Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Apakah Peptide Stacking Solusi Ampuh untuk Kulit yang Lebih Kenyal?

Tren invasif terbaru ini menjanjikan berbagai hasil sekaligus.

Apakah Peptide Stacking Solusi Ampuh untuk Kulit yang Lebih Kenyal?
Courtesy of BAZAAR UK

Peptida telah lama menjadi sorotan dalam dunia skincare, dijuluki sebagai “silent powerhouse”, bahan yang dapat membantu memulihkan kulit ini mampu meningkatkan kesehatan dan elastisitas skin barrier. Namun, di luar kemasan produk skincare, peptida kini mulai muncul dalam rutinitas fitness dan wellness seiring dengan tren "peptide stacking" yang semakin populer di TikTok.

BACA JUGA: 9 Tren Wellness Terbaik 2026 Menurut Para Profesional

Di seluruh Inggris dan Amerika Serikat, orang-orang mulai menyuntikkan peptida sendiri untuk berbagai tujuan seperti menurunkan berat badan, meningkatkan pertumbuhan otot, memperbaiki kualitas kulit, mengatur hormon, dan mempercepat pemulihan. Sebagian orang bahkan mempromosikannya sebagai miracle cure-all (obat yang seolah bisa mengatasi berbagai masalah sekaligus). Namun praktik peptide stacking juga menarik perhatian karena alasan lain: kurangnya data jangka panjang serta regulasi yang masih belum jelas.

Peptide stacking secara sederhana berarti menggunakan dua atau lebih peptida pada saat yang sama untuk memengaruhi sistem yang berbeda di dalam tubuh,” jelas Mohammed Enayat, dokter umum dan pendiri HUM2N, klinik longevity yang berbasis di London. Secara teori, cara ini memungkinkan seseorang menargetkan beberapa hasil sekaligus, misalnya menurunkan lemak tanpa mengorbankan massa otot atau mempercepat pemulihan sambil mendukung kesehatan metabolik.

Kekurangannya? Banyak dari eksperimen ini berkembang di klinik-klinik privat dan komunitas online, bukan melalui uji klinis berskala besar.

Apa Itu Peptide Stacking?

Untuk memahami teknik stacking, ada baiknya kita terlebih dulu memahami apa sebenarnya peptida. Secara kimia, peptida adalah rantai pendek asam amino yang bertindak sebagai messenger dalam tubuh, membantu mengatur proses seperti inflamasi dan metabolisme. “Peptida memberi tahu sel kapan harus memperbaiki diri, kapan harus memproduksi kolagen, dan bagaimana merespons stres,” kata Rosemary Ferguson, seorang nutritionist dan functional medicine practitioner. “Peptida memengaruhi banyak hal, mulai dari energi hingga pemulihan tubuh.”

Beberapa peptida sebenarnya sudah digunakan dalam pengobatan sehari-hari.  Insulin adalah salah satunya, obat-obatan GLP-1 seperti Ozempic adalah contoh lainnya. Ini merupakan versi hormon peptida alami yang diproduksi di laboratorium yang dikembangkan melalui uji klinis ekstensif dan diresepkan untuk kondisi medis tertentu. Di samping itu, terdapat kategori peptida yang lebih luas yang belum dilisensikan sebagai obat. Banyak di antaranya masih diteliti karena potensi efeknya terhadap pertumbuhan otot, pemulihan tubuh, dan kesehatan metabolik, dan kelompok inilah yang biasanya digunakan dalam protokol penggabungan suplemen.

“Ilmunya memang menarik, tetapi antusiasmenya berkembang lebih cepat daripada datanya.”

Stacking berasal dari dunia binaraga dan biohacking, di mana berbagai senyawa (seperti steroid) telah lama dikombinasikan untuk memaksimalkan manfaat. “Jika diterapkan pada peptida, stacking berarti menggunakan lebih dari satu peptida pada saat yang sama, biasanya melalui suntikan subkutan kecil dilakukan dalam siklus yang berlangsung selama beberapa minggu,” jelas Mohammed.

