Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Bvlgari Mendefinisikan Ulang Seni Bentuk di Watches & Wonders 2026

Di tangan Bvlgari, bentuk tak pernah sekadar estetika.

Bvlgari Mendefinisikan Ulang Seni Bentuk di Watches & Wonders 2026

Seorang watchmaker mungkin memulai sebuah jam tangan dari movement. Seorang jeweler mungkin memulainya dari batu permata. Lantas, dari mana Bvlgari memulainya?

Jawabannya tampaknya terletak pada bentuk.

Bukan tanpa alasan The Art of Shape dipilih sebagai benang merah presentasi Bvlgari di Watches & Wonders 2026. Bagi maison asal Roma tersebut, bentuk tidak pernah hadir sebagai hasil akhir sebuah desain. Ia adalah titik berangkatnya. Cara sebuah jam tangan membingkai pergelangan tangan, bagaimana cahaya memantul di atas permukaannya, hingga bagaimana sebuah ikon terus berevolusi tanpa kehilangan identitasnya. Di tangan Bvlgari, watchmaking dan high jewelry memang tak pernah benar-benar berjalan di jalur yang berbeda.

BACA JUGA: Bvlgari Menghidupkan Kembali Gold & Steel Lewat Koleksi Terbaru

Pemikiran tersebut langsung terasa lewat evolusi Octo Finissimo. Menariknya, pembaruan terbesar koleksi ini justru datang dari sesuatu yang nyaris luput dari perhatian yakni tiga milimeter.

Foto: Courtesy of Bvlgari

Setelah bertahun-tahun identik dengan diameter 40 milimeter, kini koleksi tersebut hadir dalam ukuran 37 milimeter. Di balik perubahan yang nyaris tak kasatmata itu, Bvlgari menghadirkan kaliber BVF 100 baru dengan cadangan daya 72 jam serta proporsi yang terasa jauh lebih natural.

Menariknya, ukuran baru tersebut juga menggeser cara Octo Finissimo dipersepsikan. Selama ini, koleksi tersebut identik dengan obsesi terhadap rekor ultra-thin. Tahun ini, narasinya terasa lebih intuitif. Siluet geometris yang terinspirasi arsitektur Romawi tetap dipertahankan, namun kini hadir dalam proporsi yang terasa lebih flexible.

Foto: Courtesy of Bvlgari

Meski demikian, bukan berarti Bvlgari kehilangan selera untuk mendorong batas teknis. Octo Finissimo Ultra Tourbillon Platinum kembali menunjukkan kepiawaian Bvlgari dalam mendorong batas watchmaking melalui flying tourbillon setebal hanya 1,85 milimeter. Yang menarik, perhatian tidak berhenti pada angkanya. Pemilihan platinum, material yang jauh lebih kompleks untuk diolah dibanding titanium, justru memperlihatkan bagaimana desain dan engineering selalu berjalan berdampingan. Skeleton dial bernuansa biru pun menjadi penanda eksklusif yang membedakan edisi ini dari pendahulunya.

Jika Octo Finissimo berbicara tentang penyempurnaan proporsi, maka Serpenti menawarkan percakapan yang sama melalui sudut pandang yang berbeda.

Foto: Courtesy of Bvlgari

Lewat Serpenti Aeterna, Bvlgari tidak lagi bergantung pada kepala ular ataupun detail sisik yang selama ini begitu lekat dengan koleksi tersebut. Yang tersisa hanyalah lengkung, volume, permainan cahaya, dan komposisi 122 batu permata berwarna yang disusun dalam berbagai ukuran serta potongan. Figur ularnya perlahan menghilang, namun esensinya justru semakin terasa. Sebuah pengingat bahwa ikon tidak selalu membutuhkan bentuk literal untuk dikenali.

Foto: Courtesy of Bvlgari

Pendekatan serupa diterjemahkan dengan cara yang berbeda melalui Serpenti Tubogas Studs Capsule. Kali ini, perhatian tertuju pada dialog antara tiga kode desain Bvlgari: Serpenti, Tubogas, dan stud. Detail stud yang diambil dari arsip perhiasan maison menghadirkan karakter baru pada gelang Tubogas yang selama ini identik dengan keluwesannya. Sementara kombinasi gold & steel kembali mempertemukan dua material yang berasal dari dunia berbeda. Yang satu identik dengan kemewahan. Yang lain lahir dari dunia industri. Di tangan Bvlgari, keduanya justru terasa saling melengkapi.

Menariknya, melalui Bvlgari Digital Passport, setiap arloji kini memiliki identitas digital yang dapat diakses kapan saja melalui Datamatrix yang terukir di bagian belakang case. Berbasis teknologi blockchain, fitur ini memungkinkan pemilik menelusuri autentikasi, spesifikasi teknis, hingga kisah di balik proses pembuatannya.

Foto: Courtesy of Bvlgari

Pada akhirnya, yang membuat presentasi Bvlgari di Watches & Wonders 2026 terasa menarik bukanlah jumlah peluncurannya ataupun rekor yang kembali dipecahkan. Melainkan konsistensi sebuah filosofi yang terus terasa relevan dari satu koleksi ke koleksi berikutnya. Bahwa sebuah jam tangan tidak harus memilih antara menjadi instrumen presisi atau sebuah objek desain.

Di tangan Bvlgari, ia selalu menjadi keduanya.

BACA JUGA:
Bvlgari Perkenalkan Eclettica, Babak Baru dalam High Jewelry

Bvlgari Menerjemahkan Perhiasan Jadi Wewangian di Salone Olfattivo Pertama di Asia Tenggara

Foto: Courtesy of BVLGARI

(Edited by SS)