Zendaya dan Law Roach pernah menghadirkan gaun web untuk Spider-Man dan tampilan bernuansa bridal untuk The Drama, tapi kampanye method dressing terbaru mereka punya akar fashion yang jauh lebih dalam. Dalam The Odyssey karya Christopher Nolan yang tayang pekan ini, Zendaya memerankan Athena, dewi perang dan kebijaksanaan, dan tampilan red carpet-nya untuk promosi film ini benar-benar all-in soal estetika Yunani.
BACA JUGA: Zendaya Menjadikan Sandal Gladiator Sebagai Tren Utama Musim Panas Ini
Dari satu premiere ke premiere berikutnya, ia tampil dalam draping yang rumit, siluet yang bersih, dan palet warna yang didominasi putih. Ada gaun micro-pleated putih dari Trussardi tahun 2006. Ada column dress custom putih dari Jacquemus yang dipadukan dengan anting berbahan cakram kuno dari milenium pertama sebelum Masehi. Untuk satu penampilan double-header, ia mengenakan gaun Valentino dengan bodice daun sutra dan draped skirt, lalu langsung berganti gaun couture Schiaparelli berwarna putih dengan bust berstruktur yang dikirim langsung dari show di hari yang sama. Belum lagi setelan rok putih dramatis dari koleksi couture Givenchy Spring 1997, gaun vintage Alberta Ferretti Spring 2008 dengan sandal gladiator setinggi lutut, hingga gaun katun putih Jacquemus Spring 2027.
Puncaknya adalah tampilan Zendaya untuk premiere New York-nya, yakni gaun berdraperi dari Matières Fécales lengkap dengan sepasang sayap bulu seukuran tubuh manusia. Tampilannya mengacu pada patung ikonik The Winged Victory of Samothrace yang berdiri di Louvre. Makeup-nya berpusat pada blush yang diaplikasikan tebal, seolah ia "terbang terlalu dekat dengan matahari" yang merupakan sebuah referensi ke mitos Ikarus, seperti yang diceritakan makeup artist-nya kepada Bazaar.
Zendaya dalam Alberta Ferretti Spring 2008 dan Zendaya dalam Schiaparelli Fall 2026 Couture.
The Odyssey memang bukan film yang akurat sepenuhnya secara historis, epos yang dikaitkan dengan penyair Yunani Homer ini ditulis berabad-abad setelah peristiwa yang dikisahkannya, dan penuh dengan rekonstruksi yang bebas, belum lagi monster-monster di dalamnya. Kostum filmnya pun demikian. Desainer kostum Ellen Mirojnick dikenal lewat Bridgerton, serial yang sudah terkenal suka mengambil kebebasan artistik soal sejarah. Berdasarkan trailernya, penulis fashion Jeremy Lewis berpendapat bahwa kostum film ini merangkul interpretasi surealis dari Yunani Mykena.
Tampilan press Zendaya pun mengambil kebebasan serupa, dan bagaimana mungkin tidak? Selama satu abad terakhir, dunia fashion sudah berulang kali menginterpretasikan busana Yunani kuno hingga nyaris mustahil untuk menelusuri seberapa dalam referensi Klasik itu tertanam dalam cara kita berpakaian hari ini. Chiton dan peplos, dua gaya tunik khas Yunani kuno yang mungkin langsung terlintas di benak Anda setiap Halloween, sudah sejak lama menetapkan standar busana yang membebaskan tubuh manusia dari kekangan, tanpa memandang gender.
Berikut sekilas perjalanan panjang bagaimana para desainer menginterpretasikan ulang estetika Yunani melalui lensa seni mereka masing-masing.
Membebaskan Tubuh Perempuan di Awal Abad ke-20
Gaun Poiret, Paris, 1927 dan gaun Madeleine Vionnet.
