Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Dapatkah Pakaian Menjadi "Sangat Tidak Nyambung"?

Produk SC103 hanya memberikan sebuah reaksi yang datar apabila dilihat secara online.

Dapatkah Pakaian Menjadi
Courtesy of Bazaar US

Pada tahun 2015, pemilik galeri, Jordan Barse, menghadiri apa yang ia gambarkan sebagai "acara fashion yang sangat berseni" di New York yang diselenggarakan oleh butik dan ruang pameran yang berbasis di Melbourne, Center for Style. Saat berada di sana, ia memperhatikan seniman dan tokoh mode, Susan Cianciolo, yang mengenakan apa yang Jordan gambarkan sebagai "pakaian yang paling halus dan indah yang pernah ia lihat. Jika saya tidak salah ingat, itu adalah setelan celana putih, atau setelan celana dan kemeja yang memiliki untaian panjang manik-manik putih jernih yang berayun ke mana-mana. Pakaian itu jelas buatan sendiri, saya tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah, dan saya terpesona.

BACA JUGA: Brand-brand Lokal yang Menyuarakan Spirit Women's Empowerment di Era Modern

Kemudian pada musim panas itu, Jordan mengunjungi seorang teman di Portland dan mengambil kesempatan untuk melihat-lihat butik Diana Kim, Stand Up Comedy, yang terkenal dengan kurasi terhadap para perancang avant-garde yang sudah mapan maupun yang baru muncul. Ia melihat beberapa barang yang mirip dengan apa yang ia lihat di Susan. Ia kemudian mengetahui bahwa barang-barang tersebut adalah kreasi Sophie Andes-Gascon, seorang desainer kelahiran Kanada yang tiba di New York dari Brasil, tepatnya di Manaus, ibu kota Amazonas dan baru saja lulus dari Pratt. "Saya menyadari bahwa Sophie jelas merupakan perancang busana Susan," kenang Jordan.

Sekitar setahun kemudian, Claire McKinney, sahabat Sophie dari Pratt, mulai bekerja di Stand Up Comedy. Ia baru saja menerima sebuah penghargaan Liz Claibourne Concept to Product Award dari Pratt. Sebuah penghargaan yang diberikan kepada senior yang lulus, yang merupakan keputusan dari fakultas di Pratt (termasuk Susan Cianciolo) berdasarkan dari koleksi seniornya. 

Courtesy of US

Penampilan dari pertunjukan Musim Semi 2022 SC103.

Courtesy of US

Penampilan lain dari peragaan busana Musim Semi 2023 SC103, yang membawakan versi baru dari tas tangan mereka.

"Ia benar-benar jenius dalam hal bekerja dengan tekstil yang tidak biasa," kenang Jennifer Minniti, kepala departemen mode di Pratt. Seperti Sophie, Claire juga mengerjakan proyek-proyeknya sendiri. "Ia mengonfigurasi ulang pakaian vintage, menggabungkan kaus sepak bola raglan dengan kemeja hooters yang dipotong, dan menjahit celana jeans ini dengan cara yang sangat berbeda, bagus, dan cerdas," kenang Jordan. "Saya hanya berpikir bahwa ia sangat cerdas."

Tak lama kemudian, Claire kembali ke New York, tinggal bersama Sophie di sebuah apartemen yang tidak jauh dari Pratt. Keduanya mendapatkan pekerjaan di bagian desain merek fashion lokal. Kisah dari sana, setidaknya di kalangan tertentu, merupakan semacam pengetahuan fashion. Mereka berdua mengerjakan proyek mereka sendiri, yang mulai bergabung, dan mereka memutuskan untuk membuat label mereka sendiri. Nama SC103 berasal dari inisial nama beserta alamat apartemen mereka, yang menurut Sophie sebagai "awal mula persahabatan kami dan proyek ini."

Peragaan pertama mereka di tahun 2019, berlangsung meriah di galeri Washington Square Park 80WSE, di mana para model, yang sebagian besar merupakan teman dari para perancang, berbaris di tengah kerumunan pengunjung. Pakaian tersebut merupakan gabungan dari beberapa elemen yang tampaknya berbeda, yang terasa sangat padu. Gaun-gaun kecil yang menurut mantan guru mereka dan Kepala Mode di Pratt, Jennifer Minnitti, "terlihat seperti seutas benang, tetapi sebenarnya dibuat dengan sangat baik." Lalu dipadukan dengan jaket denim dengan sempurna. Model lainnya mengenakan pakaian kerja berhias, gaun patchwork prairie, atasan crop top kulit, dan topi yang menyerupai dengan yang dikenakan oleh koleksi Bloomsbury, yang terbuat dari tali kulit yaitu ciri khas SC103.

