Dua musim dingin lalu, seorang pemilik toko di Atlantic Avenue, Brooklyn, menarik perhatian saya lewat penampilannya. Ia mengenakan kardigan rajut hitam tebal yang disatukan oleh sebuah peniti berukuran besar. Peniti itu menyelip di antara rajutan dan menciptakan siluet yang sedikit asimetris. Rambut abu-abunya dipotong pendek tepat di atas kerah sweater, sementara perhiasannya tampak minimal. Ia terlihat sangat keren. Malam itu juga saya langsung membuka Etsy. Pasti ada aksesori seperti ini yang mudah ditemukan, pikir saya.
BACA JUGA: Apakah Dunia Fashion Sekarang Menjadi "Lebih Jujur"?
Ternyata benar. Saya berhasil menemukan versi yang mirip, meski tidak persis sama, dengan harga kurang dari lima dolar. Namun semakin lama mencari, semakin banyak variasi yang saya temukan. Belakangan ini, ketertarikan saya pada peniti kembali muncul berkat maraknya bros di media sosial dan berbagai runway musim semi maupun musim gugur. Chanel! Tory Burch! Armani! Semuanya menampilkannya. Saya juga mulai melihat banyak desainer kontemporer yang menafsirkan ulang peniti klasik menjadi aksesori modern. Ilaria Icardi menciptakan liontin berbentuk peniti dari emas 18 karat. Chan Luu karya Tessa Tran menghadirkannya sebagai bros berhias charm. Sementara Anita Ko mempercantik versi antingnya dengan taburan berlian.
“Saya senang menemukan keindahan dalam benda-benda sehari-hari, dan peniti adalah salah satu benda yang sederhana sekaligus sangat fungsional,” tulis Ilaria kepada saya melalui email. Selain memiliki lini perhiasannya sendiri, ia juga menjabat sebagai Head of Womenswear Design di Prada. Ia selalu membawa peniti untuk alasan praktis, dan kini mengenakan desain emas buatannya baik sebagai liontin maupun bros. “Peniti menyatukan berbagai hal dan bisa dikenakan dengan banyak cara, sehingga terasa sangat personal bagi setiap orang.”
Tentu saja, peniti memiliki sejarah yang menarik, berakar pada fungsi praktis sekaligus budaya tandingan. Desain awalnya, yang terdiri dari lilitan kawat di satu sisi dan pengunci di sisi lainnya, dipatenkan pada tahun 1849. “Pengait ajaib” ini membuat pengunci dan jarum yang sebelumnya dibuat dari material lebih mahal menjadi jauh lebih mudah diakses. Peniti kemudian menjadi benda sederhana yang digunakan tentara, pelaut, hingga para ibu rumah tangga, terutama pada masa perang.
Salah satu akun Instagram favorit saya adalah milik Luca di Stanio, yang juga bekerja sebagai desainer di Prada. Ia kerap mengenakan liontin peniti di kalungnya, menyelipkannya bersama kacamata hitam di atas kaus, menggunakannya untuk merapatkan kerah mantel, atau menggantungkannya pada lubang kancing trench coat. “Berbeda dari bros antik, peniti memiliki karakter yang sangat modern, tetapi tetap menyimpan kedekatan emosional dan makna personal sebuah aksesori,” ujarnya melalui DM. Ia memiliki versi emas karya Icardi dan satu lagi versi perak yang dihiasi batu zamrud cabochon vintage Cartier dari era 1950-an. Keduanya memberi sentuhan tak terduga pada gaya klasiknya. Namun, sebenarnya apa yang membuat peniti terasa begitu keren?
Sebelum beralih dari benda utilitarian menjadi aksesori mode, peniti merupakan simbol penting dalam ikonografi punk. Pada awal 1970-an, musisi seperti Johnny Rotten dari Sex Pistols dan Richard Hell dari Television melihat ironi dalam fungsi praktis peniti, lalu menggunakannya sebagai tindik tubuh maupun penghias pakaian. Mungkin memang masih memiliki fungsi praktis, karena peniti juga digunakan untuk menyatukan pakaian mereka yang robek. Pada periode yang sama, Vivienne Westwood dan Malcolm McLaren, dua pionir mode punk, mulai memasukkan peniti ke dalam koleksi mereka. Mereka menjual kaus dan celana yang dipenuhi peniti di toko London mereka bernama Sex, tempat Glen Matlock dari Sex Pistols dan Chrissie Hynde, yang kelak memimpin The Pretenders, pernah bekerja sebagai asisten toko.