Baru pada awal 1900-an dunia fashion mulai melepaskan diri dari korset sebagai norma busana perempuan. Paul Poiret adalah salah satu pelopornya, dan ia kerap menoleh ke referensi Yunani untuk menciptakan busana berdraperi longgar yang membebaskan tubuh. Yang paling terkenal: ia merancang gaun bergaya Yunani Klasik untuk penari Isadora Duncan pada 1906, membebaskan pinggang dengan lipatan kain yang dibalut dan diikat dengan selempang seperti tali. Mantelnya yang berbentuk cocoon mengambil inspirasi dari siluet Yunani yang berpadu dengan kimono Jepang, menghasilkan siluet yang mengalir tanpa sambungan yang terputus.
Couturier Madeleine Vionnet juga menggunakan siluet Klasik ini untuk "men-de-bonekakan" busana perempuan di era 1920-an dan 1930-an. Ia sering merancang busana dari satu lembar kain tanpa pengait, mengandalkan draperi strategis untuk membentuk gaun-gaun eterealnya yang terinspirasi langsung dari chiton Yunani kuno.
Desainer Venesia kelahiran Spanyol, Mariano Fortuny, dikenal dengan teknik micro-pleating sutranya yang menggunakan panas. Gaun Delphos rancangannya terinspirasi dari chiton seperti yang terlihat pada patung Charioteer of Delphi, dan pernah dikenakan oleh sosialita Italia Marchesa Casati pada 1909.
Era Pertengahan Abad ke-20
Gaun karya Madame Grès, 1964.
Christian Dior memperkenalkan "New Look"-nya di akhir Perang Dunia II, membawa kembali busana yang membatasi tubuh dengan korset, bantalan pinggul dan bahu, serta rok penuh. Di tengah itu, sekelompok desainer baru memilih arah yang berlawanan. Madame Grès adalah salah satunya: couturier yang ahli berdraperi ini menghadirkan gaun jersey bergaya Hellenik dan gaun micro-pleated yang lebih menyerupai patung daripada pakaian karena mengalir mengikuti tubuh, bukan membentuknya.
Jean Dessès, yang lahir dari orang tua Yunani pada 1904, dikenal lewat busana malam yang sangat populer di era 1940-an dan 1950-an. Ia mengambil inspirasi besar dari patung Klasik, mengubah para pelanggannya menjadi dewi-dewi dengan pola pleatwork yang kompleks dalam bahan yang ringan dan halus.
Claire McCardell merevolusi cara perempuan Amerika berpakaian dengan ready-to-wear yang fungsional dan indah mulai 1930-an. Salah satu rancangannya yang inovatif, gaun "Monastic", berbentuk tent longgar dengan pleating berat di bagian tengah yang merupakan sebuah penghormatan yang lebih langsung pada karya Madame Grès.
Jackie Onassis dalam Mary McFadden, 1976 dan gaun Mary McFadden.
Mary McFadden menciptakan dunianya sendiri melalui desain yang terinspirasi dari peradaban kuno, termasuk Yunani Klasik. Ia bahkan menciptakan bahannya sendiri, micro-pleat synthetic charmeuse bernama "Marii," yang ia gunakan untuk gaun-gaun yang terinspirasi dari chiton Yunani kuno.
Allusi Penuh Keceriaan di Akhir Abad ke-20
Sarah Jessica Parker dalam gaun Norma Kamali "Diana" saat syuting ‘And Just Like That’, 2021 dan Versace Spring 1992.
Di akhir abad ke-20, para desainer menginterpretasikan ide-ide Klasik dengan cara yang jauh lebih playful dengan membaliknya atau mengimajinasikannya ulang sepenuhnya. Norma Kamali merancang gaun "Diana"-nya di tahun 1970-an, gaun jersey stretch satu bahu dengan detail ruched yang masih dijual hingga hari ini.
Gianni Versace berasal dari Reggio Calabria, salah satu koloni Yunani pertama di Italia Selatan, dan sejarah kota itu menjadi sumber inspirasi besar baginya. Ia bermain dengan simbolisme Yunani kuno, mengintegrasikan wajah Medusa dan motif Greca ke dalam citra brand di tahun 1980-an, seringkali dengan sentuhan parodis yang menyenangkan.