Peragaan busana ini mencerminkan presentasi lo-fi (dengan kualitas rendah) yang diberikan oleh mentor dan guardian mereka, Susan Cianciolo, untuk lini busana legendarisnya, Run. Ia juga sering hadir di galeri, mengundang teman-temannya untuk memamerkan pakaian yang ia buat dengan tangan menggunakan bahan yang tidak lazim. Seperti logam, karet, dan bulu, yang dipadukan dengan pakaian tekstil yang ia temukan di toko-toko barang bekas atau pakaian bekas yang diberikan oleh teman-temannya. Dari peragaan tersebut, SC103 membangun gaya yang sama uniknya, dengan memadukan sensualitas urban dengan karya-karya berkonsep glamor dan sangat memperhatikan detail. 

Courtesy of Bazaar US

Para model menunggu di belakang panggung pada peragaan busana Musim Semi 2023.

Courtesy of Bazaar US

"Konstruksinya sangat rumit, dan ada begitu banyak kehalusan bahan pada pilihan tekstil mereka," kata Diana Kim dari toko Stand Up Comedy.

Keberhasilan pertunjukan awal tersebut, menurut mereka, mendorong untuk terus melakukan pendekatan terhadap karya mereka dengan pemikiran terbuka. "Saya pikir itu adalah bukti bahwa kami tidak pernah takut untuk menampilkan karya," kata Sophie. "Kami selalu berbagi, kami tidak pernah menyimpan ide. Kami hanya ingin menunjukkan di luar sana kepada orang-orang bahwa kami sangat bersemangat."

Sejak saat itu, mereka telah dibeli oleh berbagai butik seperti Stand Up Comedy, Nordstrom, dan SSense. Pada tahun 2021, dua karya mereka ditampilkan dalam Pameran Kostum Met, In America: A Lexicon of Fashion. Sejak saat itu, karya-karya tersebut diakuisisi oleh museum dan menjadi bagian dari koleksi permanen. Pada saat itulah mereka meninggalkan pekerjaan sehari-hari dan mulai fokus pada SC103 secara penuh waktu. Mereka terus memproduksi koleksi baru dua kali dalam setahun, termasuk koleksi Musim Gugur 2023, yang memulai debutnya hari ini dalam sebuah lookbook. Yang ditata dan difoto oleh teman mereka, seorang seniman dan penata gaya, Dani Swissa. Ia sebelumnya pernah berjalan di peragaan SC103, dan untuk lookbook ini, ia mendokumentasikan dirinya sendiri di berbagai lokasi di sekitar L.A., bekerja secara intuitif, dan sesekali bertukar pikiran dengan Claire dan Sophie. 

"Salah satu kegembiraan dalam membuat sesuatu adalah melihat orang-orang mengenakannya dengan versi mereka sendiri," kata Claire kepada saya. "Entah itu dengan mengenakannya, memajangnya di dinding, atau menaruhnya di jok belakang mobil, entah itu cara yang lebih tinggi atau lebih rendah untuk menikmati pakaian kami, kami pikir itu keren." Pilihan untuk memotret pakaian mereka di luar New York, kota yang paling diasosiasikan dengan mereka, juga mencerminkan filosofi ini. Lookbook ini menampilkan Dani dengan mantel berlapis di hari yang sejuk di L.A., di tempat parkir, dan di belakang sepeda motor dengan hanya satu Pohon Palem yang terlihat di kejauhan. "Ada banyak hal klise tentang L.A. yang belum pernah saya alami," kata Dani. "Anda benar-benar dapat menjelajahi dan menciptakan kota Anda seperti yang diinginkan."

Courtesy of Bazaar US

"Ada banyak hal klise tentang L.A. yang belum pernah saya alami," kata Dani. "Anda benar-benar dapat menjelajahi dan menciptakan kota Anda sendiri seperti yang diinginkan." Lebih banyak gambar dari lookbook Musim Gugur 2023.

Courtesy of Bazaar US

"Salah satu kegembiraan dalam membuat sesuatu adalah melihat orang-orang membuat versi dalam mengenakannya," kata Claire.

