Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Membedah Koleksi Cruise Pertama Jonathan Anderson untuk Dior

Peragaan busananya di Los Angeles menjadi penghormatan bagi hubungan panjang antara dunia fashion dan film.

Membedah Koleksi Cruise Pertama Jonathan Anderson untuk Dior
Courtesy of BAZAAR US

Setelah mengajak para tamunya berjalan-jalan di Tuileries, Paris untuk koleksi Spring 2026 beberapa bulan lalu, kini Jonathan Anderson membawa mereka ke Tinseltown untuk peragaan Dior Cruise. Creative director tersebut menggelar presentasi resort pertamanya untuk rumah mode itu di Los Angeles County Museum of Art atau LACMA. Bertempat di atrium beton bergaya Brutalist milik David Geffen Galleries yang baru dibuka, runway dibuat menyerupai lukisan karya Ed Ruscha atau Edward Hopper, bahkan terasa seperti adegan dalam Mulholland Drive karya David Lynch. Digelar sesaat setelah matahari terbenam, runway berliku itu dipenuhi lampu jalan vintage bercahaya redup dan deretan mobil klasik, menciptakan suasana melankolis dengan sentuhan Pop art.

BACA JUGA: Di Dior, Jonathan Anderson Merayakan Couture dengan Sentuhan Seni

Courtesy of BAZAAR US

Jonathan dikenal piawai menggali referensi secara mendalam, mengubah sesuatu yang sekilas terasa cheesy atau terlalu teatrikal menjadi lebih cerdas dan nuanced. Salah satu contohnya adalah gaun Met Gala rancangan untuk Sabrina Carpenter yang dibuat sepenuhnya dari potongan strip film Sabrina. Dalam sesi backstage, sang desainer mengungkap bahwa ia memulai proses kreatif dari sebuah buku tentang Scotty Bowers, petugas pom bensin di Los Angeles yang antara 1940-an hingga 1980-an, diam-diam menjadi perantara bagi para bintang Hollywood. Hal ini memicu ketertarikannya pada konsep “on-screen dan off-screen, pekerja dan non-pekerja.” Dengan kata lain, koleksi musim ini tak hanya berbicara tentang Hollywood sebagai industri hiburan, tetapi juga mengenai seni dan budaya modern Los Angeles.

Dari grafis dan warna khas Ed Ruscha serta Edward Hopper, Jonathan kemudian mengeksplorasi hiruk-pikuk dunia Scotty Bowers hingga akhirnya mengarah pada Christian Dior sendiri, sosok yang membantu membangun hubungan erat antara industri fashion dan film. Jonathan menjelaskan bahwa pada era 1950-an, Monsieur Dior mengembangkan persona couturier-nya menjadi lebih business savvy dengan mengunjungi berbagai studio besar, mulai dari Warner Brothers hingga Paramount Pictures, serta menjalin relasi dengan para petinggi studio dan aktor demi membawa desainnya ke layar lebar. Pada 1950, aktris Marlene Dietrich bahkan disebut mengatakan kepada Alfred Hitchcock bahwa ia tidak akan membintangi film Stage Fright jika kostumnya tidak dirancang oleh Dior dengan pernyataan ikonik: “No Dior, no Dietrich”, kalimat yang kemudian dijadikan Jonathan sebagai benang merah koleksi ini.

Courtesy of BAZAAR US

Peragaan ini menjadi penghormatan terhadap selera khas Marlene sekaligus evolusi desain Monsieur Dior pada era 1950-an. Salah satu highlight-nya adalah reinterpretasi tuxedo jacket yang dahulu dirancang Dior bagi Marlene untuk pertama kalinya dihadirkan kembali oleh rumah mode tersebut. (Versi orisinalnya sempat dimiliki Azzedine Alaïa dan disimpan secara privat hingga setahun lalu ketika Fondation Alaïa menggelar pameran koleksi Dior miliknya di La Galerie Dior, Paris.) Jonathan juga menghadirkan siluet drop-waist, terutama pada tiga look pembuka yang dihiasi aplikasi bunga poppy dalam palet kuning dan biru. Ia memberi perhatian besar pada shirting, termasuk shirt dress berpotongan lurus dengan micro pleats bergaya Fortuny dan detail covered buttons asimetris. Selain itu hadir pula kemeja poplin, katun, hingga material sheer yang menurut Jonathan, mengingatkan pada koleksi department store era 1950-an.

