Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Cara Desainer Global dan Lokal Menghidupkan Busana

Mode tidak lagi bicara soal pakaian yang kaku. Musim ini, rancangan para desainer dunia berfokus pada fleksibilitas gerak tubuh untuk mengekspresikan emosi terdalam sang pemakai.

Cara Desainer Global dan Lokal Menghidupkan Busana
Layout by Mohammad Somad

Ada daya pikat tersendiri saat melihat sepotong busana tidak hanya melekat di tubuh, tapi ikut "bernapas" dan berayun mengikuti langkah kaki. Fenomena visual inilah yang menjadi bintang utama di panggung pamer koleksi Spring/Summer 2026, baik di ranah global maupun industri mode tanah air.

BACA JUGA: Mengenal Tren "Ungu Terong", Warna Musim Panas yang Wajib Anda Punya

Bukan lagi soal siluet statis yang sekadar cantik di foto, tren kali ini digerakkan oleh satu hal: keinginan untuk tampil lebih dinamis lewat pakaian yang terasa organik, para desainer kini melangkah lebih jauh. Mereka merancang pakaian sebagai sebuah pengalaman kinetik berupa karya yang baru benar-benar "hidup" ketika berinteraksi dengan gerakan tubuh, pantulan cahaya, dan ruang di sekitarnya.

Menariknya, tren global ini beresonansi kuat dengan eksplorasi para perancang busana di Indonesia. Lewat pendekatan yang puitis dan intim, desainer lokal berhasil mengolah tekstil dan struktur pakaian menjadi sebuah karya eksperimental. Hasilnya? Busana yang tidak hanya sedap dipandang, tetapi juga terasa emosional saat dikenakan.

Alaïa
Spring/Summer 2026

Manifestasi paling nyata dari tren ini lahir lewat teknik fluid draping yang dieksplorasi secara brilian oleh para raksasa mode dunia. Alaïa, misalnya, menampilkan pendekatan yang presisi sekaligus sensual; material kain dirancang memeluk lekuk tubuh dengan ketegangan yang terkontrol, lalu melonggar secara anggun saat bergerak hingga menciptakan efek dramatis seperti napas yang mengalir. 

Sementara itu, di panggung lain, Alexander McQueen dan Chloé memilih membawa teknik ini ke ranah yang lebih teatrikal. Lewat detail lipatan yang sengaja "ditarik" dan dilepas, kedua rumah mode ini sukses menciptakan tensi visual dinamis yang terus berubah secara magis seiring langkah kaki pemakainya.

Sentuhan fluiditas yang menghipnotis ini ternyata diterjemahkan tak kalah apik di panggung lokal oleh desainer berbasis di Indonesia, Magali Pascal. Terinspirasi dari ritme musik, koleksi terbarunya seolah "memaksa" sang pemakai untuk terus bergerak bebas mulai dari berjalan mantap hingga menari. Alhasil, busana yang dikenakan menjelma menjadi siluet hidup yang terus bertransformasi dan mencuri perhatian di setiap ayunan langkah. 

Magali Pascal
Spring/Summer 2026

Strategi lain untuk membangun ritme visual hadir lewat permainan asymmetric hemlines. Balmain menghadirkan potongan asimetris yang tegas dan arsitektural, sementara Loewe memilih sentuhan dekonstruktif yang membuat ujung pakaian tampak terus "hidup" dan dinamis saat bergerak.

Di panggung lokal, Sapto Djojokartiko mengolah elemen asimetri ini secara lebih lembut. Perbedaan panjang kainnya menciptakan ayunan halus yang elegan tanpa kehilangan keanggunan. Pendekatan ini tampil lebih kontemplatif lewat Ateliê Mão de Mãe, yang secara magis menyulap material rajut berat menjadi pakaian yang terasa ringan dan adaptif mengikuti ruang. 

Ateliê Māo de Māe
Spring/Summer 2026

Eksplorasi gerakan ini ditutup indah oleh tren bias-cut dresses. Teknik potong diagonal ini membuat kain jatuh alami mengikuti anatomi tubuh, menciptakan siluet intim yang bertransformasi magis di setiap langkah. Sebagai alternatif, teknik lightweight layering hadir menawarkan dimensi yang lebih puitis. Etro memamerkan seni tumpuk transparan kaya motif yang menciptakan kedalaman visual dinamis saat pemakainya berjalan.

Sementara itu, Ikat Indonesia oleh Didiet Maulana membawa pendekatan minimalis lewat keseragaman bahan dan warna. Tanpa perlu tampil heboh, dinamika gerakan lahir secara subtil lewat volume kain yang mengembang dan mengempis halus seiring tubuh bergerak. 

Ikat Indonesia

Pertemuan visi antara panggung global dan desainer Indonesia musim ini melahirkan satu kesimpulan penting, yaitu mode kontemporer telah memasuki era baru. Pakaian kini dipandang sebagai entitas performatif, bukan lagi sekadar kain pasif yang membungkus tubuh. Lewat deretan koleksi dinamis ini, industri fashion sepakat bahwa sebuah busana baru benar-benar hidup dan bermakna ketika "diaktifkan" oleh gerakan serta energi sang pemakai.

BACA JUGA:

Satin Sempat Mendominasi, Kini Saatnya Celana Taffeta Jadi Sorotan

Alasan Jam Tangan Berukuran Mini Kembali Naik Daun

Baca artikel Bazaar yang berjudul "Busana yang Hidup" yang terbit di edisi cetak Harper's Bazaar Indonesia - Mei 2026; Penulis: Geofanny Tambunan; Disadur oleh: Emma Maryjade.