Johnny Rotten dari Sex Pistols, 1976
Pada 1977, koleksi “Conceptual Chic” karya Zandra Rhodes menampilkan gaun rayon yang sengaja disobek lalu disatukan kembali menggunakan peniti berhias mutiara. Koleksi tersebut menjadi salah satu langkah awal yang membawa aksesori kontroversial ini ke ranah yang lebih elegan. Di tahun yang sama, stylist dan desainer aksesori asal Inggris, Judy Blame, mulai menggunakan peniti dalam karyanya dan mengubah benda sehari-hari tersebut menjadi perhiasan bagi klien seperti Björk.
Zandra Rhodes “Conceptual Chic”
Memasuki akhir 1990-an, desainer seperti Jean Paul Gaultier dan Gianni Versace menggunakan peniti sebagai elemen pengikat yang tidak konvensional pada pakaian mereka. Versace secara terkenal menggunakan peniti emas untuk menyatukan gaun hitam yang dikenakan Elizabeth Hurley saat menghadiri pemutaran perdana Four Weddings and a Funeral pada 1994. Moschino, Balmain, John Galliano, Marc Jacobs, hingga Margiela kemudian turut bereksperimen dengan peniti dalam berbagai koleksi mereka, memberikan sentuhan yang lebih sophisticated sekaligus memperluas daya tarik simbol subversif tersebut. Pada Grammy Awards 2024, Maison Margiela di bawah arahan John Galliano bahkan mengenakan Miley Cyrus gaun yang tersusun dari 14.000 peniti emas. Penampilan itu merujuk pada desain John yang dibuat pada 1997.
Elizabeth Hurley mengenakan Versace, 1994
Dalam beberapa musim terakhir, peniti juga kembali muncul di runway. Michael Rider menyatukan sweater rajut tebal menggunakan peniti raksasa dalam koleksi debut Resort 2026 untuk Celine, mengingatkan saya pada pengalaman pertama melihat aksesori ini. Saat masih memimpin Bally, Simone Bellotti menggunakan versi perak untuk menutup jaket, sementara Tory Burch menyematkan peniti berukuran besar pada rok lilitnya.
Bally Spring 2024
Celine Resort 2026
Tory Burch Fall 2023
Di antara berbagai interpretasi tersebut, peniti yang mudah ditemukan dan sarat makna subversif ini perlahan menjadi lebih komersial. Versi-versi lucunya hadir sebagai anting Claire’s yang pernah dibeli remaja seperti saya sekitar tahun 2008. Namun di balik segala evolusi dan adaptasinya, peniti tetap mempertahankan nuansa underground yang khas. Ada sesuatu yang menarik dari upaya mengangkat benda sederhana ini menjadi objek yang diinginkan, bahkan terasa mewah. Beberapa versi perhiasan desainer bahkan dibanderol lebih dari seribu dolar. Dan yang menarik, benda ini tetap praktis. “Yang hampir tidak bisa saya tolak dari peniti adalah kemampuannya untuk terus diciptakan ulang setiap hari,” kata Luca. “Peniti tidak pernah terikat pada satu identitas. Anda bisa menambahkan objek, mengubah pakaian, menggantungkan charm, kenangan, atau simbol di atasnya, lalu membiarkannya menyatu dengan cara berpakaian Anda sendiri. Peniti akan terus berkembang bersama pemakainya.”
Saya sendiri mungkin tidak langsung memancarkan aura “punk”. Gaya saya lebih condong ke klasik dengan sedikit sentuhan berbeda. Hari ini saya mengenakan set sweater abu-abu dengan sepatu brogue hitam kecil, tetapi rajutan saya disatukan oleh peniti besar yang saya miliki. Aksesori itu membuat tampilan saya tidak terasa terlalu feminin di satu sisi atau terlalu mirip anak laki-laki berusia 12 tahun di sisi lain. Peniti menjadi sentuhan nyentrik yang tidak saya sadari ternyata saya butuhkan.
Dari kiri: Chan Luu Padlock Brooch Yellow Gold; Ilaria Icardi Safety Pin Pendant; Anita Ko Safety Pin 18kt Gold Single Earring
Dari kiri: Catbird Gold Safety Pin Earring; Jil Sander 964 Brooch; Loren Stewart Cirque Safety Pin
BACA JUGA:
Sang Desainer Misterius Martin Margiela Akhirnya Lepas Koleksi Arsipnya
John Galliano Mengumumkan Kemitraan Kreatif dengan Zara
(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