Namun, bagian besar dari kesuksesan mereka mungkin mengejutkan untuk merek sederhana: mereka membuat it bag. Pertama kali diperkenalkan di tahun 2019, tas-tas ini merupakan keajaiban konstruksi di mana serangkaian simpul kulit dengan berbagai warna dijalin menjadi satu untuk menciptakan ramuan over-the-shoulder. Yang dapat berupa tas pesta yang cantik yang diselipkan di bawah lengan, atau tas santai yang menggantung di bahu atau di tubuh, semuanya dibuat tanpa jahitan. Tas-tas ini dijual dengan harga antara $350 (sekitar 5.225.675 Rupiah) hingga $700 (sekitar 10.451.350 Rupiah), tergantung ukurannya. Semuanya merupakan handmade di studio Claire dan Sophie. Tas-tas ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di daerah 14th street. Saya menghitung ada tiga tas di acara pembacaan Sheila Heti di McNally Jackson baru-baru ini sebelum saya pergi minum-minum dengan seorang teman. Mereka juga datang membawa tas tersebut seperti semacam kartu nama yang chic bagi orang-orang di pusat kota yang tertarik dengan dunia seni yang fashionable seperti Susan Cianciolo dan pelukis Eric Mack. Serta mereka yang tertarik di dunia mode yang fashionable seperti perancang Grace Wales Bonner dan komunitas para desainer, Bernadette Corporation.

Yang lebih menarik lagi adalah popularitas mereka melampaui kelompok tersebut. Penulis dan editor, Lynette Nylander, mengatakan kepada saya bahwa agen TSA, yang tampaknya tidak tahu tentang budaya, memuji tas SC103 miliknya saat tas tersebut melewati mesin X-Ray. Ayah Sophie membawanya dan berkata, "Semua ayah yang saya kenal membawanya!" dan Jordan berencana membelikan untuk adik perempuannya yang bekerja di perusahaan startup, "Ia sangat bersemangat!" katanya.

Jika Run, sebagian, merupakan reaksi terhadap minimalisnya fashion tahun 90-an, merek SC103 dapat dilihat, baik disengaja maupun tidak, sebagai reaksi terhadap pakaian saat kita melihatnya secara online. "Pakaiannya sangat menarik, dan terlihat sangat bagus di kamera, tetapi tidak ada artinya sampai Anda melihatnya," kata Diana, dari Stand Up Comedy, kepada saya melalui Zoom. "Konstruksinya sangat rumit, dan ada begitu banyak kehalusan pada pilihan tekstil mereka... ketika dikenakan pada tubuh, pakaian tersebut menjadi tiga dimensi yang tidak akan pernah Anda dapatkan dari sebuah foto. Kami selalu mendorong orang-orang untuk mencoba pakaian mereka, dan orang-orang selalu terkejut dengan betapa bagusnya penampilan mereka dan betapa nyamannya mereka mengenakan pakaian tersebut. Saya dapat memberitahu Anda, hal ini sering terjadi pada merek-merek lain... Kekuatan SC103 terletak pada pembuatan pola, mereka benar-benar mencoba memahami tubuh orang-orang." 

Courtesy of Bazaar US

Dani Swissa dalam lookbook Musim Gugur 2023.

Courtesy of Bazaar US

Dani Swissa berbaring dalam balutan tie-dye dari Musim Gugur 2023.

Aspek lain dari pengalaman menikmati pakaian secara virtual terutama secara online adalah bahwa koleksi dan desainer sering kali menggunakan pendekatan literal terhadap referensi mereka. Rangkaian gambar yang sama tampaknya bergerak bolak-balik diantara moodboard para desainer dan korsel Instagram. Sebaliknya, Sophie dan Claire tidak pernah bekerja dengan satu tema atau ide spesifik untuk koleksi mereka. Hasilnya adalah, musim demi musim, hiruk-pikuk karya yang sangat unik yang tidak terhubung oleh tema atau cerita, tetapi oleh kegembiraan para kreatornya dalam bekerja sama, dan antusiasme mereka dalam proses penciptaan.

"Saya pikir ketidakjelasan itu diremehkan," kata Sophie kepada saya sambil menikmati secangkir teh hijau di studio FiDi. "Membiarkan orang mengemukakan ide mereka sendiri tentang apa yang mereka rasakan atau lihat, itu terasa menyenangkan."

