Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Floraïku Paris Menghadirkan Pengalaman Parfum yang Lebih Personal

Mengintip storytelling dan filosofi di balik Floraïku Paris.

Floraïku Paris Menghadirkan Pengalaman Parfum yang Lebih Personal
Courtesy of Floraïku Paris

Di tengah industri parfum yang semakin bergerak cepat, Floraïku Paris justru memilih untuk melambat. Bukan sekadar menjual aroma, rumah parfum asal Paris ini membangun dunia kecil yang dipenuhi puisi, ritual, dan pengalaman rasa yang personal.

BACA JUGA: Floraïku, Label Parfum Berkonsep Unik Kembali Menyapa Pencintanya di Plaza Indonesia

Berbicara dengan salah satu pendirinya terasa lebih seperti mendengar seseorang menceritakan sebuah karya seni, alih-alih strategi bisnis. Ada kehangatan dalam cara ia menjelaskan bagaimana Floraïku Paris lahir, John Molloy, yakni pencetus brand Floraïku melahirkan lini parfum tersebut bukan dari ambisi untuk menciptakan “parfum baru,” melainkan dari ketertarikan mendalam terhadap budaya Jepang, sastra haiku, dan bagaimana emosi dapat diterjemahkan menjadi aroma.

Gong
Courtesy of Floraïku Paris

Sebelum membangun Floraïku Paris bersama sang istri, Clara, ia sudah lebih dulu berkecimpung di dunia fashion. Ironisnya, ia sempat membayangkan hidup yang sepenuhnya berbeda. “Saya sebenarnya ingin masuk ke dunia finance, menghasilkan banyak uang, lalu pensiun muda,” ujarnya sambil tertawa. Namun semuanya berubah saat ia mengambil kelas entrepreneurship di tahun terakhir universitas dan akhirnya mendirikan label fashion pertamanya di usia 21 tahun.

Sementara itu, Clara datang dari dunia seni dan editorial. Ia pernah mengerjakan zero issues untuk berbagai majalah, yakni edisi konseptual yang dibuat untuk menawarkan perspektif kreatif baru kepada para editor. Ketertarikannya terhadap seni kontemporer kemudian berkembang menjadi kecintaannya pada haiku Jepang, dan dari sanalah semuanya bermula.

Saat pasangan ini membangun Memo Paris, mereka sempat melakukan perjalanan ke Asia dan mulai memikirkan sebuah koleksi parfum yang terinspirasi dari Jepang. Ia sendiri pernah bekerja untuk Kenzo selama lima tahun sementara Clara semakin tenggelam dalam dunia haiku.

Bagi Clara, menulis Haiku adalah proses yang sangat personal, bahkan ia bisa menghabiskan waktu hingga satu tahun hanya untuk merangkai tiga baris puisi. Menurutnya, Haiku ibarat saat Anda mengunjungi sebuah galeri berisi puluhan karya indah, namun hanya satu lukisan yang benar-benar mampu menghentikan langkah dan menyentuh perasaan Anda. Dan perasaan itulah yang kemudian diterjemahkan menjadi notes parfum yang akhirnya menginspirasi terciptanya sebuah wewangian baru.

Yang menarik, Clara melihat kemiripan antara menulis haiku dan meracik parfum. Haiku terdiri dari tiga baris. Parfum memiliki tiga lapisan utama, yakni top notes, middle notes, dan base notes. Keduanya membutuhkan presisi, emosi, serta kemampuan untuk meninggalkan kesan mendalam dalam waktu singkat.

“Haiku yang baik itu seperti sambaran petir,” jelasnya. “Ia menyentuh Anda, menghentikan Anda sejenak, lalu membuat Anda berpikir.”

Filosofi inilah yang kemudian menjadi fondasi Floraïku Paris. Nama “Floraïku” sendiri berasal dari kata “flora” dan “haiku”, sebuah perpaduan antara alam, bunga, dan puisi.

“Kami merasa industri parfum sudah bergerak terlalu cepat. Seperti speed dating.”

