kehidupan nyata, Clough berkali-kali meraih kesuksesan, baik sebagai penyerang maupun kemudian sebagai pelatih Derby County dan Nottingham Forest. Namun, Hooper, sutradara pemenang Oscar di balik The King’s Speech, tidak terlalu menyoroti deretan keberhasilan legendaris tersebut. Sebaliknya, ia memilih berfokus pada kegagalan terbesar Clough, yaitu masa 44 hari sebagai manajer pada 1974 yang dibayangi rasa iri obsesif terhadap manajer tim sebelumnya, Don Revie. Sebagai kisah tentang rivalitas pahit di luar lapangan, The Damned United hadir sebagai biopic yang langka, karena hampir sepenuhnya tertarik pada sisi-sisi rapuh dari sosok yang justru berhasil di bidang lain dalam hidupnya.

Fever Pitch (1997)

Seberapa sering sepak bola mengganggu urusan percintaan? Jika harus menebak, jawabannya adalah sangat sering. Bahkan, sangat-sangat sering. Itulah premis salah satu rom-com Inggris yang sering terlewatkan, Fever Pitch, yang dibintangi Colin Firth sebagai Paul Ashworth, penggemar fanatik Arsenal yang sehari-harinya bekerja sebagai guru sekolah. Kekasihnya, Sarah (Ruth Gemmell), sama sekali tidak peduli pada sepak bola, sebuah perbedaan besar yang menjadi sumber keretakan dalam hubungan mereka, terutama ketika suasana hati Paul ikut naik turun mengikuti musim Arsenal 1988–89 yang penuh gejolak. Film ini diadaptasi secara longgar dari memoar Nick Hornby dengan judul yang sama. Ia juga merupakan penulis About a Boy dan High Fidelity, jadi kualitas ceritanya tentu tidak perlu diragukan lagi.

Kicking and Screaming (2005)

Will Ferrell memerankan Phil Weston, seorang pelatih sepak bola yang kikuk dan selama bertahun-tahun harus menghadapi sorotan serta pola asuh ayahnya yang terlalu kompetitif, Buck, yang diperankan oleh Robert Duvall. Di tengah segala keterbatasan, Phil berhasil membawa Team Tigers, sekelompok anak-anak yang bahkan lebih ceroboh darinya, menuju kesuksesan. Memang, film ini pada dasarnya tetap mengikuti formula klasik tentang menaklukkan berbagai rintangan, tetapi Ferrell, Duvall, dan seluruh jajaran pemain tampil total dalam film konyol ini, sehingga menghadirkan tontonan yang mampu mengundang tawa untuk seluruh keluarga.

BACA JUGA:

Apa Itu "Film Hari Ayah"?

Semua Informasi Seputar Olimpiade Paris 2024!

(Penulis: Maxwell Rabb; Artikel ini disadur dari: Bazaar US; Alih bahasa: Naila Asmat; Foto: Courtesy of Bazaar US)