Dalam beberapa tahun terakhir, kata archive telah menjadi bagian tak terpisahkan dari percakapan fashion kontemporer. Peragaan busana dipenuhi referensi “arsip”, gaun karpet merah dipinjam dari “arsip”, dan lelang mode “arsip” kerap mencapai harga fantastis. Namun, arsip tidak selalu dapat diakses dengan begitu mudah. Banyak desainer ternama seperti Jean Paul Gaultier dan Vivienne Westwood, tidak pernah menyimpan arsip pribadi mereka sendiri – meski kemungkinan besar rumah mode mereka melakukannya saat ini. Kecuali satu pengecualian yang istimewa, yaitu arsip Azzedine Alaïa.
BACA JUGA: Evolusi Gaya Taylor Swift Selama Bertahun-Tahun
Mendiang desainer Perancis-Tunisia ini dikenal karena merevolusi cara perempuan berpakaian melalui siluet body-con yang dibuat dari material teknis berteknologi tinggi dan sangat modern. Sejak awal kariernya, Azzedine telah menyimpan arsip seluruh kreasinya, ketika praktik tersebut belum menjadi kebiasaan di industri fashion. Namun, koleksinya jauh melampaui karya-karyanya sendiri. Sepanjang hidupnya, Azzedine mengumpulkan berbagai karya berharga dari para desainer yang ia kagumi, seperti Cristóbal Balenciaga, Christian Dior, Thierry Mugler, dan Madame Grès. (Sebagai perbandingan, Dior baru mulai mengarsipkan karyanya sendiri pada 1987, sementara Azzedine telah mengoleksi karya Dior sejak akhir 1970-an.) Melalui dedikasi tersebut, ia membangun arsip yang begitu luas hingga melampaui koleksi internal yang dimiliki sejumlah desainer dan rumah mode itu sendiri.
La Fondation Azzedine Alaïa, didirikan pada 2007 oleh Azzedine Alaïa, Carla Sozzani, dan Christoph von Weyhe berperan dalam melestarikan sekaligus memamerkan koleksi-koleksi tersebut kepada publik. Sejak 2020, yayasan ini telah menghadirkan empat pameran yang didedikasikan tidak hanya untuk karya para desainer yang begitu dikagumi Azzedine, tetapi juga untuk rancangan Azzedine Alaïa sendiri, sehingga menciptakan dialog antara para maestro tersebut. Pameran terbarunya, “Azzedine Alaïa and Christian Dior, Masters of Couture,” resmi dibuka pada 2025.
Dan seiring pameran ini bersiap ditutup pada akhir Juni mendatang, presiden yayasan, Carla Sozzani, dan direktur Olivier Saillard telah menuangkan katalog pameran tersebut ke dalam sebuah buku yang diterbitkan oleh Damiani Books dan kini telah tersedia untuk dibeli di Amerika Serikat. Bertepatan dengan peluncuran buku tersebut, kami berbincang dengan Carla dan Olivier mengenai warisan Azzedine sebagai seorang perancang busana sekaligus kolektor.
Azzedine Alaïa, Christian Dior. Two Masters of Haute Couture kini tersedia untuk dibeli melalui damianibooks.com./
Apa yang membuat pameran ini istimewa dibandingkan tiga pameran yang telah Anda lakukan sebelumnya?
Olivier Saillard (OS): Perbedaan antara pameran atau katalog ini dibandingkan dengan sebelumnya adalah ketika Azzedine pertama kali datang ke Paris, ia sempat bekerja di Dior selama empat hari saja. Bagi dirinya dapat melangkah memasuki rumah mode tersebut merupakan sebuah impian yang menjadi kenyataan. Meski hanya berada di sana dalam waktu yang sangat singkat, ia menumbuhkan kekaguman yang begitu besar terhadap sang perancang busana sepanjang kariernya. Katalog ini juga menjadi penjelasan tentang perjalanan seorang anak laki-laki yang kemudian tumbuh menjadi seorang perancang busana besar, dengan kekaguman yang luar biasa terhadap Christian Dior.
Sejauh mana pengaruh Dior dapat terlihat dalam karya-karya Azzedine Alaïa, baik secara langsung maupun subtil?