“Saya memahami konsep dasar peptide stacking,” ujar Rosemary. “Karena peptida sangat spesifik, ada beberapa yang bekerja pada kesehatan usus, yang lain pada peradangan, energi, tidur, atau kulit, inflamasi, energi, tidur, atau kulit.  Namun, ia dengan cepat menambahkan bahwa sebagian besar penelitian masih dalam tahap awal. “Ilmu pengetahuannya menarik, tetapi antusiasme berkembang lebih cepat daripada datanya.”

Tren Peptide Stacking marak dibicarakan
Courtesy of BAZAAR UK

Bagaimana Cara Kerja Peptide Stacking?

Menurut Mohammed, alasan di balik praktik ini menjadi menarik adalah karena tubuh manusia jarang bekerja hanya melalui satu jalur saja. “Fisiologi manusia itu kompleks,” katanya. “Misalnya, penurunan lemak melibatkan sinyal insulin, pengaturan nafsu makan, penggunaan energi, dan pelestarian massa otot.” Teori di balik stacking adalah bahwa menggabungkan peptida yang bekerja pada sistem yang berbeda dapat membantu mencapai banyak tujuan sekaligus.

Di TikTok, peptide stacking sering ditampilkan seperti menu yang dikurasi. Satu senyawa untuk menekan nafsu makan, yang lain untuk mempertahankan massa otot, dan yang ketiga untuk mendukung pemulihan. Kombinasi populer termasuk yang disebut Wolverine Stack (BPC-157 dan TB-500) yang dikaitkan dengan percepatan penyembuhan, CJC-1295 yang dipasangkan dengan Ipamorelin untuk merangsang pelepasan hormon pertumbuhan, dan obat-obatan GLP-1 yang dikombinasikan dengan peptida hormon pertumbuhan dalam upaya untuk mempertahankan massa otot selama penurunan lemak.

MOTS-c, sebuah peptida yang berasal dari mitokondria dan sebagian besar diteliti pada hewan, sering digambarkan sebagai exercise mimetic, istilah untuk senyawa yang mungkin mengaktifkan beberapa jalur metabolik yang sama seperti aktivitas fisik. “Peptida ini tampaknya memengaruhi sensitivitas insulin dan pengaturan energi seluler,” ujar Mohammed. “Namun, data jangka panjang pada manusia masih minim, sehingga penggunaannya masih bersifat eksperimental dan belum menjadi terapi mainstream.”

“Beberapa peptida dapat mendukung pemulihan atau penanda metabolisme bila dikombinasikan dengan nutrisi yang tepat.”

Di kliniknya, Mohammed mengatakan bahwa minat pasien biasanya lebih fokus pada komposisi tubuh, energi, dan ketahanan metabolik, bukan hanya penampilan. “Beberapa pasien khawatir tentang resistensi insulin atau kehilangan massa otot akibat penuaan, yang lain tertarik oleh budaya optimasi kesehatan secara lebih luas,” ujarnya. Namun, ekspektasi sering melampaui bukti yang ada, terutama ketika orang berharap penurunan lemak dramatis, pembalikan penuaan, atau pertumbuhan otot cepat tanpa melakukan perubahan perilaku.

“Beberapa peptida mungkin mendukung pemulihan atau meningkatkan indikator metabolik jika dikombinasikan dengan nutrisi, tidur, dan latihan yang tepat,” ujarnya. “Namun, peptida bukan pengganti dari dasar-dasar gaya hidup.”

Apakah Peptide Stacking Aman?

“Kekhawatiran utama dengan peptide stacking adalah ketidakpastian efeknya,” ujar Mohammed. “Ketika beberapa peptida digunakan bersamaan, Anda berpotensi mengubah beberapa jalur hormonal dan metabolik sekaligus, seringkali tanpa data klinis tentang bagaimana senyawa-senyawa tersebut berinteraksi.”