Versi Bar Jacket ala Jonathan tampil dengan detail hem yang tampak terurai dan dipadukan bersama ripped jeans. Beberapa tailoring juga diberi aksen fringe lembut di bagian pinggang atau neckline, sementara siluet balloon yang penuh gerak mengingatkan pada koleksi spring sebelumnya, fantasi berjalan di Paris yang kini diinterpretasikan ulang lewat suasana lampu jalan dan diner retro khas Amerika. Sebagian besar look dilengkapi chandelier earring tunggal atau reinterpretasi Saddle bag era John Galliano, mulai dari versi suede dan leather yang wearable hingga model bernuansa Cadillac yang terasa lebih playful.

Jonathan juga menghadirkan menswear dengan pendekatan yang lebih literal lewat topi rancangan Philip Treacy bertuliskan kata-kata seperti “Star”, “Flow”, dan “Buzz”. Para fashion enthusiast mungkin langsung mengenalinya sebagai reinterpretasi topi milik Isabella Blow, koleksi yang menurut Jonathan, telah lama ingin ia miliki sepanjang kariernya.

Courtesy of BAZAAR US

Koleksi ini jelas menghadirkan banyak pilihan yang dapat menjangkau beragam tipe pelanggan dan hal tersebut memang menjadi bagian dari visi Jonathan. Ia mengakui tantangan untuk terus membawa Dior bergerak maju di tengah basis klien yang begitu luas, mulai dari loyalis setia kode desain warisan Christian Dior, penggemar era John Galliano, hingga pencinta sentuhan romantis Maria Grazia Chiuri. Dalam perannya saat ini, Jonathan berusaha menghormati masa lalu sekaligus membangun narasinya sendiri, sambil memahami pentingnya menyeimbangkan fantasi Dior dengan realitas pasar yang membelinya.

Karena itu pula, di samping ketertarikannya yang terus berlanjut pada dunia film, Jonathan kini semakin serius membangun kolaborasi besar dengan industri perfilman demi menjangkau audiens yang lebih luas sekaligus menjaga fantasi dan keseruan Dior tetap hidup. “Ini adalah gambaran yang lebih besar tentang apa yang akan kami lakukan dalam 12 bulan ke depan di dunia sinema,” ujarnya. “Akan ada proyek yang lebih besar bersama franchise film. Mungkin ada tiga film kostum lagi, satu bersama sutradara Luca Guadagnino, dan dua lainnya akan berbeda. Bagi saya, pertanyaannya adalah bagaimana melakukannya agar tidak sekadar menjadi product placement? Bagaimana cara bekerja dengan studio secara berbeda?”

Koleksi Cruise ini menjadi langkah baru bagi Dior di bawah arah Jonathan. Ia menghadirkan keseimbangan antara pendekatan praktis terhadap produk dan visi desain yang kuat, sesuatu yang selama ini berhasil membentuk reputasinya di dunia fashion dan tampaknya juga akan berkembang di industri film. Meski demikian, Jonathan menyadari semuanya membutuhkan waktu dan kesabaran. “Yang penting, saya tahu arah tujuannya,” katanya. Kini, Jonathan berada di kursi pengemudi Dior dan jika koleksi ini menjadi petunjuk, ia tengah membawa rumah mode tersebut melampaui batas fashion dan luksuri sehari-hari dengan sedikit sentuhan movie magic sebagai pelengkapnya.

BACA JUGA:

Jonathan Anderson Membawa Nuansa Baru Pada Dunia Riasan di Dior

Penampilan Konser Jisoo Beri Bocoran Gaya yang Akan Dibawa Jonathan Anderson di Dior

(Penulis: Brooke Bobb ; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Alleia Anata; Foto: Courtesy of BAZAAR US)