Namun yang membuat Floraïku Paris terasa berbeda bukan hanya aromanya, melainkan cara brand ini mengajak orang untuk menikmati parfum. Alih-alih menciptakan pengalaman yang terburu-buru, mereka justru membangun sebuah seremoni.

Di butik Floraïku Paris, pelanggan tidak hanya datang untuk mencoba parfum. Mereka dipersilakan duduk, menikmati teh, membersihkan tangan dengan handuk hangat, lalu perlahan diperkenalkan pada setiap aroma beserta cerita di baliknya. Tidak ada paksaan atau pressure untuk membeli, yang terpenting justru bagaimana mereka memberikan pengalaman emosional kepada pelanggan.

“Kami merasa industri parfum sudah bergerak terlalu cepat. Seperti speed dating,” ujarnya. “Kami ingin orang benar-benar duduk dan menikmati prosesnya.”

Konsep ini terasa semakin relevan di era digital, ketika segala sesuatu bergerak instan dan perhatian manusia semakin singkat. Floraïku Paris justru mengajak konsumennya untuk berhenti sejenak.

Elemen storytelling juga hadir dalam setiap detail brand ini. Mulai dari ilustrasi, puisi, hingga kemasan parfum yang dirancang layaknya objek koleksi. Setiap fragrance dilengkapi haiku tersendiri, menciptakan hubungan emosional antara aroma dan kata-kata puitis.

Salah satu parfum mereka, One Umbrella for Two misalnya, hadir dengan haiku romantis:

No rain
Our eyes race to the sky
One umbrella for two

One Umbrella For Two
Courtesy of Floraïku Paris

Sebuah kalimat sederhana yang membuat kita tidak hanya mencium aroma yang memikat, tetapi juga ikut membayangkan cerita dan merasakan emosi yang tersembunyi di balik parfum tersebut.

Bahkan kemasannya dirancang dengan konsep two-in-one, botol utama untuk di rumah dan travel spray yang dapat dibawa ke mana pun. Bagi John dan Clara, parfum bukan sekadar pelengkap penampilan, tetapi sesuatu yang intim dan menjadi bagian dari identitas seseorang.

“Dalam parfum, sebenarnya tidak ada aturan.” 

Tak berhenti pada parfum, Floraïku Paris juga terus memperluas hubungan antara wewangian dan disiplin seni lainnya. John dan Clara mengeksplorasi konsep cine haiku, film pendek berdurasi 30 detik yang dibagi menjadi tiga sequence, mengikuti struktur haiku tradisional. Keduanya juga bekerja sama dengan ilustrator, seniman, hingga mengeksplorasi folklor Jepang seperti yokai untuk memperkaya narasi visual brand.

Meski kini telah memiliki pengikut loyal di berbagai negara, pendekatan Floraïku Paris terhadap ekspansi tetap terasa personal dan perlahan. Mereka tidak terburu-buru membuka banyak toko sekaligus. Sebaliknya, lebih tertarik membangun komunitas pencinta parfum yang benar-benar memahami filosofi di balik brand ini.

Ke depannya, John dan Clara juga ingin membawa pengalaman Floraïku lebih jauh melalui teh, candle, body products, hingga proyek kreatif bersama sekolah film dan komunitas seni.

Namun di balik seluruh estetika, rasa, dan kemewahan yang ditawarkan, filosofinya sebenarnya cukup sederhana, yaitu parfum seharusnya terasa personal.

“Dalam parfum, sebenarnya tidak ada aturan,” kata John di akhir percakapan. “Jika Anda menyukai aromanya dan merasa nyaman memakainya, maka itu parfum yang tepat untuk Anda.”

Dan mungkin, di situlah daya tarik terbesar Floraïku Paris, bukan pada seberapa kuat aromanya bertahan di kulit, tetapi pada bagaimana ia meninggalkan kesan yang perlahan menetap di ingatan.

Created by Harper's Bazaar Indonesia for Floraïku

BACA JUGA:

Gerai Butik Pertama Floraiku di Plaza Indonesia

(Foto: Courtesy of Floraïku Paris; Edited by JM)