Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Menelusuri Warisan Yves Saint Laurent Lewat Lensa Fotografi

Pameran baru di International Center of Photography mengungkap hubungan erat sang desainer legendaris dengan dunia fotografi

Menelusuri Warisan Yves Saint Laurent Lewat Lensa Fotografi
Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Sedikit hal yang mampu merepresentasikan warisan Yves Saint Laurent sekuat foto karya Helmut Newton pada 1975 yang menampilkan salah satu setelan “Le Smoking” paling ikonik miliknya. Dalam foto hitam-putih tersebut, model Vibeke Knudsen berdiri di jalanan Paris pada malam hari mengenakan setelan garis-garis, dengan rambut disisir rapi ke belakang dan sebatang rokok menggantung santai di tangannya. Gambar itu menangkap esensi rumah mode yang dibangun Yves Saint Laurent melalui perpaduan androgini yang provokatif sekaligus elegan. Namun, meski menjadi salah satu yang paling terkenal, foto tersebut bukanlah satu-satunya karya yang berhasil mendefinisikan identitas tersebut.

BACA JUGA: Saint Laurent Menjadi Penyelenggara Pameran Fotografi di Beberapa Kota Besar Dunia

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Helmut Newton, Rue Aubriot, setelan celana yang dikenakan Vibeke Knudsen, koleksi haute couture Fall/Winter 1975

Mulai dibuka hari ini, International Center of Photography (ICP) menghadirkan pameran Yves Saint Laurent and Photography yang mengeksplorasi bagaimana fotografi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan rumah mode asal Prancis tersebut. Yves Saint Laurent, salah satu nama paling berpengaruh dalam sejarah mode, menjalin hubungan erat dengan sejumlah fotografer ternama yang tidak hanya menginspirasinya, tetapi juga membantu membangun identitas visual yang kini begitu melekat pada namanya. Melalui rangkaian foto dan arsip bersejarah, pameran ini memperlihatkan hubungan simbiotik antara busana, karakter, dan citra visual yang pada masanya terasa sangat visioner.

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
James Moore, model koleksi haute couture Spring/Summer 1966. Dipublikasikan di Harper’s Bazaar, Maret 1966

Pameran yang digelar hasil kerja sama dengan Musée Yves Saint Laurent Paris dan Fondation Pierre Bergé ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama menghadirkan perjalanan kronologis melalui berbagai foto, mulai dari dokumentasi editorial koleksi-koleksi Yves Saint Laurent hingga potret sang desainer sendiri. Yves termasuk salah satu desainer pertama yang secara aktif menempatkan dirinya sebagai wajah dari brand yang ia bangun. Sementara itu, bagian kedua menghadirkan lebih dari 200 objek arsip dari koleksi Musée Yves Saint Laurent Paris, termasuk halaman majalah, contact sheet, buku catatan iklan, kliping pers, hingga foto-foto pribadi. Direktur kreatif ICP, David Campany menyebut bagian ini sebagai sebuah “cabinet of curiosities.

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Irving Penn, Yves Saint Laurent, Paris, 1957

Pengunjung akan diajak menyusuri karya-karya fotografer legendaris seperti Richard Avedon, Cecil Beaton, Guy Bourdin, Robert Doisneau, Horst P. Horst, William Klein, Annie Leibovitz, Steven Meisel, Duane Michals, Helmut Newton, James Moore, Irving Penn, David Seidner, dan banyak lainnya. Dalam salah satu karya awalnya bersama Yves Saint Laurent, William Klein bermain dengan teknik eksposur sehingga menciptakan efek garis bercahaya di sekeliling model yang mengenakan setelan rok merah dan topi senada pada foto tahun 1962. Sementara itu, foto hitam-putih karya James Moore pada 1966 menampilkan model-model bertubuh jenjang dalam gaun shift bermotif chevron yang menonjolkan garis-garis mod khas era 1960-an. Bettina Rheims juga banyak mendokumentasikan suasana di balik panggung peragaan busana Yves Saint Laurent sepanjang dekade 1980-an yang beberapa kali muncul dalam pameran ini. Potret sang desainer pun beragam, mulai dari karya sederhana namun kuat milik Irving Penn pada 1957 hingga foto Patrick Demarchelier pada 2004 yang memperlihatkan Yves Saint Laurent di penghujung kariernya dengan latar industrial yang kontras.

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Busana yang dikenakan Edia Vairelli, koleksi Haute Couture Spring/Summer 1982, Paris

“Jarang sekali ada desainer yang pendekatannya mampu mengakomodasi begitu banyak gaya fotografi yang berbeda,” ujar David Campany. Menurutnya, meski Yves Saint Laurent memiliki beberapa fotografer favorit seperti Irving Penn yang mendampinginya selama bertahun-tahun, fakta bahwa ia juga bekerja dengan nama-nama seperti Jurgen Teller, Frank Horvat, hingga Patrick Demarchelier menunjukkan adanya ruang kebebasan dalam desain-desainnya yang memungkinkan setiap fotografer menemukan interpretasi mereka sendiri.

Lahir di Aljazair pada 1936, Yves Saint Laurent memulai kariernya di Paris sebagai asisten Christian Dior. Setelah wafatnya Monsieur Dior pada 1957, ia dipercaya memimpin rumah mode tersebut pada usia 21 tahun. Bersama Pierre Bergé, Yves kemudian mendirikan labelnya sendiri pada 1960. Rumah mode ini dikenal karena keberaniannya mengadaptasi busana maskulin seperti setelan celana dan trench coat menjadi siluet yang lebih feminin, seperti yang banyak terlihat dalam foto-foto karya Helmut Newton. Identitas yang begitu kuat itulah yang membuat karya-karyanya terus mengundang interpretasi kreatif, termasuk melalui lensa para fotografer mode terbesar di dunia yang kini ditampilkan dalam pameran ini.

Yves Saint Laurent and Photography dapat dikunjungi di International Center of Photography, New York.

BACA JUGA:

John Hardy Hadirkan Pameran Fotografi Bertajuk Transitions

Menilik Koleksi Fotografi dari Karl Lagerfeld

(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)