Ini adalah pendekatan yang mendorong rasa ingin tahu pemirsa, sebuah dorongan visual untuk menyelami dunia interior mereka sendiri. "Tidak mudah untuk melihat pakaian mereka dan mengetahui mengapa menyukainya," kata Diana. "Hal ini tidak selalu dapat didefinisikan dengan cara yang instan. Saya kira itulah yang biasanya mendefinisikan tren atau daya jual, yaitu Anda dapat langsung mengidentifikasi dengan tepat apa yang Anda rasakan dan membuat Anda menginginkan pakaian itu. Untuk orang-orang ini, saya rasa harus ada banyak hal yang dilihat kembali dan dipahami kembali. Dan itulah yang dinamakan oleh seni yang baik." Jordan memiliki pemikiran yang sama. "Hal yang Anda lihat dalam koleksi mereka adalah, struktur formal baru apa yang akan diperkenalkan. Ini seperti seni pahat, Anda tahu? Anda mencari ide struktural yang akan menginspirasi Anda untuk berpikir secara berbeda tentang bentuk."

Courtesy of Bazaar US

Para desainer di akhir pertunjukan Musim Semi 2023.

Tidak adanya tema khusus dalam koleksi SC103 juga memberikan kebebasan bagi Sophie dan Claire untuk bereksperimen dengan ide dan teknik di berbagai musim. Mungkin yang paling menonjol adalah penggunaan tali kulit yang dapat dikenali dari tas mereka, tetapi eksplorasi mereka terhadap teknik dan siluet yang berbeda jauh melampaui hal tersebut.

Sophie ingin terus bereksperimen dengan rajutan, dan untuk Musim Gugur 2023, mereka mengembangkan kaligrafi yang mulai dikerjakan oleh Claire di musim lalu, dengan menyematkan kata "pemandangan" pada garmen. Kata ini dipilih dari daftar kata yang dimulai dengan "sc", mereka memilih kata yang berhubungan dengan kecintaan mereka terhadap alam. Ini adalah cara yang puitis untuk memahami sifat fashion yang sementara, yang sering dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Namun dengan bekerja dalam skala kecil, sering kali dengan bahan yang digunakan kembali, Claire dan Sophie menemukan bahwa hal itu menciptakan lebih sedikit tekanan komersial, dan lebih banyak kebebasan berkreasi. "Hal ini membuat segala sesuatunya terasa sedikit kurang penting, dalam konotasi yang baik," kata Sophia kepada saya. "Hal ini memaksa Anda untuk hanya berkarya." Jika merek-merek yang lebih besar pada dasarnya terkunci dalam jadwal produksi dua kali dalam setahun dan sering kali Sophie mengatakan bahwa "dalam cara kami bekerja, itu hanya cara untuk berinvestasi." 

"Untuk [SC103], menurut saya, harus banyak melihat, melihat kembali dan memahami kembali. Dan itulah yang dilakukan oleh seni yang baik."

Perasaan itu menarik perhatian Amanda Garfinkel, Asisten Kurator di Met Costume Institute yang pertama kali menemukan SC103. "Mereka tidak menyempurnakan teknik-teknik yang sudah ada," katanya kepada saya. "Ini tidak bersifat akademis, ini lebih intuitif. Ini adalah ekspresi pribadi dari kreativitas mereka." Sifat dari pakaian tidak terbatas pada cara pakaian mencerminkan hubungan Claire dan Sophie satu sama lain Meskipun pakaian tersebut merupakan hasil dari dunia persahabatan yang penuh rahasia, tetapi juga cara mereka menjalani hidup secara umum. "Cara hidup mereka sangat murni dan tanpa henti terpapar dari keindahan yang terjadi secara alami," kata Jordan kepada saya. Jennifer, profesor mereka di Pratt, setuju. "Ketika saya melihat pakaian mereka di acara terakhir, beberapa di antaranya basah kuyup, itu tidak berharga. Yang berharga adalah bahwa kita hidup dalam pakaian kita yang memiliki cerita, dan memiliki pengalaman... dan pada saat yang sama, pakaian tersebut sangat cantik dan indah. Di situlah yang membuatnya menjadi berharga, bukannya murni."

BACA JUGA:
Street Style Terbaik dari Milan Fashion Week Musim Gugur 2023
8 Tren Spring/Summer 2023 Pilihan Editor Bazaar yang Bisa Anda Ikuti!

(Penulis: Mikaela Dery; Artikel ini disadur dari Bazaar US; Alih bahasa: Celine Setiawan; Foto: Courtesy of BAZAAR US)