Koleksi Tribute Memasuki Era 2000-an
Givenchy Spring 1997 Couture dan Jean Paul Gaultier Spring 2006 Couture.
Memasuki milenium baru, para desainer mulai mereferensikan desainer lain yang lebih dulu mereferensikan Yunani kuno. Debut couture Lee McQueen untuk Givenchy Spring 1997 bertajuk "Search for the Golden Fleece,” dengan palet putih dan emas, ia merancang busana untuk dewi-dewi pejuang dengan draperi Hellenik dan simbolisme para Argonaut.
Untuk Spring 2005, Yohji Yamamoto mengangkat karya Madame Grès sebagai tema koleksinya, menginterpretasikan ide-idenya melalui pleatwork yang rumit pada kemeja katun putih dan busana malam sutra.
Jean Paul Gaultier membenturkan elemen busana Yunani kuno dengan arketipe gaya Paris untuk koleksi couture Spring 2006-nya yang menghasilkan gaun-gaun bergaya dewi dengan sabuk rumbai, celana harem yang melayang, dan gaun sutra berlipat yang indah.
Valentino Spring 2016 Couture dan Chanel Resort 2018.
Untuk couture Spring 2016, Maria Grazia Chiuri dan Pierpaolo Piccioli di Valentino mendedikasikan koleksi mereka pada karya Fortuny, khususnya gaun "Delphos"-nya. Karl Lagerfeld mendedikasikan Resort 2018 Chanel untuk Yunani kuno, terinspirasi dari patung Venus di apartemen Coco Chanel di Rue Cambon, dengan set pertunjukan yang mengingatkan pada Akropolis di Grand Palais.
Dolce & Gabbana menggelar koleksi Alta Moda 2019 di Sisilia, memberi penghormatan pada wilayah yang dulu dikenal sebagai Magna Graecia, dengan model-model yang tampil bak nimfa dan pejuang.
Dior Cruise 2022.
Lalu pada 2022, Dior membawa show Cruise-nya langsung ke Athena. Maria Grazia mengubah para modelnya menjadi atlet Athena modern dengan reinterpretasi siluet peplos yang dipadukan dengan sneakers.
Fashion Kontemporer
Vanessa Hudgens dalam sandal gladiator dan Hailey Bieber dalam Saint Laurent di Met Gala 2026.
Hari ini, referensi Yunani sudah begitu menyebar hingga sulit menunjuk satu desainer atau satu momen tertentu. Di era 2010-an, sandal gladiator menjelma menjadi pilihan musim panas yang paling ikonik, dengan tali kulit yang saling mengunci dan kadang memanjang hingga lutut.
Alaïa Spring 2025.
Dalam beberapa tahun terakhir, draperi kembali mendominasi koleksi berbagai brand, dari Loewe milik Jonathan Anderson hingga Dior milik Maria Grazia hingga Alaïa milik Pieter Mulier. Dan di couture Fall 2026, tren ini dilanjutkan oleh Daniel Roseberry di Schiaparelli dan Pierpaolo Piccioli di Balenciaga.
Breastplate pun menjadi tren tak terduga yang terinspirasi Yunani, terutama di red carpet. Met Gala 2026 yang bertema tubuh menghadirkan gaya bodice sekaligus body armor yang dikenakan Kendall dan Kylie Jenner, Hailey Bieber, Yseult, hingga Kim Kardashian. Dan tentu saja, Zendaya sendiri memakainya dalam press tour ini,membawa segalanya kembali ke titik awal.
BACA JUGA:
Zendaya Buktikan Pesona Tanpa Makeup Mata di Premiere Film The Odyssey
Inilah Semua Tampilan Zendaya di Press Tour The Odyssey
(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Elaine Mary; Foto: Courtesy of Bazaar US)
