Masih ingat era logomania? Pada sekitar tahun 2017-2018, logo tampil besar, jelas, dan disengaja. Bagi Gen Z yang saat itu berada di fase praremaja hingga remaja, logo pada pakaian berfungsi sebagai bahasa sosial. Ia seolah menjawab pertanyaan yang belum sempat diucapkan: siapa Anda, di mana posisi Anda, dan apakah Anda “masuk”.
BACA JUGA: The New Uniform: Cerminan Gaya Hidup Modern Masa Kini
Fenomena ini berkembang seiring dengan maraknya drop culture, meningkatnya peran media sosial, serta resale market yang membuat pakaian menjadi komoditas yang bergerak cepat. Mengenakan logo bukan lagi sekadar soal selera, melainkan juga bentuk keterlibatan dalam ekosistem budaya tertentu. Visibilitas menjadi mata uang utama. Semakin mudah dikenali, semakin kuat pesan yang disampaikan.
Seiring waktu, makna kemewahan pun bergeser. Luxury tidak lagi memiliki satu definisi, melainkan berkembang mengikuti perubahan nilai dan gaya hidup. Bagi sebagian orang, ia hadir dalam kesederhanaan dan desain yang minim identitas. Bagi yang lain, kemewahan justru terletak pada pengalaman, perjalanan, dan rutinitas yang dijalani dengan sadar. Pendekatannya menjadi semakin personal.
Di tengah perubahan ini, kemewahan kerap dibaca melalui rasa memiliki terhadap komunitas. Penanda status muncul dalam bentuk yang lebih kasual, bahkan nyaris tidak dirancang sebagai simbol. Mulai dari tote bag Trader Joe’s, topi dari restoran Prancis Le Bistrot Paul Bert, hingga souvenir Aman Resorts dari berbagai destinasi.
Sekilas, benda-benda ini terlihat seperti merchandise biasa, tetapi maknanya melampaui fungsi promosi. Yang ditandai bukan lagi kemampuan membeli, melainkan pengalaman yang dijalani, seperti waktu, rutinitas, dan keterlibatan. Kepemilikan menjadi hasil dari partisipasi, bukan tujuan. Pakaian dan aksesori pun berubah menjadi isyarat halus tentang lingkungan dan nilai yang dibagi.
Fenomena ini terlihat pada komunitas seperti Aman junkies, sebutan bagi penggemar setia Aman Resorts yang tidak hanya menginap di properti Aman, tetapi juga mengoleksi produk Aman Essentials sebagai bagian dari memori perjalanan. Hal serupa hadir dalam komunitas wellness, di mana apparel menjadi simbol kedisiplinan dan kebersamaan.
Beberapa brand bahkan lahir dari dinamika ini. Sporty & Rich, misalnya, berawal dari kumpulan referensi dan percakapan sebelum berkembang menjadi produk. Saat dirilis, audiensnya sudah terbentuk, sehingga brand hanya mengafirmasi identitas yang telah ada.
Di sisi lain, kejenuhan terhadap simbol kemewahan yang terlalu eksplisit mendorong pergeseran ini. Setelah era pamer di ruang digital, muncul kebutuhan akan sesuatu yang terasa lebih autentik. Konsumsi tetap ada, tetapi tampilannya lebih selektif. Yang dicari bukan lagi pengakuan massal, melainkan validasi dari lingkaran yang relevan.
Media sosial turut mempercepat fragmentasi selera. Tidak ada lagi satu otoritas tunggal dalam menentukan apa yang dianggap “in”. Sebaliknya, muncul berbagai mikrokultur dengan kode visualnya masing-masing. Logo masih berfungsi, tetapi audiensnya semakin spesifik.
Apakah tren ini akan bertahan? Jawabannya tidak sepenuhnya pasti. Selama pengalaman, kesehatan, dan perjalanan masih dianggap sebagai investasi diri, penanda visual berbasis komunitas akan tetap relevan. Namun, seperti simbol sosial lainnya, nilainya bergantung pada eksklusivitas makna. Ketika terlalu banyak orang mengadopsinya tanpa keterlibatan yang sama, maknanya bisa memudar.
Ke depan, penanda kemewahan kemungkinan akan semakin personal, bahkan mungkin lebih lokal dan tidak selalu terlihat jelas. Namun satu hal yang pasti, logomania tidak benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk, menjadi lebih halus dan tidak lagi tampil secara eksplisit.
BACA JUGA:
Membedah Bagaimana Perubahan Makna Sensualitas di Generasi Ini
Menata Ulang Arti Mencintai di Era Modern
