Di antara banyak sepatu dan tas yang Anda beli, pasti ada satu yang terasa paling berharga. Bagi saya, tas Fendi Baguette bermotif bunga menjadi penyeimbang estetika hitam-merah yang saya sukai. Desainnya playful dan mudah didekati, seperti senyuman ramah yang menghiasi lemari aksesori. Di sampingnya, ada sepasang Christian Louboutin pertama saya dengan hak 13 sentimeter. Sol merahnya sering dianggap sebagai simbol kedewasaan, sebuah ritus kecil menuju fase baru. Sepatu itu memang menandai masa remaja saya, meski saat itu rasanya seperti bahasa yang belum sepenuhnya saya pahami.
BACA JUGA: Era Baru Pengganti Logomania yang Sudah Mulai Ditinggalkan
Saya sering membeli sesuatu berangkat dari mimpi: dari editorial, runway, atau figur yang saya kagumi. Kadang juga karena dorongan emosi atau impuls yang datang tiba-tiba. Emotional shopping, mungkin. Entah untuk merayakan sesuatu atau justru meredakan perasaan. Seiring waktu, pola itu berubah. Saya mulai merasa bahwa kepuasan sejati muncul ketika sebuah benda punya konteks dan cerita. Misalnya, tas Gucci Bamboo coklat dari era 1990-an milik ibu saya yang masih saya pakai hingga kini. Tas itu pernah menemani saya dalam berbagai momen penting, dari wawancara hingga situasi penuh antusiasme atau kecemasan. Lebih dari sekadar fungsi, ia menyimpan memori dan jejak hidup. Tas itu adalah favorit ibu saya, sekaligus penanda fase penting dalam hidupnya: versatile, indah, dan chic, seperti dirinya saat itu.
Melihat panggung mode musim ini, saya memahami mengapa koleksi Spring/Summer 2026 terasa begitu dekat dengan cara saya memaknai aksesori. Banyak debut direktur kreatif yang menghidupkan kembali ikon sebagai titik awal.
Di Chanel bersama Matthieu Blazy, tas 2.55 hadir dalam versi “crumpled”, terlihat seperti diremas, dengan flap terbuka yang memperlihatkan bagian dalamnya. Siluetnya yang biasanya tegas kini terasa lebih organik, seolah telah melalui perjalanan panjang. Di Dior, Jonathan Anderson memperlakukan tas sebagai pernyataan. Model Cigale dan Bow diperkenalkan dengan kuat, terhubung langsung ke arsip rumah mode. Cigale bahkan merujuk pada gaun “La Cigale” tahun 1952, menjadi momen penting dalam debutnya. Ia seperti menghidupkan kembali memori kolektif dengan perspektif baru.
Sementara itu, tren throwback justru terasa paling relevan saat ini. Ikon yang dulu diperdebatkan kini kembali menjadi pusat perhatian. Balenciaga Le City Bag, yang pernah dicap “ugly”, kini diakui sebagai fenomena budaya. Daya tariknya bukan pada kecantikan konvensional, tetapi pada sikapnya yang santai, sedikit berantakan, dan anti-polished. Tas ini pernah mendominasi era 2000-an dan kerap terlihat di foto paparazzi. Ketika Pierpaolo Piccioli mengambil alih Balenciaga, ia merangkul pendekatan ini, termasuk menghadirkan Jet Thong, sandal jepit yang dulu dianggap terlalu biasa untuk dunia fashion. Ini menunjukkan bahwa sesuatu menjadi ikonik bukan karena disukai semua orang, tetapi karena mampu bertahan dari kritik dan kembali dengan sudut pandang baru.
Di Celine, Michael Rider memperkenalkan kembali tas Luggage versi “Smile”. Tas ini mempertahankan bentuk khasnya, tetapi dengan proporsi dan energi yang diperbarui, membuatnya terasa lebih segar. Pola yang sama terlihat di banyak rumah mode: warisan menjadi identitas. Di Bottega Veneta, Louise Trotter menonjolkan teknik intrecciato, tenun kulit khas sejak 1975, sebagai elemen utama. Struktur yang diperkuat menunjukkan bahwa craftsmanship yang konsisten justru semakin relevan ketika terus dikembangkan.
Loewe juga menghidupkan kembali tas Amazona, ikon sejak 1975. Kini, di bawah arahan Jack McCollough dan Lazaro Hernandez, Amazona 180 tampil lebih santai dengan handle tunggal yang tegas dan logo baru yang mudah dikenali. Jil Sander, bersama Simone Bellotti, menghadirkan debut yang terukur dengan sentuhan era 1990-an dan awal 2000-an. Sepatu glossy oxfords dengan detail tajam menjadi sorotan, menguatkan kembali identitas minimalisme yang bersih dan presisi.
Pada akhirnya, evolusi bukan tentang menjadi sesuatu yang sepenuhnya baru. Evolusi adalah proses memperjelas apa yang sudah ada: menyaring, mempertajam, dan menegaskan karakter. Baik dalam rumah mode maupun dalam diri, kematangan lahir dari fondasi yang kuat dan interpretasi yang tepat. Warisan besar tidak otomatis relevan. Ia membutuhkan visi dan ketelitian agar tetap bermakna. Di situlah letak kedewasaan.
Mungkin, pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar tas atau sepatu baru, melainkan cerita yang ingin kita lanjutkan, sesuatu yang kita bawa ke depan, tanpa terjebak nostalgia, tetapi justru menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh dan lebih berani.
BACA JUGA:
Narasi Mode & Sinema: Fashion yang Kini Bergerak Seperti Film
Bagaimana Para Desainer Meredefinisikan Mode dan Seni