Menggabungkan peptida perangsang hormon pertumbuhan, misalnya, dapat merangsang sumbu GH/IGF-1 secara berlebihan yang menyebabkan retensi cairan, nyeri sendi, atau resistensi insulin. Menggabungkan peptida yang memengaruhi regulasi glukosa juga dapat meningkatkan risiko hipoglikemia atau ketidakstabilan metabolisme. Selain itu, suntikan berulang membawa risiko tersendiri, mulai dari inflamasi lokal hingga abses steril.

Sumber peptida merupakan masalah besar lainnya. Peptida yang dijual online dengan label “for research purposes only” tidak diatur sebagai obat untuk konsumsi manusia. Tidak ada jaminan mengenai kemurnian, akurasi dosis, atau sterilisasi.  "Pengujian independen telah menemukan konsentrasi yang salah label dan kontaminasi," tegas Mohammed. "Ada perbedaan mendasar antara senyawa kelas farmasi yang diresepkan di bawah pengawasan dan substansi yang dibeli secara online.”

Rosemary menegaskan kehati-hatian yang sama. “Setiap kali Anda menusuk kulit, Anda membuka pintu bagi infeksi,” katanya. “Ini bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng.” Dalam pengaturan klinis, penggunaan peptida melibatkan tes darah, skrining, dan pemantauan berkelanjutan. Sebaliknya, protokol stacking online sering hanya menyalin regimen multi-senyawa tanpa pengawasan medis. Selain itu, data jangka panjang untuk banyak kombinasi ini sederhananya belum ada.

Apa Rekomendasi Para Ahli?

Bagi kedua ahli tersebut, hierarkinya jelas. “Sleep optimization, latihan ketahanan, kebugaran kardiovaskular, diet whole-food yang cukup protein, stabilitas glukosa, dan manajemen stres memiliki bukti yang jauh lebih kuat untuk meningkatkan ketahanan metabolik dan umur panjang daripada peptida apa pun yang tersedia saat ini,” tambah Mohammed. Ia menambahkan bahwa jika peptida digunakan, penggunaannya harus sebagai pelengkap, bukan strategi utama.

“Apakah Anda makan tiga kali sehari dengan porsi yang tepat? Mendapatkan cukup serat dan protein? Apakah Anda bergerak atau berolahraga?”

Rosemary memiliki pandangan yang sama. “Saya senang orang-orang penasaran,” katanya. “Sangat bagus bahwa kita semakin tertarik pada cara kerja tubuh kita.” Kekhawatirannya adalah bahwa hal-hal mendasar sering diabaikan. “Sebagian besar orang yang saya temui tidak memiliki hal-hal mendasar yang memadai. Apakah Anda makan tiga kali sehari dengan benar? Mendapatkan cukup serat dan protein? Menggerakkan tubuh? Tidur nyenyak? Mengelola stres? Hal-hal itu membuat perbedaan yang signifikan.”

Khusus untuk kesehatan metabolisme, ia menekankan kebiasaan sederhana yang didukung bukti konkret: memulai hari dengan protein, membangun otot melalui latihan beban, mengurangi kebiasaan ngemil terus-menerus, lebih banyak berjalan kaki, dan menjaga kualitas tidur. “Anda dapat mencapai banyak hal dengan memperbaiki fondasi tersebut,” katanya. “Mengoptimalkan kesehatan Anda bukanlah tentang mencoba mengakali tubuh Anda, tetapi tentang mendukungnya dengan benar.”

BACA JUGA:

Panduan Ahli Tentang Kreatin untuk Wanita

Biomarker: Tes Kesehatan Mendalam untuk Bantu Anda Hidup Lebih Lama

(Penulis: Emma-Jade Stoddart; Artikel ini disadur dari: BAZAAR UK; Alih bahasa: Alleia Anata; Foto: Courtesy of BAZAAR UK)