OS: Pada bagian awal pameran, kami menerima sebuah gaun melalui donasi yang kemungkinan merupakan karya tertua Azzedine yang kami miliki. Gaun tersebut berasal dari tahun 1958, dua tahun setelah ia datang ke Paris. Karya itu sangat terinspirasi oleh Christian Dior. Estetikanya sangat selaras dengan gaya Dior. Meski keduanya menghasilkan karya yang sangat berbeda, secara umum ada satu kesamaan bentuk yang menonjol antara Alaïa dan Dior, yaitu penekanan pada garis pinggang yang tegas.
Carla Sozzani (CS): Mereka berkarya pada periode waktu yang berbeda. Karya-karya keduanya seringkali terlihat berbeda, namun keduanya sama-sama merevolusi dunia fashion. Setelah Perang Dunia II, Dior secara terkenal memperkenalkan kembali rok panjang dan siluet dengan pinggang yang terdefinisi. Revolusi yang dibawa Azzedine lahir melalui penggunaan material stretch yang memberikan kebebasan bergerak bagi perempuan. Kesamaan keduanya terletak pada kemampuan mereka menciptakan sesuatu yang luar biasa dan mendefinisikan zamannya masing-masing.
OS: Hal ini mengingatkan saya pada sebuah kalimat yang ditulis Suzy Menkes pada era 1980-an. Ia mengatakan bahwa Azzedine merupakan satu-satunya desainer yang membentuk dekade tersebut. Saya sangat menyukai kutipan tersebut. Azzedine menciptakan era 1980-an sebagaimana Dior membentuk era 1950-an. Namun, perbedaan terbesar antara Dior dan Alaïa terletak pada material yang mereka gunakan. Dalam rancangan Azzedine, ia tidak pernah memerlukan korset di balik busananya. Ia menciptakan sebuah revolusi melalui teknik potong kain, dengan material yang relatif lebih ringan.
Pameran-pameran ini menjadi jembatan yang sangat menarik untuk membahas pelestarian dalam dunia fashion. Azzedine merupakan sosok pelopor dalam hal ini.
CS: Ia adalah yang pertama. Poiret mengoleksi kain, sementara Balenciaga mengoleksi barang antik. Namun tidak ada yang dapat dibandingkan dengan koleksi couture. Yang dikoleksi Azzedine adalah karya-karya para maestro couture. Ia mulai mengoleksi karya Balenciaga pada 1968, dan setelah itu ia tidak pernah berhenti. Bahkan, ia sendiri tidak pernah benar-benar mengetahui berapa banyak koleksi yang ia miliki.
OS: Saya dapat mengatakan dengan yakin bahwa ia adalah, dan hingga kini masih menjadi, kolektor pribadi pertama sekaligus paling terkemuka yang mendedikasikan dirinya pada sejarah fashion. Koleksinya merupakan yang terpenting. Ia membangun sebuah warisan budaya yang sangat berharga bagi Prancis, sekaligus bagi dunia mode secara keseluruhan, melalui ratusan mahakarya yang berhasil ia kumpulkan. Saya kerap bertemu kolektor-kolektor baru, tetapi tidak ada yang dapat menandingi koleksi milik Azzedine.
“Archival” telah menjadi semacam kata kunci untuk referensi di karpet merah hingga meningkatnya perkembangan popularitas lelang mode. Seberapa langka koleksi arsip pribadi Azzedine?
CS: Saya ingat Jean-Paul Gaultier tidak memiliki apa pun. Vivienne Westwood juga tidak memiliki apa pun. Pada masa itu, tidak ada seorang pun selain Azzedine yang mengarsipkan koleksinya sendiri. Ia menyimpan semuanya sejak hari pertama—bahkan dalam berbagai warna dan ukuran. Rei Kawakubo memang menyimpan sebagian karyanya, dan beberapa di antaranya telah ia sumbangkan kepada Museum Kyoto, tetapi praktik tersebut tetap tergolong tidak lazim pada saat itu. Kini, arsip telah menjadi sesuatu yang sangat penting. Bagi generasi yang lebih baru, berbagai rumah mode menyadari bahwa tanpa arsip, akan sulit untuk membangun masa depan. Memiliki sejarah yang terdokumentasi merupakan hal yang esensial bagi sebuah brand.
Menurut Anda, apakah dedikasi Azzadine Alaïa dalam mempelajari karya rancangan para maestro turut tercermin dalam karyanya sendiri?
CS: Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal di sekolah tata busana ketika memulai kariernya. Selama 25 tahun, sebagai seorang perancang busana, ia membuat busana untuk perempuan-perempuan dari kalangan masyarakat atas, mulai dari klien biasa hingga Greta Garbo. Dari sanalah ia benar-benar belajar. Ia sangat terpesona oleh rahasia dan teknik yang dimiliki para maestro besar. Ia selalu mengatakan bahwa dirinya ingin memahami dan mengetahui bagaimana mereka mampu menciptakan karya-karya tersebut. Dan saya harus mengatakan bahwa pada akhirnya, Azzedine bahkan menjadi lebih baik daripada sebagian besar dari mereka.
Seberapa penting menyimpan arsip para couturier ini untuk melestarikan teknik-teknik yang mereka gunakan?
CS: Arsip adalah masa depan. Keterampilan craft sangat penting untuk membantu generasi muda memahami bahwa mereka perlu menggunakan tangan mereka dan mengerti bagaimana sebuah karya dibuat. Menjadi perancang busana atau pun perajin adalah profesi yang luar biasa. Banyak orang sempat melupakan pentingnya keterampilan ini, tetapi kini mulai kembali mendapat perhatian dalam berbagai koleksi, seperti Chanel. Ini bukan soal selera, melainkan soal keahlian.
OS: Situasi saat ini sangat berbeda. Ketika banyak brand melihat mode melalui media sosial, hasilnya sering kali terlihat serupa. Kami ingin mengembalikan fokus pada busana itu sendiri, bukan sekadar citranya. Mengapresiasi mode melalui arsip memberikan pengalaman yang jauh berbeda dibandingkan melihat foto. Arsip juga menunjukkan bagaimana keahlian dan teknik dapat terus menginspirasi penciptaan mode di masa depan.
Anda memberi judul pameran ini Masters of Couture. Mengapa sebutan tersebut tepat untuk kedua desainer ini?
OS: Couture adalah bentuk ekspresi personal. Menurut saya, seorang perancang busana seperti seorang penulis yang menciptakan karyanya sendiri. Ini bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga kemauan, yang kemudian didukung oleh teknik. Jika berbicara tentang Azzedine Alaïa, kita berbicara tentang salah satu couturier besar yang mampu membuat, memotong, dan menjahit sendiri karyanya. Pengetahuan memang penting, tetapi yang terpenting adalah keinginan untuk menjadi seorang seniman dan kreator bagi diri sendiri.
Bagaimana perasaan Anda sekarang ketika melihat kembali pameran ini?
CS: Ketika mengunjungi pameran ini, sangat menarik melihat antusiasme generasi muda. Mereka ingin menyentuh, ingin melihat detail di balik setiap busana. Cara yayasan menata pameran ini terasa sangat terbuka karena memungkinkan pengunjung melihat karya dari jarak dekat, tentu dengan tetap menjaga kehati-hatian. Di sekolah, Anda bisa belajar teori, tetapi tidak memiliki akses langsung ke busana. Sementara di museum, sebagian besar koleksi biasanya disimpan di balik kaca.
OS: Menurut saya, sangat penting membiarkan busana berbicara kepada pengunjung layaknya sebuah karya patung. Kita tidak menyimpan patung di balik etalase kaca. Melestarikan karya memang penting, tetapi menciptakan dialog antara karya dan pengunjung juga sama pentingnya. Kami selalu terinspirasi oleh pameran seni yang menghadirkan dialog antara dua maestro, seperti Picasso dan Matisse. Hal seperti ini jarang ditemukan di museum mode. Kami senang menciptakan pertemuan dan dialog langsung antara para maestro besar, terlebih mereka yang saling mengoleksi karya satu sama lain.
BACA JUGA:
Seratus Tahun Kemudian, Marilyn Monroe Tetap Menjadi Blueprint Kecantikan
Membedah Koleksi Cruise Pertama Jonathan Anderson untuk Dior
(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
